KISAH
HIKMAH
Vina terperanjat. Ia seolah tak
percaya dengan apa yang dilihatnya. Selama ini ia mencoba untuk selalu berbaik
sangka. Namun itu semua lenyap laksana debu tertiup angin tatkala menyaksikan
pemandangan di depan matanya.
Hanya jarak selemparan batu, ia
memergoki Rossa dan Erni sedang duduk mesra di sebuah taman. Terlihat jelas
Rossi melingkarkan tangannya di pundak Erni. Sedangkan Erni sendiri
melingkarkan tangannya di pinggang Rossi. Vina segera menghampiri mereka.
“Rossi..... Erni....???!!!”
Rossi dan Erni terkesiap, mereka
menoleh ke arah suara Vina yang sudah ada di hadapan mereka.
“Vina??!” ujar mereka serempak.
“Jadi selama ini kalian lesbong?”
Vina membelalak.
“Mmmm..kamu salah Vin,” ucap Rossi
sembari membetulkan posisi duduknya.
“Tidak bisa, berarti saat kalian
berdua ada di hotel malam itu kalian ngelakuin yang nggak-nggak, ya kan?”
“Anu Vin, eh, begini,” Erni salah
tingkah.
“Ah...nggak usah alasan, berarti apa
yang dikatakan teman-teman tentang kalian emberrr, dasar!!” kata Vina kemudian
berlalu meninggalkan mereka yang masih bengong.
Itu terjadi pada suatu senja saat
Vina sedang jogging di sebuah taman kota di kawasan Jakarta Utara. Setelah
kejadian itu, malam harinya, ia langsung menuju rumah Rossi. Ia ingin mengatakan
kepada orang tua Rossi kalau anak mereka tidak normal.
“Sebenarnya kami sudah tahu, tapi
kami sudah kehilangan cara bagaimana menyembuhkan perilaku seksual Rossi yang
menyimpang,” ungkap Ny.Herawati, ibunda Rossi.
“Kami sudah ke psikolog, psikiater
bahkan seksolog, tetapi Rossi hanya sembuh sebentar, setelah itu kumat lagi,”
timpal Pak Darmawan yang tak lain adalah ayahanda Rossi. “Selama ini kami yang
salah, saking sibuknya, kami kurang memperhatikan Rossi.”
Kurang Perhatian Keluarga
Maklum saja, Pak Darmawan dan
istrinya adalah pengusaha yang super sibuk dengan jadwal kerja super padat.
Berangkat pagi pulang larut malam. Imbasnya, Rossi sebagai putri semata
wayangnya menjadi tak terurus, kurang kasih sayang, apalagi sejak babysitter
tak lagi mengasuhnya. Hal itu terjadi mulai masuk kelas 1 SMP hingga menginjak
perguruan tinggi. Puncaknya, di kampus, Rossi salah pergaulan. Sebuah komunitas
wanita lesbian dengan mayoritas anggota pelajar dan mahasiswi berhasil merekrut
Rossi. Bahkan, di Facebook, mereka terang-terangan memperkenalkan diri lengkap
dengan foto mesra.
“Bagaimana dik Vina, ada solusi?”
tanya Pak Darmawan membuyarkan lamunan Vina yang masih membayangkan kejadian
tadi sore.
“Begini om, tante, masalahnya, si
Erni temenku itu juga ngelakuin hal yang sama, dia itu pasangannya anak om sama
tante,” jelas Vina.
“Maksud dik Vina, Erni anaknya Pak
Haris itu?” tanya Pak darmawan.
“Iya lah om, siapa lagi?”
“Ya sudah, sekarang kita menuju
rumahnya Pak Haris, dik Vina ikut, ayo ma..,” ajak Pak Darmawan, istrinya
segera beranjak.
Mobil sedan warna hitam segera keluar
garasi. Satpam bergegas membuka gerbang. Mobil melaju dari komplek perumahan
menuju jalan raya menembus keramaian. Kerlap-kerlip lampu yang menghiasi gedung
dan jalanan tak seterang hati Pak Darmawan dan istrinya. Sudah lama mereka
ingin anaknya kembali normal. Mereka merasa bersalah.
Pak Haris mempersilahkan para tamunya
duduk. Pembantunya dengan sigap masuk ke dalam membuatkan minuman setelah
diberi isyarat.
“Ada hal penting apa Pak, kok
kayaknya serius ini,” ujar Pak Haris mengawali pembicaraan.
“Putri Anda, si Erni, itu lesbian,
Anda sudah tahu?” tanya Pak darmawan.
“Sudah Pak, tapi saya tidak tahu
harus bagaimana, pernah saya peringatkan tapi malah mengancam akan bunuh diri
jika saya mencampuri urusannya, padahal saya kan Bapaknya,” terang Pak Haris.
“Tapi saya pernah disarankan oleh rekan kerja yang anaknya kecanduan narkoba.
Dia berkonsultasi ke seorang Ustad di Semarang dan bisa sembuh, namanya Ustad
Massar, bagaimana kalau kita ke sana Pak, siapa tahu kelainan seksual juga bisa
sembuh” imbuhnya.
Akhirnya, keesokan harinya, mereka menuju
kediaman Ustad Massar. Rossi dan Erni diruqyah jarak jauh melalui foto. “Jangan
lupa untuk senantiasa berdo’a bagi kesembuhan putri Bapak setiap selesai sholat
fardlu, Terapi Ruqyah Diri jarak jauh ini akan menjadi wasilah bagi
kesembuhan putri Bapak, pikiran dan hati mereka akan tenang dan sadar,”jelas
Ustad Massar.
Dua bulan kemudian, Pak Darmawan dan
Pak Haris memberi kabar gembira melalui telepon dan email. Putri mereka sudah
normal. Bahkan Pak Haris hendak menikahkan Erni dengan lelaki tampan, seorang
oknum TNI.