Jumat, 31 Juli 2015

Istriku mengalami Baby Bluse syndrome



Namaku Deny, Sebagai laki-laki aku merasa sangat beruntung beristrikan Dinda. selain cantik, istriku sangat perhatian dan tahu cara menenangkanku saat aku sedang terpuruk. Allah seperti melimpahkan begitu banyak anugerah kepada keluarga kami, 5 bulan kemudian Dinda Hamil. Tak terasa waktu begitu cepat berjalan, dan kini kami tengah menunggu kelahiran buah hati kami yang pertama.
Malam itu saat kami akan menghadiri acara jamuan makan malam rekan kerjaku, tiba-tiba Dinda merasakan perutnya mulas dan sakit yang teramat sangat. Ternyata istriku akan segera melahirkan, akupun bergegas membawanya ke Rumah sakit. Alhamdulillah akhirnya putri kami lahir dengan selamat, kebahagiaanpun terpancar diwajah kami sembari mengucap rasa syukur atas karunia-Nya.
Setelah putri kami lahir istriku memutuskan untuk mengurus bayi kami sendiri tanpa dibantu baby sitter hanya kadang sesekali ibunya datang membantu.”tidak usahlah Pa, aku masih sanggup kok mengurus keperluan si kecil lagian kan ada ibu yang membantu”jawab Dinda saat aku tawari untuk mengambil pengasuh bayi saja. Istriku memang pintar, telaten dan penuh kesabaran dalam mengurus si kecil. Begitu perhatian dan sayangnya istriku kepada si kecil sampai hal sekecil apapun ia kawatirkan.
Namun ada sedikit perubahan pada dirinya yang membuatku agak kecewa dengan lahirnya sikecil. Dia mulai melalaikan tanggung jawabnya sebagai istri yang taat. Dinda yang dulunya selalu siap melayani semua keperluanku, selalu ada saat dukaku, sekarang waktu dan pikirannya hanya tercurah untuk sikecil. Kadang aku jadi iri dengan anakku sendiri yang begitu dimanja dan selalu mendapat perhatian dari istriku. Tapi tak mengapa demi anakku aku rela melakukannya sendiri dari menyiapkan makan, mencuci bahkan menyiapkan baju kekantor aku lakukan sendiri.
Tetapi lama kelamaan aku jadi bosan dan jengkel juga dengan situasi yang seperti ini. Ditambah lagi dengan sikap istriku yang mulai membantah perintahku dan menolak melayaniku dengan alasan sudah capek mengurus sikecil seharian.
Ibu mertuaku yang prihatin dengan keadaanku, menyarankanku agar mengambil  pembantu atau baby sitter untuk meringankan tugas istriku.
“ Aku kan sudah bilang nggak usah ambil pembantu aku masih bisa mengurus bayiku sendiri, sekarang kan banyak penculik bayi yang berkedok pengasuh bayi ataupun pembantu dan aku tidak mau anaku bernasib sama seperti mereka. “ elak dinda.
Sudah tak terhitung berapa banyak pembantu yang diusir istriku karena dianggapnya tidak bisa mengurus bayi. Terkadang aku jadi hilang kesabaran dengan sikapnya yang berubah kasar, lebih sensitif dan mudah marah. hampir saja aku ceraikan dia kalau saja aku tak ingat anakku.
Bersama ibu mertuaku, aku mendatangi ustadz Massar di Semarang. Akupun menceritakan semua persoalan rumah tanggaku.
 “ Bersabarlah atas apa yang terjadi pada diri pak Denny karena sesungguhnya istri bapak hanya sedang mengalami depresi yaitu kecemasan yang berlebihan atau baby bluse syndrome “ tutur ustadz massar usai mendengarkan keluh kesahku. “ Saya akan melakukan ruqyah diri untuk istri bapak, melalui doa-doa yang dipanjatkan kepada Allah SWT ,insya Allah istri bapak akan sembuh “ jelas ustadz kepadaku.
Selain dilakukan Rukyah untuk Dinda, aku juga diharuskan terus berdoa memohon kepada Allah Swt agar istriku segera diberi kesadaran. Alhamdulillah satu bulan setelah diruqyah istriku mulai menunjukkan perubahan yang lebih baik. Dia kembali jadi istriku yang dulu lagi, lemah lembut, penuh kasih sayang serta perhatian kepadaku dan  juga anakku.