Sabtu, 27 April 2013

Karena Ruqyah jarak jauh karierku meningkat




Kemudahan dan pertolongan Allah SWT akan diberikan kepada siapa saja yang senantiasa mendekatkan diri kepada – NYA. Tak terkecuali Faizal ( 32 )(bukan nama sebenarnya) asal Denpasar lulusan Universitas Undiksa jurusan ekonomi dan Bisnis.
Berawal dari seorang karyawan disebuah hotel yang cukup ternama sebagai office boy, Faisal harus merasakan pahit getirnya menjadi bawahan yang selalu bekerja dibawah tekanan atasannya. “Hei OB..tolong kamu perbaiki jendela kamar yang rusak, o iya tamu dari jogya yang tadi pagi kehilangan barang ingin bertemu kamu di lobi malam ini” perintah sang Manager. Demi menjalankan perintah atasan, sering kali Faizal harus pulang larut tanpa ada gaji tambahan.
“Kalau begini terus, kapan aku bisa menabung dan meningkatkan ekonomi keluarga, gaji gak seberapa tapi kerjanya berat banget” keluhnya kepada salah satu rekan. “Bro, kamu kan lulusan universitas, kenapa tidak cari pekerjaan lain saja yang lebih mapan?”saran rekan kerjanya.” Sebenarnya aku juga ingin keluar, tetapi aku tidak punya ijazah” tambahnya. Setelah lama berfikir, akhirnya Faizal memutuskan untuk resign dan mencoba peluang kerja dengan melamar pekerjaan lain sesuai ijazah yang di milikinya
Mencari pekerjaan di masa sekarang tidak semudah membalikkan telapak tangan. “Mohon maaf dek, disini sudah tidak menerima karyawan lagi” tolak perusahaan. “Dengan nilai IP segini, mana mungkin kamu bisa bekerja di perusahaan kami”. Dengan nada melecehkan, salah satu direktur perusahaan lainnya menolak. Pulang dengan tubuh gontai Faizal terus merenungkan nasib sialnya.
Tak terhitung beberapa kali Faizal harus menelan pil pahit karena hinaan dan penolakan dari berbagai perusahaan, namun dengan penuh kesabaran dan tak kenal putus asa, dia terus mencoba. “ Aku harus mencari jalan lain. Aku harus mencari pekerjaan yang berpresfektif jelas” Gumamnya dalam hati. Akhirnya Faizal mencoba mengadu peruntungan dengan mendaftar sebagai CPNS .
“Alhamdullilah” syukur Faizal. Tanpa disangka, dirinya diterima sebagai CPNS dan ditempatkan di sebuah Departemen Keuangan di Bandung  meskipun masih dalam status honorer. “Aku harus terus bekerja keras, demi masa depan yang lebih cerah” dengan hati riang Faizal berbicara sendiri. Terbayang dalam benaknya, suatu saat akan menjadi PNS dan masa depan yang terjamin.
Bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, tidak terasa sudah 5 tahun Faizal bekerja sebagai pegawai honorer, namun pengangkatan PNS belum juga turun. Merasa galau dengan keadaannya, Faizal berkeluh kesah kepada bundanya. “Zal, mungkin ada hal yang salah dalam dirimu, lebih baik kamu berkonsultasi  tentang kariermu dengan seorang Ustadz Ahli Ruqyah di Semarang, siapa tahu kamu cocok, banyak yang berobat atau berkonsultasi ke sana dan menemukan jalan keluar ” nasehat sang bunda
Dengan pesawat Garuda, Faizal terbang ke Semarang untuk menemui Ustadz Massar. Setelah sampai di tempat Beliau, Faizal mengungkapkan permasalahan kariernya yang seakan jalan di tempat. Dengan bimbingan Ustadz Massar, Faizal melaksanakan terapi ruqyah diri yang dilanjutkan dengan ruqyah pelancar rizki. Namun, Faizal yang tak bisa berlama-lama mengambil cuti, akhirnya melaksanakan ruqyah pelancar rizki secara jarak jauh. Beliau juga berpesan agar Faizal senantiasa melaksanakan sholat lima waktu dan menyisihkan sebagian dari gajinya untuk orang yang membutuhkan. Satu bulan pasca melakukan ruqyah jarak jauh , surat pengangkatan dirinya sebagai PNS turun dan sekarang Faizal sedang di promosikan menduduki jabatan yang cukup penting di instansinya. Faizal sangat berterima kasih kepada Ustadz Massar atas bantunya dan dia berjanji akan melaksanakan apa yang telah disarankan Beliau untuk selalu menjalankan Amal Ibadah dan membantu sesama yang kurang beruntung.

Selasa, 16 April 2013

Terjebak Maksiat, Ambruk karena Lupus



   Sebut saja aku Rani. Sejak kecil, aku tidak pernah tidak mendapatkan apa yang aku inginkan. Mainan, boneka, makanan, minuman, pakaian, kamar yang indah. Tinggal merengek atau menangis dengan memasang wajah cemberut. Sebagai putri semata wayang seorang pengusaha kelas kakap, rasanya, semua bisa dibeli dengan uang.
Menikmati hidup serba berkecukupan. Uang adalah sumber kebahagiaan, itu yang ada dalam pikiranku saat itu. Waktu berlalu dengan cepat. Aku mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Apalagi didukung dengan makanan bergizi, rajin ke salon kecantikan, bertandang ke SPA langganan. Aku pun tumbuh menjadi remaja ABG yang cantik, sehat, cerdas, sekaligus banyak teman.
 Hanya satu yang aku rasakan kurang. Kasih sayang orang tua. Kesibukan orang tua berpengaruh juga terhadap kondisi psikologisku. Sedikit sekali waktu untuk berkumpul bersama sekadar makan malam atau mendengarkan cerita tentang kejadian yang aku alami di sekolah. “Bagus Rani, kamu memang anakku yang pintar.” Hanya itu yang diucapkan Ibuku saat kuberitahu nilai ujianku bagus.
Apalagi ayah yang jam pulangnya tidak menentu. Malah sering tidak pulang. Kadang ayah sesekali menelepon untuk menanyakan kabar dan aku malas mengangkatnya. Ah, di dalam kesendirian aku sering merenung, melamun, merasa iri dengan keluarga teman-teman yang lain. Mereka bercerita tentang piknik keluarga, menonton film bersama, shopping ke mal, jalan-jalan ke luar negeri.
 Itu semua membuatku mencari pelampiasan guna menuntaskan pikiran yang kalut. Dugem menjadi kebiasaan yang sulit aku hilangkan. Nongkrong di kafe sepulang sekolah, malamnya ke diskotik, menenggak alkohol, menghisap rokok, mengonsumsi ekstasi, berjingkrak-jingkrak dengan iringan musik DJ. Sungguh membuat diriku merasa senang. Kesenangan yang kemudian aku ketahui sebagai kesenangan semu.
“Apa yang terjadi padamu Rani?” tanya Ibuku saat memergoki aku pulang pagi diantar teman cowokku. Aku tidak menjawab, kepalaku pusing. “Bagaimana kamu bisa mencintai orang lain sedangkan mencintai diri sendiri saja belum bisa?”
“Sejak kapan mama peduli padaku? Apa mama sudah bisa mencintai diri sendiri, mencintai aku, mencintai keluarga?” jawabku dengan membalik bertanya ketus.
“Kamu pikir mama melakukan semua ini untuk siapa Rani, ha?”
Begitulah, ibuku juga belum bisa memahamiku. Hingga pada suatu ketika, aku jatuh sakit. Sebuah penyakit yang aku sendiri tidak tahu darimana datangnya, hinggap di tubuhku. Dari diagnosa dokter, penyakit itu diketahui bernama Lupus Eritomatosus Sistemik (LES) alias Lupus. Terdengar seperti judul film saja.
Selama tiga bulan aku terbaring di Rumah Sakit dengan kondisi lemas, demam, dan pegal-pegal di sekujur tubuh. Muncul ruam merah yang membentang di kedua pipi, mirip kupu-kupu. Bukan hanya itu,  ruam merah juga muncul di kulit seluruh tubuh, menonjol dan bersisik.
Dalam kondisi seperti itulah, aku merasa semua orang berempati padaku. Kasih sayang dan perhatian orang tua tercurah padaku. Sikap yang bisa dikatakan terlambat. Manusia memang lebih senang menyesali masa lalu ketimbang mensyukuri hari ini atau mengambil pelajaran dan hikmah dari suatu peristiwa. Saat itu aku memang belum bisa bersyukur atas anugerah Tuhan.
Suatu hari, ada dua orang yang membesukku di Rumah Sakit. Ternyata Pak Teguh, sahabat ayah yang juga seorang pengusaha. Bersamanya seseorang berwajah teduh dengan binar mata bening yang aku ketahui kemudian bernama Ustad Massar. Setelah sedikit berbincang-bincang dengan ayahku dengan setengah berbisik, Pak Teguh menghampiri diriku yang terbaring.
“Kamu harus sembuh, Ustad ini akan mendo’akan dan mengobatimu, setelah ini kamu pulang dan rawat jalan saja di rumah. Beliau adalah Ustad Massar yang akan membantu proses kesembuhanmu,” kata Pak Teguh.
“Ya Om,” jawabku lirih.

Minggu, 14 April 2013

Guna-Guna Karena Persaingan Asmara



Iwan duduk terpekur di halaman belakang rumahnya. Di hadapannya, kolam bening dengan ikan koi warna-warni berenang lincah. Ditingkahi semilir angin menerpa dedaunan dan bunga-bunga indah di taman yang bersebelahan dengan kolam renang. Ia mengamati dengan seksama gerak ikan di antara gemericik air mancur kecil di tengahnya. Meski pikirannya sedang kalut, ia mencoba menghibur diri seperti itu sepulang dari kerja. Lagu ‘Yesterday’ milik The Beatles mengalun merdu dari smartphone di saku celananya. Sesekali mulutnya ikut bersenandung dan bersiul mengikuti irama musik lagu favoritnya itu.
Ah, benarkah manusia bisa mengerti dan memahami orang lain dengan sebenarnya? Sedangkan manusia untuk mengerti dan memahami diri sendiri saja belum sanggup. Apakah menuntut untuk selalu dimengerti tanpa bisa mengerti orang lain adalah sumber keharmonisan sebuah hubungan? Entah itu hubungan keluarga, rumah tangga, persahabatan, atau pimpinan dan karyawan dalam sebuah perusahaan atau institusi.  Kalau memang komunikasi bisa menjadi kunci menemukan solusi, kenapa masih ada perang dan pertikaian di dunia ini? Itulah pertanyaan yang sering berkecamuk dalam benak Iwan dalam mencermati hidup. 
Sebagai dokter di sebuah rumah sakit ternama, ia merasa sudah berusaha bekerja dengan baik. Muda, tampan, rajin dan cerdas dengan penampilan rapi itulah Iwan. Tetapi direktur RS sering memojokkan dirinya. Direktur RS itu, sebut saja Rustam, senantiasa memperlihatkan gelagat tak suka dengan Iwan. Hal ini terjadi setelah Rustam tahu bahwa Iwan menyukai Dewi, salah satu perawat di RS tersebut yang memang terkenal paling cantik.
 “Mencintai dan dicintai adalah hak siapa saja, meskipun lebih menyenangkan dicintai. Mencintai bisa berbuah patah hati jika tidak bisa memiliki,” kata Rustam.
“Apa maksud Bapak?” tanya Iwan.
“Saya juga mencintai Dewi, jadi lebih baik Anda mencari perempuan lain saja. Untuk urusan cinta dan benci, di zaman sekarang  ini bisa dimanipulasi. Cinta bisa takluk bersimpuh di bawah materi dan kekuasaan,” jelas Rustam sembari tersenyum menghina.
“Omong kosong, kata-kata Bapak telah menempatkan cinta sebagai sesuatu yang rendah. Saya tidak akan mundur,” kata Iwan.
Rustam memang sudah empat bulan menduda karena bercerai dengan istrinya. Meski sering terlihat berjalan dengan perempuan, rupanya hanya pelarian saja bagi Rustam. Ia lebih tertarik dengan Dewi, perawat baru yang memang menjadi primadona. Rustam mudah bosan. Kecantikan memang tak akan pernah selesai jika dilihat dari fisik semata.
Sebenarnya, Dewi sudah tahu kalau sedang diperebutkan. Namun ia sendiri sedang bingung, tidak tahu apa yang mesti dilakukan. Laki-laki bisa memilih perempuan yang disukai, tapi perempuan bisa menolak laki-laki yang tak dicintai, pikir Dewi. Jika ia menerima Iwan, maka Rustam bisa saja mencari-cari kesalahan dan mengeluarkannya dari pekerjaan sebagai perawat. Namun jika ia menerima Rustam, maka ia membohongi perasaan sendiri karena sebetulnya ia mencintai Iwan. Ah, jujur kepada diri sendiri bisa lebih sulit ketimbang jujur pada orang lain.
Entah siapa yang menguak, mayoritas pegawai RS jadi tahu adanya cinta segitiga. Santer kabar terdengar bahwa Iwan menderita penyakit aneh. Penyakit yang tidak bisa dideteksi apalagi didiagnosa secara medis. Yang pasti, Iwan tidak bisa berjalan, sekujur tubuhnya demam dan perutnya kian membesar. Ia juga depresi tatkala mendengar kabar bahwa Dewi tiba-tiba menyukai Rustam. Apa yang lebih menyakitkan bagi orang yang sedang jatuh cinta selain patah hati?
Melihat kondisi anak yang tak kunjung membaik, orang tua Iwan akhirnya menghubungi Ustad Massar. Dari Ustad Massar diketahui bahwa Iwan diguna-guna oleh seseorang. Terapi Ruqyah Diri akhirnya dijalankan untuk membuang efek buruk dan energi negatif yang kini bersarang di tubuh Iwan. “Persaingan, dendam, dan sakit hati bisa membutakan, orang jadi mudah mendzolimi sesama, maka bersabarlah dan jadilah pemaaf,” kata Ustad Massar. Sejak itu, Iwan sembuh dan keluar dari pekerjaannya sebagai dokter di RS. Ia pindah ke RS lain dan membuka praktik di rumahnya sendiri. Berkat nasihat Ustad Massar, ia menjadi tegar, berjiwa besar dan berusaha mengubur kenangan pahit masa lalu.

Senin, 08 April 2013

Rukyah Mengantarkan Jodohku




      Sebut saja ia Sinta, 34, seorang desainer interior. Pernikahan yang semestinya mencerminkan perhelatan sakral mendadak ternodai oleh sebuah peristiwa tragis sekaligus memilukan. Pernikahan kedua yang harus kuterima sebagai pil pahit yang membuatku menyandang status janda untuk kedua kalinya. Betapa cinta mesti memaksakan dirinya untuk dijalani tanpa berusaha menyodorkan diri untuk memberi ruang bagiku memilih.
Suami pertamaku meninggal tiga hari persis setelah resepsi pernikahan. Sebuah truk bermuatan semen menabrak mobilnya hingga ringsek berat saat berangkat mengajar di sebuah perguruan tinggi. Aku juga harus merelakan suamiku yang kedua pergi untuk selamanya. Serangan jantung mendadak. Riwayat penyakit yang tidak pernah diceritakannya padaku. Ia terjungkal dari kursi pelaminan di saat tamu undangan riuh memberikan do’a restu.
“Aku sudah lelah dengan semua ini, “ keluhku pada Devi pada suatu petang di sebuah kafe. Devi adalah sahabat karibku semenjak SMA hingga kuliah di kampus yang sama meskipun beda jurusan.
“Sudahlah Sin, jangan terlalu dipikirkan, semua masalah pasti ada solusinya,” ujar Devi berusaha menghiburku.
“Bagaimana aku tidak sedih Dev, orang tuaku sudah sangat ingin menimang cucu. Aku merasa sudah kalah dalam hidup ini.”
“Sinta, dengar ya, masih ada kesempatan untuk membenahi semuanya. Kamu sudah mapan, cantik lagi. Tidak ada dalam kamus hidupmu bahwa kamu seorang pecundang!”
Aku menyeruput capuccino dalam cangkir yang mulai dingin. Sepotong sandwich dengan irisan spicy beef belum kusentuh sama sekali. Devi, kau tidak pernah berubah. Selalu optimistis, pikirku. Tuhan, terkadang aku iri pada Devi. Suami yang perhatian dan setia. Dua anak yang pintar, lucu dan menggemaskan. Rambut boleh sama hitamnya, tapi nasib tiap orang berbeda. Proses yang bagi orang lain bisa menuai hasil baik, belum tentu sama hasilnya jika kita yang melakukan.
“Sinta!” suara Devi membuyarkan lamunanku.
“Iya Dev...” sahutku dengan tergeragap.
“Sudah jangan melamun terus, aku tahu kamu masih sedih, tapi di dunia ini, masalah tidak akan selesai jika hanya dipikirkan. Kesedihan yang berlarut justru semakin menyurukkanmu ke dalam jurang yang bernama putus asa.”
“Dev, kau masih ingat nggak dengan apa yang pernah dikatakan seorang peramal yang pernah kita temui di mal dulu itu?” tanyaku berusaha menarik ingatan Devi ke beberapa bulan silam.
“Oh, soal kau memiliki balung kuning itu?”
“Ya, apakah kau percaya jika kemudian melihat kenyataan yang menimpaku?”
“Begini Sin, kita temui tanteku saja, siapa tahu ada jalan keluar.”
Kami beranjak dari kursi setelah menyelesaikan sedikit administrasi dengan waitress dan kasir. Aku tidak tahu apa yang diinginkan Devi. Aku hanya yakin, Devi memang tulus membantuku. Sulit mencari sahabat seperti Devi di zaman yang penuh kemunafikan dan pamrih seperti sekarang ini. Di mana salam hanya basa basi, dan senyum hanya sebagai pemanis bibir luar yang tidak lahir dari hati.
*******
Balung kuning itu istilah Jawa yang jika melekat pada seorang perempuan, aku sendiri kurang faham apakah terkait dengan masalah Sinta yang selalu gagal dalam membina rumah tangga, “ terang Rosa, tantenya Devi yang juga seorang konsultan properti yang mempelajari Feng Shui.
“Terus, bagaimana dong tante?” tanya Devi.
“Coba kalian menemui Ustad Massar di Semarang, siapa tahu cocok, banyak yang berobat atau berkonsultasi ke sana dan menemukan jalan keluar, ini alamat dan nomor yang bisa kalian hubungi, kalau ditanya bilang saja dariku.”
“Terima kasih tante,” ucapku dan Devi hampir serempak.
Begitulah, kami pamit usai bersalaman dengan tante Rosa. Ah, Ustad Massar, nama yang belum pernah kudengar sebelumnya. Hingga Tuhan pun mempertemukan aku dengan Ustad Massar. Aku menuju Semarang dengan pesawat. Siapa lagi kalau bukan ditemani juga oleh Devi, sahabatku.
Dengan bimbingan Ustad Massar, aku menjalani terapi Ruqyah Diri. Ruqyah, kata aneh yang pernah kulihat di televisi untuk menyembuhkan orang kesurupan jin. Di tangan Ustad Massar, ruqyah menjadi media do’a untuk berbagai problem kehidupan mulai dari yang sepele hingga rumit.
Dua bulan kemudian, Tuhan memperkenalkan aku dengan seorang lelaki. Persis seperti apa yang pernah diutarakan oleh Ustad Massar. Rupanya, lagi-lagi Devi juga membantuku untuk hal ini. Sebulan kemudian, aku melaksanakan akad nikah dan resepsi. Hingga kisah ini kutuliskan, usia pernikahanku sudah berjalan tiga tahun dengan dua buah hati. Suami yang setia, anak-anak yang sehat. Terima kasih Tuhan.

Jumat, 05 April 2013

Mengatasi sebuah Perseteruan



Sudarto adalah rektor sebuah perguruan tinggi swasta yang bernaung di bawah yayasan. Ketua yayasan itulah yang tengah berseteru dengannya. Namun perseteruan itu sebenarnya berangkat dari masalah sepele yang dibesar-besarkan. Apalagi, ada isu yang sengaja dihembuskan oleh seseorang yang berambisi menggantikan posisi Sudarto. Ia masih ingat saat Wijayanto, sang ketua yayasan mendatangi ruang kerjanya pada suatu pagi.
“Kita mesti membuka fakultas dan jurusan baru untuk menarik lebih banyak minat mahasiswa agar kuliah di perguruan tinggi kita ini,” ujar Wijayanto.
“Tapi itu tidak bisa dilakukan dalam waktu yang singkat Pak, butuh proses, apalagi jurusan yang sudah ada belum semuanya terakreditasi oleh BAN PT,” kata Sudarto memberi alasan.
“Nah, itulah, jurusan yang belum terakreditasi itu karena kurang diminati lulusan SMA, kurang marketable, kita buka jurusan baru yang lebih menarik.”
“Tapi ini harus dimusyawarahkan dengan berbagai pihak Pak.”
“Siapa? Memangnya siapa yang memikirkan kemajuan kampus ini? Aku ikut memikirkan kampus ini karena tanah tempat kampus ini adalah dulunya milik ayahku. Kalau kamu tidak mau, aku bisa mengusulkan dengan pengurus yayasan agar kamu dicopot sebagai rektor dan diganti!!”
Rina sebagai anak tertua Sudarto yang juga menjadi dosen di kampus itu sudah ikut andil dalam memberikan saran. Namun belum sepenuhnya diterima. Ayahnya bersikukuh untuk tetap pada pendiriannya. Bahkan dengan tegas ayahnya menyatakan akan mengundurkan diri agar situasi tidak semakin memanas.
“Ini sudah keterlaluan, sampai kapan ketua yayasan akan terus menerus ikut campur soal internal kampus?” kata Sudarto dengan geram. Rina hanya mengangkat bahu dengan ekspresi datar.
Sampai kapan manusia akan terus bertikai dengan membawa tolok ukur kebenaran masing-masing? pikir Rina. Ia lalu menemui Desi, teman masa kuliah yang juga seorang dosen di sebuah perguruan tinggi negeri.
 “Rina, manusia memiliki perspektif berbeda dalam melihat suatu masalah berdasarkan ilmu dan pengalaman yang dipunyai, itu yang kemudian bermuara pada perbedaan pendapat, idealisme, dan pola pikir seseorang, apalagi kemudian masing-masing merasa paling benar,” kata Desi.
“Betul Des, tapi bukankah ketika Tuhan menguji manusia dengan suatu masalah itu berdasarkan kesanggupan dan kemampuan manusia yang diuji? Mana mungkin anak kelas 2 mendapat soal ujian anak kelas 3?”
“Pendapatmu tidak salah Rin, tapi terlalu sederhana jika menganalogikan kehidupan nyata dengan sekolah formal. Realitanya, banyak dari mereka yang berusia muda bahkan anak-anak harus melakukan pekerjaan atau memikirkan dan menghadapi masalah yang sebetulnya belum saatnya mereka hadapi.”
“Aku jadi faham Des, itulah mengapa Tuhan menyuruh manusia saling tolong menolong. Yang kaya membantu yang miskin, yang pintar memberi petunjuk pada yang belum tahu, yang sedang berada dalam kelapangan membantu yang sedang kesulitan.”
“Kecerdasanmu tidak pernah luntur Rin, he he..”
Begitulah Rina dan Desi saat bertemu membahas suatu masalah. Mereka mengungkapkan argumentasi berbeda namun tak pernah terlibat serius dalam pertengkaran. Sebenarnya, Rina hendak meminta bantuan Desi terkait polemik yang terjadi di kampus. Desi menanggapi dengan baik dan menyarankan agar bertemu Ustad Massar untuk menengahi.
  “Ada saatnya keputusan mesti diambil tanpa harus meminta pertimbangan orang lain. Itu kalau tidak menyangkut kepentingan banyak orang. Karena benar menurut diri sendiri belum tentu benar menurut orang lain. Ide yang baik belum tentu memperoleh hasil baik jika implementasinya banyak ganjalan dan prosesnya kurang optimal,” kata Ustad Massar di ruang gedung rektorat yang juga dihadiri Sudarto dan Wijayanto. Sementara Rina dan Desi hanya diam.
Akhirnya Sudarto dan Wijayanto sepakat berdamai. Pembahasan untuk menentukan dibukanya jurusan baru mendatangkan pakar dan tokoh pendidikan guna meminta pertimbangan dan masukan. Namun yang pasti, Sudarto dan Wijayanto akhirnya menjalani terapi Ruqyah Diri guna menyeimbangkan energi spiritual dan emosional. Sedangkan area kampus dilakukan terapi Ruqyah Tempat untuk meningkatkan aura positif.