Kamis, 02 Mei 2013

Korban Suramnya Perceraian




Jadikanlah shalat dan sabar menjadi penolong bagimu, ayat tersebut menjadi pijakan orang beriman ketika tertimpa musibah dan permasalahan hidup. Adapun bagi orang yang tidak memperdulikan (mempercayai) hari pembalasan, maka mereka mengadu kesulitan kepada sesuatu yang merugikan dan membahayakan diri sendiri.
Adalah Daniel (18), seorang remaja tanggung yang labil dan masih duduk di bangku SMA ternama di ibu kota, dirinya merasa dirundung segudang permasalahan dan merasa seperti distempel luka yang tidak akan kering. “hai Niel, kamu kenapa sih dari kemaren diam aja gak kayak biasanya, lagi ada masalah? ” sapa Toni teman sekelasnya. “Biasa Ton lagi banyak Pikiran” ungkapnya. “Gabung sama yang lain yuk” ajaknya. “Gak ah, lagi males ” timpal Daniel asal.
Bermula dari pertengkaran kedua orang tuanya yang berujung pada perceraian, Daniel selalu diliputi traumatik dan sindrom gelisah kala teringat peristiwa pahit yang menimpa keluarganya. “Ibu harap kamu sabar ya nak” nasihat sang ibu bijak. Secara materi Daniel memang tidak pernah  kekurangan, akan tetapi rasa sakit hati dan kecewa menjadi produk dari broken home telah merenggut perhatian dan kasih sayang orang tuanya.
Sebagai single parent dan juga direktur di perusahaan Garmen, Sarah, ibu Daniel harus bekerja keras untuk menghidupi keluarga, hampir semua waktunya tersita untuk pekerjaan. “Ibu pergi dulu ya nak, ada pekerjaan di Bandung yang harus ibu selesaikan” pamit sang ibu. “Jaga diri baik-baik ” tambahnya sambil berlalu. “Hati-hati ya bu”. senyum sinis Daniel mengantar kepergian sang Ibu yang mulai menghilang bersama mobil Jaguar Small Silvernya.
Dengan kebebasan yang dimiliki, logika dan emosi Daniel seakan -akan tak sinkron lagi, dia lebih suka mencari dunianya sendiri. Baginya hanyalah bagaimana membuat diri bisa merasakan kenyamanan. “ lagi galau nih Bro” kata Daniel kepada Boy sahabatnya saat nongkrong di Citos (Cilandak Town Square). “Gue punya barang bagus nih, loe pake aja dulu” bujuk Boy. “Tapi gue belum biasa bro” kata Daniel. “ Santai bro, anggap aja ini rokok, buruan dicoba sebelum dipake ma yang lain” agak sedikit memaksa Boy menyodorkan barang haram itu kepada Daniel.
Lambat laun akhirnya Daniel terjerumus dunia hitam kehidupan remaja ibu kota dan berkubang dalam narkoba, seks bebas bahkan balap liar. Namun, sepintar-pintarnya tupai melompat pasti terjatuh juga, rupanya ungkapan itulah yang tepat bagi  Daniel.  “Dengan Ibu Sarah?” Sapa Polisi. “Benar, ada apa ya pak?” jawab Sarah heran. “Putra ibu sekarang di Kantor Polisi karena kedapatan mengkonsumsi narkoba bersama teman-temannya” jelas Polisi. Bagai tersambar petir di pagi yang cerah, Sarah sock tubuhnya lunglai mendengar kabar tersebut dan tidak tahu harus berbuat apa.
Dalam keadaan hampir putus asa, Sarah mencoba mengadukan permasalahannya kepada kedua orang tua. “Coba kamu konsultasikan masalahmu ini kepada Ustadz Massar yang ada di Tabloid Kisah Hikmah, Beliau seorang ahli ruqyah asal Semarang” saran orang tua Sarah. “Mungkin anak kamu itu perlu diruqyah agar jiwanya tenang dan bisa menjadi lebih baik” tambahnya.
 Dihadapan sang Ustadz, Sarah mencoba mengutarakan semua permasalahan yang sedang melandanya. Beberapa saat kemudian, ruqyah diri untuk Danielpun dilakukan melalui foto yang dibawa Sarah. Setelah beberapa kali melakukan terapi, atas izin Allah akhirnya Daniel berhenti dari kecanduan dan mulai menampakkan perubahan sifat. Dengan bekal nasihat dan tuntunan agama dari ustadz Massar, Daniel bertaubat dari perbuatan-perbuatan maksiat dan mendapat buah pelajaran hidup yang sangat berharga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar