Sudarto adalah rektor sebuah perguruan tinggi swasta yang bernaung di bawah yayasan. Ketua yayasan itulah yang tengah berseteru dengannya. Namun perseteruan itu sebenarnya berangkat dari masalah sepele yang dibesar-besarkan. Apalagi, ada isu yang sengaja dihembuskan oleh seseorang yang berambisi menggantikan posisi Sudarto. Ia masih ingat saat Wijayanto, sang ketua yayasan mendatangi ruang kerjanya pada suatu pagi.
“Kita mesti
membuka fakultas dan jurusan baru untuk menarik lebih banyak minat mahasiswa
agar kuliah di perguruan tinggi kita ini,” ujar Wijayanto.
“Tapi itu tidak
bisa dilakukan dalam waktu yang singkat Pak, butuh proses, apalagi jurusan yang
sudah ada belum semuanya terakreditasi oleh BAN PT,” kata Sudarto memberi
alasan.
“Nah, itulah,
jurusan yang belum terakreditasi itu karena kurang diminati lulusan SMA, kurang
marketable, kita buka jurusan baru yang lebih menarik.”
“Tapi ini harus
dimusyawarahkan dengan berbagai pihak Pak.”
“Siapa?
Memangnya siapa yang memikirkan kemajuan kampus ini? Aku ikut memikirkan kampus
ini karena tanah tempat kampus ini adalah dulunya milik ayahku. Kalau kamu
tidak mau, aku bisa mengusulkan dengan pengurus yayasan agar kamu dicopot
sebagai rektor dan diganti!!”
Rina sebagai
anak tertua Sudarto yang juga menjadi dosen di kampus itu sudah ikut andil
dalam memberikan saran. Namun belum sepenuhnya diterima. Ayahnya bersikukuh
untuk tetap pada pendiriannya. Bahkan dengan tegas ayahnya menyatakan akan
mengundurkan diri agar situasi tidak semakin memanas.
“Ini sudah
keterlaluan, sampai kapan ketua yayasan akan terus menerus ikut campur soal
internal kampus?” kata Sudarto dengan geram. Rina hanya mengangkat bahu dengan
ekspresi datar.
Sampai kapan
manusia akan terus bertikai dengan membawa tolok ukur kebenaran masing-masing?
pikir Rina. Ia lalu menemui Desi, teman masa kuliah yang juga seorang dosen di
sebuah perguruan tinggi negeri.
“Rina, manusia memiliki perspektif berbeda dalam
melihat suatu masalah berdasarkan ilmu dan pengalaman yang dipunyai, itu yang
kemudian bermuara pada perbedaan pendapat, idealisme, dan pola pikir seseorang,
apalagi kemudian masing-masing merasa paling benar,” kata Desi.
“Betul Des,
tapi bukankah ketika Tuhan menguji manusia dengan suatu masalah itu berdasarkan
kesanggupan dan kemampuan manusia yang diuji? Mana mungkin anak kelas 2
mendapat soal ujian anak kelas 3?”
“Pendapatmu
tidak salah Rin, tapi terlalu sederhana jika menganalogikan kehidupan nyata dengan
sekolah formal. Realitanya, banyak dari mereka yang berusia muda bahkan
anak-anak harus melakukan pekerjaan atau memikirkan dan menghadapi masalah yang
sebetulnya belum saatnya mereka hadapi.”
“Aku jadi faham
Des, itulah mengapa Tuhan menyuruh manusia saling tolong menolong. Yang kaya
membantu yang miskin, yang pintar memberi petunjuk pada yang belum tahu, yang
sedang berada dalam kelapangan membantu yang sedang kesulitan.”
“Kecerdasanmu
tidak pernah luntur Rin, he he..”
Begitulah Rina
dan Desi saat bertemu membahas suatu masalah. Mereka mengungkapkan argumentasi
berbeda namun tak pernah terlibat serius dalam pertengkaran. Sebenarnya, Rina
hendak meminta bantuan Desi terkait polemik yang terjadi di kampus. Desi
menanggapi dengan baik dan menyarankan agar bertemu Ustad Massar untuk
menengahi.
“Ada saatnya keputusan mesti diambil tanpa
harus meminta pertimbangan orang lain. Itu kalau tidak menyangkut kepentingan
banyak orang. Karena benar menurut diri sendiri belum tentu benar menurut orang
lain. Ide yang baik belum tentu memperoleh hasil baik jika implementasinya
banyak ganjalan dan prosesnya kurang optimal,” kata Ustad Massar di ruang
gedung rektorat yang juga dihadiri Sudarto dan Wijayanto. Sementara Rina dan
Desi hanya diam.
Akhirnya
Sudarto dan Wijayanto sepakat berdamai. Pembahasan untuk menentukan dibukanya
jurusan baru mendatangkan pakar dan tokoh pendidikan guna meminta pertimbangan
dan masukan. Namun yang pasti, Sudarto dan Wijayanto akhirnya menjalani terapi Ruqyah
Diri guna menyeimbangkan energi spiritual dan emosional. Sedangkan area
kampus dilakukan terapi Ruqyah Tempat untuk meningkatkan aura positif.