Selasa, 25 Maret 2014

Mensyukuri Kesuksesan




Apakah anda belum merasa menjadi orang sukses? Ataukah justru kesuksesan yang anda dapatkan tidak membuat anda bahagia? Simak kisah berikut. Semoga menjadi inspirasi dan pencerahan bagi anda dalam memaknai kata “ sukses “
” Apa yang orang rasakan ketika sudah berada di puncak kesuksesan, memiliki jabatan tinggi, berkelimpahan materi dan popularitas yang membanggakan, Ustad? ” tanya Candra seorang pengusaha muslim dari Jakarta, saat bertemu ustadz Massar di Semarang. Candra adalah pimpinan perusahaan bonafid di Jakarta yang kaya raya. Rumah, mobil, istri cantik dan berbagai aset bernilai milyaran ia miliki. Namun Ia merasa hidupnya hampa karena sudah 4 tahun usia pernikahannya belum juga dikaruniai keturunan. Untuk itu Ia bersama istrinya menyempatkan diri berkonsultasi kepada  Ustadz massar di Semarang. “ Bagi orang yang rakus, tamak dan hedonis, semua hal tersebut memang masih kurang. Ia akan berusaha bagaimana agar jabatan naik lebih tinggi lagi, lalu dengan berbagai cara ditempuhnya agar jabatan tersebut langgeng hingga tak satupun orang berani  mengusiknya atau melengserkannya. Ironisnya Ia juga akan berusaha bagaimana melestarikan harta kekayaan yang dimilikinya agar takkan habis sampai anak cucunya kelak “. jelas ustadz massar.
“ lalu adakah di zaman sekarang ini orang yang kebalikan dari itu, ustad? Tanya candra kembali.
“ ada, meski bisa dihitung dengan jari, “ jawab ustadz massar.
Setelah menghela napas sebentar, ustad Massar melanjutkan, “ orang  yang berada di puncak kesuksesan bagaikan berada di puncak gunung yang tinggi yang di kanan kirinya terdapat jurang dalam yang siap menghempasnya. Seharusnya ia menyadari bahwa sewaktu-waktu dirinya harus turun kebawah. Tidak menengadah keatas terus dan ingin memeluk langit yang berlapis-lapis tanpa batas, tepi dan ujung”.
“ wah saya jadi bingung ustadz ”
“ Pak Candra, orang miskin akan lebih merasa bingung karena tidak punya uang untuk membeli sesuatu. Sedangkan orang kaya kebingungan kemana akan membelanjakan uangnya, “ kelakar ustadz  Massar.
“ ustadz ini ada-ada saja, “ sergah candra terkekeh-kekeh
“ begini pak Candra, ukuran bahagia itu relatif. Bahagia hanya milik orang yang bersyukur. Saat ini Anda merasakan bahwa apa yang telah anda miliki ternyata tidak dapat membuat Anda bahagia ”.
“ itu karena saya Allah Swt belum memberi kami keturunan  ustadz ” tukas Candra.
 “ apakah Anda yakin, setelah memiliki anak  akan bahagia? Betapa banyak orang tua justru tidak bisa menjaga amanah mereka. Banyak sekali anak yang disia-siakan, tidak diperhatikan pendidikannya, akhlaknya maupun agamanya, kelak justru si anak ini yang akan menyeret orang tua mereka ke neraka ”.
“ Banyak orang mengira bahwa apa yang belum didapatnya itu yang akan menjadikannya bahagia. Padahal, bisa saja apa yang diinginkan itulah sebetulnya adalah jalan kesengsaraan,” tegas ustadz Massar.
“ lalu bagaimana seharusnya ustadz? ”
“ kebahagiaan dan kesuksesan tidak dapat diukur dengan berapa banyak yang sudah atau belum didapat. Jika hati tidak bahagia, maka belum dikatakan sukses. Maka bersyukurlah kepada Allah Swt dengan memperbanyak ibadah dan berbagi kepada sesama yang membutuhkan atas kelebihan nikmat serta rezeki yang telah diperoleh. Jika dengan melihat orang disekitar ikut bahagia, maka Anda adalah orang sukses. Semakin bayak didapat semakin banyak berbagi, bukan menumpuknya untuk diri sendiri ”.
“ intinya apa ustadz?”
“ senantiasa berusaha agar hari ini lebih baik dari hari kemarin dan esok lebih baik dari hari ini “
Di akhir pembicaraan, Ustadz massarpun mulai melakukan terapi rukyah atas diri Candra maupun istrinya agar Allah Swt segera memberi keturunan yang shaleh dan sholekah yang dapat meneruskan garis keturunannya.
Tak terasa dua tahun telah berlalu dan siang itu Candra beserta istrinya berniat mengunjungi ustadz Massar untuk sekedar silaturrohmi. Hal lain yang tampak beda karena sekarang mereka datang bukan hanya berdua namun di temani oleh gadis kecil nan lucu yang ada dalam dekapan Candra.

Kamis, 20 Maret 2014

Petaka Seorang Peselingkuh




Munif seorang pengusaha muda harus menanggung penyesalan seumur hidupnya karena pengkhiatan yang dilakukannya. Kedua tangannya terpaksa harus diamputasi begitu juga dengan sebelah kakinya sampai kepangkal paha, sehingga ia harus berjalan terseok-seok karena harus menarik salah satu kakinya yang di sangga dengan tongkat.
Saat sanak keluarganya mengunjunginya di rumah sakit ternama di Yogyakarta , pria muda ini berusaha untuk tegar dan terlihat sumringah walau sebenarnya hatinya memendam sakit yang teramat dalam karena keadaan ini. Tetapi apa mau dikata malang tak dapat ditolak dan untung dan dapat diraih semuanya telah terjadi, Yang ada saat ini adalah penyesalan yang tidak berujung.
Pria muda tersebut adalah Munif Sudarman Abik terlahir dari keluarga kaya dengan latar belakang pendidikan pesantren. Namun begitu jiwa bisnisnya lebih dominan hingga ia lebih memilih menjadi seorang pengusaha daripada menjadi seorang ulama atau ustad. Dalam pergulatannya didunia bisnis dia boleh dikatakan sukses dengan usaha tekstil dan telah mempunyai sepuluh cabang perusahaan diberbagai kota. Kehidupan Munif sangatlah mapan ditunjang dengan bentuk tubuh yang tinggi besar serta parasnya yang tampan, tidak mengherankan bila banyak gadis yang jatuh hati dan tergila-gila kepadanya.
Karena seringnya munif mempermainkan para gadis, tidak mengherankan bila banyak yang merasa sakit hati kepadanya karena selama ini munif tak pernah serius dengan gadis-gadis tersebut. Melihat keadaan tersebut orang tua munif menjadi kawatir dan berusaha menasehati anaknya agar tidak mempermainkan hati dan perasaan anak gadis orang. “ Nak, hentikan perbuatamu itu!, sekarang sudah waktunya kau memilih satu gadis  sebagai pendamping hidupmu agar hidupmu lebih terarah ” pinta orang tuanya.
Dijodohkan
Tidak ingin disebut anak yang durhaka, munif akhirnya menerima tawaran kedua orang tuanya untuk dijodohkan. Akhirnya munif menikah dengan sholehah, yakni salah seorang santriwati pilihan orang tuanya. Perkawinan yang oleh kedua orang tuanya diharapkan dapat menyembuhkan kebiasaan buruk munif, malah sebaliknya rasa penasaran munif makin bertambah untuk mendekati wanita lain. “ Mas, tolong demi kebaikan bersama  mohon mas tidak membawa perempuan lain kerumah kita ” kata istrinya. Teguran istrinya tidak membuat sadar, tapi justru tamparan serta caci maki yang dia berikan kepada sholehah. Meskipun begitu sholehah tetap berusaha sabar dan selalu mendoakan suaminya agar diberi kesadaran oleh Allah Swt.
Sampai suatu saat Munif tergila-gila dengan seorang janda. Mereka sering melakukan pertemuan dan perzinaan. Setiap kali ditegur  istrinya, munif selalu membantah dan selalu melayangkan tamparan keras di pipi sholehah karena keinginannya di halang-halangi. “ ya Allah semoga Engkau berikan suamiku petunjuk dan kesadaran akan perbuatannya yang nista ” dengan sabar sholehah selalu mendoakan untuk kebaikan suaminya. Akhirnya perselingkuhan tersebut berujung pada kehamilan Sherly si janda tersebut. Seluruh kasih sayang dan perhatian munif tercurah pada sherly. Sebagai manusia, kesabaran sholehah ada batasnya hingga dia meminta agar munif menceraikannya “ mas sekiranya mas sudah tidak mencintai saya lagi, lebih baik mas ceraikan saya “ ucap sholehah dengan hati teriris. Mendengar ucapan istrinya munif tidak menjawab namun tangannya buru-buru menjawab dengan mendaratkan tamparan di pipi sholehah.
Terjadi Gempa
Lengkap sudah penderitaan sholehah. Dalam kesedihannya, dia berdoa agar Allah Swt memberi kekuatan pada dirinya atas semua perlakuan suaminya. Tanpa diduga ketika munif tengah asyik berduaan dengan sherly disebuah hotel, terjadilah gempa yang menghancurkan hotel megah tersebut. Dalam musibah itu munif harus kehilangan sherly dan mengalami cacat seumur hidup. Munif seperti berada dalam keputusasaan hingga ingin mengakhiri hidupnya dengan menyayat nadinya. Beruntung keluarganya mengetahuinya hingga ia bisa diselamatkan. Prihatin melihat kondisi munif, kedua orang tuanya berinisiatif membawanya ke seorang ustadz muda asal Semarang yang ahli dalam merukyah. Dalam hatinya dia berfikir “ mungkin munif mengalami depresi karena musibah yang dialaminya “. Melalui terapi rukyah yang di lakukan ustad Massar, munif akhirnya dapat menerima semua musibah ini dengan lapang dada dan menganggap ini semua adalah teguran dari Allah Swt atas semua sikap dan perilakunya selama ini. Dihadapan ustad massar dan juga ke dua orang tuanya munif berjanji akan bertobat dan memulai hidup yang baru sesuai dengan ajaran kitab suci Al qur’an.

Selasa, 11 Maret 2014

Insafkan Suami Dari Jalan Sesat




Sukses karena bantuan jin atau makhluk halus, tidak akan membawa keberkahan dan berlangsung lama, itu pulalah yang dialami oleh Fany suami Anisa. Namun berkat ketelatenan dan juga kesabaran Anisa, akhirnya suaminya dapat disadarkan akan kekeliaruannya selama ini dengan jalan rukyah. Berikut kisahnya sebagaimana dituturkan Anisa kepada kisah hikmah.
Namaku Anisa setelah lulus kuliah aku kemudian menikah dengan mas Fany teman satu kampusku namun beda fakultas di Semarang. Setelah menikah Mas Fany mengajakku tinggal di Surabaya ditempat asalnya. Sebagai seorang suami dia memperlihatkan tanggung jawabnya untuk menafkahiku dengan membuka bisnis jual beli motor bekas dengan bantuan modal dari orang tuanya. Saat itu bisnis sejenis didaerah tempat tinggal kami belum begitu banyak, sehingga usaha Mas Fany boleh dikatakan cepat berkembang dan maju. Ia kemudian berusaha melebarkan usahanya dengan membuka cabang baru di tempat lain dan Alhamdulillah juga ramai.
Mulai Bersikap Aneh
Memasuki 1 tahun usia perkawinan kami, akupun mengandung buah cinta kami, Namun saat itu mulai kurasakan adanya perubahan drastis pada sikap mas Fany. Ia yang dulunya selalu penuh perhatian dan lembut kepadaku, mulai terlihat cuek bahkan bicarapun hanya seperlunya saja serta mulai sering pulang larut malam dengan alasan sibuk dengan kerjaan.
Ketika anak kami lahirpun  ia tak menunjukkan rasa bahagia sebagaimana suami-suami lain yang sangat menanti-nantikan kehadiran buah hatinya. Perubahan-demi perubahan dalam diri suamiku senantiasa aku perhatikan. Sampai pada suatu ketika aku menemukan beberapa benda aneh seperti jimat, batu akik, keris dan masih banyak lagi yang tak kuketahui namanya dan dari mana dia mendapatkannya. Bahkan kuperhatikan dia juga jarang melakukan sholat pada saat dirumah. Setiap aku ajak untuk sholat berjamaah ada saja alasannya. “ mama sholat saja dulu, nanti papa belakangan ni lagi sibuk “ jawabnya.
Akupun juga mulai curiga dengan tingkah lakunya yang lain dari biasanya, dia melarangku membuka dan masuk di salah satu kamar dirumah kami. Katanya kamar tersebut adalah ruang kerjanya ia tak ingin diganggu kalau sedang berada didalamnya. Karena penasaran saat dia sedang keluar aku intip ada apa di dalam kamar tersebut sampai dia begitu wanti-wanti  melarang siapapun untuk memasukinya. MasyaAllah sungguh kaget aku dibuatnya ternyata didalamnya penuh dengan benda-benda yang berbau syirik seperti yang pernah kulihat di dalam tas kerjanya. Rupanya selama ini suamiku telah bersekutu dengan setan dan menjadi penganut pesugihan. Pantas saja dia sering kali kelihatan berbicara sendiri bila mau memasuki kamar itu dan senang berlama-lama  didalamnya bahkan sampai berhari-hari.
Malam itu akhirnya aku beranikan diri menanyakan kepada mas Fany tentang benda aneh didalam kamar tersebut.  Aku hampir tak percaya dengan semua ini, Suamiku  yang sepanjang dua tahun perkawinan kami tak pernah kasar dan main tangan, malam itu memukul dan menendangku. Dia marah besar dan mengatakan bahwa diriku telah lancang  dengan masuk ke kamar tersebut. Aku hanya bisa menangis dan terus mengingatkannya agar segera bertobat dan memohon ampun kepada –NYA karena telah menyekutukan-NYA. Namun sepertinya nasehatku tak dihiraukannya ia tetap saja bertindak semaunya.
Sadar Setelah Diruqyah
Sampai akhirnya Allah Swt memberinya teguran, bisnis yang dengan susah payah dirintisnya mulai tersendat hingga tak bisa lagi membayar hutang di bank. Setiap hari ada saja debcolektor yang datang kerumah mencarinya hingga mas Fany  hampir stres dibuatnya. Beruntung pamanku bersedia membantu dengan membawanya ke seorang ustdaz ahli ruqyah di Semarang. Oleh Beliau Mas Fany lalu disadarkan melalui terapi Ruqyah agar terbebas dari sifat syiriknya selama ini. Alhamdulillah setelah diruqyah mas Fany mulai sadar akan kekeliaruannya selama ini, dan dihadapan ustadz Massar dia menyatakan bertobat serta berjanji akan meninggalkan semuanya itu. Aku sangat bersyukur karena kini Mas Fany telah kembali kepada mas Fany yang dulu pengertian, penuh kelembutan dan rajin beribadah. Perlahan-lahan bisnis jual beli motornya  juga mulai ramai kembali.

Selasa, 04 Maret 2014

Jodoh Sulit Karena Mitos




Karena nekat melanggar mitos, akhirnya Fitri mendapatkan balak. Dia dan calon suaminya mengalami kecelakaan. Dia selamat sementara Herman tunangannya meninggal. Setelah kejadian itu, dia sulit jodoh tetapi berkat ruqyah, semua masalah jodoh bisa teratasi. Berikut kisahnya.
Awal kisah ini adalah karena kenekatanku dengan mas Herman calon suamiku yang berasal dari Karang Anyar, melintasi gunung Pegat di Wonogiri. Padahal sebelumnya sudah banyak yang berpesan agar kami tidak melintasinya, Sebelum usia perkawinan kami menginjak 40 hari. Katanya makhluk gaib yang berada di gunung yang terkenal angker tersebut, tidak menyukai kalau melihat pasangan yang baru saja menikah atau sedang terlibat asmara melintas didaerah kekuasaannya. Kalau hal itu sampai dilanggar maka hampir bisa dipastikan pasangan tersebut akan mengalami masalah besar atau pertengkaran yang berujung pada perceraian dalam istilah jawa pegatan.
” Kau jangan sok menantang mitos,dan tidak percaya fit! Bisa-bisa kamu atau herman  celaka lho nduk,” ujar  kakek Murjoko padaku saat kami berkunjung guna meminta doa restu akan pernikahan kami  yang tinggal beberapa hari saja. Aku memang kurang sependapat dengan mitos yang tidak masuk akal ini.
“ Masak hanya melintasi gunung saja  bisa membuat, putus jodoh,” gumamku dalam hati.
Termakan Mitos
Namun, tak demikian dengan mas Herman yang mulai termakan dan percaya dengan perkataan kakek beberapa hari yang lalu mengenai larangannya melewati gunung Pegat. Hal itu mulai terlihat beberapa hari setelah melewati gunung pegat, sikap mas Herman mulai berubah dan gampang marah karena cemburu apa lagi saat melihat adanya sms nyasar di hpku dari seseorang yang iseng. Sore itu mas Herman melarikan sepeda motornya kencang sekali seperti dikejar setan saat menjemputku pulang kerja. Sejenak aku ketakutan dan jadi teringat kata-kata kakek, “ Jangan-jangan ini ada kaitannya dengan mitos gunung pegat “ gumamku lirih sambil berpengangan erat dipinggan Mas Herman karena takut. Hingga aku merasa mas Herman mulai kehilangan kontrol. Ia terlalu miring dalam menikung, padahal ada sedikit pasir di tikungan itu. Akibatnya fatal motor yang kami kendarai jatuh terpelanting. Aku dan mas Herman terlempar tak jauh dari motor, masih dengan menahan sakit aku, ku coba bangun dan mencari keberadaan mas Herman yang juga terkapar tak jauh dariku. Namun Allah berkehendak lain kepala mas Herman membentur pembantas jalan hingga membuatnya tak sadarkan diri karena luka di kepala. Sebelum sampai dirumah sakit mas Herman meninggal dalam dekapanku.
Di Ruqyah
Sejak peristiwa itu semua keluarga selalu menyalahkanku karena tak mau mendengar omongan orang tua. Semua seakan menyumpah serapahi aku sebagai anak yang tidak manut dan miturut perkataan orang tua. Bahkan yang lebih menyedihkan sebagian orang menganggapku sebagai anak yang terkena sengkolo dan selalu apes atau bernasib sial. Perkataan mereka ada buktinya juga karena sejak itu aku selalu gagal dalam setiap menjalin kasih dengan pria. Hingga membuatku trauma dan mengalami kepedihan yang mendalam. Untuk menghilangkan kepedihanku aku berkunjung ke rumah teman kuliahku di jogya, yang ternyata telah berumah tangga dan dikaruniai 2 orang putra. Dian menikah dengan mas Tanto kakak kelas kami semasa di bangku kuliah. Dari Dian pulalah aku mendapat saran agar melakukan ruqyah pada seorang ustad muda ternama di Semarang seperti hal dirinya kala itu ketika belum juga bertemu jodoh diusianya yang sudah waktunya untuk menikah. Hal itu kusampaikan pada ayah dan ibu dan Alhamdulillah mereka setuju serta bersedia mengantarku menemui ustadz Massar. Setelah sampai disana aku kemudian diruqyah dan diberi wejangan-wejangan agar tak begitu saja mengabaikan ucapan orang yang lebih tua. Selain itu aku juga diberinya beberapa do’a yang harus senantiasa aku baca disaat selesai sholat.  Puji Syukur dan Alhamdulillah, Allah Swt mengabulkan do’aku. Selang tiga bulan aku akhirnya menemukan jodohku dia seorang PNS asal surakarta terima kasih ya Allah.