Perasaan sedih, bahagia, dan haru bercampur dalam dadaku manakala memandang bayi yang baru saja aku lahirkan. Aku tak menyangka kalau aku harus melahirkan seorang diri tanpa didampingi keluarga apalagi seorang suami.
Semua telah terjadi dan waktu takkan bisa diputar
kembali. Sebut saja Aku Rina ( bukan nama sebenarnya ) wanita dewasa, cantik
dan punya karier yang cemerlang dibidang perhotelan. Umurku telah memasuki
kepala tiga, tetapi belum juga kutemukan pria yang pas untukku. Bila melihat
Mbak Laras ( bukan nama sebenarnya ) kakakku, aku sangat iri dengannya. Dia
memiliki segalanya, karier, suami yang begitu mencintainya dan juga buah hati
yang lucu. Entah mengapa Aku jadi sering berandai-andai memiliki suami seperti
mas Andre ( bukan nama sebenarnya ). Oleh karenanya akupun sering menggodanya
setiap kali ada kesempatan. Saat itu mas andre sedang sendiri di rumah,namun
saat ku mencoba mendekatinya dia malah marah dan mengancam akan mengadukan
tindakanku pada Mbak Laras.
“ kok sepi sekali, memang orang-orang pada kemana mas “
tanyaku mencoba membuka pembicaraan. “mereka lagi belanja buat ulang tahun
alena besok “ jawab mas Andre dingin. “ wah asyik dong hanya kita berdua dirumah” kataku. Mas andre tak menjawab dan
asyik dengan koran yang dibacanya.
Tak mau menyerah dengan keadaan, aku tetap berusaha lagi
merayunya dengan segala cara. Gayungpun bersambut, Akhirnya mas andre
terperangkap dengan jerat-jeratku dan jatuh juga dipelukanku. Keesokan harinya,
kami sengaja membuat janji bertemu di sebuah kafe yang dilanjutkan ke sebuah
hotel, itulah awal perselingkuhan yang kami lakukan. Disaat ada kesempatan
selalu kami lewatkan berdua.
Ibarat membaca buku, kita pasti tahu endingnya apa dan
bagaimana. Perselingkuhan kami terkuak, Mbak Laras yang mengetahui hal itu
shock berat dan meminta cerai dari mas Andre. Tetapi Mas Andre tidak
mengabulkannya, dia lebih memilih mbak laras ketimbang aku karena sudah ada Alena di antara mereka.
Orang tuakupun marah besar kepada ku karena telah merusak rumah tangga kakakku.
Tetapi rupanya bisikan syaitan lebih kuat dari pada akal sehatku. aku tak
peduli dengan semua cacimakian mereka, aku tetap ingin menjadi istri dari mas
andre walaupun hanya istri kedua. Namun impian tak sejalan dengan kenyataan.
Mas Andre tak mau memperistriku dan enggan bertanggung jawab atas perbuatannya
dengan alasan masih mencintai keluarganya dan menganggap hubungan kami hanya
kekhilafan saja.
Akupun akhirnya pergi dari rumah dengan hati hancur dan
dendam yang menggunung. Aku merasa Tuhan tidak adil kepadaku karena apa yang
aku inginkan seolah semakin menjauh dariku. Aku yang mulai goyah dan hilang
kendali mencoba bunuh diri dengan menabrakkan diri pada kereta api.
“Istighfar.... nak, jangan berbuat nekat seperti ini”
nasehat seorang ibu yang menolongku dengan menarikku menjauh dari rel kereta
api.
“Biarkan aku mati saja bu, aku sudah tak kuat menghadapi
penderitaan ini” ratapku. Setelah keadaan mulai membaik, seorang ibu yang baru
kuketahui bernama Salma itu menawarkanku untuk ikut ke Semarang menemui Ustadz
Massar untuk meruqyahkan putrinya yang depresi berat sepeninggal almarhum
suaminya . Sesampainya disana, rupanya bu Salma juga meruqyahkanku agar bisa
lebih ikhlas menerima kenyataan pahit yang kualami. ”Pintu maaf Allah begitu
luas terbentang dan terbuka, yakinlah Allah akan memaafkanmu.” Ujar Ustadz
Massar dengan lembut. Perlahan-lahan aku
mulai bisa menerima kenyataan ini dengan lapang dada begitu juga dengan
putrinya bu Salma. Mungkin ini adalah buah dari perbuatanku dan keegoisanku
selama ini. Aku sekarang tinggal dengan ibu Salma dan disini pulalah lahir anak
hasil perselingkuhanku dengan mas Andre. Aku tak mau berlarut-larut dalam
kesedihan karena tugasku mengantar anakku kegerbang kesuksesan baru dimulai.
Aku hanya berharap Allah Swt mau menerima taubatku dan aku tetap memiliki
kekuatan, meskipun kini harus berjuang tanpa suami dan keluarga besarku.
