Setelah menempuh perjalanan panjang yang
melelahkan, sampailah juga Setya( bukan nama sebenarnya ) di terminal Pulo
Gadung Jakarta. Setya bertekad menjadi orang sukses di Ibu Kota bagaimanapun
caranya. Meskipun hanya berbekal ijazah SMA dan ketrampilan minim yang dimiliki,
tekadnya tetap bulat. Kelebihannya adalah
wajah yang tampan bak artis Andika Pratama.
Sambil menyelam minum air,
disela-sela waktunya mencari pekerjaan, Setya rajin membantu bulek Sri, sapaan
akrab bibinya di warung untuk menghilangkan kejenuhan. Meskipun hanya rumah
makan sederhana, tetapi sangat ramai dan dipenuhi pelanggan yang berstatus
pegawai kantoran saat jam makan siang tiba. Disinilah awal mula Setya bertemu
dengan seorang gadis cantik bernama Dian ( bukan nama sebenarnya ), yang
merupakan anak dari seorang pengusaha sukses di kota metropolitan ini. "
tumben ke warung sendiri non, biasanya
Wati yang kesini? " sapa bulek sri. " ia nich bu..., suntuk di kantor
terus pengen nyari udara segar," jawab Dian. “Makan apa non?” tanya bulek
Sri. " Pecel aja Bu, gak pedes ya,
" jawab Dian. Saat menunggu pesanannya, sepintas ia melihat seorang pemuda
tampan mengantarkan minuman ketamu, Sosok tersebut sangat mirip dengan kekasihnya
yang telah tiada. Kenangan masa lalunyapun kembali muncul. " Silahkan mbak ini
pesanannya " kata setya membuyarkan lamunan Dian
" Oh ya Mas terima kasih" jawab Dian dengan
terbengong-bengong." Maaf, mas ini apanya Bu Sri?, kok baru kelihatan?, " tanya Dian. " saya keponakanya bulek sri dari kampung mbak, disini mbantu
bulek sambil cari Kerja, " jawab Setya. Berawal dari perkenalan singkat itulah akhirnya mereka saling akrab. Dianpun memberikan
Setya pekerjaan sebagai sopir pribadinya. Seiring berjalannya waktu, hubungan khusus antara
keduanya pun akhirnya terjalin sudah. Seperti orang jawa bilang “Witing Tresno Jalaran Soko Kulino”.
Rasa cinta yang teramat besar kepada
Setya telah membutakan mata Dian, segala kebutuhan Setya diluar gaji selalu
dipenuhinya, dari kontrakan yang lumayan gede, hingga biaya untuk kuliah.
Namun, segala fasilitas yang ada telah membuat Setya lupa daratan, kehidupan
malam kota Jakarta yang mulai menyapanya telah membuatnya melupakan kewajibannya
untuk beribadah.
” Sayang, bulan ini aku harus bayar semesteran nich...sedang
uang aku udah abis aku kirim ke rumah untuk biaya adikku yang lagi
sakit ”. rayu Setya pada kekasihnya. " ya udah jangan
murung gitu, nanti aku transfer lagi ”. jawab Dian.
Alangkah terkejutnya Dian saat mendapati Setya yang tengah asik berpesta
hingga mabuk dengan teman-temannya di sebuah cafe. Pertengkaranpun tak
terelakkan hingga terucap kata “putus” dari mulut Dian. "Setya memang
pernah berujar akan membalas rasa sakit hatinya yang selalu dihina oleh
keluarga mantan kekasihnya karena miskin pada perempuan kaya, bulek minta maaf
karena baru cerita sekarang,” kata bulek Sri mencoba mediasi ” tapi sebenarnya
setya anak yang baik kok, dia hanya butuh perhatian dan bimbingan “imbuhnya
dengan wajah memelas. Dian hanya bisa menghela nafas dalam-dalam mendengar
penuturan bulek Sri. Meski kecewa, Dian berjanji akan menyadarkan Setya dan membuatnya
berubah menjadi baik lagi. “ Bulek percaya non pasti bisa membuat Setya sadar
akan perbuatannya “ kata bulek Sri optimis.
Bersama sahabatnya, Dian menemui Ustad Massar Seorang pakar Ruqyah dari
Semarang untuk berkonsultasi terkait permasalahannya. Setelah mendengarkan Dian
bercerita panjang lebar mengenai masalahnya, Beliau memutuskan untuk segera
meruqyah Setya lewat jarak jauh guna menghilangkan aura negative yang
menyelimuti hati dan pikirannya. Alhamdulillah, dua minggu setelah dilakukan
Ruqyah atas diri Setya, sikapnya mulai berubah kearah yang lebih positif. Dia
mulai taat beribadah lagi dan jarang keluar malam dengan teman-temannya.“ Sayang, maafkan aku karena selama ini tidak
jujur kepadamu ” kata Setya sambil menggenggam erat tangan Dian saat candle
light dinner di Edogin. Dalam hati Dian bersyukur karena berkat terapi ruqyah
Ustadz Massar sang kekasih yang ia cintai telah kembali menjadi Setya yang alim
dan baik hati.