Selasa, 16 April 2013

Terjebak Maksiat, Ambruk karena Lupus



   Sebut saja aku Rani. Sejak kecil, aku tidak pernah tidak mendapatkan apa yang aku inginkan. Mainan, boneka, makanan, minuman, pakaian, kamar yang indah. Tinggal merengek atau menangis dengan memasang wajah cemberut. Sebagai putri semata wayang seorang pengusaha kelas kakap, rasanya, semua bisa dibeli dengan uang.
Menikmati hidup serba berkecukupan. Uang adalah sumber kebahagiaan, itu yang ada dalam pikiranku saat itu. Waktu berlalu dengan cepat. Aku mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Apalagi didukung dengan makanan bergizi, rajin ke salon kecantikan, bertandang ke SPA langganan. Aku pun tumbuh menjadi remaja ABG yang cantik, sehat, cerdas, sekaligus banyak teman.
 Hanya satu yang aku rasakan kurang. Kasih sayang orang tua. Kesibukan orang tua berpengaruh juga terhadap kondisi psikologisku. Sedikit sekali waktu untuk berkumpul bersama sekadar makan malam atau mendengarkan cerita tentang kejadian yang aku alami di sekolah. “Bagus Rani, kamu memang anakku yang pintar.” Hanya itu yang diucapkan Ibuku saat kuberitahu nilai ujianku bagus.
Apalagi ayah yang jam pulangnya tidak menentu. Malah sering tidak pulang. Kadang ayah sesekali menelepon untuk menanyakan kabar dan aku malas mengangkatnya. Ah, di dalam kesendirian aku sering merenung, melamun, merasa iri dengan keluarga teman-teman yang lain. Mereka bercerita tentang piknik keluarga, menonton film bersama, shopping ke mal, jalan-jalan ke luar negeri.
 Itu semua membuatku mencari pelampiasan guna menuntaskan pikiran yang kalut. Dugem menjadi kebiasaan yang sulit aku hilangkan. Nongkrong di kafe sepulang sekolah, malamnya ke diskotik, menenggak alkohol, menghisap rokok, mengonsumsi ekstasi, berjingkrak-jingkrak dengan iringan musik DJ. Sungguh membuat diriku merasa senang. Kesenangan yang kemudian aku ketahui sebagai kesenangan semu.
“Apa yang terjadi padamu Rani?” tanya Ibuku saat memergoki aku pulang pagi diantar teman cowokku. Aku tidak menjawab, kepalaku pusing. “Bagaimana kamu bisa mencintai orang lain sedangkan mencintai diri sendiri saja belum bisa?”
“Sejak kapan mama peduli padaku? Apa mama sudah bisa mencintai diri sendiri, mencintai aku, mencintai keluarga?” jawabku dengan membalik bertanya ketus.
“Kamu pikir mama melakukan semua ini untuk siapa Rani, ha?”
Begitulah, ibuku juga belum bisa memahamiku. Hingga pada suatu ketika, aku jatuh sakit. Sebuah penyakit yang aku sendiri tidak tahu darimana datangnya, hinggap di tubuhku. Dari diagnosa dokter, penyakit itu diketahui bernama Lupus Eritomatosus Sistemik (LES) alias Lupus. Terdengar seperti judul film saja.
Selama tiga bulan aku terbaring di Rumah Sakit dengan kondisi lemas, demam, dan pegal-pegal di sekujur tubuh. Muncul ruam merah yang membentang di kedua pipi, mirip kupu-kupu. Bukan hanya itu,  ruam merah juga muncul di kulit seluruh tubuh, menonjol dan bersisik.
Dalam kondisi seperti itulah, aku merasa semua orang berempati padaku. Kasih sayang dan perhatian orang tua tercurah padaku. Sikap yang bisa dikatakan terlambat. Manusia memang lebih senang menyesali masa lalu ketimbang mensyukuri hari ini atau mengambil pelajaran dan hikmah dari suatu peristiwa. Saat itu aku memang belum bisa bersyukur atas anugerah Tuhan.
Suatu hari, ada dua orang yang membesukku di Rumah Sakit. Ternyata Pak Teguh, sahabat ayah yang juga seorang pengusaha. Bersamanya seseorang berwajah teduh dengan binar mata bening yang aku ketahui kemudian bernama Ustad Massar. Setelah sedikit berbincang-bincang dengan ayahku dengan setengah berbisik, Pak Teguh menghampiri diriku yang terbaring.
“Kamu harus sembuh, Ustad ini akan mendo’akan dan mengobatimu, setelah ini kamu pulang dan rawat jalan saja di rumah. Beliau adalah Ustad Massar yang akan membantu proses kesembuhanmu,” kata Pak Teguh.
“Ya Om,” jawabku lirih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar