Kamis, 04 September 2014

Depresi tertipu belanja Online



Adalah Toni, (24) mahasiswa jurusan sastra inggris di salah satu universitas swasta di Bandung harus merelakan uang tabungan hasil side job yang dikumpulkannya selama ini karena ditipu dan dikerjain beberapa oknum yang berkedok toko jual beli online.
Saat itu, Toni melihat di situs jual beli online yang men-tag produk gadget ke laman Facebooknya. “Wah lumayan nih, buat sampingan” gumamnya dalam hati. Sebagai mahasiswa rantauan Toni memang tergolong sadar akan kebutuhan ekonominya. Melihat ada kesempatan, Toni merasa tertarik untuk memulai bisnis, sebagai pembelajaran sekaligus keinginan dirinya menjadi seorang yang mandiri.
Awalnya Toni tidak menaruh curiga dengan iklan itu, karena harga yang ditawarkan adalah harga pasaran namun karena besarnya diskon yang diberikan telah membuatnya tergiur untuk terjun berbisnis gadget. “Pah, Toni pengen berbisnis, kebetulan ada yang menawarkan barang lumayan murah-murah, papah bisa ngirim uang gak buat tambah modal?” Pinta Toni.
“bisnis apa ?kamu yakin, terus gimana dengan kuliahmu? Kata papahnya.
 “insya Allah lancar pah, ini kan cuma sampingan, papah doain aja mudah-mudahan bisnisku ini berhasil.” Jawab Toni meyakinkan papahnya.
Setelah melalui percakapan panjang dan tanpa menaruh curiga apapun, akhirnya orang tuanya mengirimkan sejumlah uang yang diminta Toni. Setelah mendapatkan modal cukup, Tonipun langsung menghubungi nomor yang tertera di laman facebooknya. “Mas, saya Toni mau pesan produk yang mas tawarkan di laman saya” ujar Toni. “baiklah, Kalau Anda memang berminat dengan ketentuan yang ada, maka Anda bisa langsung mentransfer uang lewat rekening ini” jelas operator. Pendek kata, Tonipun membeli sejumlah merk gadget dalam jumlah besar hingga 75 juta rupiah, Sesuai perjanjian Toni mentransfer 35 juta kenomor rekening sebuah bank sebagai tanda jadi dan akan membayar sisanya setelah barang sudah ditangan.
Menurut perjanjian yang disepakati, barang yang akan dikirim adalah dalam tempo paling lambat seminggu. Faktanya sudah dua minggu lebih barang-barang pesanan Toni tidak kunjung datang. Parahnya, nomor sang operator sudah tidak dapat dihubungi lagi. Merasa ditipu, Toni memutuskan untuk mendatangi alamat yang tertera pada laman facebooknya. Alangkah sialnya nasib Toni karena  impian tak sejalan dengan kenyataan yang harus ditelan, alamat yang tertera ternyata fiktif.
Namun nasi telah menjadi bubur, penyesalanpun tiada lagi berarti. Tidak dapat menerima keadaan, hingga akhirnya dia mengalami depresi karena tersadar bahwa dirinya telah ditipu dan harus menanggung kerugian materi yang tidak sedikit. “Mah maafkan Toni , Toni nyesel gak mau dengerin nasehat papah dan mamah, sekarang Toni telah ditipu oleh seseorang” sambil menangis Toni mengadu kepada sang ibu.
Dalam hati yang paling dalam Toni merasa terus menerus dikejar rasa bersalah, Meskipun telah mendapatkan kerelaan dari orang tua. Tidak lantas bangkit, justru dirinya semakin terpuruk dalam frustasi dan kemalasan. Sudah satu bulan lebih Toni absen kuliah dan hanya menghabiskan hari-harinya dengan mengurung diri di kamar.
Tak tega melihat keadaan anak semata wayangnya yang semakin hari semakin tak terurus, ayahnya mencoba mengajak Toni kebeberapa psikolog dan juga psikiater ternama akan tetapi semuanya sama sekali tidak menunjukkan hasil yang maksimal. Saat itulah teman ayahnya Toni mengatakan, bahwa kerabatnya yang depresi karena bisnisnya yang bangkrut sembuh setelah berkonsultasi dan menjalani terapi rukyah ditempat praktek Ustadz Massar di Semarang. Seperti mendapat jawaban dari segala usahanya, tanpa ragu keluarga Toni menuju ke Semarang dengan penerbangan VIP dengan harapan segera diberikan pencerahan dan petunjuk dari Allah SWT melalui terapi rukyah dan doa yang dipanjatkan. Subhanallah, selain kondisi Toni yang semakin membaik, beberapa minggu setelah itu, keluarga Toni mendapatkan kabar dari pihak kepolisian bahwa penipu tersebut telah tertangkap dan mendapat hukuman yang setimpal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar