Minggu, 14 April 2013

Guna-Guna Karena Persaingan Asmara



Iwan duduk terpekur di halaman belakang rumahnya. Di hadapannya, kolam bening dengan ikan koi warna-warni berenang lincah. Ditingkahi semilir angin menerpa dedaunan dan bunga-bunga indah di taman yang bersebelahan dengan kolam renang. Ia mengamati dengan seksama gerak ikan di antara gemericik air mancur kecil di tengahnya. Meski pikirannya sedang kalut, ia mencoba menghibur diri seperti itu sepulang dari kerja. Lagu ‘Yesterday’ milik The Beatles mengalun merdu dari smartphone di saku celananya. Sesekali mulutnya ikut bersenandung dan bersiul mengikuti irama musik lagu favoritnya itu.
Ah, benarkah manusia bisa mengerti dan memahami orang lain dengan sebenarnya? Sedangkan manusia untuk mengerti dan memahami diri sendiri saja belum sanggup. Apakah menuntut untuk selalu dimengerti tanpa bisa mengerti orang lain adalah sumber keharmonisan sebuah hubungan? Entah itu hubungan keluarga, rumah tangga, persahabatan, atau pimpinan dan karyawan dalam sebuah perusahaan atau institusi.  Kalau memang komunikasi bisa menjadi kunci menemukan solusi, kenapa masih ada perang dan pertikaian di dunia ini? Itulah pertanyaan yang sering berkecamuk dalam benak Iwan dalam mencermati hidup. 
Sebagai dokter di sebuah rumah sakit ternama, ia merasa sudah berusaha bekerja dengan baik. Muda, tampan, rajin dan cerdas dengan penampilan rapi itulah Iwan. Tetapi direktur RS sering memojokkan dirinya. Direktur RS itu, sebut saja Rustam, senantiasa memperlihatkan gelagat tak suka dengan Iwan. Hal ini terjadi setelah Rustam tahu bahwa Iwan menyukai Dewi, salah satu perawat di RS tersebut yang memang terkenal paling cantik.
 “Mencintai dan dicintai adalah hak siapa saja, meskipun lebih menyenangkan dicintai. Mencintai bisa berbuah patah hati jika tidak bisa memiliki,” kata Rustam.
“Apa maksud Bapak?” tanya Iwan.
“Saya juga mencintai Dewi, jadi lebih baik Anda mencari perempuan lain saja. Untuk urusan cinta dan benci, di zaman sekarang  ini bisa dimanipulasi. Cinta bisa takluk bersimpuh di bawah materi dan kekuasaan,” jelas Rustam sembari tersenyum menghina.
“Omong kosong, kata-kata Bapak telah menempatkan cinta sebagai sesuatu yang rendah. Saya tidak akan mundur,” kata Iwan.
Rustam memang sudah empat bulan menduda karena bercerai dengan istrinya. Meski sering terlihat berjalan dengan perempuan, rupanya hanya pelarian saja bagi Rustam. Ia lebih tertarik dengan Dewi, perawat baru yang memang menjadi primadona. Rustam mudah bosan. Kecantikan memang tak akan pernah selesai jika dilihat dari fisik semata.
Sebenarnya, Dewi sudah tahu kalau sedang diperebutkan. Namun ia sendiri sedang bingung, tidak tahu apa yang mesti dilakukan. Laki-laki bisa memilih perempuan yang disukai, tapi perempuan bisa menolak laki-laki yang tak dicintai, pikir Dewi. Jika ia menerima Iwan, maka Rustam bisa saja mencari-cari kesalahan dan mengeluarkannya dari pekerjaan sebagai perawat. Namun jika ia menerima Rustam, maka ia membohongi perasaan sendiri karena sebetulnya ia mencintai Iwan. Ah, jujur kepada diri sendiri bisa lebih sulit ketimbang jujur pada orang lain.
Entah siapa yang menguak, mayoritas pegawai RS jadi tahu adanya cinta segitiga. Santer kabar terdengar bahwa Iwan menderita penyakit aneh. Penyakit yang tidak bisa dideteksi apalagi didiagnosa secara medis. Yang pasti, Iwan tidak bisa berjalan, sekujur tubuhnya demam dan perutnya kian membesar. Ia juga depresi tatkala mendengar kabar bahwa Dewi tiba-tiba menyukai Rustam. Apa yang lebih menyakitkan bagi orang yang sedang jatuh cinta selain patah hati?
Melihat kondisi anak yang tak kunjung membaik, orang tua Iwan akhirnya menghubungi Ustad Massar. Dari Ustad Massar diketahui bahwa Iwan diguna-guna oleh seseorang. Terapi Ruqyah Diri akhirnya dijalankan untuk membuang efek buruk dan energi negatif yang kini bersarang di tubuh Iwan. “Persaingan, dendam, dan sakit hati bisa membutakan, orang jadi mudah mendzolimi sesama, maka bersabarlah dan jadilah pemaaf,” kata Ustad Massar. Sejak itu, Iwan sembuh dan keluar dari pekerjaannya sebagai dokter di RS. Ia pindah ke RS lain dan membuka praktik di rumahnya sendiri. Berkat nasihat Ustad Massar, ia menjadi tegar, berjiwa besar dan berusaha mengubur kenangan pahit masa lalu.

1 komentar:

  1. Persaingan asmara, ingin mengembalikan pasangan yg berpaling, ingin mendapatkan kekasih idaman, pengobatan, trawangan dll. Solusi dg doa2. Hub: 0815 6766 2467.

    BalasHapus