Sungguh malang nasib Harianto, dengan hanya
ditemani sang Istri dirinya terkucilkan dari pergaulan masyarakat. Kecelakaan
yang menimpanya merupakan balasan dari apa yang telah dilakukan kepada
saudaranya sendiri. Bagaikan sampah, Harianto menjadi terasing di kampung
halaman sendiri.
Harianto adalah pengusaha sukses di salah satu daerah perumahan di Jakarta,
dirinya menjadi tokoh masyarakat yang disegani. Hampir setiap kegiatan
didesanya selalu memberikan sumbangan yang cukup besar. ”wah kalau melihat Pak
Harianto kayaknya layak menjadi kepala desa dalam pemilihan mendatang” celoteh
warga saat kerja bakti desa.
Sampai suatu saat datang penduduk baru yang tiada lain
adalah saudaranya sendiri. ”Hamdani selamat datang di desa
kami, sambut Pak Harianto”. Awal pertemuan mereka sangat diselimuti keakraban. Tidak
beberapa lama Hamdani menghadap pamannya, ”Paman
saya berniat untuk membuka cabang usaha disini apakah paman tidak
keberatan dengan niat saya itu?” tanpa beban Hamdan mengajukan permohonan
kepada Harianto. ”oh tidak apa-apa” tukasnya, meski sebenarnya Harianto merasa
kuatir akan tersaingi.
Dalam beberapa bulan cabang usaha Hamdani di daerah tersebut semakin berkembang dan maju pesat. ”Bagaimana
toh pak, kok diam saja, semenjak kedatangan saudaramu itu usaha kita jadi agak sedikit menurun” gerutu istri Harianto. Mendengar ucapan istrinya Harianto mulai gusar.
Disamping usaha, kepopuleran Pak Harianto
pun ikut tergeser, karena Hamdani lebih pandai bergaul dan lebih dermawan kepada masyarakat sekitarnya terlebih dalam memberikan bantuan kepada warga yang kurang mampu. Puncaknya ketika pelaksanaan pemilihan
kepala desa. ”Ibu gak rela kalau bapak hanya diam saja dengan keadaan seperti
ini, bapaklah yang lebih berhak dan pantas dicalonkan
menjadi kepala desa ketimbang hamdani”.
”Tapi dia saudara bapak” kilah Pak Harianto. ”Pokoknya ibu gak mau tahu, masa kita
harus kalah sama anak kemaren sore” ucapnya
berusaha mengompori suaminya.
Niat Buruk
Merasa selalu terpojok dan tidak menemukan jalan keluar
dari keterpurukannya, terlintas niat buruk dalam hati Harianto. ”Terpaksa kamu harus saya singkirkan Ham” gumamnya dalam hati. Hariantopun memutuskan untuk mendatangi seorang dukun langganannya untuk membuat Hamdani tidak betah di daerah tersebut.
Singkat cerita, tidak
begitu lama, Hamdani merasakan kelainan dengan kesehatannya,
beberapa kali diperiksa dokter tetapi tidak membuahkan hasil malah
semakin memburuk bahkan hampir tak bisa bangun dari tempat tidur. Disamping itu beberapa usaha yang selama ini di gelutinya
tiba-tiba menurun drastis, para pelanggan menjadi enggan berbelanja ke
toko Hamdani dengan berbagai alasan diantaranya karena banyak yang rusak atau
busuk.
Karena tak ingin semaikin terpuruk maka
setelah mendapat saran dari tetanga akhirnya Hamdani dan keluarga menemui seorang ahli rukyah di Semarang yang
dahulu juga pernah menolongnya. Iapun menceritakan
seluruh permasalahannya kepada ustadz massar. Akhirnya Hamdan dan keluarga segera mengikuti terapi rukyah yang
disarankan oleh ustadz Massar. ”Ustadz tolong tunjukan siapa orangnya yang tega melakukan semua ini kepada
kami sekeluarga” tanya Hamdani. ”Nanti kamu kan tahu sendiri” jawab ustadz. ”Yang terpenting kamu harus
sabar dan tawakal dan jangan biarkan api dendam bersemayan dalam jiwamu” tambahnya.
Setelah beberapa kali menjalani terapi rukyah Hamdani dan keluarga mendapat kesehatan kembali dan usahanya mulai normal seperti sedia kala. Sebaliknya, Harianto justru mengalami kecelakaan, kompor di
rumahnya tiba-tiba saja meledak saat istrinya sedang
memasak di dapur, akibatnya sebagian rumah terbakar. Dari sana akhirnya
terungkaplah bahwa selama ini Harianto
dan istrinya sering melakukan perbuatan
yang berbau syirik, terbukti dari banyaknya benda aneh
dan ghaib di rumahnya. Seluruh warga pun jadi mengetahui kalau Hariantolah dalang dari penyakit
dan juga terpuruknya bisnis Hamdani. Hingga akhirnya keluarga Harianto di jauhi
oleh masyarakat karena tidak menyukai akan perbuatannya.