Sebut saja aku Rani. Sejak kecil, aku tidak pernah tidak
mendapatkan apa yang aku inginkan. Mainan, boneka, makanan, minuman, pakaian,
kamar yang indah. Tinggal merengek atau menangis dengan memasang wajah
cemberut. Sebagai putri semata wayang seorang pengusaha kelas kakap, rasanya,
semua bisa dibeli dengan uang.
Menikmati hidup serba berkecukupan.
Uang adalah sumber kebahagiaan, itu yang ada dalam pikiranku saat itu. Waktu
berlalu dengan cepat. Aku mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Apalagi
didukung dengan makanan bergizi, rajin ke salon kecantikan, bertandang ke SPA
langganan. Aku pun tumbuh menjadi remaja ABG yang cantik, sehat, cerdas,
sekaligus banyak teman.
Hanya satu yang aku rasakan kurang. Kasih
sayang orang tua. Kesibukan orang tua berpengaruh juga terhadap kondisi
psikologisku. Sedikit sekali waktu untuk berkumpul bersama sekadar makan malam
atau mendengarkan cerita tentang kejadian yang aku alami di sekolah. “Bagus
Rani, kamu memang anakku yang pintar.” Hanya itu yang diucapkan Ibuku saat
kuberitahu nilai ujianku bagus.
Apalagi ayah yang jam pulangnya tidak
menentu. Malah sering tidak pulang. Kadang ayah sesekali menelepon untuk
menanyakan kabar dan aku malas mengangkatnya. Ah, di dalam kesendirian aku
sering merenung, melamun, merasa iri dengan keluarga teman-teman yang lain.
Mereka bercerita tentang piknik keluarga, menonton film bersama, shopping ke
mal, jalan-jalan ke luar negeri.
Itu semua membuatku mencari pelampiasan guna
menuntaskan pikiran yang kalut. Dugem menjadi kebiasaan yang sulit aku
hilangkan. Nongkrong di kafe sepulang sekolah, malamnya ke diskotik, menenggak
alkohol, menghisap rokok, mengonsumsi ekstasi, berjingkrak-jingkrak dengan
iringan musik DJ. Sungguh membuat diriku merasa senang. Kesenangan yang
kemudian aku ketahui sebagai kesenangan semu.
“Apa yang terjadi padamu Rani?” tanya
Ibuku saat memergoki aku pulang pagi diantar teman cowokku. Aku tidak menjawab,
kepalaku pusing. “Bagaimana kamu bisa mencintai orang lain sedangkan mencintai
diri sendiri saja belum bisa?”
“Sejak kapan mama peduli padaku? Apa
mama sudah bisa mencintai diri sendiri, mencintai aku, mencintai keluarga?”
jawabku dengan membalik bertanya ketus.
“Kamu pikir mama melakukan semua ini
untuk siapa Rani, ha?”
Begitulah, ibuku juga belum bisa
memahamiku. Hingga pada suatu ketika, aku jatuh sakit. Sebuah penyakit yang aku
sendiri tidak tahu darimana datangnya, hinggap di tubuhku. Dari diagnosa
dokter, penyakit itu diketahui bernama Lupus Eritomatosus Sistemik (LES) alias Lupus. Terdengar
seperti judul film saja.
Selama tiga bulan aku
terbaring di Rumah Sakit dengan kondisi lemas, demam, dan pegal-pegal di
sekujur tubuh. Muncul ruam merah yang membentang di kedua pipi, mirip
kupu-kupu. Bukan hanya itu, ruam merah
juga muncul di kulit seluruh tubuh, menonjol dan bersisik.
Dalam kondisi seperti itulah,
aku merasa semua orang berempati padaku. Kasih sayang dan perhatian orang tua
tercurah padaku. Sikap yang bisa dikatakan terlambat. Manusia memang lebih
senang menyesali masa lalu ketimbang mensyukuri hari ini atau mengambil
pelajaran dan hikmah dari suatu peristiwa. Saat itu aku memang belum bisa
bersyukur atas anugerah Tuhan.
Suatu hari, ada dua orang yang membesukku di
Rumah Sakit. Ternyata Pak Teguh, sahabat ayah yang juga seorang pengusaha.
Bersamanya seseorang berwajah teduh dengan binar mata bening yang aku ketahui
kemudian bernama Ustad Massar. Setelah sedikit berbincang-bincang dengan ayahku
dengan setengah berbisik, Pak Teguh menghampiri diriku yang terbaring.
“Kamu harus sembuh, Ustad ini akan mendo’akan
dan mengobatimu, setelah ini kamu pulang dan rawat jalan saja di rumah. Beliau
adalah Ustad Massar yang akan membantu proses kesembuhanmu,” kata Pak Teguh.
“Ya Om,” jawabku lirih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar