Munif seorang pengusaha muda harus menanggung penyesalan seumur
hidupnya karena pengkhiatan yang dilakukannya. Kedua tangannya terpaksa harus
diamputasi begitu juga dengan sebelah kakinya sampai kepangkal paha, sehingga
ia harus berjalan terseok-seok karena harus menarik salah satu kakinya yang di
sangga dengan tongkat.
Saat sanak keluarganya
mengunjunginya di rumah sakit ternama di Yogyakarta , pria muda ini berusaha untuk
tegar dan terlihat sumringah walau sebenarnya hatinya memendam sakit yang
teramat dalam karena keadaan ini. Tetapi apa mau dikata malang tak dapat
ditolak dan untung dan dapat diraih semuanya telah terjadi, Yang ada saat ini
adalah penyesalan yang tidak berujung.
Pria muda tersebut adalah Munif
Sudarman Abik terlahir dari keluarga kaya dengan latar belakang pendidikan pesantren.
Namun begitu jiwa bisnisnya lebih dominan hingga ia lebih memilih menjadi
seorang pengusaha daripada menjadi seorang ulama atau ustad. Dalam
pergulatannya didunia bisnis dia boleh dikatakan sukses dengan usaha tekstil
dan telah mempunyai sepuluh cabang perusahaan diberbagai kota. Kehidupan Munif
sangatlah mapan ditunjang dengan bentuk tubuh yang tinggi besar serta parasnya
yang tampan, tidak mengherankan bila banyak gadis yang jatuh hati dan
tergila-gila kepadanya.
Karena seringnya munif
mempermainkan para gadis, tidak mengherankan bila banyak yang merasa sakit hati
kepadanya karena selama ini munif tak pernah serius dengan gadis-gadis
tersebut. Melihat keadaan tersebut orang tua munif menjadi kawatir dan berusaha
menasehati anaknya agar tidak mempermainkan hati dan perasaan anak gadis orang.
“ Nak, hentikan perbuatamu itu!, sekarang sudah waktunya kau memilih satu gadis
sebagai pendamping hidupmu agar hidupmu
lebih terarah ” pinta orang tuanya.
Dijodohkan
Tidak ingin disebut anak yang
durhaka, munif akhirnya menerima tawaran kedua orang tuanya untuk dijodohkan.
Akhirnya munif menikah dengan sholehah, yakni salah seorang santriwati pilihan
orang tuanya. Perkawinan yang oleh kedua orang tuanya diharapkan dapat
menyembuhkan kebiasaan buruk munif, malah sebaliknya rasa penasaran munif makin
bertambah untuk mendekati wanita lain. “ Mas, tolong demi kebaikan bersama mohon mas tidak membawa perempuan lain
kerumah kita ” kata istrinya. Teguran istrinya tidak membuat sadar, tapi justru
tamparan serta caci maki yang dia berikan kepada sholehah. Meskipun begitu
sholehah tetap berusaha sabar dan selalu mendoakan suaminya agar diberi
kesadaran oleh Allah Swt.
Sampai suatu saat Munif
tergila-gila dengan seorang janda. Mereka sering melakukan pertemuan dan
perzinaan. Setiap kali ditegur istrinya,
munif selalu membantah dan selalu melayangkan tamparan keras di pipi sholehah
karena keinginannya di halang-halangi. “ ya Allah semoga Engkau berikan suamiku
petunjuk dan kesadaran akan perbuatannya yang nista ” dengan sabar sholehah selalu
mendoakan untuk kebaikan suaminya. Akhirnya perselingkuhan tersebut berujung
pada kehamilan Sherly si janda tersebut. Seluruh kasih sayang dan perhatian
munif tercurah pada sherly. Sebagai manusia, kesabaran sholehah ada batasnya hingga
dia meminta agar munif menceraikannya “ mas sekiranya mas sudah tidak mencintai
saya lagi, lebih baik mas ceraikan saya “ ucap sholehah dengan hati teriris. Mendengar
ucapan istrinya munif tidak menjawab namun tangannya buru-buru menjawab dengan
mendaratkan tamparan di pipi sholehah.
Terjadi Gempa
Lengkap sudah penderitaan sholehah.
Dalam kesedihannya, dia berdoa agar Allah Swt memberi kekuatan pada dirinya
atas semua perlakuan suaminya. Tanpa diduga ketika munif tengah asyik berduaan
dengan sherly disebuah hotel, terjadilah gempa yang menghancurkan hotel megah
tersebut. Dalam musibah itu munif harus kehilangan sherly dan mengalami cacat
seumur hidup. Munif seperti berada dalam keputusasaan hingga ingin mengakhiri
hidupnya dengan menyayat nadinya. Beruntung keluarganya mengetahuinya hingga ia
bisa diselamatkan. Prihatin melihat kondisi munif, kedua orang tuanya
berinisiatif membawanya ke seorang ustadz muda asal Semarang yang ahli dalam
merukyah. Dalam hatinya dia berfikir “ mungkin munif mengalami depresi karena
musibah yang dialaminya “. Melalui terapi rukyah yang di lakukan ustad Massar,
munif akhirnya dapat menerima semua musibah ini dengan lapang dada dan
menganggap ini semua adalah teguran dari Allah Swt atas semua sikap dan
perilakunya selama ini. Dihadapan ustad massar dan juga ke dua orang tuanya
munif berjanji akan bertobat dan memulai hidup yang baru sesuai dengan ajaran
kitab suci Al qur’an.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar