Sebut saja ia
Sinta, 34, seorang desainer interior. Pernikahan yang
semestinya mencerminkan perhelatan sakral mendadak ternodai oleh sebuah
peristiwa tragis sekaligus memilukan. Pernikahan kedua yang harus kuterima
sebagai pil pahit yang membuatku menyandang status janda untuk kedua kalinya.
Betapa cinta mesti memaksakan dirinya untuk dijalani tanpa berusaha menyodorkan
diri untuk memberi ruang bagiku memilih.
Suami pertamaku
meninggal tiga hari persis setelah resepsi pernikahan. Sebuah truk bermuatan
semen menabrak mobilnya hingga ringsek berat saat berangkat mengajar di sebuah
perguruan tinggi. Aku juga harus merelakan suamiku yang kedua pergi untuk
selamanya. Serangan jantung mendadak. Riwayat penyakit yang tidak pernah
diceritakannya padaku. Ia terjungkal dari kursi pelaminan di saat tamu undangan
riuh memberikan do’a restu.
“Aku sudah
lelah dengan semua ini, “ keluhku pada Devi pada suatu petang di sebuah kafe.
Devi adalah sahabat karibku semenjak SMA hingga kuliah di kampus yang sama meskipun
beda jurusan.
“Sudahlah Sin, jangan terlalu dipikirkan, semua masalah
pasti ada solusinya,” ujar Devi berusaha menghiburku.
“Bagaimana aku tidak sedih Dev, orang
tuaku sudah sangat ingin menimang cucu. Aku merasa sudah kalah dalam hidup
ini.”
“Sinta, dengar ya, masih ada
kesempatan untuk membenahi semuanya. Kamu sudah mapan, cantik lagi. Tidak ada
dalam kamus hidupmu bahwa kamu seorang pecundang!”
Aku menyeruput capuccino
dalam cangkir yang mulai dingin. Sepotong sandwich dengan irisan spicy
beef belum kusentuh sama sekali. Devi, kau tidak pernah berubah. Selalu optimistis,
pikirku. Tuhan, terkadang aku iri pada Devi. Suami yang perhatian dan setia.
Dua anak yang pintar, lucu dan menggemaskan. Rambut boleh sama hitamnya, tapi
nasib tiap orang berbeda. Proses yang bagi orang lain bisa menuai hasil baik,
belum tentu sama hasilnya jika kita yang melakukan.
“Sinta!” suara
Devi membuyarkan lamunanku.
“Iya Dev...”
sahutku dengan tergeragap.
“Sudah jangan
melamun terus, aku tahu kamu masih sedih, tapi di dunia ini, masalah tidak akan
selesai jika hanya dipikirkan. Kesedihan yang berlarut justru semakin
menyurukkanmu ke dalam jurang yang bernama putus asa.”
“Dev, kau masih
ingat nggak dengan apa yang pernah dikatakan seorang peramal yang pernah kita
temui di mal dulu itu?” tanyaku berusaha menarik ingatan Devi ke beberapa bulan
silam.
“Oh, soal kau
memiliki balung kuning itu?”
“Ya, apakah kau
percaya jika kemudian melihat kenyataan yang menimpaku?”
“Begini Sin,
kita temui tanteku saja, siapa tahu ada jalan keluar.”
Kami beranjak
dari kursi setelah menyelesaikan sedikit administrasi dengan waitress
dan kasir. Aku tidak tahu apa yang diinginkan Devi. Aku hanya yakin, Devi
memang tulus membantuku. Sulit mencari sahabat seperti Devi di zaman yang penuh
kemunafikan dan pamrih seperti sekarang ini. Di mana salam hanya basa basi, dan
senyum hanya sebagai pemanis bibir luar yang tidak lahir dari hati.
*******
“Balung
kuning itu istilah Jawa yang jika melekat pada seorang perempuan, aku
sendiri kurang faham apakah terkait dengan masalah Sinta yang selalu gagal
dalam membina rumah tangga, “ terang Rosa, tantenya Devi yang juga seorang
konsultan properti yang mempelajari Feng Shui.
“Terus, bagaimana dong tante?”
tanya Devi.
“Coba kalian
menemui Ustad Massar di Semarang, siapa tahu cocok, banyak yang berobat atau
berkonsultasi ke sana dan menemukan jalan keluar, ini alamat dan nomor yang
bisa kalian hubungi, kalau ditanya bilang saja dariku.”
“Terima kasih tante,” ucapku dan
Devi hampir serempak.
Begitulah, kami
pamit usai bersalaman dengan tante Rosa. Ah, Ustad Massar, nama yang belum
pernah kudengar sebelumnya. Hingga Tuhan pun mempertemukan aku dengan Ustad
Massar. Aku menuju Semarang dengan pesawat. Siapa lagi kalau bukan ditemani
juga oleh Devi, sahabatku.
Dengan bimbingan
Ustad Massar, aku menjalani terapi Ruqyah Diri. Ruqyah, kata aneh yang
pernah kulihat di televisi untuk menyembuhkan orang kesurupan jin. Di tangan
Ustad Massar, ruqyah menjadi media do’a untuk berbagai problem kehidupan mulai
dari yang sepele hingga rumit.
Dua bulan
kemudian, Tuhan memperkenalkan aku dengan seorang lelaki. Persis seperti apa
yang pernah diutarakan oleh Ustad Massar. Rupanya, lagi-lagi Devi juga membantuku
untuk hal ini. Sebulan kemudian, aku melaksanakan akad nikah dan resepsi.
Hingga kisah ini kutuliskan, usia pernikahanku sudah berjalan tiga tahun dengan
dua buah hati. Suami yang setia, anak-anak yang sehat. Terima kasih Tuhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar