Adalah Toni, (24) mahasiswa jurusan
sastra inggris di salah satu universitas swasta di Bandung harus merelakan uang
tabungan hasil side job yang dikumpulkannya selama ini karena ditipu dan
dikerjain beberapa oknum yang berkedok toko jual beli online.
Saat itu, Toni melihat di situs jual
beli online yang men-tag produk gadget ke laman Facebooknya. “Wah
lumayan nih, buat sampingan” gumamnya dalam hati. Sebagai mahasiswa rantauan Toni memang tergolong
sadar akan kebutuhan ekonominya. Melihat ada kesempatan, Toni merasa tertarik untuk memulai bisnis,
sebagai pembelajaran sekaligus keinginan dirinya menjadi seorang yang mandiri.
Awalnya Toni tidak menaruh curiga
dengan iklan itu, karena harga yang ditawarkan adalah harga pasaran namun
karena besarnya diskon yang diberikan telah membuatnya tergiur untuk terjun
berbisnis gadget. “Pah, Toni pengen berbisnis, kebetulan ada yang menawarkan barang lumayan
murah-murah, papah bisa ngirim uang gak buat tambah modal?” Pinta Toni.
“bisnis apa ?kamu yakin, terus gimana
dengan kuliahmu? Kata papahnya.
“insya Allah lancar pah, ini kan cuma
sampingan, papah doain aja mudah-mudahan bisnisku ini berhasil.” Jawab Toni
meyakinkan papahnya.
Setelah melalui percakapan panjang dan
tanpa menaruh curiga apapun, akhirnya orang tuanya mengirimkan sejumlah uang
yang diminta Toni. Setelah mendapatkan modal cukup, Tonipun langsung menghubungi nomor yang
tertera di laman facebooknya. “Mas, saya Toni mau pesan produk yang mas tawarkan di laman saya” ujar Toni. “baiklah, Kalau Anda memang berminat dengan
ketentuan yang ada, maka Anda bisa langsung mentransfer uang lewat rekening ini” jelas operator. Pendek kata, Tonipun membeli sejumlah
merk gadget dalam jumlah besar hingga 75 juta rupiah, Sesuai perjanjian Toni
mentransfer 35 juta kenomor rekening sebuah bank sebagai tanda jadi dan akan
membayar sisanya setelah barang sudah ditangan.
Menurut perjanjian yang disepakati,
barang yang akan dikirim adalah dalam tempo paling lambat seminggu. Faktanya
sudah dua minggu lebih barang-barang pesanan Toni tidak kunjung datang. Parahnya, nomor sang operator sudah tidak dapat
dihubungi lagi.
Merasa ditipu, Toni memutuskan untuk mendatangi alamat yang tertera pada
laman facebooknya. Alangkah sialnya nasib Toni karena impian tak sejalan dengan kenyataan yang harus
ditelan, alamat
yang tertera ternyata fiktif.
Namun nasi telah menjadi bubur,
penyesalanpun tiada lagi berarti. Tidak dapat menerima keadaan, hingga akhirnya dia
mengalami depresi karena tersadar bahwa dirinya telah ditipu dan harus
menanggung kerugian materi yang tidak sedikit. “Mah maafkan Toni , Toni nyesel gak
mau dengerin nasehat papah dan mamah, sekarang Toni telah ditipu oleh seseorang” sambil
menangis Toni
mengadu kepada sang ibu.
Dalam hati yang paling dalam Toni merasa terus menerus dikejar rasa bersalah, Meskipun telah
mendapatkan kerelaan dari orang tua. Tidak lantas bangkit, justru dirinya
semakin terpuruk dalam frustasi dan kemalasan. Sudah satu bulan lebih Toni absen kuliah dan hanya menghabiskan hari-harinya
dengan mengurung diri di kamar.
Tak tega melihat keadaan anak semata
wayangnya
yang semakin hari semakin tak terurus, ayahnya mencoba mengajak Toni kebeberapa psikolog dan juga
psikiater ternama akan tetapi semuanya sama sekali tidak menunjukkan hasil yang
maksimal. Saat itulah teman ayahnya Toni mengatakan, bahwa kerabatnya yang
depresi karena bisnisnya yang bangkrut sembuh setelah berkonsultasi dan
menjalani terapi rukyah ditempat praktek Ustadz Massar di Semarang. Seperti
mendapat jawaban dari segala usahanya, tanpa ragu keluarga Toni menuju ke
Semarang dengan penerbangan VIP dengan harapan segera diberikan pencerahan dan
petunjuk dari Allah SWT melalui terapi rukyah dan doa yang dipanjatkan.
Subhanallah, selain kondisi Toni yang semakin membaik, beberapa minggu setelah
itu, keluarga Toni mendapatkan kabar dari pihak kepolisian bahwa penipu
tersebut telah tertangkap dan mendapat hukuman yang setimpal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar