Kamis, 20 Maret 2014

Petaka Seorang Peselingkuh




Munif seorang pengusaha muda harus menanggung penyesalan seumur hidupnya karena pengkhiatan yang dilakukannya. Kedua tangannya terpaksa harus diamputasi begitu juga dengan sebelah kakinya sampai kepangkal paha, sehingga ia harus berjalan terseok-seok karena harus menarik salah satu kakinya yang di sangga dengan tongkat.
Saat sanak keluarganya mengunjunginya di rumah sakit ternama di Yogyakarta , pria muda ini berusaha untuk tegar dan terlihat sumringah walau sebenarnya hatinya memendam sakit yang teramat dalam karena keadaan ini. Tetapi apa mau dikata malang tak dapat ditolak dan untung dan dapat diraih semuanya telah terjadi, Yang ada saat ini adalah penyesalan yang tidak berujung.
Pria muda tersebut adalah Munif Sudarman Abik terlahir dari keluarga kaya dengan latar belakang pendidikan pesantren. Namun begitu jiwa bisnisnya lebih dominan hingga ia lebih memilih menjadi seorang pengusaha daripada menjadi seorang ulama atau ustad. Dalam pergulatannya didunia bisnis dia boleh dikatakan sukses dengan usaha tekstil dan telah mempunyai sepuluh cabang perusahaan diberbagai kota. Kehidupan Munif sangatlah mapan ditunjang dengan bentuk tubuh yang tinggi besar serta parasnya yang tampan, tidak mengherankan bila banyak gadis yang jatuh hati dan tergila-gila kepadanya.
Karena seringnya munif mempermainkan para gadis, tidak mengherankan bila banyak yang merasa sakit hati kepadanya karena selama ini munif tak pernah serius dengan gadis-gadis tersebut. Melihat keadaan tersebut orang tua munif menjadi kawatir dan berusaha menasehati anaknya agar tidak mempermainkan hati dan perasaan anak gadis orang. “ Nak, hentikan perbuatamu itu!, sekarang sudah waktunya kau memilih satu gadis  sebagai pendamping hidupmu agar hidupmu lebih terarah ” pinta orang tuanya.
Dijodohkan
Tidak ingin disebut anak yang durhaka, munif akhirnya menerima tawaran kedua orang tuanya untuk dijodohkan. Akhirnya munif menikah dengan sholehah, yakni salah seorang santriwati pilihan orang tuanya. Perkawinan yang oleh kedua orang tuanya diharapkan dapat menyembuhkan kebiasaan buruk munif, malah sebaliknya rasa penasaran munif makin bertambah untuk mendekati wanita lain. “ Mas, tolong demi kebaikan bersama  mohon mas tidak membawa perempuan lain kerumah kita ” kata istrinya. Teguran istrinya tidak membuat sadar, tapi justru tamparan serta caci maki yang dia berikan kepada sholehah. Meskipun begitu sholehah tetap berusaha sabar dan selalu mendoakan suaminya agar diberi kesadaran oleh Allah Swt.
Sampai suatu saat Munif tergila-gila dengan seorang janda. Mereka sering melakukan pertemuan dan perzinaan. Setiap kali ditegur  istrinya, munif selalu membantah dan selalu melayangkan tamparan keras di pipi sholehah karena keinginannya di halang-halangi. “ ya Allah semoga Engkau berikan suamiku petunjuk dan kesadaran akan perbuatannya yang nista ” dengan sabar sholehah selalu mendoakan untuk kebaikan suaminya. Akhirnya perselingkuhan tersebut berujung pada kehamilan Sherly si janda tersebut. Seluruh kasih sayang dan perhatian munif tercurah pada sherly. Sebagai manusia, kesabaran sholehah ada batasnya hingga dia meminta agar munif menceraikannya “ mas sekiranya mas sudah tidak mencintai saya lagi, lebih baik mas ceraikan saya “ ucap sholehah dengan hati teriris. Mendengar ucapan istrinya munif tidak menjawab namun tangannya buru-buru menjawab dengan mendaratkan tamparan di pipi sholehah.
Terjadi Gempa
Lengkap sudah penderitaan sholehah. Dalam kesedihannya, dia berdoa agar Allah Swt memberi kekuatan pada dirinya atas semua perlakuan suaminya. Tanpa diduga ketika munif tengah asyik berduaan dengan sherly disebuah hotel, terjadilah gempa yang menghancurkan hotel megah tersebut. Dalam musibah itu munif harus kehilangan sherly dan mengalami cacat seumur hidup. Munif seperti berada dalam keputusasaan hingga ingin mengakhiri hidupnya dengan menyayat nadinya. Beruntung keluarganya mengetahuinya hingga ia bisa diselamatkan. Prihatin melihat kondisi munif, kedua orang tuanya berinisiatif membawanya ke seorang ustadz muda asal Semarang yang ahli dalam merukyah. Dalam hatinya dia berfikir “ mungkin munif mengalami depresi karena musibah yang dialaminya “. Melalui terapi rukyah yang di lakukan ustad Massar, munif akhirnya dapat menerima semua musibah ini dengan lapang dada dan menganggap ini semua adalah teguran dari Allah Swt atas semua sikap dan perilakunya selama ini. Dihadapan ustad massar dan juga ke dua orang tuanya munif berjanji akan bertobat dan memulai hidup yang baru sesuai dengan ajaran kitab suci Al qur’an.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar