Selasa, 04 Maret 2014

Jodoh Sulit Karena Mitos




Karena nekat melanggar mitos, akhirnya Fitri mendapatkan balak. Dia dan calon suaminya mengalami kecelakaan. Dia selamat sementara Herman tunangannya meninggal. Setelah kejadian itu, dia sulit jodoh tetapi berkat ruqyah, semua masalah jodoh bisa teratasi. Berikut kisahnya.
Awal kisah ini adalah karena kenekatanku dengan mas Herman calon suamiku yang berasal dari Karang Anyar, melintasi gunung Pegat di Wonogiri. Padahal sebelumnya sudah banyak yang berpesan agar kami tidak melintasinya, Sebelum usia perkawinan kami menginjak 40 hari. Katanya makhluk gaib yang berada di gunung yang terkenal angker tersebut, tidak menyukai kalau melihat pasangan yang baru saja menikah atau sedang terlibat asmara melintas didaerah kekuasaannya. Kalau hal itu sampai dilanggar maka hampir bisa dipastikan pasangan tersebut akan mengalami masalah besar atau pertengkaran yang berujung pada perceraian dalam istilah jawa pegatan.
” Kau jangan sok menantang mitos,dan tidak percaya fit! Bisa-bisa kamu atau herman  celaka lho nduk,” ujar  kakek Murjoko padaku saat kami berkunjung guna meminta doa restu akan pernikahan kami  yang tinggal beberapa hari saja. Aku memang kurang sependapat dengan mitos yang tidak masuk akal ini.
“ Masak hanya melintasi gunung saja  bisa membuat, putus jodoh,” gumamku dalam hati.
Termakan Mitos
Namun, tak demikian dengan mas Herman yang mulai termakan dan percaya dengan perkataan kakek beberapa hari yang lalu mengenai larangannya melewati gunung Pegat. Hal itu mulai terlihat beberapa hari setelah melewati gunung pegat, sikap mas Herman mulai berubah dan gampang marah karena cemburu apa lagi saat melihat adanya sms nyasar di hpku dari seseorang yang iseng. Sore itu mas Herman melarikan sepeda motornya kencang sekali seperti dikejar setan saat menjemputku pulang kerja. Sejenak aku ketakutan dan jadi teringat kata-kata kakek, “ Jangan-jangan ini ada kaitannya dengan mitos gunung pegat “ gumamku lirih sambil berpengangan erat dipinggan Mas Herman karena takut. Hingga aku merasa mas Herman mulai kehilangan kontrol. Ia terlalu miring dalam menikung, padahal ada sedikit pasir di tikungan itu. Akibatnya fatal motor yang kami kendarai jatuh terpelanting. Aku dan mas Herman terlempar tak jauh dari motor, masih dengan menahan sakit aku, ku coba bangun dan mencari keberadaan mas Herman yang juga terkapar tak jauh dariku. Namun Allah berkehendak lain kepala mas Herman membentur pembantas jalan hingga membuatnya tak sadarkan diri karena luka di kepala. Sebelum sampai dirumah sakit mas Herman meninggal dalam dekapanku.
Di Ruqyah
Sejak peristiwa itu semua keluarga selalu menyalahkanku karena tak mau mendengar omongan orang tua. Semua seakan menyumpah serapahi aku sebagai anak yang tidak manut dan miturut perkataan orang tua. Bahkan yang lebih menyedihkan sebagian orang menganggapku sebagai anak yang terkena sengkolo dan selalu apes atau bernasib sial. Perkataan mereka ada buktinya juga karena sejak itu aku selalu gagal dalam setiap menjalin kasih dengan pria. Hingga membuatku trauma dan mengalami kepedihan yang mendalam. Untuk menghilangkan kepedihanku aku berkunjung ke rumah teman kuliahku di jogya, yang ternyata telah berumah tangga dan dikaruniai 2 orang putra. Dian menikah dengan mas Tanto kakak kelas kami semasa di bangku kuliah. Dari Dian pulalah aku mendapat saran agar melakukan ruqyah pada seorang ustad muda ternama di Semarang seperti hal dirinya kala itu ketika belum juga bertemu jodoh diusianya yang sudah waktunya untuk menikah. Hal itu kusampaikan pada ayah dan ibu dan Alhamdulillah mereka setuju serta bersedia mengantarku menemui ustadz Massar. Setelah sampai disana aku kemudian diruqyah dan diberi wejangan-wejangan agar tak begitu saja mengabaikan ucapan orang yang lebih tua. Selain itu aku juga diberinya beberapa do’a yang harus senantiasa aku baca disaat selesai sholat.  Puji Syukur dan Alhamdulillah, Allah Swt mengabulkan do’aku. Selang tiga bulan aku akhirnya menemukan jodohku dia seorang PNS asal surakarta terima kasih ya Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar