Jadikanlah shalat dan
sabar menjadi penolong bagimu, ayat tersebut menjadi pijakan orang beriman
ketika tertimpa musibah dan permasalahan hidup. Adapun bagi orang yang tidak
memperdulikan (mempercayai) hari pembalasan, maka mereka mengadu kesulitan
kepada sesuatu yang merugikan dan membahayakan diri sendiri.
Adalah Daniel (18),
seorang remaja tanggung yang labil dan masih duduk di bangku SMA ternama di ibu
kota, dirinya
merasa dirundung segudang permasalahan dan merasa seperti distempel luka yang
tidak akan kering. “hai Niel, kamu kenapa sih dari kemaren diam aja gak kayak biasanya,
lagi ada masalah? ” sapa Toni teman sekelasnya. “Biasa Ton lagi banyak Pikiran” ungkapnya.
“Gabung sama yang lain yuk” ajaknya. “Gak ah, lagi males ” timpal Daniel asal.
Bermula dari pertengkaran kedua
orang tuanya yang berujung pada perceraian, Daniel selalu diliputi traumatik
dan sindrom gelisah kala teringat peristiwa pahit yang menimpa keluarganya. “Ibu harap kamu sabar ya
nak” nasihat sang ibu bijak. Secara materi Daniel memang tidak pernah kekurangan, akan tetapi rasa sakit
hati dan kecewa menjadi produk dari broken
home telah merenggut perhatian dan kasih sayang orang tuanya.
Sebagai single parent dan
juga direktur di perusahaan Garmen, Sarah, ibu Daniel harus bekerja keras untuk menghidupi
keluarga, hampir semua waktunya tersita untuk pekerjaan. “Ibu pergi dulu ya nak,
ada pekerjaan di Bandung yang harus ibu selesaikan” pamit sang ibu. “Jaga diri
baik-baik ” tambahnya sambil berlalu. “Hati-hati ya bu”. senyum sinis Daniel mengantar kepergian
sang Ibu yang mulai menghilang bersama mobil Jaguar Small
Silvernya.
Dengan kebebasan yang
dimiliki, logika dan emosi Daniel seakan -akan tak sinkron lagi, dia lebih suka
mencari dunianya sendiri. Baginya hanyalah bagaimana membuat diri bisa merasakan kenyamanan. “ lagi galau nih Bro” kata Daniel kepada Boy
sahabatnya saat
nongkrong di Citos (Cilandak Town Square). “Gue punya barang bagus nih,
loe pake aja dulu” bujuk Boy. “Tapi gue belum biasa bro” kata Daniel. “ Santai bro, anggap
aja ini rokok, buruan dicoba sebelum dipake ma yang lain” agak sedikit memaksa
Boy menyodorkan barang haram itu kepada Daniel.
Lambat laun akhirnya Daniel terjerumus dunia hitam
kehidupan remaja ibu kota dan berkubang dalam narkoba, seks bebas bahkan balap
liar. Namun, sepintar-pintarnya
tupai melompat pasti terjatuh juga, rupanya ungkapan itulah yang tepat bagi Daniel.
“Dengan Ibu Sarah?” Sapa Polisi. “Benar, ada apa ya pak?” jawab Sarah
heran. “Putra ibu sekarang di Kantor Polisi karena kedapatan mengkonsumsi
narkoba bersama teman-temannya” jelas Polisi. Bagai tersambar petir di pagi yang cerah,
Sarah sock tubuhnya lunglai mendengar kabar tersebut dan tidak tahu harus
berbuat apa.
Dalam keadaan hampir putus
asa, Sarah mencoba mengadukan permasalahannya kepada kedua orang tua. “Coba
kamu konsultasikan masalahmu ini kepada Ustadz Massar yang ada di
Tabloid Kisah Hikmah, Beliau seorang ahli ruqyah asal Semarang” saran orang tua Sarah. “Mungkin anak kamu itu
perlu diruqyah agar jiwanya tenang dan bisa menjadi lebih baik” tambahnya.
Dihadapan sang Ustadz, Sarah mencoba
mengutarakan semua permasalahan yang sedang melandanya. Beberapa saat kemudian,
ruqyah diri untuk Danielpun dilakukan melalui foto yang dibawa Sarah. Setelah beberapa kali
melakukan terapi, atas izin Allah akhirnya Daniel berhenti dari kecanduan dan
mulai menampakkan perubahan sifat. Dengan bekal nasihat dan tuntunan agama dari
ustadz Massar, Daniel bertaubat dari perbuatan-perbuatan maksiat dan mendapat buah pelajaran hidup yang sangat
berharga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar