Selasa, 17 Maret 2015

Gelisah belum diberi momongan



Aku Nia, seorang mahasiswi tingkat akhir di Jakarta yang menjalin cinta dengan Cahyo, anak salah seorang pengusaha kaya dan telah menyelesaikan S2 nya di luar negri. Dari awal menjalin hubungan, baik dari pihak keluargaku maupun keluarga Mas Cahyo memang telah meragukan  kelanggengan jalinan cinta yang kami rajut. Kenyataannya, aku memang merasa terpaksa menjalani hubungan dengan mas Cahyo yang kini telah memimpin salah satu perusahaan keluarganya. Namun, demi masa depan yang lebih baik aku rela menjalaninya dengan penuh kesabaran. “Cahyo itu orangnya baik dan pintar meskipun kadang dia egois dan ingin menang sendiri, tapi bukan itu yang membuatku ragu, justru desas desus tetangga dan teman-teman yang membuatku gak nyaman” curhatku kepada Dewi sahabatku. “terus, kenapa kamu masih mau jalan dengan dia” timpal Dewi. “terus terang aku melihat materi untuk kelangsungan hidupku dan anak-anakku nanti.” jawabku.
Setelah hampir 2 tahun menjalani hubungan akhirnya kami melangsungkan pesta pernikahan yang mewah. Sebagaimana kedua insan yang dimabuk asmara, beberapa bulan setelah mengikrarkan janji, kehidupan kami penuh dengan keriangan dan kegembiraan. Meskipun terkadang mas Cahyo masih pada kebiasaan lamanya yaitu merasa tinggi dariku. “kamu itu gak bisa bisa dibilangin, kalau ada ini maka kamu harus itu..bla..bla..!” nasehat Mas Cahyo kepadaku setiap dirinya sedang kesal.
Seiring berjalannya waktu, permasalahan-permasalahan kecil tersebut telah terbiasa dilewati tanpa solusi. Terkadang aku merasa tidak dihargai karena Mas Cahyo selalu merasa benar dan hal itu sering membuatku terpojok . Saat ini, setelah 7 tahun mengarungi rumah tangga, kami dicoba dengan ujian yang lebih berat, yaitu belum lahirnya seorang anak dari rahimku. Mengetahui hal itu, mulailah desas desus yang tidak mengenakkan dikalangan tetangga yang akhirnya sampai juga ke telinga keluarga mas Cahyo. Respon mereka pun berbeda-beda, dalam hal ini yang membuatku sedih adalah kenyataan bahwa mertuaku sendiri merupakan pihak yang paling keras dalam mencela diriku sebagai istri yang mandul. Tak jauh beda dengan ibunya, Sikap mas Cahyo yang selalu menolak untuk ceck up kedokter semakin membuatku terpuruk.
“Nia, Mama kasih kamu waktu sampai akhir tahun ini, jika tanda-tanda kehamilan itu belum muncul juga, kamu harus bercerai dengan Cahyo dan keluar dari rumah ini!” Ancam ibu mertuaku. Detak jantungku seakan berhenti sejenak, aku dimatikan oleh kata-kata ibu mertuaku terhadapku. Ya Allah, seorang ibu yang juga perempuan sama sepertiku tega berkata demikian. Meski menerima semua itu aku harus bangkit dari keterpurukan ini. “Aku harus bagaimana wi, mereka gak mau ngertiin aku, padahal belum tentu aku yang mandul” curhatku panjang lebar. “begini saja , besok ikut aku Ke Semarang menemui seorang ustadz yang ahli dalam meruqyah yang mungkin dapat memberimu jalan keluar, gimana?” ajak dewi.
“Banyaklah berdoa untuk suami, mintalah pertolongan Allah Swt agar suami ibu diberi petunjuk” nasihat sang ustadz sesaat setelah mengakhiri prosesi Rukyah Jarak Jauh untuk suami Nia. “Ajaklah suami ibu untuk dapat mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa” tambahnya.
Dengan perasaan yang masih luka aku mencoba untuk berdiri dan alhamdulillah Allah menunjukkan jalan-Nya. Tidak berselang lama, perubahan dalam diri mas Cahyo pun mulai terlihat. Selain lebih rajin beribadah, dia juga mulai melakukan berbagai terapi untuk dapat segera memiliki momongan termasuk terapi ruqyah diri untuk kami berdua setelah mengetahui diagnosa dokter bahwa Mas Cahyolah yang mandul. Meski rahasia telah terbongkar, justru semakin bersatu untuk menghadapi cobaan tersebut. Dan aku berusaha menerima kekurangan dari pasanganku sebagai bentuk rasa hormatku terhadapnya. Sampai akhirnya usaha dan ikhtiar kami selama ini berbuah manis. Atas izin Allah Swt aku melahirkan bayi laki-laki yang sehat. Aku hanya bisa mengucap syukur kepada Allah Swt bahwa aku masih diberikan kepercayaan untuk melahirkan seorang anak dari rahimku sendiri.

Jumat, 13 Maret 2015

Adikku Kena Pelet Karena Dendam


Barang siapa yang menanam, maka dialah yang memetik hasilnya. Pada saat itu, ungkapan tersebut menjadi momok menakutkan bagi Tiara, seorang janda (35) dengan 2 orang anak. Bagaimana tidak, apa yang pernah dilakukannya dulu telah menjadi sebab petaka bagi Mega (18) adik semata wayangnya.
Tepat satu tahun setelah kematian suaminya, Tiara mendapat tawaran kerja di Jakarta untuk mengelola restoran yang baru dibuka temannya. Sebagai anak tertua, Tiara merasa harus bertanggung jawab memikul beban keluarga karena sejak kepergian sang ayah beberapa tahun lalu, ibunya mulai sering sakit-sakitan dan membutuhkan biaya berobat yang tidak sedikit. Alhamdulillah, berkat ketekunan dan kerja kerasnya restoran tersebut dapat berjalan dengan lancar tanpa mengabaikan tanggung jawabnya sebagai tulang punggung didalam keluarga dengan baik.
Kehidupan terus berlanjut bak roda pedati yang terus menggelinding. Tak terasa satu tahun berlalu Tiarapun kembali kerumahnya di Bogor. Namun suatu kejadian terpampang jelas dimatanya, dimana dia harus mendapati kenyataan yang sangat memalukan dan menyakitkan bahwa adik bungsunya Mega sedang santer menjadi bahan gunjingan para tetangga yang beranggapan bahwa Mega itu silau dengan harta Toha (52) seorang pengusaha sukses dengan tiga orang istri.
“ Mega, apa benar yang diomongin para tetangga tentang kamu? Tanya Tiara
“Ya, emang ada yang salah dengan Pak Toha?
“Dia tuh gak seperti yang kakak atau orang-orang kira, lagian yang ngejalaninnya kan aku, kenapa semuanya pada repot?” Bela Mega
Terlintas sedikit keanehan dalam diri Tiara, dimana tidak biasanya adiknya bersikap keras kepala dan pembangkang sepetri itu. Sebagai seorang kakak, Tiara merasa takut jika semua itu hanya sebagai sarana balas dendam Toha atas penolakan Tiara dulu saat akan dipinang.
“Ibu tuh sudah capek menasehatinya, ya kalo memang sudah jodoh mau diapakan lagi”. Keluh ibunya setengah putus asa.
Dengan apa yang disampaikan Mega dan ibunya, Tiara semakin curiga. Dari fisik saja, tidak mungkin adiknya suka terhadap lelaki paruh baya yang sudah punya istri 3, dia juga bukan tipe cewek matrealistis seperti yang dikatakan orang-orang. Yang lebih mengherankan lagi, Mega tak lagi rajin beribadah maupun mengaji seperti dulu. Dalam kebimbangan tersebut, Tiara dan ibunya serta pihak keluarga yang lain  bersepakat untuk menasehati Mega bersama-sama. Namun bagi Mega, semua itu bagaikan butiran debu yang akan hilang saat tertiup angin.
 “Tiara, sebelumnya tante Mohon maaf kalau ikut campur tentang masalah Mega, tante merasa ada yang tak lazim dengan hubungan mereka terlebih Mega yang terlihat begitu tergila-gila dengan Toha hingga tak memperdulikan semuanya. Lebih baik kamu segera konsultasikan masalah ini dengan Ustadz Massar di Semarang, dia seorang Ustadz yang ahli dalam merukyah, siapa tahu bisa menemukan jalan keluarnya.” Ungkap Tante Tiara disuatu senja.
Dengan penuh harap Tiara dan ibunya menemui sang Ustadz yang dimaksud. Ringkas cerita, setelah berakhirnya prosesi Rukyah Jarak Jauh untuk diri Mega yang berlangsung hampir 1 jam, diperoleh kesimpulan bahwa apa yang ditakutkan Tiara tentang Mega terbukti benar. Selama ini kesadaran Mega dalam pengaruh dukun pelet suruhan Toha karena merasa dendam dan malu atas penolakan yang dilakukan Tiara beberapa tahun silam.
“ Saya sudah menetralizir pelet itu, saya harap Anda dan keluarga tetap istiqomah menjalankan ibadah dan tidak menaruh dendam dengan siapapun karena itu hanya akan memperkeruh keadaan.” Pesan sang Ustadz.
Alhamdulillah, sejak itu Mega sembuh dari energi negative yang selama ini bersarang ditubuhnya dan kembali hidup normal dengan berusaha mengubur kenangan pahit masa lalunya. Tohapun memutuskan untuk pindah rumah karena tak kuasa menahan malu akibat perbuatannya. “ aku harus lebih banyak bersyukur masih diberikan waktu oleh Allah untuk memperbaiki diri,memperbaiki ibadahku yang menurun tajam karena ketamakkan seorang lelaki yang ingin memilikiku secara paksa”. Ungkap Mega beberapa hari kemudian via Email. 

Selasa, 10 Maret 2015

Jalan Tobat Tukang Zina


Astaghfirullah, gara-gara melihat video porno, pemuda ini terjerumus zina. Mengetahui hal itu, ibunyapun syock dan hampir koma karena penyakit jantungnya kambuh. Pemuda itupun tergugah, lalu ia ingin tobat.
Sebenarnya keluargaku baik-baik saja. ayah dan ibu sama-sama PNS , soal ekonomi berkecukupan dan suasana keluarga sangat harmonis. Tapi tanpa sepengetahuan orangtuaku, aku sudah kecanduan video porno. Akibatnya ketika aku masuk kelas 6 SD adegan-adegan dalam film tersebut ku praktekkan kepada adik kandungku yang masih TK.  Kebiasaan buruk itu masih tetap kulakukan, parahnya ketika menginjak bangku SMP aku sudah pernah berhubungan seks dengan kakak kelasku.
Menginjak SMA aku mulai berfikir lebih jauh, kenapa tidak menjadi pemuas nafsu perempuan saja, kan bisa dapat uang. “sambil menyelam minum air” pikirku. Semenjak itulah aku mulai dikenal dikalangan tante-tante, istri pengusaha kontraktor yang sering bekerja diluar kota. Bilamana suami-suami mereka keluar kota  aku langsung dikontak mereka dan terjadi hal-hal menakjubkan yang aku ciptakan. Tentunya dengan itu aku sangat terkenal dikalangan tante-tante borju itu.
DAPAT HIDAYAH
Dari semua perjalanan itu, aku tidak pernah pacaran karena entah mengapa aku tidak pernah tertarik dengan perempuan sebayaku. Aku menyukai dan bisa menikmati hubungan seks hanya dengan tante-tante saja. Astaghfirullah.
Entah mengapa belakangan ini ibuku sangat mengawasiku, sampai-sampai dia rela untuk cuti hanya ingin menemaniku. Tapi aku yakin dia cuti karena ingin mengawasiku. Sampai suatu ketika ibuku sudah cukup bukti tentang kelakuan busukku selama ini. Pernah suatu ketika aku kepergok  berada dirumah seorang tante. Klimaksnya, ketika tahu dan melihat dengan mata kepala sendiri akan kelakuanku itu, ibu syock berat. Mag kronisnya dan penyakit jantungnya kambuh  sehingga membuatnya tidak sadarkan diri dan koma hampir seminggu.
Melihat ibuku menderita seperti itu, aku sangat terpukul. Ditambah lagi ayah terlihat sangat kecewa dan malu karena aku. Pada saat itu aku begitu membenci diriku, betapa aku hina dan menjijikkan. Ingin rasanya menghilang dari kenyataan. Aku sangat menyayangi ibuku, apalagi mengingat ketika kecil ibu yang merawat, mengasuh, dan menjaga dan mencintai dan selama ini dia benar-benar menyayangiku, selalu membanggakanku kepada saudara dan teman-temannya. Aku sangat berdosa pada ibu dan mulai saat itu aku bertekad ingin berubah dan memulai kehidupan baru.
Melihat penyesalanku, ayahpun tak tega melihatku yang sama terpuruknya dengan ibu, biar bagaimanapun aku tetap darah dagingnya. Akhirnya ayah membawaku ke tempat ustadz massar yang dia ketahui dari atasannya. Disana akupun diruqyah dan dibimbing untuk melakukan pertaubatan.  Aku ceritakan semua hal buruk yang telah aku lakukan. Bukannya menghinaku, ustadz massar malah memberiku support untuk bertobat dan wejangan untukku menghadapi hidup sesuai dengan ketentuan Alqur’an dan hadits. Setelah itu aku memulai kehidupan baru dengan berusaha menjadi orang baik dan berguna. Ketika aku menemui kendala dan sulit aku aku selesaikan aku selalu menemui ustadz massar untuk meminta nasehatnya. Sekarang aku menjadi orang yang lebih baik dan bahagia.

Selasa, 03 Maret 2015

Ruqyah Solusi Penyakit Hati



Panggil saja aku Budi, Papaku merupakan seorang pejabat pemerintahan yang mempunyai beberapa usaha sampingan, sedang untuk pengelolaannya dipercayakan kepada beberapa orang sahabatnya yang mempunyai keahlian dibidangnya. Papa hanya mengontrol di saat selesai jam kerjanya. Tak heran jika kami sekeluarga hidup bergelimang harta.
Setiap hari kerjaku hanya bersenang-senang dan ke diskotik bersama teman-teman yang rata-rata anak orang berada. Mama memang sering memperingatkanku tapi tak pernah aku gubris. Astaghfirullah,Budi, sampai kapan kamu akan terus seperti ini?” tegur mama malam itu saat aku pulang dalam keadaan mabuk berat. Aku tak menjawab karena keburu jatuh tersungkur tak sadarkan diri.
Sebenarnya semua itu aku lakukan karena sikap protesku terhadap papa yang terlalu sibuk dengan urusan kantornya sehingga jarang memperhatikan aku maupun mama. Walau mama tak pernah mengeluh tapi aku tahu kalau mama juga jenuh dengan sikap papa.
Sampai suatu ketika kami dikejutkan dengan  pemberitaan di berbagai media bahwa papa terlibat kasus korupsi di instansi pemerintahan tempat dia bekerja. Awalnya aku tidak percaya, sampai akhirnya salah seorang teman kantor papa datang ke rumah dan mengabarkan kalau papa terlibat kasus korupsi dan saat ini dalam penyelidikan pihak yang berwajib. Buntut dari perbuatan papa, beberapa mobil dan rumah beserta isinya disita oleh bank. Papapun di jadikan tersangka dan harus mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Melihat kenyataan ini, aku tentu saja secara cepat naik pitam. Emosi jiwapun memuncak hingga merasakan dikepalaku tumbuh tanduk. Kami kehilangan hampir semua yang kami miliki, nama baik, kepercayaan dan bahkan kebebasan kami untuk sekedar berjalan-jalan ditengah kota. Selang beberapa hari kemudian mamapun jatuh sakit karena tak kuat menanggung malu dan kesedihan yang teramat sangat.“ Sudahlah ma, jangan terlalu difikirkan” kataku mencoba menenangkan mama, akan tetapi mama hanya diam dan terus menangis dan merenungi atas apa yang telah terjadi. Semakin hari tubuhnya semakin kurus, seakan tak mempunyai harapan untuk menatap masa depan, meskipun aku selalu ada disampingnya. Walaupun Kami sempat membawa mama ke rumah sakit, akan tetapi apalah daya, takdir telah berkata lain mama harus meninggalkanku untuk selama-lamanya.
Menghadapi kenyataan seperti itu, rasa benci dan kecewaku kepada papa semakin memuncak sampai ke ubun-ubun. Akupun semakin tenggelam dalam kesedihan setelah ditinggal  mama. Sampai akhirnya aku lari ke Narkoba. Beruntung aku masih mempunyai seorang sahabat yang peduli dengan keadaanku. “Sadar Bud, ini bukan akhir dari segalanya” nasehatnya. “Apalagi bro, semua sudah berakhir, aku sudah tidak punya apa apa lagi” sambil bercucuran air mata aku menjawab.
Meskipun aku sudah beberapa kali mengecewakannya, namun sahabat karibku tidak pernah menyerah maupun putus asa. Dengan sekuat tenaga dia selalu berusaha menyadarkanku dan memberiku semangat untuk bangkit dari semua cobaan ini. Dia pula yang telah membawaku ke seorang pakar ruqyah yang bernama ustadz Massar untuk melaksanakan ruqyah diri agar aku dapat segera sadar dan bangkit dari keterpurukanku. Alhamdulillah setelah beberapa kali melakukan terapi ruqyah yang dibimbing langsung oleh Ustadz Massar, aku merasa lebih tenang menghadapi semua masalahku dan mencoba untuk bangkit dari semua derita batin yang aku alami untuk menjadi manusia baru yang bisa dibanggakan. Meskipun aku masih sakit hati dengan papa, tapi aku berusaha untuk ikhlas dan tidak membencinya, karena dialah orang yang paling berjasa dalam hidupku selama ini.
Sebagai manusia baru, aku mulai menata hidup kembali. Meskipun hidup sederhana, bagiku itu lebih dari cukup asal kita bisa bersyukur. Berfoya-foya adalah masa laluku yang harus aku delete bukan untuk menghilangkan akan tetapi menjadi pelajaran. Dengan semua bentuk keburukan yang telah aku lakukan, ternyata aku baru menyadari bahwa hanya menjadi seorang muslim sejatilah hidup bisa menjadi tenang. Semoga kisah ini bisa menjadi renungan yang berarti.