Dalam berinteraksi
dengan sesama, perbedaan kebutuhan dan pemikiran tak jarang berbuntut konflik.
Oleh karena itu perlu disikapi dengan arif dan bijaksana. Berikut Kisahnya.
Brakkk!!!! Suara meja digebrak. “
Saya tidak setuju” teriak Danu sembari bangkit dari tempat duduknya meninggalkan
ruang rapat. Semua peserta rapat pemegang saham hanya saling berpandangan.
Rapat selama dua jam berlangsung panas dan negosiasi berjalan alot sehingga tak
ada titik temu.
Sebut saja Indra, pemilik perusahaan
media cetak yang memiliki banyak anak perusahaan seperti percetakan, koran,
radio, majalah dan tabloid. Bagi Indra strategi komunikasi media cetak harus
mengikuti perubahan tekhnologi komunikasi yang berlangsung sedemikian cepat.
Sebenarnya berdasarkan hasil rapat, mayoritas
setuju mengakuisisi sebuah perusahaan televisi swasta. Namun tidak
demikian dengan Danu, Selaku manager perusahaan. Danu lebih sepakat jika online
perlu mendapat porsi perhatian yang lebih besar, bukannya televisi.
“ maaf pak Indra, saya tidak sepakat, Bukankah oplah
penjualan media cetak kita masih stabil jadi kita tidak perlu mengakuisisi
stasiun televisi, stasiun televisi sudah banyak, ” Tukas Danu.
“ Pak Danu, ini untuk jangka panjang, pola konsumsi media
oudiens terus berubah, bisnis media kian kompetitif, ini sebagai strategi
memperluas segmentasi audens. Kalau tidak setuju, silahkan keluar dari
perusahaan ini,” tegas Indra.
Menyikapi perbedaan
Sejak saat itu, ada kesenjangan
antara Indra dan Danu. Merasa ada yang tidak beres dengan perusahaannya, Indra
menemui Ustad Massar. Indra sejak lama mengenal Ustadz Massar. Tepatnya pada
tahun 2001 saat ia menghadapi kasus dengan kepala daerah akibat pemberitaan
kasus korupsi di medianya. Ustad Massar lah yang membentengi Indra dari
berbagai serangan yang tak kasat mata.
“ Bagimana ini Ustadz saya hanya bermaksud agar bisnis semakin
berkembang dan besar,” tutur Indra.
“ Pak Indra, dalam berbisnis atau berorganisasi, perbedaan
pendapat itu wajar. Begini saja suruh pak Danu datang ke sini bersama dengan
Paka Indra bareng ,” Jawab Ustadz massar.
Jalan Keluar
Keesokan harinya, Indra dan Danu
menghadap Ustadz massar. Dengan gelagat kebencian pada Indra, Danu setengah
hati membicarakan masalah tersebut. “ Pak Danu sudah 15 tahun menjadi manager,
kenapa hanya karena persoalan sepele kalian saling membenci? Apa Pak Indra dan
Pak Danu ingin agar perusahaan gulung tikar?” tanya Ustadz Massar.
“ Tidak Ustadz” jawab keduanya. “ Untuk mengetahui apakah
perlu mengakuisisi stasiun televisi atau tidak, perlu pemikiran matang dan
istikharah, memohon petunjuk kepada Allah Swt. Sekarang Pak Indra dan Pak Danu
bersalaman, jangan saling membenci,” tegas Ustadz.
Akhirnya, Indra dan Danu menjalani
terapi ruqyah diri untuk menstabilkan
kondisi jiwa masing-masing. Indra dan Danu juga mengajak Ustadz Masar untuk
melihat lokasi dan gedung stasiun televisi yang dimaksud Indra. “ Stasiun
televisi ini bagus dan prospektif,” ungkap Ustad Massar.
Itulah peristiwa yang
terjadi dua tahun lalu sebagaimana dikisahkan oleh Indra. Kini stasiun TV
tersebut menempati rating tiga besar.
Menyikapi masalah tidak harus dengan konflik dan kekerasan, tetapi dengan diplomasi,
pikiran jernih, sembari meminta petunjuk kepada Yang Maha Kuasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar