Rabu, 03 Juni 2015

Meruqyah Istri Nusyuz



(Rabbana hablanaa min azwajinaa wa dzurriyyaatinaa qurrata a’yunin waj’alnaa lilmuttaqiina imaa maa)“Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati ( kami ), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa. (QS.Al-Furqan: 74)
Dalam keheningan malam Budi memohon kepada Tuhannya untuk kebaikan diri dan keluarganya. Kekuatan manusia ada batasnya, begitu juga Budi, dimana pada titik tertentu dirinya tidak dapat berbuat apa-apa kecuali meminta pertolongan kepada Yang Maha Kuasa.
Pekerjaannya sebagai konsultan bisnis sebuah perusahaan besar di ibu kota, mengharuskan dia siap ditempatkan dimana saja oleh pimpinan, kali ini dia hanya bisa pasrah ketika perusahaan menugaskannya di Belanda selama 1 tahun. Dengan berat hati, Budi harus rela berpisah dengan istri dan kedua anaknya yang masih balita demi mencari sesuap nasi di negeri orang.
Waktu terus berputar begitu cepat seakan sulit untuk dicegah, Tak terasa pula satu tahun sudah Budi menetap di Belanda meninggalkan keluarga demi pekerjaan. Terbayang dibenaknya kebahagiaan keluarga kecil yang telah ditinggalkannya akan segera terbayar dengan kepulangannya ke tanah air. Namun, impian tak sejalan dengan kenyataan yang harus ditelan. Harapannya untuk berkumpul dan bercanda bersama keluarga kecilnya pupus sudah. Di luar dugaan, Anita mengalami goncangan jiwa setelah kepergian Budi. Rapuhnya iman dan kurangnya perhatian dari Budi, membuat Anita terlena dengan kenikmatan dunia dan merubahnya menjadi istri yang pemarah dan apatis terhadap suaminya.
Mah, mamah lagi ada masalah ya? Tanya Budi mencari tahu penyebab perubahan istri tercinta. “sudahlah pah gak usah ngurusin mamah atau anak-anak, urusin aja tuh pekerjaan papah”ungkap Anita sambil merebahkan dirinya ditempat tidur. Setengah tidak percaya Budi terdiam
Keresahan Budi semakin bertambah tatkala dirumah tak lagi melihat istrinya sholat apalagi mengaji seperti dulu. “ nantilah, mamah masih capek!“ jawab Anita setiap kali Budi menyuruhnya sholat. Tidak hanya dalam hal pekerjaan rumah dan ibadah, lebih dari itu setiap Budi meminta untuk dilayani, Anita selalu menolak dengan berbagai alasan. “besok aja pah , mamah ngantuk!,” elak Anita.
Kenapa ya Anita sekarang berubah, padahal saat di telp atau Webcame waktu aku masih di Belanda dia biasa-biasa aja. “ungkap Budi kepada Denis, sahabatnya.
 “Wah, pasti ada sesuatu nih  dengan istrimu?” desis Denis. “ Bagaimana kalo akhir pekan ini kita menemui Ustadz Massar di Semarang, untuk mengkonsultasikan masalahmu ini.” Ujar Denis. Budi hanya menganggukkan kepala tanda setuju, setelah mengetahui siapa itu Ustadz  Massar.
Usai bertemu dan berkonsultasi terkait masalahnya, tahulah Budi bahwa selama ini Anita merasa kecewa dengan kepergian Budi dan mencoba melampiaskannya kepada hal-hal yang negatif, termasuk diantaranya menjalin hubungan gelap dengan mantan kekasihnya.
“Janganlah menyerah dengan ujian yang sedang menimpa Anda, cobalah untuk selalu bersabar dan perbanyak istighfar” nasihat sang Ustadz setelah selesai merukyah Anita melalui media foto yang dibawa Budi. Selang 1 bulan setelah dilakukan terapi ruqyah, Pintu hati Anita mulai terbuka dan menyadari bahwa selama ini dirinya telah durhaka kepada suaminya. Dengan penuh penyesalan Anita meminta maaf kepada Budi, dia berjanji akan bertaubat dan memulai lembaran baru dengan menjadi Istri yang solekhah dan ibu yang baik untuk kedua buah hatinya. Tak henti-hentinya Budi mengucap rasa syukur kepada Allah Swt dan berjanji akan lebih memperhatikan keluarganya. Keharmonisan yang pernah hilang dari keluarganyapun kembali ditemukannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar