Minggu, 12 Oktober 2014

KISAH HIKMAH



Sudarto adalah rektor sebuah perguruan tinggi swasta yang bernaung di bawah yayasan. Ketua yayasan itulah yang tengah berseteru dengannya. Namun perseteruan itu sebenarnya berangkat dari masalah sepele yang dibesar-besarkan. Apalagi, ada isu yang sengaja dihembuskan oleh seseorang yang berambisi menggantikan posisi Sudarto. Ia masih ingat saat Wijayanto, sang ketua yayasan mendatangi ruang kerjanya pada suatu pagi.
“Kita mesti membuka fakultas dan jurusan baru untuk menarik lebih banyak minat mahasiswa agar kuliah di perguruan tinggi kita ini,” ujar Wijayanto.
“Tapi itu tidak bisa dilakukan dalam waktu yang singkat Pak, butuh proses, apalagi jurusan yang sudah ada belum semuanya terakreditasi oleh BAN PT,” kata Sudarto memberi alasan.
“Nah, itulah, jurusan yang belum terakreditasi itu karena kurang diminati lulusan SMA, kurang marketable, kita buka jurusan baru yang lebih menarik.”
“Tapi ini harus dimusyawarahkan dengan berbagai pihak Pak.”
“Siapa? Memangnya siapa yang memikirkan kemajuan kampus ini? Aku ikut memikirkan kampus ini karena tanah tempat kampus ini adalah dulunya milik ayahku. Kalau kamu tidak mau, aku bisa mengusulkan dengan pengurus yayasan agar kamu dicopot sebagai rektor dan diganti!!”
Rina sebagai anak tertua Sudarto yang juga menjadi dosen di kampus itu sudah ikut andil dalam memberikan saran. Namun belum sepenuhnya diterima. Ayahnya bersikukuh untuk tetap pada pendiriannya. Bahkan dengan tegas ayahnya menyatakan akan mengundurkan diri agar situasi tidak semakin memanas.
“Ini sudah keterlaluan, sampai kapan ketua yayasan akan terus menerus ikut campur soal internal kampus?” kata Sudarto dengan geram. Rina hanya mengangkat bahu dengan ekspresi datar.
Sampai kapan manusia akan terus bertikai dengan membawa tolok ukur kebenaran masing-masing? pikir Rina. Ia lalu menemui Desi, teman masa kuliah yang juga seorang dosen di sebuah perguruan tinggi negeri.
 “Rina, manusia memiliki perspektif berbeda dalam melihat suatu masalah berdasarkan ilmu dan pengalaman yang dipunyai, itu yang kemudian bermuara pada perbedaan pendapat, idealisme, dan pola pikir seseorang, apalagi kemudian masing-masing merasa paling benar,” kata Desi.
“Betul Des, tapi bukankah ketika Tuhan menguji manusia dengan suatu masalah itu berdasarkan kesanggupan dan kemampuan manusia yang diuji? Mana mungkin anak kelas 2 mendapat soal ujian anak kelas 3?”
“Pendapatmu tidak salah Rin, tapi terlalu sederhana jika menganalogikan kehidupan nyata dengan sekolah formal. Realitanya, banyak dari mereka yang berusia muda bahkan anak-anak harus melakukan pekerjaan atau memikirkan dan menghadapi masalah yang sebetulnya belum saatnya mereka hadapi.”
“Aku jadi faham Des, itulah mengapa Tuhan menyuruh manusia saling tolong menolong. Yang kaya membantu yang miskin, yang pintar memberi petunjuk pada yang belum tahu, yang sedang berada dalam kelapangan membantu yang sedang kesulitan.”
“Kecerdasanmu tidak pernah luntur Rin, he he..”
Begitulah Rina dan Desi saat bertemu membahas suatu masalah. Mereka mengungkapkan argumentasi berbeda namun tak pernah terlibat serius dalam pertengkaran. Sebenarnya, Rina hendak meminta bantuan Desi terkait polemik yang terjadi di kampus. Desi menanggapi dengan baik dan menyarankan agar bertemu Ustad Massar untuk menengahi.
  “Ada saatnya keputusan mesti diambil tanpa harus meminta pertimbangan orang lain. Itu kalau tidak menyangkut kepentingan banyak orang. Karena benar menurut diri sendiri belum tentu benar menurut orang lain. Ide yang baik belum tentu memperoleh hasil baik jika implementasinya banyak ganjalan dan prosesnya kurang optimal,” kata Ustad Massar di ruang gedung rektorat yang juga dihadiri Sudarto dan Wijayanto. Sementara Rina dan Desi hanya diam.
Akhirnya Sudarto dan Wijayanto sepakat berdamai. Pembahasan untuk menentukan dibukanya jurusan baru mendatangkan pakar dan tokoh pendidikan guna meminta pertimbangan dan masukan. Namun yang pasti, Sudarto dan Wijayanto akhirnya menjalani terapi Ruqyah Diri guna menyeimbangkan energi spiritual dan emosional. Sedangkan area kampus dilakukan terapi Ruqyah Tempat untuk meningkatkan aura positif.