Kamis, 28 Agustus 2014

Bangkit Dari Kebangkrutan usaha



Selagi kaya kadang orang luipa diri dan boros. Padahal, nasib orang siapa tahu. Itulah yang menimpa keluarga Rudi. Ketika kaya dan sukses, keluarganya bergaya hidup mewah. Ketika bangkrut dan jatuh miskin, ia pun putus asa dan hampir bunuh diri.
Penampilan yang sederhana tidak dapat menutupi karisma Rudi. Sebagai seorang wiraswasta yang sukses dalam bidang usaha engineering service dan konsultan, Rudi masih tetap rendah hati. Padahal, dengan harta yang berlimpah, Rudi dapat memenuhi semua kebutuhan dirinya dan keluarga, bahkan lebih. Meskipun begitu, ibarat pohon semakin tinggi, maka semakin kencang anginnya, begitu pula dengan kehidupan Rudi.
“Pah, Ruben ingin dibeliin mobil baru, temen-temen Ruben saja mobilnya sudah pada ganti” pinta anak sulung Rudi.
“Mobilmu kan masih bagus, kenapa harus ganti” nasihat Rudi. “Pokoknya ingin ganti, kalau enggak Ruben gak mau sekolah”Ketusnya.
Melihat realita seperti itu, Rudi hanya bisa mengelus dada. Tidak berbeda dengan putranya, istri Rudi pun mempunyai sifat yang sama, yaitu terbiasa dengan kehidupan glamor.
“Ibu-Ibu lihat saya punya barang baru lho, ini asli dari Australia” pamer Novita ketika arisan.
Kenyataan tersebut terlihat wajar, karena ketika menikah, Novita mendapatkan Rudi dalam puncak karirnya.
“Mamah seharusnya lebih irit, mamah kan tahu bahwa mencari uang itu sulit”nasihat Rudi.
 “Ya mamah nggak mau tahu, yang penting kan sekarang kita banyak uang”sangkal Novita.
MENDADAK BANGKRUT
Jika sudah begitu, Rudi hanya bisa pasrah. Ibarat putaran roda, terkadang di atas dan sebaliknya. Begitupun kehidupan Rudi, tanpa disangka Rudi melakukan kesalahan fatal dalam menjalankan bisnis, diantaranya tidak memperhatikan secara cermat managemen usaha, sehingga  perusahaan Rudi harus kalah dengan kompetitor lain dan menanggung hutang ratusan juta rupiah. Mulai dari itu, semakin lama usaha Rudi semakin terpuruk, sehingga berpengaruh terhadap ekonomi keluarga, sampai akhirnya usaha Rudi bangkrut sama sekali dan keluarganya jatuh miskin.
“Ya Allah apa salah hamba sehingga hamba harus menanggung cobaan seperti ini ” rintih Rudi. Musibah tersebut ternyata berdampak signifikan terhadap keluarga Rudi yang terbiasa dengan kehidupan glamor. Ruben menjadi sakit-sakitan dan istri Rudi harus dirujuk ke rumah sakit jiwa karena tekanan mental yang dahsyat. Dalam keadaan sepeti itu Rudi hampir putus asa dan ingin mengakhiri hidupnya.
“Rud kamu harus tetap tabah, mungkin Allah sedang menguji kesabaranmu”nasehat salah satu kerabat.  saya kenal dengan Ustadz yang dapat menolong kamu” tambahnya. Tanpa menunggu waktu lama, akhirya Rudi menemui Ustadz Massar. Seorang Ustadz ahli ruqyah  di Semarang yang biasa menangani masalah keluarga dan juga  bisnis islami. “Bapak Rudi, janganlah bapak berputus asa dari rahmat Allah, yakinlah semua permasalahan pasti ada jalan keluarnya” nasihat sang Ustadz. 
TERAPI RUQYAH
Akhirnya Rudi mendapatkan nasihat untuk bangkit dari keterpurukan dan memulai bisnis baru dengan bimbingan managemen langsung dari sang Ustadz. Lebih dari itu, istri Rudi mendapatkan terapi rukyah, sampai akhirnya sedikit demi sedikit kesadarannya kembali  pulih seperti semula.
 “Terima kasih Ustadz, sekarang saya akan menjalankan bisnis ini dengan hati-hati” ucap Rudi kepada Ustadz.
“Sama-sama bapak Rudi, saya hanya pesan supaya Bapak dan keluarga tidak lupa untuk selalu shalat lima waktu dan memperbanyak berbuat baik” nasihat Ustadz.
Musibah yang menimpa keluarga Rudi menjadi pelajaran berharga, sehingga Rudi dan keluarga mendapatkan kesadaran untuk selalu mendekatan diri kepada Allah Swt. Oleh karenanya, dari kesuksesan yang dicapainya sekarang, Rudi tidak pernah lupa untuk bershodaqoh dengan menjadi donator tetap di Yayasan Kita Nusantara.

Senin, 25 Agustus 2014

Kesedihan yang Dilarang



Suatu kewajaran apabila kesedihan datang menyelimuti, karena kehilangan orang yang dicintai. Sebaliknya keburukan akan datang apabila berlebih dalam meratapinya. Hal tersebut telah ditetapkan dalam agama sebagai larangan.
Sani, ABG berumur 18 tahun harus merasakan kepedihan ditinggal ibu tercinta. Maut tidak mengenal tempat dan waktu, itulah yang terjadi pada Sandra sang ibu. Selama ini Sani sangat disayang, bahkan terlalu disayang oleh Sandra. Masih teringat dipikiran Sani, masa kecil yang bahagia dipangkuan ibunda dengan segala kasih sayang yang melimpah.
“San buka pintunya” pinta Hardi. Berkali-kali pintu di ketok, akan tetapi tidak ada jawaban. Merasa khawatir, Hardi mendobrak. “Astaghfirullah” kaget Hardi. Ternyata anak semata wayangnya  mencoba bunuh diri dengan menenggak obat-obatan terlarang. Tanpa pikir panjang, dirinya membawa Sani ke rumah sakit dan beruntung nyawa Sani dapat tertolong.
            “Sayang.... jangan pernah berbuat seperti itu lagi, hukumnya dosa” Nasehat Hardi. “Yang lalu biarlah berlalu, supaya ibumu tenang di alam sana” tambah Hardi. Mendengar hal tersebut tidak membuat Sani sadar, sebaliknya dirinya semakin dirundung kesedihan. “Papah gak pernah tahu perasaan Sani, sampai saat ini Sani belum rela, kenapa mamah begitu cepat ninggalin Sani” ucapnya sambil berlinang air mata.
                                          *****
Alih-alih sadar, Sani justru melampiaskannya dengan mengacak-acak isi kamarnya. Dalam hatinya yang paling dalam, Sani merasa Tuhan tidak adil, kenapa peristiwa itu menimpa keluarganya.
”kenapa mamah ninggalin Sani sendirian” rintihnya.
“ini gak adil, Tuhan gak sayang Sani”
Merasa kecewa, Sani meninggalkan rumah dan bergabung dengan teman jalanan. Dalam kepergiannya, Sani telah terjerumus dalam pergaulan bebas dan telah melampaui batas.
“Pak, anak  saya satu-satunya menghilang, sudah 2 hari dia pergi dari rumah” lapor Hardi kepada Polisi. “Ini ciri-ciri nya” tambahnya. Setelah mendapatkan laporan, pihak berwajib terus melakukan pencarian, akan tetapi sekian lama waktu yang terlewati Sani belum juga ditemukan. Hingga pada suatu hari, salah satu kerabat Hardi tanpa sengaja melihat Sani sedang berkumpul dengan teman-temannya. “Har, aku menemukan anakmu, cepat kesini” lapor Syamsul.
Setelah dipaksa, akhirnya Sani mau pulang ke rumah. Alih-alih dapat disadarkan, sebaliknya Sani justru menjadi pribadi yang berbeda. Selain sering keluar rumah, Sani tidak pernah melakukan shalat apalagi mengaji.
Sampai akhirnya, Hardi membaca tabloid Kisah Hikmah yang biasa dibaca almarhumah istrinya dulu dan menemukan rubrik ini.“Apa salahnya Saya mencoba berkonsultasi dengan Ustad Massar, Saya kan orang beragama jadi percaya dengan kekuatan do’a” pikirnya. Oleh Ustad Massar, Sani pun  diruqyah, dan disuruh mengamalkan puasa sunnah. Hardi sendiri juga diberi amalan do’a untuk kesembuhan putrinya.
   “Sani...., sudah saatnya Sani berbenah diri, jangan pernah melihat masa lalu kecuali untuk kebaikan masa depan” nasehat sang ustadz bijak.
Tidak lebih dari satu bulan, setelah melaksanakan  beberapa kali terapi Ruqyah dan pesan sang Ustadz Sani mulai menunjukan perubahan. “Maafin Sani pah, udah ngecewain papah” ungkapnya.”Sani janji akan menjadi lebih baik lagi dan menjadi anak kebanggaan papah”tambahnnya. Alangkah senangnya Hardi mendengar hal tersebut “Alhamdulillah,” ucap Hardi. Dengan kembalinya kesadaran Sani, Kini Hardi bisa merasakan kembali kehangatan keluarga yang pernah hilang.

Kamis, 21 Agustus 2014

Bangkit dari keterpurukan




Sebut saja Johan ( 45 ) seorang Bisnismen yang memiliki omzet Miliaran rupiah perbulannya. Namun ditengah kesuksesannya saat ini ia sempat mengalami frustasi yang dalam karena gagal merebutkan kursi anggota Dewan beberapa tahun yang lalu. Berikut kisahnya sebagaimana diadaptasi dari kisah nyata. Adapun nama disamarkan demi tidak menyinggung pihak manapun. Semoga bisa diambil hikmahnya.
" Sudahlah, gak usah ikut mencalonkan diri menjadi anggota dewan, Mama dan anak-anak sudah cukup bahagia dengan keadaan kita yang sekarang" nasehat istrinya kala itu. " bukan begitu Ma, banyak hal yang bisa ayah lakukan jika menjadi wakil rakyat termasuk idialisme-idealisme ayah," bantah Johan.
 Ismi (41)( istri Johan ) yang tak bisa lagi membendung keinginan suaminya. Ternyata ia pun gagal.  Padahal hampir semua hartanya terkuras untuk biaya kampanye dan operasional partai. Rasa malu yang amat dalampun tak mampu lagi dibendungnya kepada keluarga besar yang telah mendukung dengan harta dan tenaga. Hayalan yang terlalu tinggi dan spikulasi yang salah menjadikannya jatuh ketitik terbawah hingga akhirnya Johan harus dirawat di RSJ setempat.
Beruntung Johan memiliki istri yang setia dan sabar menemaninya.  Tekad Ismi untuk keluar dari permasalahan ini memuncak setelah mendengarkan ceramah seorang Ustad dari Semarang yang tak lain adalah Ustadz Massar . " Tidak seorangpun di dunia ini yang terlepas dari ujian dan tidak semua orang lepas dari kesulitan karena dunia adalah tempatnya ujian tinggal bagaimana kita menyikapi hal itu,"  nasehat sang Ustad dalam ceramahnya.
Keesokan harinya Ismi berusaha menyempatkan diri berkunjung ke tempat praktek Ustadz Massar di Semarang dengan ditemani anaknya. " Suami Anda masih bisa sembuh, apa yang terjadi saat ini bisa menjadi hikmah agar dia terhindar dari perbuatan dosa".
“ Saya akan meruqyah suami Anda agar pikirinnya tenang kembali dan dapat menerima apa yang telah di tetapkan Yang Maha Pencipta kepadanya “. Tutur beliau kepada Ismi.
Dua bulan sudah Johan menjalani Terapi Ruqyah Jarak Jauh, berkat kesabaran dan Ketelatenan Ustadz Massar dalam menangani Johan, perlahan namun pasti kondisinya mulai  membaik. Dirinya mulai dapat menerima kenyataan pahit yang menimpanya dan berusaha untuk bangkit lagi dengan membuka usaha baru bersama Istri dan beberapa mitra setianya dulu. Ia menjual Rumah dan tanahnya untuk menutup hutang dan mengontrak sebuah rumah, biaya sekolah anak-anaknya dan mulai merintis usaha baru. Iapun memulai bisnisnya dari nol dengan membuka usaha loundry yang hanya bermodalkan dua mesin cuci. Strateginya yang kreatif serta pelayanan yang sangat memuaskan, telah membawa usahanya menjadi bisnis waralaba.
Menjadi seorang usahawan yang sukses tak lantas menjadikanya sombong dan kikir. Dia selalu menyisihkan sebagian dari penghasilannya untuk membantu para anak yatim di sekitar tempat tinggalnya. “Terima kasih ya Allah, Engkau telah memberikan kami nikmat Rizki yang tiada tara” ungkap Johan dalam hati disela doanya selesai sholat.

Selasa, 19 Agustus 2014

Ingin Taubat Dari Maksiat



Banyak yang tertarik terjun di dunia modelling. Popularitas, uang melimpah, adalah bayangan yang muncul saat jadi model. Padahal, tidak selamanya apa yang indah dalam harapan, bisa demikian membahagiakan dalam kenyataan. Berikut adalah pengalaman seorang model yang merasa telah menemukan arti hidup yang sebenarnya justru saat usia menanjak tua. Melalui Ruqyah dari Ustad Massar, ia semakin tahu bahwa hidup di dunia hanya permulaan menuju sebuah pertanggungjawaban besar, yakni akhirat.

Audiens terpana ketika ia melenggang di atas cat walk. Ribuan pasang mata terbelalak. Terkesima. Di antara kilauan lighting dan sorot kamera beradu dengan blitz foto, ia melangkah tegas namun anggun. Dibalut busana rancangan desainer kenamaan, sesekali ia berhenti sejenak sebelum memutar tubuh seksinya kembali menuju back stage. Ia memang cantik, bahkan paling cantik di antara model seangkatan. Make up di wajah semakin menambah pesonanya.
Performance yang luar biasa Selvi,“ ujar Ratno, pemilik agency model yang sudah 20 tahun ikut membesarkan nama Selvi.
Memang, Seorang model harus bisa bekerjasama dan berhubungan baik dengan sesama model, koreografer, desainer, perias, dan fotografer. Sebut saja ia Selvi yang menekuni model sejak masih duduk di bangku SMP. Awalnya, ia mewakili sekolahnya saat mengikuti lomba model fashion casual dalam rangka memperingati hari lahir R.A Kartini. Selvi menjadi juara 1 tingkat kabupaten. Busana yang dikenakan tidak jauh berbeda dengan peserta lain. Namun ia berhasil mencuri perhatian dewan juri dan hadirin karena ia cantik dan luwes.
 Namun, Selvi harus berlapang dada setelah ia kalah bersaing di tingkat provinsi. Selain cantik, para pesaingnya lebih memiliki gerak dan postur menawan. Serdangkan Ia hanya menempati posisi ketiga. Selvi merasa sedih. Di satu sisi, ia ingin menjadi model terkenal dan kaya raya. Di sisi lain, ia dari keluarga pas-pasan. Sekolah modeling tentu mahal.
“Selvi, kamu bergabung aja dengan kami, kamu akan diajari cara melenggak lenggok di panggung dengan aduhai,” bujuk Ratih, pemenang pertama, usai lomba.
“Tapi biayanya kan mahal.”
“Nggak juga, ntar aku kenalin ma yang punya agency model, gimana?”
“Oke, “ Selvi setuju. 

KEBAHAGIAAN SEMU
 
 Dari situlah, Selvi mengenal Ratno, pemilik agency. Ratno berhasil membujuk Selvi yang masih belia. Tentu saja Selvi yang masih polos itu terbuai dengan iming-iming popularitas dan materi yang melimpah. Apalagi orang tua Selvi juga setuju setelah Ratno memberi penjelasan.
Di agency itulah, Selvi dilatih oleh seorang koreografer agar tampil dengan baik saat menyusuri catwalk. Ia juga mesti sering di make up dengan lebih dari satu perias. Tampil untuk sesi pemotretan juga ditangani oleh fotografer yang sudah mahir. Di depan kamera, ia memang photogenic. Namun, itu semua harus dibayar mahal oleh Selvi, bukan dengan uang, tapi kehormatan dan harga diri. Astaghfirullah, ia terkenal tapi berkubang dengan maksiat.
Semua itu ia lakukan sampai berusia 37 tahun. Meskipun ia masih cantik, tapi ada yang menghentak di relung kalbunya yang paling dalam. Berbagai kemewahan dan popularitas dunia model nan gemerlap ternyata menyisakan ruang gelap baginya. Ia merasa hampa. Terlebih semenjak kedua orang tuanya tiada. Sepi. 
Dari seorang teman, ia bertemu Ustad Massar dan menyatakan diri ingin bertaubat dan ingin membina keluarga. Terapi Ruqyah Diri mesti ia jalani. Sebulan setelah Ruqyah, seorang lelaki sholeh meminangnya. Kini ia telah berjilbab, menutup aurat, dan tidak terlalu melibatkan diri dengan gemerlap dunia luar. Ia justru aktif dengan aktifitas sosial kemasyarakatan. Bergiat di panti asuhan dan pendidikan bagi anak kurang mampu.