Jumat, 26 Juni 2015

Lepas Dari Jerat Narkoba



Sepintas kehidupanku biasa-biasa saja seperti orang lain, tak ada satu hal yang bisa dikatakan istimewa. Akan tetapi sebuah penghianatan yang dilakukan orang-orang terdekatku telah membuat hidupku hancur. Hingga akhirnya aku mengenal narkoba, barang haram yang selama ini aku benci akhirnya kukonsumsi meski hampir merenggut nyawaku. Sebab itulah jalan hidup yang aku lalui setelahnya amat gelap dan penuh masalah.
Awal mula aku mengenal barang haram itu dari kawan sekampusku Tata. Saat itu aku mengalami depresi berat setelah diputus Wiwin, seorang lelaki yang telah aku pacari semenjak duduk dibangku SMA. Semakin hari aku semakin tertekan setelah terkuak bahwa, wanita yang telah merebut kekasihku merupakan sahabatku sendiri.
" gue juga pernah ngerasain apa yang loe rasain sekarang. Rasanya memang sakit banget, makanya gue minum ini biar bisa nglupain semuanya”. Ungkap Tata dikamar kosku.
 "itu apa Ta?," tanyaku.
"Loe mau? Dicoba aja dulu, buktinya gue gak kenapa-kenapa kan?," jawab Tata mencoba meyakinkan.
Aku yang sebelumnya bisa menjaga diri untuk tidak terpengaruh hal-hal negatif seperti narkoba akhirnya terpeleset juga Karena penasaran dan terpengaruh bujukan Tata. Perasaan senangpun mulai menjalar dalam tubuhku sesaat setelah mengkonsumsi barang haram tersebut hingga membuatku ingin mencoba lagi dan lagi hingga akhirnya ketagihan. Tak ayal, hidupkupun jadi berantakan karena narkoba telah mengendalikan hidupku. Tak jarang aku membohongi orangtuaku supaya mengirim uang dengan jumlah yang lumayan besar demi membeli barang haram itu. Bahkan akupun merelakan tubuhku untuk lelaki hidung belang berkantong tebal yang menginginkan kemolekan tubuh mahasiswi.
Namun , yang namanya menyembunyikan daging busuk cepat atau lambat baunya pasti akan tercium juga. Suatu ketika keluargaku berkunjung ke kos-kosan, dan menemukan diriku dalam kondisi sakau didalam kamar. Hampir dua hari aku tidak keluar kamar dan hanya bisa tertidur karena sakau sedang jenis narkoba yang kuinginkan tidak ada karena tak punya uang untuk menebusnya.
 " Gea..., ini Mama sama Papa kesini, buka pintunya sayang”, suara mama memanggilku. Mereka sangat yakin aku di dalam kamar karena mobil dan sepatu kesayanganku ada di luar.
Merasa tak ada respon dari kamar dan gagal menghubungiku lewat telepon, kak Dicky nekat mendobrak kamar dan menemukanku yang sudah tak sadarkan diri dengan mulut berbusa. Sontak merekapun panik dan membawaku kerumah sakit.
Hampir satu tahun lamanya aku harus menjalani terapi penyembuhan ketergantungan obat terlarang namun tanda-tanda kesembuhan tak kunjung terlihat. Kak Dicky yang merasa cemas dengan kondisi yang dialami adik kandungnya tiba-tiba teringat dengan seorang ustadz yang berhasil menyembuhkan temannya dari pergaulan yang salah dengan mejalani terapi ruqyah. Dia adalah ustadz massar, Seorang ustadz muda yang ahli meruqyah.
Sesampainya disana, aku  bertemu langsung dengan sang Ustad untuk melaksanakan Ruqyah dan terapi pembuangan pengaruh narkoba. Dari beliau kemudian aku sadar bahwa sederet masalah dan cobaan yang aku alami adalah karma yang pernah aku lakukan sebelumnya. Subhanallah, kesungguhan dan niat tulusku untuk memperbaiki semuanya akhirnya membuahkan hasil. Selain perubahan dalam diriku mulai nampak, Emosi dan kesehatan fisikku juga terlihat jauh membaik.
Karena sudah dirasa sembuh, akupun memutuskan untuk meneruskan S2 ku yang sempat tersendat karena harus direhabilitasi. Aku hanya bisa mengucap syukur kepada Allah, bahwa aku masih diberi kesempatan untuk sembuh. Tanpa kusadari, Dari sinilah jalan masa depanku terbuka dengan lebar, selain prestasi akademisku yang semakin meningkat pasca Ruqyah, aku juga telah menemukan pasangan hidup yang insyaAllah bisa membimbingku menuju jalan kebenaran. Inilah hikmah yang bisa aku petik dari semua masalah yang aku buat, bahwa kembali kejalan Tuhan adalah yang terbaik.

Selasa, 16 Juni 2015

Suami Dominan



Sebut saja namaku Reva ( 30 th ) aku menikah dengan  Ricard ( 45 ) dan telah di karuniai seorang anak yang lucu berumur 2 tahun.  Selama 3 tahun usia perkawinan kami, aku merasa suami selalu mengekangku. Aku yang dulunya aktif berorganisasi dan bekerja, kini hanya bisa berpangku tangan dirumah karena setelah menikah suami melarangku untuk melakukannya bahkan untuk sekedar ikut arisan  dengan ibu-ibu di lingkungan kami tinggal. “ Buat apa itu semua, yang penting perempuan itu pintar di dapur dan mengurus rumah tangga” kata suamiku saat ku utarakan keinginanku untuk bekerja lagi.  
Memang semua kebutuhanku dan juga anakku sudah dipenuhi oleh suami bahkan boleh dibilang tak kekurangan. Karena suamiku adalah pejabat pemerintah. Dia juga memiliki beberapa usaha sampingan yang dikelola bersama teman-temannya yang mempunyai keahlian dibidangnya.
Semula aku enjoy saja dengan keadaan tersebut tetapi lama kelamaan aku mulai merasa bosan dan jenuh. Setiap apa yang aku lakukan harus meminta ijin dulu padanya itupun belum tentu disetujui. Untuk sekedar bertandang ke rumah orang tuaku atau sekedar jalan-jalan dan belanja kebutuhan rumah, aku harus diantar suami atau sopir pribadi keluarga kami, dia tidak mengijinkan aku keluar rumah sendiri tanpa sepengetahuannya.
Satu lagi sifatnya yang tidak aku sukai yaitu dia sangat pencemburu. Aku dilarang keras untuk berhubungan dengan teman-teman kuliahku dulu. Semua gadget yang kumiliki selalu dicek setiap kali dia pulang kerja. bagaikan wayang yang selalu dikendalikan oleh dalangnya. Aku jadi stress dan semakin tertekan dibuatnya. “itu demi kebaikan kita dan keluarga, aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan kalian.” alasan tersebut selalu dijadikan senjata andalan suamiku. “aku adalah imam dan berkewajiban untuk melindungi kalian dari api neraka” ucapnya. “tapi sikap mas yang berlebihan itu telah membuat aku tertekan” jawabku memberanikan diri. “aku berjanji tidak akan melakukan sesuatu yang di luar syari’at apabila mas mengijinkan” sambil terisak aku mencoba mengeluarkan unek-unek yang selama ini ku pendam dalam hati.
Karena sudah tak tahan menjadi merpati yang dikurung dalam sangkar emas , aku diam-diam membawa anakku pergi kerumah orang tuaku berharap adanya solusi dari mereka. Namun bukan pembelaan yang kudapat, melainkan tuduhan bahwa aku tidak berbakti kepada suamiku. “ikuti saja apa kata suamimu, ibu yakin dia itu orangnya baik” nasihat ibuku. “jangan sampai kamu jadi istri durhaka , kamu harus taat sama suamimu” ayah menambahkan dengan nada bijak. Menghadapi fenomena tersebut, aku hanya bisa nangis dan mengurung diri di kamar.
Ayah dan ibupun berjanji akan mencarikan solusi terbaik untuk keharmonisan rumah tanggaku. Belajar dari pengalaman ayah saat bisnisnya terpuruk dan kembali sukses, Kamipun segera mendatangi Ustadz Massar untuk kedua kalinya untuk berkonsultasi. Sesaat setelah berkonsultasi, ustadz Massar menyimpulkan bahwa dalam hati kami (aku dan suami) masih terdapat penyakit jiwa. Akibatnya, kami sering berfikir negative dan saling mencurigai.
Beliaupun menyarankan untuk melaksanakan Rukyah Pembersihan Diri  bagiku dan juga suami untuk menghilangkan aura negative dan sikap egois kami masing-masing. “ baik suami maupun istri sama-sama mempunyai hak dan kewajiban yang adil dalam islam, selama seorang istri menjalankan kewajibannya tidak lantas dirinya harus dikekang”. Ujar Ustadz Massar. “Dalam islam seorang perempuan haruslah dihormati sekaligus disayangi tidak sebaliknya” tambahnya.
Sejak saat itu, kami seperti dituntun untuk menjadi manusia yang baru dan melupakan semua yang buruk-buruk dimasa lalu. Untuk itulah aku senantiasa berdoa kepada Allah Swt, semoga perubahan ini tidak untuk sementara dan bisa menjadi pelajaran penting bagi kami untuk tidak mengedepankan ego masing-masing dan lebih menghargai pasangan.

Senin, 08 Juni 2015

Akibat Lupa Akhirat



Sebut saja Dila, wanita kelahiran 35 tahun silam tersebut terlihat masih sangat segar, meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa tanda tanda penuaan mulai menghiasi wajahnya. Kesuksesannya dalam mengembangkan restoran dan juga salon kecantikan ternyata telah mengubah hidupnya, hampir setiap orang yang pernah dekat dengannya tidak diperdulikan bahkan di buang. Menurutnya, semua hal yang tidak menguntungkan adalah benalu baginya. Tidak hanya teman dekat bahkan Roni, suaminya harus menjadi korban ambisinya sendiri.
 “Mah jangan lupa shalat dan bergaulah dengan yang baik-baik” nasihat sang suami. “Papah tau apa?, yang kerja itu aku” bantahnya. “lagian kalau dahuluin shalat, nanti para pelanggan pada kabur” tambahnya dengan muka masam. Jika sudah begitu, Roni yang hanya seorang pegawai di perusahaan swasta hanya bisa mengelus dada.
Semakin hari kegilaannya terhadap pekerjaan ternyata semakin menjadi-jadi. Berbagai cara Dila lakukan untuk menggapai ambisinya, meski harus melanggar norma-norma hukum sekalipun. Parahnya, pergaulan di kalangan kaum jetset yang salah semakin membawanya ke jurang kenistaan. Melihat kenyataan tersebut, Ronipun dengan penuh kesabaran selalu memperingatkannya, alih-alih sadar dan mematuhinya, Dila malah menggugat cerai sang suami yang dianggapnya menjadi penghalang kesuksesan usahanya.
Masih tetap pada kebiasaan lama. Tidak hanya melupakan keluarga, Dila juga telah menjadi sosok yang baru. Sampai akhirnya murka Allah telah sampai kepadanya. Tanpa diketahui sebabnya secara pasti, Dila mendadak merasakan sakit yang luar biasa di seluruh badannya hingga tak sadarkan diri usai meeting bersama klien. Merasa mempunyai uang banyak, Tanpa sungkan Dila memeriksakan diri kepada seorang dokter spesialis pada rumah sakit ternama. Hasil diagnosa dokter saat itu adalah masuk angin biasa dan kecapekan.
Berharap kesembuhan setelah berobat, ternyata penyakit Dila semakin parah. Seluruh badannya tidak bisa digerakan, sehingga mengalami kelumpuhan total. Pihak rumah sakit sudah angkat tangan atas penyakit yang menimpa Dila. “maaf ibu, setelah kami lakukan general chek secara keseluruhan atas diri ibu, tidak kami temukan adanya kelainan atau penyakit pada diri ibu” tutur dokter yang merawatnya.
Waktu seolah berlalu demikian cepatnya. Berbagai pengobatan medis yang dilakukan dari rumah sakit ternama di tanah air  sampai ke negeri tetangga, belum juga menunjukkan adanya kesembuhan untuk Dila. Tidak patah arang, pihak keluarga membawanya ke paranormal dan tabib lainnya, akan tetapi hasilnya tetap nihil bahkan jauh dari harapan. Seiring berjalannya pengobatan, harta Dila yang menumpuk semakin hari semakin menipis dan bahkan habis sama sekali.
Dengan perasaan yang masih luka, mantan suami Dila yang masih selalu mengikuti perkembangan Dila selama ini mencoba menemui keluarga dan berinisaitif membawa Dila ke seorang ustadz yang ahli dalam meruqyah di Semarang yang diketahuinya lewat beberapa teman dan tabloid hikmah. Tanpa buang waktu dan berpikir lagi, berangkatlah keluarga tersebut ke Semarang untuk bertemu ustadz Massar.
Setelah menyampaikan maksud dan tujuan kedatangannya, Ustadz massar lantas menyarankan Dila untuk meminta maaf atas segala kesalahan dan khilafnya kepada orang-orang yang pernah disakitinya khususnya suami dan keluarganya untuk kemudian dilakukan ruqyah pembersihan diri untuk Dila. Seketika itu pula air mata antara sedih dan bahagia menjadi satu, berseteru didalam batin mereka yang gundah gulana teringat segala peristiwa pahit yang pernah dilakukan Dila. Subhanallah, pengorbanan yang luar biasa dari keluarga dan orang-orang terdekatnya, baik harta benda, pikiran dan terutama perasaan tidaklah sia-sia. Atas izin Allah Swt dan tak butuh waktu yang lama, keadaan Dila sedikit demi sedikit mulai membaik dan dapat menggerakan anggota tubuhnya kembali. Alhamdulillah, sampai saat ini Dila telah kembali kepada suaminya dan bertaubat taubatan nasuha atas bimbingan sang ustadz.
Dari kisah ini, semoga kita semua bisa mengambil hikmahnya. Janganlah kalian merasa sombong karena kelebihanmu dan janganlah suka mempermainkan perasaan orang lain, karena hal ini disamping berdosa juga akan berakibat buruk pada diri kita sendiri. 

Rabu, 03 Juni 2015

Meruqyah Istri Nusyuz



(Rabbana hablanaa min azwajinaa wa dzurriyyaatinaa qurrata a’yunin waj’alnaa lilmuttaqiina imaa maa)“Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati ( kami ), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa. (QS.Al-Furqan: 74)
Dalam keheningan malam Budi memohon kepada Tuhannya untuk kebaikan diri dan keluarganya. Kekuatan manusia ada batasnya, begitu juga Budi, dimana pada titik tertentu dirinya tidak dapat berbuat apa-apa kecuali meminta pertolongan kepada Yang Maha Kuasa.
Pekerjaannya sebagai konsultan bisnis sebuah perusahaan besar di ibu kota, mengharuskan dia siap ditempatkan dimana saja oleh pimpinan, kali ini dia hanya bisa pasrah ketika perusahaan menugaskannya di Belanda selama 1 tahun. Dengan berat hati, Budi harus rela berpisah dengan istri dan kedua anaknya yang masih balita demi mencari sesuap nasi di negeri orang.
Waktu terus berputar begitu cepat seakan sulit untuk dicegah, Tak terasa pula satu tahun sudah Budi menetap di Belanda meninggalkan keluarga demi pekerjaan. Terbayang dibenaknya kebahagiaan keluarga kecil yang telah ditinggalkannya akan segera terbayar dengan kepulangannya ke tanah air. Namun, impian tak sejalan dengan kenyataan yang harus ditelan. Harapannya untuk berkumpul dan bercanda bersama keluarga kecilnya pupus sudah. Di luar dugaan, Anita mengalami goncangan jiwa setelah kepergian Budi. Rapuhnya iman dan kurangnya perhatian dari Budi, membuat Anita terlena dengan kenikmatan dunia dan merubahnya menjadi istri yang pemarah dan apatis terhadap suaminya.
Mah, mamah lagi ada masalah ya? Tanya Budi mencari tahu penyebab perubahan istri tercinta. “sudahlah pah gak usah ngurusin mamah atau anak-anak, urusin aja tuh pekerjaan papah”ungkap Anita sambil merebahkan dirinya ditempat tidur. Setengah tidak percaya Budi terdiam
Keresahan Budi semakin bertambah tatkala dirumah tak lagi melihat istrinya sholat apalagi mengaji seperti dulu. “ nantilah, mamah masih capek!“ jawab Anita setiap kali Budi menyuruhnya sholat. Tidak hanya dalam hal pekerjaan rumah dan ibadah, lebih dari itu setiap Budi meminta untuk dilayani, Anita selalu menolak dengan berbagai alasan. “besok aja pah , mamah ngantuk!,” elak Anita.
Kenapa ya Anita sekarang berubah, padahal saat di telp atau Webcame waktu aku masih di Belanda dia biasa-biasa aja. “ungkap Budi kepada Denis, sahabatnya.
 “Wah, pasti ada sesuatu nih  dengan istrimu?” desis Denis. “ Bagaimana kalo akhir pekan ini kita menemui Ustadz Massar di Semarang, untuk mengkonsultasikan masalahmu ini.” Ujar Denis. Budi hanya menganggukkan kepala tanda setuju, setelah mengetahui siapa itu Ustadz  Massar.
Usai bertemu dan berkonsultasi terkait masalahnya, tahulah Budi bahwa selama ini Anita merasa kecewa dengan kepergian Budi dan mencoba melampiaskannya kepada hal-hal yang negatif, termasuk diantaranya menjalin hubungan gelap dengan mantan kekasihnya.
“Janganlah menyerah dengan ujian yang sedang menimpa Anda, cobalah untuk selalu bersabar dan perbanyak istighfar” nasihat sang Ustadz setelah selesai merukyah Anita melalui media foto yang dibawa Budi. Selang 1 bulan setelah dilakukan terapi ruqyah, Pintu hati Anita mulai terbuka dan menyadari bahwa selama ini dirinya telah durhaka kepada suaminya. Dengan penuh penyesalan Anita meminta maaf kepada Budi, dia berjanji akan bertaubat dan memulai lembaran baru dengan menjadi Istri yang solekhah dan ibu yang baik untuk kedua buah hatinya. Tak henti-hentinya Budi mengucap rasa syukur kepada Allah Swt dan berjanji akan lebih memperhatikan keluarganya. Keharmonisan yang pernah hilang dari keluarganyapun kembali ditemukannya.