Sepintas kehidupanku biasa-biasa saja seperti orang lain, tak ada
satu hal yang bisa dikatakan istimewa. Akan tetapi sebuah penghianatan yang
dilakukan orang-orang terdekatku telah membuat hidupku hancur. Hingga akhirnya
aku mengenal narkoba, barang haram yang selama ini aku benci akhirnya
kukonsumsi meski hampir merenggut nyawaku. Sebab itulah jalan hidup yang aku
lalui setelahnya amat gelap dan penuh masalah.
Awal mula aku mengenal barang haram itu dari kawan sekampusku Tata.
Saat itu aku mengalami depresi berat setelah diputus Wiwin, seorang lelaki yang
telah aku pacari semenjak duduk dibangku SMA. Semakin hari aku semakin tertekan
setelah terkuak bahwa, wanita yang telah merebut kekasihku merupakan sahabatku
sendiri.
" gue juga pernah ngerasain apa yang loe rasain sekarang.
Rasanya memang sakit banget, makanya gue minum ini biar bisa nglupain
semuanya”. Ungkap Tata dikamar kosku.
"itu apa Ta?,"
tanyaku.
"Loe mau? Dicoba aja dulu, buktinya gue gak kenapa-kenapa
kan?," jawab Tata mencoba meyakinkan.
Aku yang sebelumnya bisa menjaga diri untuk tidak terpengaruh
hal-hal negatif seperti narkoba akhirnya terpeleset juga Karena penasaran dan
terpengaruh bujukan Tata. Perasaan senangpun mulai menjalar dalam tubuhku
sesaat setelah mengkonsumsi barang haram tersebut hingga membuatku ingin
mencoba lagi dan lagi hingga akhirnya ketagihan. Tak ayal, hidupkupun jadi
berantakan karena narkoba telah mengendalikan hidupku. Tak jarang aku
membohongi orangtuaku supaya mengirim uang dengan jumlah yang lumayan besar
demi membeli barang haram itu. Bahkan akupun merelakan tubuhku untuk lelaki
hidung belang berkantong tebal yang menginginkan kemolekan tubuh mahasiswi.
Namun , yang namanya menyembunyikan daging busuk cepat atau lambat
baunya pasti akan tercium juga. Suatu ketika keluargaku berkunjung ke
kos-kosan, dan menemukan diriku dalam kondisi sakau didalam kamar. Hampir dua
hari aku tidak keluar kamar dan hanya bisa tertidur karena sakau sedang jenis
narkoba yang kuinginkan tidak ada karena tak punya uang untuk menebusnya.
" Gea..., ini Mama sama
Papa kesini, buka pintunya sayang”, suara mama memanggilku. Mereka sangat yakin
aku di dalam kamar karena mobil dan sepatu kesayanganku ada di luar.
Merasa tak ada respon dari kamar dan gagal menghubungiku lewat telepon,
kak Dicky nekat mendobrak kamar dan menemukanku yang sudah tak sadarkan diri
dengan mulut berbusa. Sontak merekapun panik dan membawaku kerumah sakit.
Hampir satu tahun lamanya aku harus menjalani terapi penyembuhan
ketergantungan obat terlarang namun tanda-tanda kesembuhan tak kunjung
terlihat. Kak Dicky yang merasa cemas dengan kondisi yang dialami adik
kandungnya tiba-tiba teringat dengan seorang ustadz yang berhasil menyembuhkan
temannya dari pergaulan yang salah dengan mejalani terapi ruqyah. Dia adalah
ustadz massar, Seorang ustadz muda yang ahli meruqyah.
Sesampainya disana, aku
bertemu langsung dengan sang Ustad untuk melaksanakan Ruqyah dan terapi
pembuangan pengaruh narkoba. Dari beliau kemudian aku sadar bahwa sederet
masalah dan cobaan yang aku alami adalah karma yang pernah aku lakukan
sebelumnya. Subhanallah, kesungguhan dan niat tulusku untuk memperbaiki
semuanya akhirnya membuahkan hasil. Selain perubahan dalam diriku mulai nampak,
Emosi dan kesehatan fisikku juga terlihat jauh membaik.
Karena sudah dirasa sembuh, akupun memutuskan untuk meneruskan S2
ku yang sempat tersendat karena harus direhabilitasi. Aku hanya bisa mengucap
syukur kepada Allah, bahwa aku masih diberi kesempatan untuk sembuh. Tanpa
kusadari, Dari sinilah jalan masa depanku terbuka dengan lebar, selain prestasi
akademisku yang semakin meningkat pasca Ruqyah, aku juga telah menemukan
pasangan hidup yang insyaAllah bisa membimbingku menuju jalan kebenaran. Inilah
hikmah yang bisa aku petik dari semua masalah yang aku buat, bahwa kembali
kejalan Tuhan adalah yang terbaik.