Jumat, 21 Agustus 2015

Menghapus Trauma Penghianatan



Aku Heru, sebut saja demikian. aku merupakan anak tunggal dari seorang pengusaha sukses yang telah menduda selama 2 tahun. Penyakit kanker hati yang diderita ibuku beberapa tahun silam telah merenggut nyawa dan kasih sayangnya untuk keluarga. Kepulanganku ketanah air selain telah berhasil mendapatkan gelar Master of law di Melbourne Australia, aku juga telah siap memegang kendali salah satu perusahaan keluarga yang dipercayakan kepadaku.
Tak terasa telah setahun lamanya aku menjalankan tugasku sebagai pimpinan di perusahaan dengan baik. Setelah berhasil meraih apa yang kuimpikan selama ini, akupun memutuskan untuk mengakhiri masa lajangku diusia yang ke-32 bersama Luna, seorang gadis cantik yang telah aku pacari sejak masih sama-sama kuliah di Melbourne. Segala angan–angan dan harapan bisa meraih kebahagiaan dan mewujudkan mimpi bersama mulai membayangiku hingga membuatku tenggelam dalam khayalan memiliki rumah tangga yang indah dan tanpa masalah.
Semua hal memang terasa indah pada awalnya, namun semua itu rupanya hanya bersifat sementara. Tahun ke tiga perkawinan kami, Luna mengalami kecelakaan yang menyebabkan patah tulang pada kaki kirinya dan dilanjutkan dengan terapi selama beberapa bulan.
“pah, papa bisa nemenin luna gak, selama menjalani terapi? Pintaku
“beberapa bulan kedepan aku akan sangat disibukkan tugas kantor yang harus segera diselesaikan.” Tambahku.
Dengan berbagai pertimbangan dan persetujuan dari istriku akhirnya papalah yang menemani Luna selama pengobatan. Hari, minggu dan bulan saling berganti secara berurutan tanpa bisa dihentikan. Tanpa kusadari, Kedekatan antara luna dan papa yang mulai terjalin selama menjalani terapi ditambah kesibukanku mengurus pekerjaan ternyata telah menumbuhkan satu rasa yang istimewa diantara mereka.
“Ayah,, Luna!!!” teriakku seolah tak percaya dengan apa yang kulihat. Selama ini aku mencoba untuk selalu berbaik sangka. Namun itu semua lenyap laksana debu tertiup angin tatkala menyaksikan pemandangan di depan mataku. Hancur sudah harapanku memiliki rumah tangga yang harmonis.
Hatiku menjerit, bertanya dan bergejolak, bagaimana bisa orang-orang terkasihku berbuat tak senonoh dibelakangku. Kali ini aku benar-benar tak paham , rasa amarah ini memuncak begitu saja, sakit hati ini telah menjalar hingga membuat kepingan-kepingan hatiku jatuh berantakan. Aku tak berdaya melihat kenyataan yang sangat sulit kuterima. Titik kehancuran itu semakin terlihat,Godaan yang mulai berdatangan mengiringi rasa sakit dan kecewa perlahan-lahan membawaku untuk melarikan diri dengan lebih menghabiskan waktu bersama teman-teman dan juga minuman. Beberapa pekerjaan aku abaikan hingga mengalami penurunan.
“Kayaknya kamu lagi banyak masalah ya? Tanya Rudi, sahabat sekaligus tangan kananku dikantor.
“Gak tau lah Rud, aku merasa gak ada gunanya lagi mempertahankan semuanya, orang yang aku sayangi dan kuhormati tega menusukku dari belakang.” Jawabku pasrah
Setelah sharing panjang lebar tentang masalahku, tanpa dikomando Rudi segera mengambil  tindakan dengan mengajakku ke Semarang menemui ustadz massar, seorang ustadz yang ahli dalam meruqyah. Ternyata beliau juga pernah menolong Rudi saat prahara rumah tangganya diambang kehancuran, seperti yang aku rasakan saat ini.
“berlarut dalam kesedihan tak akan bisa membuatmu bangkit, saya memaklumi jika kamu sangat terpukul, tapi ingat janganlah kesedihan itu membutakan hatimu hingga membuatmu putus asa.” Pesan ustadz massar.
Dengan perasaan luka yang masih bersarang, aku mencoba untuk tegar dan bangkit.  Alhamdulillah, Allah telah menunjukkan jalan keluar-Nya. Luna dan juga ayah telah menunjukkan perubahan yang positif dan menyesali segala khilaf yang pernah mereka buat. Akupun berjanji kepada diriku sendiri, aku tidak akan membenci siapapun termasuk istri dan ayahku sendiri dan berusaha mengubur kenangan pahit masa lalu untuk memulai hidup baru yang lebih baik. Untuk itulah aku senantiasa berdoa kepada Allah SWT agar cobaan yang terjadi kepadaku dapat menjadi pelajaran hidup yang berharga dan kekuatan untuk bangkit.


Jumat, 07 Agustus 2015

Istriku Durhaka Kepada Ibuku


Terkadang kita tak menyadari bahwa pernikahan yang dijalani bisa mengalami pasang surut. Yang terbayang dibenak kita, bahwa pernikahan itu laksana memasuki pintu surga padahal dibalik itu semua, ada pintu neraka yang sedang menunggu kita untuk dimasukinya juga.
Aku surya, seorang pegawai biasa yang bekerja di perusahaan Amerika yang bertempat dijakarta. Aku termasuk workaholic dan ulet dalam setiap pekerjaan. Mungkin hal itulah yang membuat Dina, anak sulung salah satu keluarga pemegang saham terbesar diperusahaan tempatku mencari nafkah memilihku untuk menjadi pasangan hidupnya. Menurutnya aku merupakan sosok seorang lelaki yang dicarinya selama ini.
Pada awalnya, aku memang menolak permintaannya untuk menjadikanku sebagai kekasihnya karena aku menyadari siapa diriku dan statusku di perusahaan. Akan tetapi saat masalah hidup yang pelik mulai mendera keluargaku, entah bagaimana ceritanya Dina datang sebagai dewi fortuna dan menyelamatkan keluargaku dari lilitan hutang  rentenir yang ditinggalkan almarhum ayah.
Melihat kegigihan dan keseriusannya mendapatkan hatiku, Aku yang merasa berhutang  budi dengannya perlahan –lahan mencoba membuka hatiku untuknya. Singkat cerita, setelah menjalani proses pacaran hampir 1 tahun kamipun melangsungkan pesta pernikahan yang sangat meriah. Praktis segala kehidupanku berubah mewah setelah menyandang status baru sebagai menantu pengusaha kaya tak terkecuali posisiku dikantor yang langsung melejit. Akupun membawa serta ibuku untuk tinggal satu atap bersamaku dan juga istriku.
Awal kehidupan rumah tanggaku dengan Dina memanglah baik dan nyaris tanpa masalah. Namun dalam perjalanan waktu, konflik itu perlahan namun pasti mulai meradang kami. Istriku yang selalu bersikap manis dan patuh ketika dihadapanku ternyata mempunyai perangai yang buruk saat aku tak ada dirumah. Menurut pengakuan bibi( pembantuku), Dina sering memarahi ibuku dan menganggap ibuku sejajar dengan bibi, Astaghfirullah!!.
Hati siapa yang tidak hancur Melihat kenyataan seorang istri ternyata tega berbuat nista kepada ibu mertuanya sendiri dibelakang suami. Aku sendiri merasa gagal menjadi anak yang berbakti kepada orangtuanya dan imam dalam rumahtanggaku.
Aku sudah benar-benar tak kuasa menahan amarahku, suara serak yang mencekat kerongkonganku akhirnya kupaksa juga untuk berkata “ mulai malam ini kita cerai!!” ujarku penuh dengan emosi. Sejak terungkapnya peristiwa menyakitkan itu, rumah tanggaku seolah mati rasa. Tak ada lagi keharmonisan dan kasih sayang.  Aku dan ibuku memutuskan untuk kembali tinggal dirumah peninggalan almarhum ayah dan hidup tenang bersama ibuku tercinta. Penyesalan tinggalah penyesalan, kini yang tersisa dibatinku adalah sebuah luka yang sangat mendalam.
“ Surya minta maaf bu, aku janji akan menjaga ibu dan tidak akan ada lagi yang menyakiti ibu” ungkapku usai solat berjamaah bersama ibuku.
“ ibu sudah memaafkanmu dan juga dina,  maafkanlah istrimu dan ajaklah dia bertaubat agar bisa meraih surga bersama-sama”. Pinta ibuku yang membuatku terharu.
Ditengah kegalauanku, aku bertemu dengan Yuda sahabat dekatku sejak kecil. Dia pula yang mengantarkanku bertemu dengan ustadz massar di semarang untuk mencari solusi masalahku melalui doa dan ayat-ayat ruqyah yang dipanjatkan. “tak ada satupun pernikahan yang sempurna. percayalah bila kita ikhtiar dan bersabar masalah sepelik apapun pasti ada jalan keluarnya.” Itulah nasehat yang disampaikan ustadz massar yang selalu aku ingat hingga sekarang karena aku percaya Allah SWT  takkan memberi cobaan diluar batas kemampuan hamba-Nya.
Disuatu malam Dina datang dan langsung bersimpuh dikakiku . Ia menangis, menyesali semua yang terjadi dan ingin kembali memulai kehidupan rumah tangga kami yang telah hancur karena sikapnya. Dengan perasaan masih terluka aku mencoba memulai lembaran baru , tak ada air mata yang yang tak bisa menyelesaikan segalanya. Hidupku berlandaskan cinta, meski perih harus kulalui. Semoga kedepannya kami selalu diberi petunjuk dan kekuatan oleh Allah SWT untuk  menapaki hidup yang lebih baik.

Selasa, 04 Agustus 2015

Meluluhkan Hati Orangtua



Sebut saja aku Kinara, Diusiaku yang menginjak 30 th, aku masih saja hidup menjomblo. Sebenarnya banyak juga laki-laki yang mencoba mendekatiku dari mulai teman sekolah, teman kuliah hingga rekan kerjaku. Namun mereka semua akhirnya mundur teratur karena tidak tahan dengan sikap orang tuaku yang sombong dan otoriter. Mereka menetapkan kriteria yang cukup tinggi untuk calon pendampingku kelak. Menurutnya,  aku adalah barang dagangan yang bisa dijual dengan harga tinggi.
Akupun menjomblo untuk yang kesekian kalinya. Setelah melewati masa-masa suramku yang tersakiti, Tak berselang lama aku kembali berkenalan dengan seorang pemuda baik yang membuat hatiku akhirnya bertekuk lutut. Teman-teman menyebutku cantik dan mudah bergaul, mungkin itulah yang membuatku cepat akrab dengan orang sekitar tak terkecuali Dahlan staf baru di kantorku. Akibat seringnya bertemu dan bekerja sama akhirnya perasaan cinta itu pun tumbuh subur diantara kami. Hubungan kami berjalan dengan lancar hingga 5 bulan lamanya karena aku tak pernah memberitahukan hal ini kepada mama dan papa. Aku takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti sebelumnya. Setiap pagi saat berangkat kerja aku selalu menghampiri Dahlan kerumahnya lalu kita berangkat ke kantor bersama-sama. Begitulah setiap harinya kami selalu berangkat dan pulang kerja bersama. Dengan lapang dada Dahlan menerima segala keputusan yang aku ambil karena aku tak ingin hubungan ini kandas begitu saja. 
Tak terasa telah 2 tahun lamanya kami menjalani hubungan backstreet dan pada hari yang telah kami tentukan, Dahlanpun datang kerumah untuk melamarku.
“ Pak…maksud kedatangan saya kali ini, ingin mengutarakan niat saya untuk melangkah lebih jauh bersama Kinara …jika diijinkan saya akan membawa kedua orang tua saya kesini untuk mengajukan lamaran resmi…” ucap Dahlan kepada papa.
“ Kami berdua sudah tahu maksud kedatanganmu… tapi sebagaimana kamu tahu, kami  tak ingin kinara nantinya hidup sengsara …” jawab papa sinis.
“ saya adalah lelaki yang bertanggung jawab saya akan bekerja keras... untuk menghidupi dan menjaga keluarga saya nantinya “ jawab Dahlan  mantap.
Rasa egois dan aura negatif yang telah memenuhi hati dan perasaan orangtuaku membuat Dahlan merasa direndahkan. Dengan bangga papa mengatakan bahwa aku telah dijodohkan dengan seorang pengusaha kaya yang tentunya bisa membahagiakan hidupku. Meski semua itu hanyalah omongkosong demi menjaga gengsi semata. Akhirnya Dahlan pulang dengan memikul rasa kecewa yang menumpuk di hatinya, begitu juga denganku yang begitu kecewa dengan sikap orangtuaku. Mereka tak pernah mau mengerti perasaanku dan apa yang aku inginkan. Tapi Aku bukan wanita yang suka berontak jika disakiti. Aku hanya bisa diam dan menahan betapa perihnya hatiku dengan apa yang telah terjadi. Selepas kejadian malam itu, hubunganku dengan Dahlan terputus tanpa ada kepastian. Setiap kali bertemu di kantor, kami hanya diam tak bertegur sapa karena kami sama-sama memendam rasa kecewa atas keputusan orangtuaku. Aku hanya bisa ikhlas dengan keputusan mereka dan berusaha tegar menghadapinya. Semoga Allah memberiku hati yang lapang.
Lina sahabatku yang merasa iba dengan apa yang tengah menimpaku,mencoba menawarkan diri dengan mengajakku menemui Ustadz Massar. Kepada beliau ku tumpahkan semua sesak didadaku dengan air mata berlinang.
“ sudah... hapus air matamu, apapun yang terjadi syukuri hidup ini, ingatlah bahwa kita masih punya Allah SWT tempat kita mengadu ketika hati sedang gundah,gelisah dan dipenuhi dengan keputusasaan “ ucap beliau dengan arif.
Memang sepulang dari tempat beliau aku merasakan ketenangan dan perubahan yang nampak pada diri orangtuaku. Semakin hari sifat – sifat buruk dan ketamakan yang telah lama bersemayam dalam hati mereka semakin berkurang. Yang membuatku terkejut, rupanya mama, papa dan juga Dahlan telah saling memaafkan dan merencanakan pesta pertunangan untuk meresmikan hubungan kami. Subhanallah, mungkin ini jawaban dari Allah atas apa yang aku usahakan selama ini.