Astagfirullah, akibat pergaulan bebas, pemuda
ini tercebur kubangan maksiat. Dunia malam dengan sisi negatif membuatnya lupa
segalanya. Nauzubillah, ia pun ambruk terkena penyakit ganas. Bersyukur ia
bertobat dan menjalani terapi dan ruqyah.
“Dan
janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan
yang keji. Dan suatu jalan yang buruk,” (al-Israa’: 32) peringatan tersebut ternyata tidak berlaku bagi Anton,
seorang mahasiswa semester lima di salah satu perguruan tinggi di Jakarta.
Dengan latar belakang keluarga yang broken
home, Anton telah terbiasa melihat film seronoh bahkan bergaul dengan orang
dewasa sejak duduk dibangku SMP. Maka tidak mengherankan apabila saat remaja
Anton sudah kenal dengan dunia malam.
“Rik,
pinjam uang dong” Bujuk Anton kepada Riki temannya. “gue juga lagi krisis Bro”
jawab Riki jujur. “lagian loe mau apa sih pinjam uang segala, bokap loe kan
tajir ?” tambahnya. “Biasa, si Indah ngajak jalan” jawabnya. “Loe itu
udah waktunya tobat bro, kena virus tahu rasa lho” nasihat temannya. Meskipun
telah mendapatkan berbagai nasihat dari teman maupun keluarga, Anton tetap
tidak bisa meninggalkan kebiasaan buruknya.
Sakit Parah
Waktu
pun terus bergulir, anton semakin ketagihan dunia malam. Bahkan perbuatanya
semakin menjadi . batasan moral, agama dan hukum sudah ia langgar. Hingga suatu
ketika, ia ketahuan menodai seorang wanita hingga berbadan dua. Seolah tak sadar berbuat dosa, ia pun cuek
saja.
Waktu
berlalu begitu cepat, hukum karma pun berlaku. Sebaik-baiknya tupai melompat,
pasti akan terjatuh pula. Selain dituntut berbagai pihak, pada akhirnya Anton
juga harus menerima balasannya, oleh dokter dirinya divonis menderita penyakit
kelamin.
“ini
teguran dari Allah, apa kamu masih tidak mau bertobat juga?” nasihat orang tua
Anton. “iya-iya Bu, Anton janji tidak akan mengulangi lagi” jawab Anton. Akan
tetapi, kesadaran Anton ternyata hanyalah tobat sambal, setelah beberapa
bulan Anton menjalani terapi dan sembuh, dirinya kembali lagi kedalam kubangan
maksiat.
Belum Bertobat
Mengetahui
hal itu, kedua orangtuanya pun ikut sedih. Berbagai cara sudah dilakukan agar
anaknya sadar, namun sang anak tetap bandel.
“kamu
itu kapan mau sadar nak, ibu dan ayah sudah capek melihat ulahmu” rintih kedua
orang tua Anton. Bagaikan jatuh tertimpa tangga, dalam kebimbangan, ternyata
Anton terkena penyakit kelamin yang lebih parah. “tolong Anton bu, sakit banget
rasanya” rintih Anton.
Berbagai
pengobatan kembali dijalaninya dari medis hingga non medis, namun kesembuhan
itu hanyalah bersifat sementara. Lagi-lagi Anton harus merasakan sakit.
Akhirnya
kabar itupun membuat riki salah satu teman akrabnya iba.saat menjengauk ia pun
menyarankan agar Anton berkonsultasi dengan Ustadz Massar di Semarang.
“Loe
coba aja datang ke tempat praktek Ustad Massar di Semarang, gue dulu juga
pernah hampir sekarat gara-gara OD dan Alhamdulillah gue masih bisa sembuh. “
saran Riki.
“ustadz mohon doanya untuk kesembuhan anak
kami” pinta kedua orang tua Anton saat berkonsultasi. Setelah beberapa kali
menjalani terapi dengan menggunakan metode herbal tib nabawi dan ruqyah diri ,
atas izin Allah Swt penyakit Anton berangsur sembuh dan semenjak peristiwa itu,
Anton benar-benar bertaubat taubatan nashuha. “takutlah adzab Allah Swt di
dunia dan akhirat” pesan Ustadz Massar yang selalu diingat Anton.
Allah
Swt Telah memberikan jalan dan kesempatan untuknya dan dia berjanji tidak akan
menyia-nyiakan kesempatan itu dengan terjerumus kedalam jurang yang sama untuk
kesekian kalinya. Oleh karena itu, dia bertekad untuk terus maju dan
memanfaatkan masa muda dengan sebaik-baiknya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar