Sabtu, 09 Mei 2015

Buah Keegoisanku


Perasaan sedih, bahagia, dan haru bercampur dalam dadaku manakala memandang bayi yang baru saja aku lahirkan. Aku tak menyangka kalau aku harus melahirkan seorang diri tanpa didampingi keluarga apalagi seorang  suami.
Semua telah terjadi dan waktu takkan bisa diputar kembali. Sebut saja Aku Rina ( bukan nama sebenarnya ) wanita dewasa, cantik dan punya karier yang cemerlang dibidang perhotelan. Umurku telah memasuki kepala tiga, tetapi belum juga kutemukan pria yang pas untukku. Bila melihat Mbak Laras ( bukan nama sebenarnya ) kakakku, aku sangat iri dengannya. Dia memiliki segalanya, karier, suami yang begitu mencintainya dan juga buah hati yang lucu. Entah mengapa Aku jadi sering berandai-andai memiliki suami seperti mas Andre ( bukan nama sebenarnya ). Oleh karenanya akupun sering menggodanya setiap kali ada kesempatan. Saat itu mas andre sedang sendiri di rumah,namun saat ku mencoba mendekatinya dia malah marah dan mengancam akan mengadukan tindakanku pada Mbak Laras.
“ kok sepi sekali, memang orang-orang pada kemana mas “ tanyaku mencoba membuka pembicaraan. “mereka lagi belanja buat ulang tahun alena besok “ jawab mas Andre dingin. “ wah asyik dong hanya kita berdua  dirumah” kataku. Mas andre tak menjawab dan asyik dengan koran yang dibacanya.
Tak mau menyerah dengan keadaan, aku tetap berusaha lagi merayunya dengan segala cara. Gayungpun bersambut, Akhirnya mas andre terperangkap dengan jerat-jeratku dan jatuh juga dipelukanku. Keesokan harinya, kami sengaja membuat janji bertemu di sebuah kafe yang dilanjutkan ke sebuah hotel, itulah awal perselingkuhan yang kami lakukan. Disaat ada kesempatan selalu kami lewatkan berdua.
Ibarat membaca buku, kita pasti tahu endingnya apa dan bagaimana. Perselingkuhan kami terkuak, Mbak Laras yang mengetahui hal itu shock berat dan meminta cerai dari mas Andre. Tetapi Mas Andre tidak mengabulkannya, dia lebih memilih mbak laras ketimbang aku  karena sudah ada Alena di antara mereka. Orang tuakupun marah besar kepada ku karena telah merusak rumah tangga kakakku. Tetapi rupanya bisikan syaitan lebih kuat dari pada akal sehatku. aku tak peduli dengan semua cacimakian mereka, aku tetap ingin menjadi istri dari mas andre walaupun hanya istri kedua. Namun impian tak sejalan dengan kenyataan. Mas Andre tak mau memperistriku dan enggan bertanggung jawab atas perbuatannya dengan alasan masih mencintai keluarganya dan menganggap hubungan kami hanya kekhilafan saja.
Akupun akhirnya pergi dari rumah dengan hati hancur dan dendam yang menggunung. Aku merasa Tuhan tidak adil kepadaku karena apa yang aku inginkan seolah semakin menjauh dariku. Aku yang mulai goyah dan hilang kendali mencoba bunuh diri dengan menabrakkan diri pada kereta api.
“Istighfar.... nak, jangan berbuat nekat seperti ini” nasehat seorang ibu yang menolongku dengan menarikku menjauh dari rel kereta api.
“Biarkan aku mati saja bu, aku sudah tak kuat menghadapi penderitaan ini” ratapku. Setelah keadaan mulai membaik, seorang ibu yang baru kuketahui bernama Salma itu menawarkanku untuk ikut ke Semarang menemui Ustadz Massar untuk meruqyahkan putrinya yang depresi berat sepeninggal almarhum suaminya . Sesampainya disana, rupanya bu Salma juga meruqyahkanku agar bisa lebih ikhlas menerima kenyataan pahit yang kualami. ”Pintu maaf Allah begitu luas terbentang dan terbuka, yakinlah Allah akan memaafkanmu.” Ujar Ustadz Massar dengan lembut.  Perlahan-lahan aku mulai bisa menerima kenyataan ini dengan lapang dada begitu juga dengan putrinya bu Salma. Mungkin ini adalah buah dari perbuatanku dan keegoisanku selama ini. Aku sekarang tinggal dengan ibu Salma dan disini pulalah lahir anak hasil perselingkuhanku dengan mas Andre. Aku tak mau berlarut-larut dalam kesedihan karena tugasku mengantar anakku kegerbang kesuksesan baru dimulai. Aku hanya berharap Allah Swt mau menerima taubatku dan aku tetap memiliki kekuatan, meskipun kini harus berjuang tanpa suami dan keluarga besarku.