Banyak yang tertarik terjun di dunia modelling. Popularitas, uang melimpah, adalah bayangan yang muncul saat jadi model. Padahal, tidak selamanya apa yang indah dalam harapan, bisa demikian membahagiakan dalam kenyataan. Berikut adalah pengalaman seorang model yang merasa telah menemukan arti hidup yang sebenarnya justru saat usia menanjak tua. Melalui Ruqyah dari Ustad Massar, ia semakin tahu bahwa hidup di dunia hanya permulaan menuju sebuah pertanggungjawaban besar, yakni akhirat.
Audiens terpana
ketika ia melenggang di atas cat walk. Ribuan pasang mata terbelalak. Terkesima.
Di antara kilauan lighting dan sorot kamera beradu dengan blitz foto, ia
melangkah tegas namun anggun. Dibalut busana rancangan desainer kenamaan,
sesekali ia berhenti sejenak sebelum memutar tubuh seksinya kembali menuju back
stage. Ia memang cantik, bahkan paling cantik di antara model seangkatan.
Make up di wajah semakin menambah pesonanya.
“Performance
yang luar biasa Selvi,“ ujar Ratno, pemilik agency model yang
sudah 20 tahun ikut membesarkan nama Selvi.
Memang, Seorang
model harus bisa bekerjasama dan berhubungan baik dengan sesama model,
koreografer, desainer, perias, dan fotografer. Sebut saja ia Selvi yang
menekuni model sejak masih duduk di bangku SMP. Awalnya, ia mewakili sekolahnya
saat mengikuti lomba model fashion casual
dalam rangka memperingati hari lahir R.A Kartini. Selvi menjadi juara 1 tingkat
kabupaten. Busana yang dikenakan tidak jauh berbeda dengan peserta lain. Namun
ia berhasil mencuri perhatian dewan juri dan hadirin karena ia cantik dan
luwes.
Namun, Selvi harus berlapang dada setelah ia
kalah bersaing di tingkat provinsi. Selain cantik, para pesaingnya lebih
memiliki gerak dan postur menawan. Serdangkan Ia hanya menempati posisi ketiga.
Selvi merasa sedih. Di satu sisi, ia ingin menjadi model terkenal dan kaya
raya. Di sisi lain, ia dari keluarga pas-pasan. Sekolah modeling tentu
mahal.
“Selvi, kamu
bergabung aja dengan kami, kamu akan diajari cara melenggak lenggok di panggung
dengan aduhai,” bujuk Ratih, pemenang pertama, usai lomba.
“Tapi biayanya
kan mahal.”
“Nggak juga,
ntar aku kenalin ma yang punya agency model, gimana?”
“Oke, “ Selvi
setuju.
KEBAHAGIAAN SEMU
Dari situlah, Selvi mengenal Ratno, pemilik
agency. Ratno berhasil membujuk Selvi yang masih belia. Tentu saja Selvi yang
masih polos itu terbuai dengan iming-iming popularitas dan materi yang
melimpah. Apalagi orang tua Selvi juga setuju setelah Ratno memberi penjelasan.
Di agency
itulah, Selvi dilatih oleh seorang koreografer agar tampil dengan baik saat
menyusuri catwalk. Ia juga mesti sering di make up dengan lebih
dari satu perias. Tampil untuk sesi pemotretan juga ditangani oleh fotografer
yang sudah mahir. Di depan kamera, ia memang photogenic. Namun, itu
semua harus dibayar mahal oleh Selvi, bukan dengan uang, tapi kehormatan dan
harga diri. Astaghfirullah, ia terkenal tapi berkubang dengan maksiat.
Semua itu ia
lakukan sampai berusia 37 tahun. Meskipun ia masih cantik, tapi ada yang
menghentak di relung kalbunya yang paling dalam. Berbagai kemewahan dan
popularitas dunia model nan gemerlap ternyata menyisakan ruang gelap baginya.
Ia merasa hampa. Terlebih semenjak kedua orang tuanya tiada. Sepi.
Dari seorang
teman, ia bertemu Ustad Massar dan menyatakan diri ingin bertaubat dan ingin
membina keluarga. Terapi Ruqyah Diri mesti ia jalani. Sebulan setelah Ruqyah,
seorang lelaki sholeh meminangnya. Kini ia telah berjilbab, menutup aurat, dan
tidak terlalu melibatkan diri dengan gemerlap dunia luar. Ia justru aktif
dengan aktifitas sosial kemasyarakatan. Bergiat di panti asuhan dan pendidikan
bagi anak kurang mampu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar