Senin, 29 September 2014

Merubah Mental Narapidana


  
Penjahat yang satu ini memang ingin bertobat. Tapi sayang, masyarakat dan lingkungannya tidak mendukung. Ia pun putus asa dan nyaris maksiat lagi. Akhirnya ia pun diruqyah dan mendapat solusi terbaik.

Tidak seorangpun mengira bahwa Yudi (bukan nama sebenarnya), salah seorang penjahat kelas kakap, pemimpin geng terkenal di Kalimantan, harus berurusan dengan pihak yang berwajib. Selama ini, Yudi sangat sulit dijinakkan.
“Yudi, apakah kamu bersama korban malam itu,” tanya Hakim saat sidang kasusnya.
 “Tidak bapak hakim saya bersama teman di suatu tempat,” sangkalnya.
 Meskipun bukti telah berada di depan hakim dengan dikuatkan para saksi, tetapi dirinya masih tetap berkelit dan berbohong. Akhirnya majelis hakim memutuskan untuk memvonisnya 10 tahun karena terbukti telah melakukan pembunuhan berencana.
Di sisi lain, Rasti merasa terpukul dengan berita dipenjaranya Yudi. Sebagai istri, dirinya masih merasa yakin bahwa Yudi bisa berubah menjadi orang baik. Akan tetapi, pada kenyataannya, alih-alih berubah baik, pergaulan dalam penjara membuat Yudi seakan menemukan dunianya kembali. Yudi kembali akrab dengan narkoba sebagai pemakai, padahal sebelum di penjara, ia hanya menjadi pengedar.
“Bro, kalau kamu keluar dari penjara, selain mengkonsumsi, kamu juga bisa mengedarkannya, santai saja aku disini memantaumu,” bujuk salah satu temannya.
  Singkat cerita, masa tahanan Yudi habis dan ia keluar dari penjara .
“Wah, Yudi yang angker itu sudah keluar dari penjara, tolong hati-hati ya,” rumpi salah seorang ibu rumah tangga.
“Ya, saya juga takut, katanya dia pembunuh yang sadis lho” tambah yang lain.

Dalam memori masyarakat ternyata anggapan buruk tentang Yudi masih sangat kuat. Sang istri yakni Rasti dengan sekuat tenaga memberikan pengertian, “Mohon ibu bapak ketahui, suami saya sekarang sudah berubah dan bertaubat, mohon ibu bapak tidak menggunjingnya”.
Pada dasarnya, dengan segala kelembutan Rasti, Yudi mulai menemukan cahaya petunjuk. Akan tetapi, karena masyarakat tidak mendukung bahkan memojokkan, akibatnya Yudi semakin terpuruk dengan dunia narkobanya.
“Biarkan saja mereka melakukan apa yang mereka mau bu,” tutur Yudi kepada istri. “Menjadi lebih baik, itu yang terpenting buat bapak sekarang,” nasihat Rasti.
“Sebenarnya saya mau baik bu, tapi apa boleh buat, lingkungan telah mencap kita seperti ini, lantas apa untungnya buat kita,” sangkal Yudi.
“Istighfar pak,” ucap Rasti.
Dari pengawasannya, Rasti melihat bahwa pada dasarnya Yudi ingin bertaubat, maka kesempatan itu tidak disia-siakannya. Dengan segera Rasti membawa Yudi ke seorang pakar agama dan ustadz ahli rukyah asal Semarang.
“Pak ustadz mohon nasihat dan bimbingannya, suami saya ingin bertaubat,” jelas Rasti. Tanpa menunggu lama, akhirnya diputuskan kalau Yudi akan menjalani terapi rukyah dan pengobatan ala nabawi.
Tidak lebih dari lima kali terapi, perubahan secara signifikan terlihat jelas. Yudi sudah tidak kecanduan dan badannya sudah mulai berisi kembali. Lebih dari itu, ketaatan dalam menjalankan ibadah semakin meningkat bahkan sudah tidak meninggalkan shalat lima waktu. Yudi menjadi rajin shalat berjama’ah di masjid. Dengan perkembangan tersebut, masyarakat mengira bahwa Yudi telah mondok dari sebuah pesantren. Akhirnya, secara berangsur masyarakat mulai menerima Yudi seutuhnya sebagai anggota masyarakat.

Kamis, 25 September 2014

Taubatnya Seorang Punker



Sandi, anak sulung dari dua bersaudara berkeluarga konglomerat di daerah Bandung. Dengan sikap sang ayah yang otoriter dan sering memaksakan kehendak, membuat Sandi tidak betah tinggal di rumah. Iapun berontak dan keluar rumah. Sayangnya ia salah pergaulan, memilih hidup bebas dijalanan jadi anak punk(punker).
Suatu ketika sang ayah jatuh sakit, dan menyesal dengan semua sikapnya.”Fanya, tolong cari adikmu dan suruh pulang” rintih sang ayah.
“ akan Fanya usahakan yah” jawab Fanya.
Dengan susah payah akhirnya Fanya menemukan Sandi yang sedang berkumpul dengan teman-temannya. “Kakak kesini bawa pesan dari ayah” ucap Fanya. “Beliau sakit keras dan ingin bertemu kamu untuk meminta maaf “ Fanya melanjutkan.
Ternyata Sandi menolak dan membentak kakak perempuanya. Sandi gak mau !” bentak Sandi, “Bilang saja, Sandi sudah tidak ada .tegas Sandi dengan nada keras.
Sungguh tragis hubungan anak dan ayah tersebut, sampai sang ayah meninggalpun Sandi tak kelihatan batang hidungnya bahkan ia tidak mau melihat makam ayahnya. Rasa dendam dan sakit hati yang begitu dalam telah menutup mata hatinya.
Ingin Sadar
Sepeninggal ayahnya, Sandi masih hidup dijalanan. Kehidupan terus berputar seperti roda pedati yang terus berlari, begitu juga Fanya yang terus berusaha untuk menyadarkan adiknya. Suatu ketika, dengan usaha yang cukup keras dan iming-iming akan dihadiahi sesuatu, akhirnya Sandi mau di bujuk untuk di ajak pergi kesuatu tempat yang ternyata makam sang ayah. Alih-alih sedih dan menyesali perbuatannya , Sandi menghujat sang ayah di depan makamnya.
Dalam kesedihannya, salah satu teman Fanya menyarankan untuk mendatangi seorang pakar  agama yang ahli dalam meruqyah di Semarang yang tak lain adalah ustadz Massar. Setelah menceritakan semuanya, ustadz massarpun menyarankan untuk diruqyah.
“mohon maaf ustadz, kayaknya hal tersebut tidak mungkin bisa, mengingat Sandi sulit untuk kita ajak kesini” ungkap Fanya.
 Setelah memahami keadaan tersebut, akhirnya ustadz Massar memutuskan untuk merukyah dan mendoakanya.
Saya harap kamu tidak lelah dan berputus asa untuk terus mengajak Sandi kepada jalan kebenaran” nasehat Ustadz Massar .
 “Insya Allah, hidayah dan ampunan Allah tidak akan pernah tertutup bagi siapapun” tambahnya.
“baik ustadz, terima kasih banyak atas bantuannya” jawab Fanya.
Akhirnya berkat Kuasa Allah Swt, secara perlahan hati Sandi mulai terbuka dan hidayah mulai masuk kedalam hatinya. Sejak saat itu, Sandi merasa ada yang menuntunnya untuk menjadi manusia yang baru, melupakan semua hal buruk dimasa lalunya. Ia pun memutuskan untuk bertemu sang kakak dan mengungkapkan bahwa dirinya telah memaafkan sang ayah. Lebih dari itu, lambat laun Sandi mulai mau memikirkan masa depan dengan berbuat sesuatu yg lebih berguna. Dia mulai mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dengan mendirikan Sholat dan berkenan mengurusi beberapa perusahaan yang ditinggalkan almarhum. Subhanallah Maha Suci Allah SWT yang selalu membukakan pintu taubat kepada umat-Nya.

Selasa, 16 September 2014

TAUBAT DARI MAKSIAT



Astagfirullah, akibat pergaulan bebas, pemuda ini tercebur kubangan maksiat. Dunia malam dengan sisi negatif membuatnya lupa segalanya. Nauzubillah, ia pun ambruk terkena penyakit ganas. Bersyukur ia bertobat dan menjalani terapi dan ruqyah.
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk,” (al-Israa’: 32) peringatan tersebut ternyata tidak berlaku bagi Anton, seorang mahasiswa semester lima di salah satu perguruan tinggi di Jakarta. Dengan latar belakang keluarga yang broken home, Anton telah terbiasa melihat film seronoh bahkan bergaul dengan orang dewasa sejak duduk dibangku SMP. Maka tidak mengherankan apabila saat remaja Anton sudah kenal dengan dunia malam.
“Rik, pinjam uang dong” Bujuk Anton kepada Riki temannya. “gue juga lagi krisis Bro” jawab Riki jujur. “lagian loe mau apa sih pinjam uang segala, bokap loe kan tajir ?” tambahnya. “Biasa, si Indah ngajak jalan” jawabnya. “Loe itu udah waktunya tobat bro, kena virus tahu rasa lho” nasihat temannya. Meskipun telah mendapatkan berbagai nasihat dari teman maupun keluarga, Anton tetap tidak bisa meninggalkan kebiasaan buruknya.
Sakit Parah
Waktu pun terus bergulir, anton semakin ketagihan dunia malam. Bahkan perbuatanya semakin menjadi . batasan moral, agama dan hukum sudah ia langgar. Hingga suatu ketika, ia ketahuan menodai seorang wanita hingga berbadan dua.  Seolah tak sadar berbuat dosa, ia pun cuek saja.
Waktu berlalu begitu cepat, hukum karma pun berlaku. Sebaik-baiknya tupai melompat, pasti akan terjatuh pula. Selain dituntut berbagai pihak, pada akhirnya Anton juga harus menerima balasannya, oleh dokter dirinya divonis menderita penyakit kelamin.
“ini teguran dari Allah, apa kamu masih tidak mau bertobat juga?” nasihat orang tua Anton. “iya-iya Bu, Anton janji tidak akan mengulangi lagi” jawab Anton. Akan tetapi, kesadaran Anton ternyata hanyalah tobat sambal, setelah beberapa bulan Anton menjalani terapi dan sembuh, dirinya kembali lagi kedalam kubangan maksiat.
Belum Bertobat
Mengetahui hal itu, kedua orangtuanya pun ikut sedih. Berbagai cara sudah dilakukan agar anaknya sadar, namun sang anak tetap bandel.
“kamu itu kapan mau sadar nak, ibu dan ayah sudah capek melihat ulahmu” rintih kedua orang tua Anton. Bagaikan jatuh tertimpa tangga, dalam kebimbangan, ternyata Anton terkena penyakit kelamin yang lebih parah. “tolong Anton bu, sakit banget rasanya” rintih Anton.
Berbagai pengobatan kembali dijalaninya dari medis hingga non medis, namun kesembuhan itu hanyalah bersifat sementara. Lagi-lagi Anton harus merasakan sakit.
Akhirnya kabar itupun membuat riki salah satu teman akrabnya iba.saat menjengauk ia pun menyarankan agar Anton berkonsultasi dengan Ustadz Massar di Semarang.
“Loe coba aja datang ke tempat praktek Ustad Massar di Semarang, gue dulu juga pernah hampir sekarat gara-gara OD dan Alhamdulillah gue masih bisa sembuh. “ saran Riki.
 “ustadz mohon doanya untuk kesembuhan anak kami” pinta kedua orang tua Anton saat berkonsultasi. Setelah beberapa kali menjalani terapi dengan menggunakan metode herbal tib nabawi dan ruqyah diri , atas izin Allah Swt penyakit Anton berangsur sembuh dan semenjak peristiwa itu, Anton benar-benar bertaubat taubatan nashuha. “takutlah adzab Allah Swt di dunia dan akhirat” pesan Ustadz Massar yang selalu diingat Anton.
Allah Swt Telah memberikan jalan dan kesempatan untuknya dan dia berjanji tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu dengan terjerumus kedalam jurang yang sama untuk kesekian kalinya. Oleh karena itu, dia bertekad untuk terus maju dan memanfaatkan masa muda dengan sebaik-baiknya. 

Sabtu, 13 September 2014

Menuju Hidayah Islam




Panggil saja aku James, Aku tumbuh dilingkungan keluarga yang kaya raya. Namun Keduanya sibuk sehingga  melupakan tanggung jawabnya mendidik anak dan mengajarinya tentang agama. selain itu juga karena keyakinan mereka berbeda ayah seorang muslim sedang ibu seorang nasrani. Meski begitu aku tak pernah membenci mereka, karena ku tahu semua materi yang mereka peroleh untuk aku, anak tunggalnya. Seiring berjalannya waktu aku tumbuh menjadi seorang yang tidak mempunyai keyakinan(agama)yang kuat seperti manusia lainnya.
Setelah lulus dari SMA internasional, ayah mengirimku ke Australia untuk melanjutkan kuliah di UNSW. Setelah beberapa bulan menjadi mahasisiwa disalah satu perguruan tinggi ternama di negara Kanguru, aku banyak bertemu dengan teman-teman dari belahan bumi lainnya yang sama-sama sebagai penganut atheis bahkan  Aku aktif mengikuti perkumpulan mereka.
Saat itu aku mengikuti ajaran atheis, karena aku merasa mereka sefaham denganku dan mereka juga banyak mengajarkanku kesalehan social yang tidak aku ketahui. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan sangatlah konkrit, mulai mengadakan bakti social sebagaimana di Indonesia, sampai dengan memperjuangkan hak-hak orang-orang tertindas. Perlu diakui rasa kemanusiaan dan solidaritas mereka sangat tinggi, lebih dari itu mereka tidak ilfeel terhadap pemeluk agama.
Dalam hatiku yang paling dalam, sesungguhnya aku masih meragukan apa yang menjadi alasan mayoritas orang beragama, padahal banyak kehancuran yang disebabkan oleh ajaran yang berada di dalamnya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut selalu mengelayuti fikirannku selama ini. Yaitu apakah benar beragama itu seperti yang aku sangkakan selama ini. Sampai akhirnya, aku mengalami hal yang tidak akan terlupakan seumur hidup sekaligus meruntuhkan keyakinanku selama ini. 
Saat menghadiri pertemuan dengan mahasiswa Indonesia, kebetulan aku menumpang mobil teman. Dalam perjalanan tersebut, aku banyak berdialog dengan teman-teman yang kebetulan mayoritas muslim. Sampai akhirnya aku mulai mengenal sedikit tentang islam dari perbincangan yang kami lakukan. Bahkan kami sempat berdoa bersama untuk keselamatan bersama.
Tanpa tahu sebabnya mobil yang kami tumpangi menabrak trotoar hingga terjun ke jurang disebelah kiri. Aku tidak mengetahui jelas apa yang terjadi, saat aku sadar, baru kuketahui bahwa kakiku telah hilang. Meskipun begitu, aku bersyukur karena kami semua masih diberi keselamatan.
Setelah semua yang aku alami, membuatku semakin akrab dengan para mahasiswa Indonesia, khususnya Najwa, seorang muslimah yang cantik dan pintar. Sampai akhirnya dari persahabatan itu aku mulai menemukan agama dan keyakinan  yang selama ini aku cari. Walaupun aku harus dijauhi teman-temanku karena tak senang dengan perubahanku.
Saat liburan semester Najwa mengajakku pulang ke Indonesia, Sekalian untuk memantapkan agama yang baru aku peluk, aku disarankan untuk menemui Seorang Ustadz di Semarang seorang pakar agama yang ahli dalam meruqyah yaitu Ustadz Massar. akupun diruqyah dan di tuntun membaca dua kalimat syahadat, maka resmilah sekarang aku menjadi mualaf. Aku bersyukur telah diberi hidayah oleh Allah SWT lewat perantara Najwa dan juga Ustadz Massar yang membimbingku untuk menjadi muslim.
Alhamdulillah Kini aku benar-benar telah menemukan agama yang benar-benar aku yakini kebenarannya yaitu agama Islam.