Selasa, 19 Agustus 2014

Ingin Taubat Dari Maksiat



Banyak yang tertarik terjun di dunia modelling. Popularitas, uang melimpah, adalah bayangan yang muncul saat jadi model. Padahal, tidak selamanya apa yang indah dalam harapan, bisa demikian membahagiakan dalam kenyataan. Berikut adalah pengalaman seorang model yang merasa telah menemukan arti hidup yang sebenarnya justru saat usia menanjak tua. Melalui Ruqyah dari Ustad Massar, ia semakin tahu bahwa hidup di dunia hanya permulaan menuju sebuah pertanggungjawaban besar, yakni akhirat.

Audiens terpana ketika ia melenggang di atas cat walk. Ribuan pasang mata terbelalak. Terkesima. Di antara kilauan lighting dan sorot kamera beradu dengan blitz foto, ia melangkah tegas namun anggun. Dibalut busana rancangan desainer kenamaan, sesekali ia berhenti sejenak sebelum memutar tubuh seksinya kembali menuju back stage. Ia memang cantik, bahkan paling cantik di antara model seangkatan. Make up di wajah semakin menambah pesonanya.
Performance yang luar biasa Selvi,“ ujar Ratno, pemilik agency model yang sudah 20 tahun ikut membesarkan nama Selvi.
Memang, Seorang model harus bisa bekerjasama dan berhubungan baik dengan sesama model, koreografer, desainer, perias, dan fotografer. Sebut saja ia Selvi yang menekuni model sejak masih duduk di bangku SMP. Awalnya, ia mewakili sekolahnya saat mengikuti lomba model fashion casual dalam rangka memperingati hari lahir R.A Kartini. Selvi menjadi juara 1 tingkat kabupaten. Busana yang dikenakan tidak jauh berbeda dengan peserta lain. Namun ia berhasil mencuri perhatian dewan juri dan hadirin karena ia cantik dan luwes.
 Namun, Selvi harus berlapang dada setelah ia kalah bersaing di tingkat provinsi. Selain cantik, para pesaingnya lebih memiliki gerak dan postur menawan. Serdangkan Ia hanya menempati posisi ketiga. Selvi merasa sedih. Di satu sisi, ia ingin menjadi model terkenal dan kaya raya. Di sisi lain, ia dari keluarga pas-pasan. Sekolah modeling tentu mahal.
“Selvi, kamu bergabung aja dengan kami, kamu akan diajari cara melenggak lenggok di panggung dengan aduhai,” bujuk Ratih, pemenang pertama, usai lomba.
“Tapi biayanya kan mahal.”
“Nggak juga, ntar aku kenalin ma yang punya agency model, gimana?”
“Oke, “ Selvi setuju. 

KEBAHAGIAAN SEMU
 
 Dari situlah, Selvi mengenal Ratno, pemilik agency. Ratno berhasil membujuk Selvi yang masih belia. Tentu saja Selvi yang masih polos itu terbuai dengan iming-iming popularitas dan materi yang melimpah. Apalagi orang tua Selvi juga setuju setelah Ratno memberi penjelasan.
Di agency itulah, Selvi dilatih oleh seorang koreografer agar tampil dengan baik saat menyusuri catwalk. Ia juga mesti sering di make up dengan lebih dari satu perias. Tampil untuk sesi pemotretan juga ditangani oleh fotografer yang sudah mahir. Di depan kamera, ia memang photogenic. Namun, itu semua harus dibayar mahal oleh Selvi, bukan dengan uang, tapi kehormatan dan harga diri. Astaghfirullah, ia terkenal tapi berkubang dengan maksiat.
Semua itu ia lakukan sampai berusia 37 tahun. Meskipun ia masih cantik, tapi ada yang menghentak di relung kalbunya yang paling dalam. Berbagai kemewahan dan popularitas dunia model nan gemerlap ternyata menyisakan ruang gelap baginya. Ia merasa hampa. Terlebih semenjak kedua orang tuanya tiada. Sepi. 
Dari seorang teman, ia bertemu Ustad Massar dan menyatakan diri ingin bertaubat dan ingin membina keluarga. Terapi Ruqyah Diri mesti ia jalani. Sebulan setelah Ruqyah, seorang lelaki sholeh meminangnya. Kini ia telah berjilbab, menutup aurat, dan tidak terlalu melibatkan diri dengan gemerlap dunia luar. Ia justru aktif dengan aktifitas sosial kemasyarakatan. Bergiat di panti asuhan dan pendidikan bagi anak kurang mampu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar