Namaku Deny, Sebagai
laki-laki aku merasa sangat beruntung beristrikan Dinda. selain
cantik,
istriku sangat perhatian dan tahu cara menenangkanku saat aku sedang
terpuruk. Allah seperti melimpahkan begitu banyak
anugerah kepada keluarga kami, 5 bulan kemudian Dinda Hamil. Tak terasa waktu begitu cepat berjalan, dan kini kami tengah
menunggu kelahiran buah hati kami yang pertama.
Malam itu saat kami akan menghadiri acara jamuan makan malam rekan
kerjaku, tiba-tiba Dinda merasakan perutnya mulas dan sakit
yang teramat sangat. Ternyata istriku akan segera
melahirkan, akupun bergegas
membawanya ke Rumah sakit. Alhamdulillah akhirnya putri kami lahir dengan selamat, kebahagiaanpun
terpancar diwajah kami sembari mengucap rasa syukur atas karunia-Nya.
Setelah putri kami lahir istriku memutuskan untuk mengurus bayi
kami sendiri tanpa dibantu baby sitter hanya kadang sesekali ibunya datang
membantu.”tidak usahlah Pa, aku masih
sanggup kok mengurus keperluan si kecil
lagian kan ada ibu yang membantu”jawab Dinda
saat aku tawari untuk mengambil pengasuh bayi saja. Istriku memang pintar,
telaten dan penuh kesabaran dalam mengurus si kecil. Begitu perhatian dan sayangnya istriku kepada si kecil sampai hal sekecil apapun ia kawatirkan.
Namun ada sedikit perubahan pada dirinya yang membuatku agak kecewa
dengan lahirnya sikecil. Dia mulai melalaikan tanggung jawabnya sebagai istri yang taat. Dinda yang dulunya
selalu siap melayani semua keperluanku, selalu ada saat dukaku, sekarang waktu dan pikirannya hanya tercurah untuk sikecil. Kadang aku jadi iri dengan anakku sendiri yang
begitu dimanja dan selalu mendapat perhatian dari istriku. Tapi tak mengapa demi anakku aku
rela melakukannya sendiri dari menyiapkan makan, mencuci bahkan menyiapkan baju
kekantor aku lakukan sendiri.
Tetapi lama kelamaan aku jadi bosan dan jengkel juga dengan situasi yang seperti ini. Ditambah lagi
dengan sikap istriku yang mulai membantah perintahku dan menolak melayaniku
dengan alasan sudah capek mengurus sikecil seharian.
Ibu mertuaku yang prihatin dengan keadaanku, menyarankanku
agar mengambil pembantu atau baby sitter untuk meringankan tugas istriku.
“ Aku kan sudah bilang nggak usah ambil
pembantu aku masih bisa mengurus bayiku sendiri, sekarang kan banyak penculik
bayi yang berkedok pengasuh bayi ataupun pembantu dan aku tidak mau anaku
bernasib sama seperti mereka. “ elak dinda.
Sudah tak terhitung berapa banyak pembantu yang diusir istriku
karena dianggapnya tidak bisa mengurus bayi. Terkadang aku
jadi hilang kesabaran dengan sikapnya yang berubah kasar, lebih sensitif dan mudah marah. hampir saja aku ceraikan dia kalau saja aku tak ingat anakku.
Bersama ibu mertuaku, aku mendatangi ustadz Massar
di Semarang. Akupun menceritakan semua persoalan rumah
tanggaku.
“
Bersabarlah atas apa yang terjadi pada diri pak Denny karena sesungguhnya istri
bapak hanya sedang mengalami depresi yaitu kecemasan yang berlebihan atau baby
bluse syndrome “ tutur ustadz massar usai mendengarkan keluh kesahku. “ Saya
akan melakukan ruqyah diri untuk
istri bapak, melalui doa-doa yang dipanjatkan kepada Allah SWT ,insya Allah
istri bapak akan sembuh “ jelas ustadz kepadaku.
Selain dilakukan Rukyah untuk Dinda, aku juga diharuskan terus berdoa memohon kepada Allah Swt agar
istriku segera diberi kesadaran. Alhamdulillah satu bulan setelah diruqyah
istriku mulai menunjukkan perubahan yang lebih baik. Dia kembali jadi istriku yang dulu lagi, lemah lembut, penuh
kasih sayang serta perhatian kepadaku dan
juga anakku.