Awalnya Ririn tak pernah menyangka
jika Heri suaminya ternyata sosok pria yang ringan tangan dan tempramental. Sebelum menikah ia mengenal
suaminya sebagai sosok yang perhatian dan penyabar. Oleh karena itulah ia
memantapkan hati menerima pinangan dari atasannya tersebut. Awal pernikahan
berjalan dengan indah, selain memiliki suami yang penyayang iapun bisa membantu
saudara-saudaranya dikampung yang kurang mapan. Kebahagiaan mereka semakin
bertambah manakala Ririn mengandung dan melahirkan putri pertamanya. Segala
perhatian dan kasih sayang suaminya semakin bertumpah ruah. Kehidupan itu
begitu sempurna. Tak ada kekurangan dan keributan sampai usia perkawinan
menginjak tahun ke-5. Namun manisnya cinta itu luntur perlahan setelah hadirnya
wanita lain dihati suaminya.
Saat itu, Ririn yang sedang belanja kebutuhan
anaknya bersama baby sitter disebuah Mall tanpa sengaja melihat suaminya sedang
asik makan siang dengan gadis yang masih belia. Jantungnya berdebar kencang,
kepalanya pusing dan kakinya lemas seakan tak mampu lagi menopang tubuhnya tapi
Ririn tetap berusaha untuk tegar
dihadapan anak dan juga baby sitternya.
" Ayah tadi siang makan sama
siapa, kok mesra banget kelihatannya?", tanya Ririn penuh selidik kepada
suaminya.
" Mama ngomong apa sih? , jangan
ngaco deh," elak Heri
Tak berselang lama Keduanyapun pecah dalam
perdebatan sengit. Percekcokan yang semakin panas membuat Heri naik pitam dan
“PLAAAKK” tamparan keras menyambar pipi kanan Ririn diiringi dengan
kata-kata kasar yang mulai berhamburan dari mulut Heri. Hanya air mata yang mampu
mewakili perasaan Ririn saat itu.
Semakin hari, perlakuan kasar Heri
terhadap istrinya semakin tak terkendali. Puncaknya, saat usaha yang
digelutinya selama ini mengalami masalah finansial. Bahkan dia tak mau mengakui
Angel sebagai darah dagingnya dan berniat menceraikan Ririn yang dianggap
pembawa sial dalam hidupnya.
Ditengah rasa sakit akibat hancurnya
rumah tangga, Ririn memutuskan pergi dari rumah dan menempati rumah kontrakan
bersama anaknya yang masih kecil di Jakarta. Melalui relasi dan kawan lamanya
di SMA, Ririn berhasil mendapatkan pekerjaan sebagai administrasi di perusahaan
Telekomunikasi. Mengetahui hal itu, Heri mendatangi rumah kontrakan Ririn dan
meminta ganti rugi atas apa yang telah diberikannya selama ini. Entah apa yang
dipikirkan heri saat itu, yang jelas tindakan heri semakin membuat hidup ririn
terganggu.
Kebangkrutan Heri sebenarnya karena
ulahnya sendiri yang tak segan-segan memanjakan perempuan gelapnya dengan
berbagai macam fasilitas. Dampaknya pekerjaan menjadi kacau dan keuangan usaha
menjadi tidak sehat.
Rasa iba atas peristiwa yang menimpa
suaminya, membuat Ririn bertekad untuk merubah perangai suaminya menjadi lebih
baik lagi. Bersama rekan kerjanya, Ririn mencoba menemui seorang Ustad di
Semarang untuk melakukan Rukyah pada suaminya agar tersadar dan berubah seperti
sediakala.
"Suami Anda telah salah langkah,
tuntunlah dia agar kembali ke rel yang benar jangan ditinggalkan
sendiri. Saya akan merukyahnya agar aura negative dalam jiwa dan raganya bisa
ternetralisir dan hilang". Ujar Ustadz Massar.
Beberapa minggu Pasca Rukyah jarak
jauh, Ririn yang sedang bermain bersama
buah hatinya kembali dikejutkan
dengan kedatangan Heri dirumah kontrakannya. Rasa was-was dan khawatirpun
sempat muncul dalam benaknya, takut akan terjadi sesuatu seperti dulu. Dengan
wajah lesu dan lemah Heri berlutut meminta maaf sambil menangis terisak
dikaki Ririn. Sambil mengusap rambut suaminya, Ririn menerima permintaan maaf
Heri karena teringat akan komitmen mereka, bahwa baik dalam suka maupun duka
mereka harus tetap komit dalam satu maghligai rumah tangga yang harmonis dan
penuh harmoni.