(Rabbana hablanaa min azwajinaa wa dzurriyyaatinaa
qurrata a’yunin waj’alnaa lilmuttaqiina imaa maa)“Ya Rabb kami,
anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai
penyenang hati ( kami ), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang
bertaqwa. (QS.Al-Furqan: 74)
Dalam keheningan malam Budi memohon kepada Tuhannya
untuk kebaikan diri dan keluarganya.
Kekuatan manusia ada batasnya, begitu juga Budi, dimana pada titik tertentu
dirinya tidak dapat berbuat apa-apa kecuali meminta
pertolongan kepada Yang Maha Kuasa.
Pekerjaannya
sebagai konsultan bisnis sebuah perusahaan besar di ibu kota, mengharuskan dia siap ditempatkan dimana saja oleh
pimpinan, kali ini dia hanya bisa pasrah ketika perusahaan menugaskannya di
Belanda selama 1 tahun. Dengan
berat hati, Budi harus rela
berpisah dengan istri dan
kedua anaknya yang masih balita demi mencari sesuap nasi di negeri orang.
Waktu terus berputar begitu cepat seakan sulit untuk
dicegah, Tak terasa pula satu tahun sudah Budi menetap di Belanda meninggalkan
keluarga demi pekerjaan. Terbayang dibenaknya kebahagiaan keluarga kecil yang
telah ditinggalkannya akan segera terbayar dengan kepulangannya ke tanah air.
Namun, impian tak sejalan dengan kenyataan yang harus ditelan. Harapannya untuk
berkumpul dan bercanda bersama keluarga kecilnya pupus sudah. Di luar dugaan,
Anita mengalami goncangan jiwa setelah kepergian Budi. Rapuhnya iman dan
kurangnya perhatian dari Budi, membuat Anita terlena dengan kenikmatan dunia
dan merubahnya menjadi istri yang pemarah dan apatis terhadap suaminya.
“Mah, mamah lagi ada masalah ya? Tanya Budi mencari tahu
penyebab perubahan istri tercinta. “sudahlah pah gak usah ngurusin mamah atau
anak-anak, urusin aja tuh pekerjaan papah”ungkap Anita sambil merebahkan
dirinya ditempat tidur. Setengah tidak percaya Budi terdiam
Keresahan
Budi semakin bertambah tatkala dirumah tak lagi melihat istrinya sholat apalagi
mengaji seperti dulu. “ nantilah, mamah masih capek!“ jawab Anita setiap kali
Budi menyuruhnya sholat. Tidak hanya dalam hal pekerjaan rumah dan ibadah,
lebih dari itu setiap Budi meminta untuk dilayani, Anita selalu menolak dengan
berbagai alasan. “besok aja pah , mamah ngantuk!,” elak Anita.
Kenapa ya Anita sekarang berubah, padahal saat di telp
atau Webcame waktu aku masih di Belanda dia biasa-biasa aja. “ungkap Budi
kepada Denis, sahabatnya.
“Wah, pasti ada sesuatu
nih dengan istrimu?” desis Denis. “
Bagaimana kalo akhir pekan ini kita menemui Ustadz Massar di Semarang, untuk mengkonsultasikan
masalahmu ini.” Ujar Denis. Budi hanya menganggukkan kepala tanda setuju,
setelah mengetahui siapa itu Ustadz
Massar.
Usai bertemu dan berkonsultasi terkait masalahnya,
tahulah Budi bahwa selama ini Anita merasa kecewa dengan kepergian Budi dan
mencoba melampiaskannya kepada hal-hal yang negatif, termasuk diantaranya
menjalin hubungan gelap dengan mantan kekasihnya.
“Janganlah menyerah dengan ujian yang sedang menimpa
Anda, cobalah untuk selalu bersabar dan perbanyak istighfar” nasihat sang
Ustadz setelah selesai merukyah Anita melalui media foto yang dibawa Budi.
Selang 1 bulan setelah dilakukan terapi ruqyah, Pintu hati Anita mulai terbuka
dan menyadari bahwa selama ini dirinya telah durhaka kepada suaminya. Dengan
penuh penyesalan Anita meminta maaf kepada Budi, dia berjanji akan bertaubat
dan memulai lembaran baru dengan menjadi Istri yang solekhah dan ibu yang baik
untuk kedua buah hatinya. Tak henti-hentinya Budi mengucap rasa syukur kepada
Allah Swt dan berjanji akan lebih memperhatikan keluarganya. Keharmonisan yang
pernah hilang dari keluarganyapun kembali ditemukannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar