Senin, 08 April 2013

Rukyah Mengantarkan Jodohku




      Sebut saja ia Sinta, 34, seorang desainer interior. Pernikahan yang semestinya mencerminkan perhelatan sakral mendadak ternodai oleh sebuah peristiwa tragis sekaligus memilukan. Pernikahan kedua yang harus kuterima sebagai pil pahit yang membuatku menyandang status janda untuk kedua kalinya. Betapa cinta mesti memaksakan dirinya untuk dijalani tanpa berusaha menyodorkan diri untuk memberi ruang bagiku memilih.
Suami pertamaku meninggal tiga hari persis setelah resepsi pernikahan. Sebuah truk bermuatan semen menabrak mobilnya hingga ringsek berat saat berangkat mengajar di sebuah perguruan tinggi. Aku juga harus merelakan suamiku yang kedua pergi untuk selamanya. Serangan jantung mendadak. Riwayat penyakit yang tidak pernah diceritakannya padaku. Ia terjungkal dari kursi pelaminan di saat tamu undangan riuh memberikan do’a restu.
“Aku sudah lelah dengan semua ini, “ keluhku pada Devi pada suatu petang di sebuah kafe. Devi adalah sahabat karibku semenjak SMA hingga kuliah di kampus yang sama meskipun beda jurusan.
“Sudahlah Sin, jangan terlalu dipikirkan, semua masalah pasti ada solusinya,” ujar Devi berusaha menghiburku.
“Bagaimana aku tidak sedih Dev, orang tuaku sudah sangat ingin menimang cucu. Aku merasa sudah kalah dalam hidup ini.”
“Sinta, dengar ya, masih ada kesempatan untuk membenahi semuanya. Kamu sudah mapan, cantik lagi. Tidak ada dalam kamus hidupmu bahwa kamu seorang pecundang!”
Aku menyeruput capuccino dalam cangkir yang mulai dingin. Sepotong sandwich dengan irisan spicy beef belum kusentuh sama sekali. Devi, kau tidak pernah berubah. Selalu optimistis, pikirku. Tuhan, terkadang aku iri pada Devi. Suami yang perhatian dan setia. Dua anak yang pintar, lucu dan menggemaskan. Rambut boleh sama hitamnya, tapi nasib tiap orang berbeda. Proses yang bagi orang lain bisa menuai hasil baik, belum tentu sama hasilnya jika kita yang melakukan.
“Sinta!” suara Devi membuyarkan lamunanku.
“Iya Dev...” sahutku dengan tergeragap.
“Sudah jangan melamun terus, aku tahu kamu masih sedih, tapi di dunia ini, masalah tidak akan selesai jika hanya dipikirkan. Kesedihan yang berlarut justru semakin menyurukkanmu ke dalam jurang yang bernama putus asa.”
“Dev, kau masih ingat nggak dengan apa yang pernah dikatakan seorang peramal yang pernah kita temui di mal dulu itu?” tanyaku berusaha menarik ingatan Devi ke beberapa bulan silam.
“Oh, soal kau memiliki balung kuning itu?”
“Ya, apakah kau percaya jika kemudian melihat kenyataan yang menimpaku?”
“Begini Sin, kita temui tanteku saja, siapa tahu ada jalan keluar.”
Kami beranjak dari kursi setelah menyelesaikan sedikit administrasi dengan waitress dan kasir. Aku tidak tahu apa yang diinginkan Devi. Aku hanya yakin, Devi memang tulus membantuku. Sulit mencari sahabat seperti Devi di zaman yang penuh kemunafikan dan pamrih seperti sekarang ini. Di mana salam hanya basa basi, dan senyum hanya sebagai pemanis bibir luar yang tidak lahir dari hati.
*******
Balung kuning itu istilah Jawa yang jika melekat pada seorang perempuan, aku sendiri kurang faham apakah terkait dengan masalah Sinta yang selalu gagal dalam membina rumah tangga, “ terang Rosa, tantenya Devi yang juga seorang konsultan properti yang mempelajari Feng Shui.
“Terus, bagaimana dong tante?” tanya Devi.
“Coba kalian menemui Ustad Massar di Semarang, siapa tahu cocok, banyak yang berobat atau berkonsultasi ke sana dan menemukan jalan keluar, ini alamat dan nomor yang bisa kalian hubungi, kalau ditanya bilang saja dariku.”
“Terima kasih tante,” ucapku dan Devi hampir serempak.
Begitulah, kami pamit usai bersalaman dengan tante Rosa. Ah, Ustad Massar, nama yang belum pernah kudengar sebelumnya. Hingga Tuhan pun mempertemukan aku dengan Ustad Massar. Aku menuju Semarang dengan pesawat. Siapa lagi kalau bukan ditemani juga oleh Devi, sahabatku.
Dengan bimbingan Ustad Massar, aku menjalani terapi Ruqyah Diri. Ruqyah, kata aneh yang pernah kulihat di televisi untuk menyembuhkan orang kesurupan jin. Di tangan Ustad Massar, ruqyah menjadi media do’a untuk berbagai problem kehidupan mulai dari yang sepele hingga rumit.
Dua bulan kemudian, Tuhan memperkenalkan aku dengan seorang lelaki. Persis seperti apa yang pernah diutarakan oleh Ustad Massar. Rupanya, lagi-lagi Devi juga membantuku untuk hal ini. Sebulan kemudian, aku melaksanakan akad nikah dan resepsi. Hingga kisah ini kutuliskan, usia pernikahanku sudah berjalan tiga tahun dengan dua buah hati. Suami yang setia, anak-anak yang sehat. Terima kasih Tuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar