Aku Heru, sebut saja demikian. aku merupakan anak tunggal
dari seorang pengusaha sukses yang telah menduda selama 2 tahun. Penyakit
kanker hati yang diderita ibuku beberapa tahun silam telah merenggut nyawa dan kasih
sayangnya untuk keluarga. Kepulanganku ketanah air selain telah berhasil
mendapatkan gelar Master of law di Melbourne Australia, aku juga telah siap
memegang kendali salah satu perusahaan keluarga yang dipercayakan kepadaku.
Tak terasa telah setahun lamanya aku menjalankan tugasku
sebagai pimpinan di perusahaan dengan baik. Setelah berhasil meraih apa yang
kuimpikan selama ini, akupun memutuskan untuk mengakhiri masa lajangku diusia
yang ke-32 bersama Luna, seorang gadis cantik yang telah aku pacari sejak masih
sama-sama kuliah di Melbourne. Segala angan–angan dan harapan bisa meraih
kebahagiaan dan mewujudkan mimpi bersama mulai membayangiku hingga membuatku
tenggelam dalam khayalan memiliki rumah tangga yang indah dan tanpa masalah.
Semua hal memang terasa indah pada awalnya, namun semua
itu rupanya hanya bersifat sementara. Tahun ke tiga perkawinan kami, Luna
mengalami kecelakaan yang menyebabkan patah tulang pada kaki kirinya dan
dilanjutkan dengan terapi selama beberapa bulan.
“pah, papa bisa nemenin luna gak, selama menjalani
terapi? Pintaku
“beberapa bulan kedepan aku akan sangat disibukkan tugas
kantor yang harus segera diselesaikan.” Tambahku.
Dengan berbagai pertimbangan dan persetujuan dari istriku
akhirnya papalah yang menemani Luna selama pengobatan. Hari, minggu dan bulan
saling berganti secara berurutan tanpa bisa dihentikan. Tanpa kusadari,
Kedekatan antara luna dan papa yang mulai terjalin selama menjalani terapi
ditambah kesibukanku mengurus pekerjaan ternyata telah menumbuhkan satu rasa
yang istimewa diantara mereka.
“Ayah,, Luna!!!” teriakku seolah tak percaya dengan apa yang kulihat. Selama
ini aku mencoba untuk selalu berbaik sangka. Namun itu
semua lenyap laksana debu tertiup angin tatkala menyaksikan pemandangan di depan mataku. Hancur sudah harapanku memiliki rumah tangga yang
harmonis.
Hatiku menjerit, bertanya dan bergejolak, bagaimana bisa
orang-orang terkasihku berbuat tak senonoh dibelakangku. Kali ini aku
benar-benar tak paham , rasa amarah ini memuncak begitu saja, sakit hati ini
telah menjalar hingga membuat kepingan-kepingan hatiku jatuh berantakan. Aku
tak berdaya melihat kenyataan yang sangat sulit kuterima. Titik kehancuran itu
semakin terlihat,Godaan yang mulai berdatangan mengiringi rasa sakit dan kecewa
perlahan-lahan membawaku untuk melarikan diri dengan lebih menghabiskan waktu
bersama teman-teman dan juga minuman. Beberapa pekerjaan aku abaikan hingga
mengalami penurunan.
“Kayaknya kamu lagi banyak masalah ya? Tanya Rudi,
sahabat sekaligus tangan kananku dikantor.
“Gak tau lah Rud, aku merasa gak ada gunanya lagi
mempertahankan semuanya, orang yang aku sayangi dan kuhormati tega menusukku
dari belakang.” Jawabku pasrah
Setelah sharing panjang lebar tentang masalahku, tanpa
dikomando Rudi segera mengambil tindakan
dengan mengajakku ke Semarang menemui ustadz massar, seorang ustadz yang ahli
dalam meruqyah. Ternyata beliau juga pernah menolong Rudi saat prahara rumah
tangganya diambang kehancuran, seperti yang aku rasakan saat ini.
“berlarut dalam kesedihan tak akan bisa membuatmu
bangkit, saya memaklumi jika kamu sangat terpukul, tapi ingat janganlah
kesedihan itu membutakan hatimu hingga membuatmu putus asa.” Pesan ustadz
massar.
Dengan
perasaan luka yang masih bersarang, aku mencoba untuk tegar dan bangkit. Alhamdulillah, Allah telah menunjukkan jalan
keluar-Nya. Luna dan juga ayah telah menunjukkan perubahan yang positif dan
menyesali segala khilaf yang pernah mereka buat. Akupun berjanji kepada diriku
sendiri, aku tidak akan membenci siapapun termasuk istri dan ayahku sendiri dan
berusaha mengubur kenangan pahit masa lalu untuk memulai hidup baru yang lebih
baik. Untuk itulah aku senantiasa berdoa kepada Allah SWT agar cobaan yang
terjadi kepadaku dapat menjadi pelajaran hidup yang berharga dan kekuatan untuk
bangkit.