Aura negatif selalu memancar dari orang yang
menggeluti ilmu hitam dan memuja syetan. Seindah apapun pakaian dan perhiasan
yang menghiasi, sebenarnya hanyalah fatamorgana. Oleh karena itu, setiap
orang shaleh pasti bisa melihat dengan jelas keburukan dalam dirinya. Sebut
saja Herman (47)(nama disamarkan), Masyarakat sekitar mengenalnya sebagai seorang
pengusaha sukses yang sering keluar kota dengan mobil mewah, Aisyah (nama
disamarkan)sendiri kurang tahu pasti akan pekerjaan suaminya tersebut. Dia
hanya tahu suaminya seorang pedagang buah di kota.
“Ibu tolong jangan buka kamar tengah, itu khusus
untuk tempat istirahat ayah” pinta Herman. “Emang kenapa yah” Tanya Aisyah.
“Pokoknya jangan masuk !!” bentaknya. Sampai saat ini Aisyah tidak mengetahui
apa yang ada dibalik pintu kamar tengah. Dari hari ke hari, rasa penasaran
selalu menggelayuti pikirannya. Dia merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan
kehidupan suaminya.
Selama itu pula Aisyah selalu bertanya-tanya
dalam hati, mengapa suaminya menjadi mudah marah dan sekaligus mudah memperoleh
uang. “Yah, sudah 20 tahun kita berkeluarga. Tapi ibu merasa aneh selama dua
tahun terakhir ini” keluh Aisyah. “Aneh apa toh Bu?” jawab Herman spontan.
“Ayah kok mudah sekali dapat uang, padahal ibu tau kerja ayah cuma
kesana-kemari tidak jelas” tanya Aisyah berani. “Oh, jadi sekarang ibu sudah
berani menuduh ayah ya”bentak Herman yang hampir nekat memukul Aisyah.
Suatu hal yang wajar apabila Aisyah selalu
bertanya, karena masyarakat sekitar tahu bahwa keluarga Herman dulunya adalah
kurang mampu. “Eh jeng tau gak, kayaknya tetangga kita ada yang punya pesugihan
deh” gosip bu Endang sambil melirik Aisyah ketika belanja di warung. “masak iya
sih jeng??” tanggap dewi. Seringnya mendengar hal tersebut, membuat Aisyah
semakin bertambah resah.
Kecurigaan Aisyah pada suaminya semakin bertambah
mana kala salah satu anaknya menderita penyakit aneh dan tidak tertolong.
Disusul pembantunya yang tiba-tiba keluar karena seringnya mendengar
suara-suara aneh dikamar pribadi Herman. Merasa terlambat, Semenjak itu Aisyah
meyakinkan diri bahwa permasalahan ini berasal dari pekerjaan suaminya.
Teringat peringatan suami, dengan segala keberanian, akhirnya Aisyah membuka
pintu larangan tersebut.
“Astaghfirullahal’adzim” kaget Aisyah. “Ternyata
selama ini ayah telah melakukan kemusyrikan” batinnya. Kamar tersebut dipenuhi
dengan benda-benda penuh kesyirikan. Ketika Herman datang, tanpa ragu Aisyah
menegurnya “Tobat yah, itu dosa besar” rintihnya. “Plaak” tamparan keras
diterima Aisyah. Alih-alih sadar, Herman justru kalap seperti kesetanan.
Dalam kepanikan Aisyah mencoba menghindari Herman
dan pulang ke rumah orang tuanya bersama anaknya. Atas saran sang ibu, akhirnya
Aisyah menemui Ustadz Massar di Semarang. “Saya harap ibu bersabar, insya Allah
saya akan membantu menyelesaikan permasalahan ini” jawab ustadz setelah
mendengar penuturan Aisyah.
Tanpa menunggu waktu lama, akhirnya ustadz ahli
ruqyah tersebut mendatangi kediaman Aisyah dan suami. Setelah menjelaskan
maksud kedatangannya, tanpa dikira Herman kerasukan, Ustadz Massar pun spontan
melaksanakan ruqyah atas diri Herman, atas izin Allah akhirnya Herman dapat
disadarkan. Selanjutnya, Herman diberikan wejangan dan nasihat untuk kembali
kejalan yang benar dan bertaubat setelah dilaksanakan ruqyah tempat untuk rumah
Herman agar dihilangkan dari aura negative yang selama ini menyelimuti
rumahnya. “Ingatlah pesan Rasul, bahwa kefakiran lebih mendekatkan kepada kekufuran”.
Pungkas sang ustadz.