Kamis, 30 April 2015

Ketika suami ringan tangan



Awalnya Ririn tak pernah menyangka jika Heri suaminya ternyata sosok pria yang ringan tangan  dan tempramental. Sebelum menikah ia mengenal suaminya sebagai sosok yang perhatian dan penyabar. Oleh karena itulah ia memantapkan hati menerima pinangan dari atasannya tersebut. Awal pernikahan berjalan dengan indah, selain memiliki suami yang penyayang iapun bisa membantu saudara-saudaranya dikampung yang kurang mapan. Kebahagiaan mereka semakin bertambah manakala Ririn mengandung dan melahirkan putri pertamanya. Segala perhatian dan kasih sayang suaminya semakin bertumpah ruah. Kehidupan itu begitu sempurna. Tak ada kekurangan dan keributan sampai usia perkawinan menginjak tahun ke-5. Namun manisnya cinta itu luntur perlahan setelah hadirnya wanita lain dihati suaminya.
 Saat itu, Ririn yang sedang belanja kebutuhan anaknya bersama baby sitter disebuah Mall tanpa sengaja melihat suaminya sedang asik makan siang dengan gadis yang masih belia. Jantungnya berdebar kencang, kepalanya pusing dan kakinya lemas seakan tak mampu lagi menopang tubuhnya tapi Ririn tetap  berusaha untuk tegar dihadapan anak dan juga baby sitternya.
" Ayah tadi siang makan sama siapa, kok mesra banget kelihatannya?", tanya Ririn penuh selidik kepada suaminya.
" Mama ngomong apa sih? , jangan ngaco deh," elak Heri
Tak berselang lama Keduanyapun pecah dalam perdebatan sengit. Percekcokan yang semakin panas membuat Heri naik pitam dan “PLAAAKK” tamparan keras menyambar pipi kanan Ririn diiringi dengan kata-kata kasar yang mulai berhamburan dari mulut Heri. Hanya air mata yang mampu mewakili perasaan Ririn saat itu.
Semakin hari, perlakuan kasar Heri terhadap istrinya semakin tak terkendali. Puncaknya, saat usaha yang digelutinya selama ini mengalami masalah finansial. Bahkan dia tak mau mengakui Angel sebagai darah dagingnya dan berniat menceraikan Ririn yang dianggap pembawa sial dalam hidupnya.
Ditengah rasa sakit akibat hancurnya rumah tangga, Ririn memutuskan pergi dari rumah dan menempati rumah kontrakan bersama anaknya yang masih kecil di Jakarta. Melalui relasi dan kawan lamanya di SMA, Ririn berhasil mendapatkan pekerjaan sebagai administrasi di perusahaan Telekomunikasi. Mengetahui hal itu, Heri mendatangi rumah kontrakan Ririn dan meminta ganti rugi atas apa yang telah diberikannya selama ini. Entah apa yang dipikirkan heri saat itu, yang jelas tindakan heri semakin membuat hidup ririn terganggu.
Kebangkrutan Heri sebenarnya karena ulahnya sendiri yang tak segan-segan memanjakan perempuan gelapnya dengan berbagai macam fasilitas. Dampaknya pekerjaan menjadi kacau dan keuangan usaha menjadi tidak sehat.
Rasa iba atas peristiwa yang menimpa suaminya, membuat Ririn bertekad untuk merubah perangai suaminya menjadi lebih baik lagi. Bersama rekan kerjanya, Ririn mencoba menemui seorang Ustad di Semarang untuk melakukan Rukyah pada suaminya agar tersadar dan berubah seperti sediakala.
 "Suami Anda telah salah langkah, tuntunlah dia agar kembali ke rel yang benar jangan ditinggalkan sendiri. Saya akan merukyahnya agar aura negative dalam jiwa dan raganya bisa ternetralisir dan hilang". Ujar Ustadz Massar.
Beberapa minggu Pasca Rukyah jarak jauh,  Ririn yang sedang bermain bersama buah hatinya kembali dikejutkan dengan kedatangan Heri dirumah kontrakannya. Rasa was-was dan khawatirpun sempat muncul dalam benaknya, takut akan terjadi sesuatu seperti dulu. Dengan wajah lesu dan lemah Heri berlutut meminta maaf sambil menangis terisak dikaki Ririn. Sambil mengusap rambut suaminya, Ririn menerima permintaan maaf Heri karena teringat akan komitmen mereka, bahwa baik dalam suka maupun duka mereka harus tetap komit dalam satu maghligai rumah tangga yang harmonis dan penuh harmoni.

Jumat, 24 April 2015

Bertaubat dari Maksiat



“Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mewarisi wanita dengan cara paksa, dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut.  Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka maka bersabarlah, karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (An-Nisa: 19).
Sebagai seorang muslim, maka kutipan ayat di atas wajib menjadi rujukan dalam mengarungi bahtera keluarga yang sakinah, mawaddah warahmah. Sayangnya pesan tersebut tidak berlaku bagi Harjo ,salah seorang direktur perusahaan asing di Jakarta. Baginya, seorang istri tidaklah lebih dari seorang pelayan atau pembantu yang harus menuruti semua perintah dan melayani suami. Bulan berganti bulan, tahun kian berlalu, selama itu pula kehidupan rumah tangga mereka lalui dengan bermacam ragam. Ada suka dan terkadang duka. Baginya, hal itu sudah menjadi sebuah kebiasaan dalam berkeluarga.
“Mi segera siapkan semua berkas Papi untuk meeting hari ini ” perintah Harjo. “ Kamu siapkan juga semua kebutuhan Laras dan Andik jangan sampai ada yang lupa.” tambahnya. Selain sibuk sebagai ibu rumah tangga, Hartini juga harus bertanggungjawab mengurusi kedai kopi yang dikelolanya. Meski begitu, dia tidak pernah mengeluh ataupun membangkang apapun yang diperintahkan suaminya.
Disisi lain, Harjo dengan entengnya bermain hati dengan sekretarisnya. Menurutnya, Hartini sudah tak menarik lagi dan hanya pantas dibuat konco wingkeng semata. “Indah, habis ini kita Dinner di Satoo – Chinese Hotel Restaurant dan kita teruskan agenda yang sudah kita susun” rayu Harjo sambil merangkul sekretarisnya yang bahenol itu. “oke ,kapanpun bos mau Indah siap melayani kok” balas Indah setengah menggoda.
Ibarat bolak balik membaca buku, kita pasti tahu endingnya apa dan bagaimana. Tanpa sengaja Hartini membuka ponsel milik suaminya yang berdering, alangkah kagetnya saat dia mendengar suara perempuan yang mengaku sebagai simpanan suaminya. “Apa benar Indah itu selingkuhan papi?? Jadi Papi telah mengkhianati Mami dan anak-anak?” Jerit Hartini. Alih-alih iba melihat tangisan sang Istri, Harjo kalap dan langsung menampar Hartini “Plaak....” tamparan keras menghampiri pipi Hartini yang dipenuhi air mata. “Dasar istri tak tau diri, masih untung aku tidak menceraikanmu” bentak Harjo sambil berlalu.
Tindakan tersebut bukanlah kali pertama, ketidakpedulian, ucapan yang kasar dan pukulan keras seolah telah menjadi kawan dalam hidupnya. Sikap keras suaminya mulai dirasakan Hartini paska melahirkan Andik anak keduanya. Namun dia hanya bisa diam dan pasrah demi kedua anaknya dan keutuhan rumah tangganya. Alunan doa selalu dia panjatkan setiap selesai solat, supaya dirinya diberikan ketabahan dalam menghadapi cobaan ini.
Namun kini kesabarannya telah habis tak tersisa menghadapi perangai suaminya yang semakin kasar dan tidak manusiawi. Hartini berniat mengakhiri biduk rumah tangganya dengan menceraikan Harjo suaminya. Namun niatan itupun diurungkannya setelah mendapatkan arahan dari salah seorang saudara yang prihatin melihat keadaannya.“Coba mbak datang saja ke tempat praktek ustadz Massar di Semarang, Seorang ustadz yang ahli dalam merukyah, siapa tahu beliau dapat membantu seperti beberapa teman saya yang rumah tangganya terselamatkan setelah berkonsultasi dengan Beliau” ungkapnya.
Setelah mengungkapkan permasalahan yang dihadapi, sesaat kemudian Ustadz Massar melaksanakan ruqyah jarak jauh bagi suami Hartini (Harjo). Tak berselang lama setelah itu, secara perlahan Harjo mulai menunjukkan perubahan sikap yang positif, dimana dirinya menjadi lebih tenang dan mulai menyadari kesalahan-kesalahan yang selama ini diperbuat. “Maafkan Papi Mi, selama ini telah banyak salah kepada Mami dan juga anak-anak” rujuk Harjo.  Meski dimata orang lain Harjo merupakan orang yang baik, tapi hati nurani tetap membuatnya tak bisa melupakan dosa yang pernah dibuatnya.

Rabu, 22 April 2015

Ruqyah Atasi Pecandu Narkoba



Ode ( bukan nama Sebenarnya ) adalah anak seorang pengusaha dan pemilik yayasan ternama di Surabaya Dia selalu bersikap sombong dan sering meremehkan orang lain bahkan tidak mau beribadah maupun belajar. Setiap hari hanya hura-hura dan bersenang-senang menghabiskan harta orang tuanya. Tak jarang dia harus dibawa kekantor polisi karena sering ikut tawuran antar sekolah.
“Bro kita kumpul di tempat biasa jam 8 malam, Jangan lupa kau ajak anak-anak yang lain”  perintah Ode. “oke bos” jawab Randy di seberang telpon. Hampir tiap malam Ode selalu berfoya-foya dengan teman-teman.  hal itu benar-benar membuat resah para tetangganya.
Rupanya saat melakukan kejahatan, mereka dalam pengaruh obat-obatan yang mereka dapatkan secara ilegal. “De, ni om ada barang, kamu pasti suka?” tawar seorang preman yang sudah tidak asing bagi ode. “ oke om aku ambil deh nanti malam. Karena sudah kecanduan, setinggi apapun harganya ode selalu berusaha untuk membelinya. Dia tidak sadar kalau selama ini telah menjadi sapi peras preman-preman. Suatu ketika Ode  memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi karena dalam pengaruh obat-obatan hingga ia kehilangan keseimbangan dan akhirnya menabrak sebuah toko di pinggir jalan. Karena tak mau mengganti kerugian yang ditimbulkan akhirnya Ode harus berurusan dengan yang berwajib dan dikenakan pasal berlapis karena mengendarai dalam keadaan mabuk. Kejadian itupun tak membuatnya jera dan kapok karena setiap terlibat masalah, maka uang ayahnyalah yang akan berbicara dan masalah akan beres.
“ Sadarlah nak, mau jadi apa kamu kalau seperti ini terus? ” nasehat sang ibu. “ Terserah aku dong, ini hidup aku emang masalah buat mama?” jawab Ode seenaknya. Mendapat jawaban seperti itu ibunya hanya bisa mengelus dada, dirinya sadar bahwa itu semua karena kesalahan mereka yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya hingga melupakan ode anak semata wayangnya yang butuh kasih sayang dan perhatian dari orang tua. Beberapa hari setelah kepulanganya dari kantor polisi, orangtua Ode bermaksud membawanya ke psikolog, tetapi bukanya sembuh dan sadar dari kekeliruannya Ode malah semakin brutal dan nekat.
Hingga pada suatu ketika neneknya yang baru datang dari Jakarta menyaksikan dengan mata kepala sendiri ulah dari cucu kesayangannya itu. Dua hari kemudian, Beliau berinisiatif untuk membawa cucunya berobat ketempat ustadz massar, seorang ustadz yang ahli dalam merukyah di Semarang. Meski awalnya menolak, namun akhirnya sang nenek berhasil membawa cucunya untuk bertemu dengan ustadz massar. Didalam keluarganya Ode hanya takut dan segan dengan neneknya.
”Apa yang  kamu lakukan saat ini akan terus berlanjut sampai kapanpun, jika tidak secepatnya dihentikan” Ujar Ustadz Massar. Menurutnya mengikuti hawa nafsu untuk berbuat jahat adalah ibarat meminum air laut, semakin diminum semakin haus. Oleh karenanya dibutuhkan kesungguhan untuk menahannya. Mendengar nasihat dari ustadz massar, tanpa bisa dibendung lagi seolah air bah yang mengalir deras karena bendungan tak lagi mampu menahan tekanannya, kalimat-kalimat jujur tentang segala kegundahan hatinya dan deraan yang lama dipendamnya meluncur deras tanpa bisa ditahan dan disembunyikan lagi. Begitu juga dengan neneknya yang terharu mendengar kisah cucunya yang begitu menyayat hati. Pertemuan itupun ditutup dengan dilaksanakannya Ruqyah Diri bagi Ode.
Beberapa bulan setelah itu, perubahan demi perubahan pada diri Ode semakin terlihat jelas. Sikap sombong, angkuh dan arogannya mulai luntur. Namun perubahan tersebut tidak lantas membuat orang-orang percaya begitu saja, mereka terlanjur mem”blacklist” namanya karena sakit hati dengan sikapnya dahulu. Namun, berkat kesungguhan dan keseriusannya dalam meyakinkan orang-orang, bahwa dirinya telah berubah dan bertobat, akhirnya mereka mau memaafkan.

Jumat, 17 April 2015

Tobat Dari Masa Lalu



Alhamdulillah, itulah kata yang terucap dari bibir winda. Betapa tidak, setelah sekian lama tercebur dalam lumpur maksiat, ia akhirnya bisa taubat. Sebelumnya, dia memang menghalalkan segala cara untuk bisnis , termasuk berbuat asusila. Kini setelah diruqyah , hidupnya lebih tenang dengan bisnis yang halal. Berikut curahan hatinya.
Sebagai kontraktor dengan perusahaan yang terbilang baru dikancah konstruksi bangunan dan teknik sipil, aku tetap saja bisa bekerja sama dengan perusahaan kontraktor lain. Meskipun hanya sering sebagai subkontraktor domestik atau ternominasi, aku juga pernah memenangkan tender dengan surat perintah kerja (SPK), bahkan letter of award. Sebut saja aku Winda, usia 27 tahun.
“bagaimana bu, setuju tidak?” kata pak iwan, seorang bos pemain lama didunia kontraktor.
Aku mengiyakan saja tawarannya tanpa berpikir panjang. Ini demi keuntungan yang akan aku dapatkan. Pak Iwan baru saja memenangkan tender pembangunan mall dengan penawaran dan dokumen administratif yang disetujui oleh panitia lelang dengan menggandengku sebagai subkontraktor.
“saya sepakat, pak,” jawabku tegas.
“oke nanti malam kita ketemu. Nanti sore saya hubungi lagi, sekarang kamu tanda tangan disini “ sambil menyodorkan kertas. Setelah itu aku langsung meninggalkan kantornya dan pulang.
INGAT DOSA
Sesampainya dirumah, hatiku tetap gundah. Aku teringat dosa-dosa yang aku lakukan. Betapa tidak, demi bisnis aku rela berbuat asusila dengan para bos demi mendapatkan proyeknya. Astaghfirullah.
Dalam hati aku berharap segera mengakhiri semua ini. Maksudku, aku ingin berbisnis yang bersih, tanpa harus ada prasyarat yang aneh-aneh. Menyesal selalu dibelakang, namun resiko pekerjaan tak bisa kuhindari. Aku ingin hidup normal, berkeluarga dan memiliki anak. Harta yang ku dapatkan selama ini lebih dari cukup. Kalau menuruti harta sampai kapan?
Aku harus segera menemukan orang yang bisa membimbingku, tapi siapa? Aku lantas menghubungi Susi, salah satu teman kuliahku dulu dijurusan teknik sipil.
“Sus, aku pengen ketemu” kataku.
“Ada apa win, aku masih diluar jawa menemani suamiku.”
“Ada gak yang bisa membimbingku, aku sedang bingung, aku merasa banyak dosa Sus.”
“Setiap orang punya dosa Win, kamu temui ustadz massar saja di Semarang. Dulu suamiku juga kesana waktu terkena penyakit aneh, sekarang sembuh.” Susi meyakinkan.
DIRUQYAH
 Dari susi itulah aku mendapatkan alamat dan nomor telpon ustadz massar . tanpa banyak pertimbangan, aku segera menemui ustadz massar. Aku yakin dan percaya sama susi. Ia temanku yang paling jujur dan lugu. Pantas jika dia mendapatkan suami yang baik pula. Dari ustadz massar, aku menjalani terapi ruqyah diri.
“ Orang yang menempuh jalan kesesatan saja bisa kaya raya, bagaimana mungkin Tuhan membiarkan orang yang menempuh jalan yang benar?” kata ustadz nmassar.
Aku terkesiap mendengar kalimat itu, dalam sekali menyentuh kalbu. Semenjak itulah aku bertobat dengan bimbingan ustadz massar. Bisnis kontraktor kutinggalkan demi membuang kenangan masa lalu. Aku membuka restoran yang juga dibimbing ustadz massar serta memulai membina rumah tangga dengan seorang lelaki baik hati, bertanggung jawab dan rajin beribadah.