Dandanan seperti lelaki tidak
dapat menutupi wajah Nia (bukan nama sebenarnya) yang cantik. Meskipun sebagai
seorang lesbian, Nia tetap menjaga kerapihan diri. Lahir dari keluarga
terpandang, Nia dapat mudah bergaul dengan siapapun. Meskipun begitu, Keputusan
Nia menjadi lesbian bukanlah karena pergaulan bebas semata, lebih dari itu
karena kehidupan keluarga yang broken home.
“Dasar istri tak tahu diuntung,
masa suami kerja dibilang selingkuh,” bentak ayah Nia kepada ibunya.
“Plakkk,” suara tamparan terdengar memprihatinkan.
Kalau sudah
begitu, Nia hanya bisa menangis. Tidak terhidtung beberapa kali ibu Nia yang
seorang perawat harus bersabar dengan perilaku suaminya yang mantan
purnawirawan TNI tersebut.
“Lebih baik mama minta cerai saja, buat apa
memperdulikan lelaki kayak gitu,” pinta Nia.
“Bagaimanapun,
itu bapak kamu, kalau bukan dia, siapa lagi yang membiayai kita?” rintih sang
ibu.
Semenjak itu, Nia mulai membenci sosok sang ayah yang
dianggap kejam. Apalagi pemandangan itu kerap terjadi bahkan semenjak Nia masih
kecil. Oleh karena itu, Nia trauma terhadap semua lelaki. Sebagai
pelampiasannya, Nia banyak bergaul di luar rumah, sampai akhirnya menemukan
ketenangan dengan salah seorang teman perempuannya.
“Ria, kenapa kamu tidak suka lelaki, padahal banyak
yang mau lho sama kamu,” tanya Nia.
“Aku kapok,
dulu aku pernah punya pacar, aku sangat menyayanginya sampai aku serahkan
apapun untuk kebahagiaannya, tetapi, ujung-ujungnya dia meninggalkanku dan
mencampakkanku seperti sampah,” ujar Ria.
Dari berbagai pengalaman yang sama, dan kedekatan yang
terus terjalin, akhirnya benih-benih cinta mulai tumbuh diantara mereka. Lebih
dari itu, mereka juga ikut komunitas lesbian.
Dengan perubahan perilaku yang drastis, keluarga Nia
mulai curiga. Untuk memastikan kalau putrinya baik-baik saja, orangtua Nia
berniat menjodohkannya.
“Ada seorang pemuda yang ingin melamar kamu Nia, ibu
kira orangnya baik, apakah kamu siap? lagian kamu sudah cukup umur, nak,” ujar sang
ibu memohon. Karena merasa terdesak, akhirnya Nia terpaksa mengakui bahwa
dirinya tidak menyukai lelaki.
“Mohon maaf ibu, Nia sudah tidak respek terhadap
lelaki. Sejak keluarga kita tidak harmonis, sekarang Nia sudah punya pacar
namanya Ria,” kata Nia.
Alangkah kagetnya sang ibu mendengar penjelasan
anaknya. Tidak tahu harus berbuat apa, orang tua Nia hampir putus asa. Sampai akhirnya adik ibu Nia memberikan informasi tentang metode penyembuhan rukyah.
“Jeng, coba kamu bawa Nia kepada seorang ustadz ahli
rukyah di Semarang, mungkin saja bisa sembuh,” tuturnya. Dengan susah payah, sang
Ibu membujuk Nia untuk berobat.
Setelah menyampaikan kronologi penyakit, akhirnya Ustadz
Massar memberikan wejangan dan memulai pengobatan.
“Sebelumnya, mohon dek Nia untuk menenangkan diri
dengan membaca istighfar,” pinta sang ustadz. Selanjutnya, Ustadz Massar
membacakan doa-doa yang diikuti oleh Nia. Prosesi diakhiri dengan penjelasan
tentang metode mendekatkan diri kepada Allah swt dan amalan sholeh lainnya.
Setelah pulang dari berobat, Nia mulai merasakan adanya
perubahan. “Bu setelah berobat aku merasa tenang. Aku merasa menyesal jika
teringat dosa dan kesalahanku yang lalu,”ungkap Nia haru.
“Alhamdulilah,”
ucap sang ibu lega. Ia merasa bersyukur anaknya mulai berubah. Untuk mencapai
kemantapan, Nia meneruskan kembali terapi rukyah sampai akhirnya sembuh sama
sekali dari penyakit lesbi (putus denga Ria) dan perilaku kotor lainnya. Sampai
akhirnya Nia menerima calon yang ditawarkan oleh kedua orang tuanya yang ternyata
seorang pengusaha yang saleh dan pernah mengenyam pendidikan di pondok
pesantren.
boleh tau dimana alamat tempat ruqyah tersebut?
BalasHapusmau ikut diruqiah gmn caranya
BalasHapus