Karena nekat melanggar mitos, akhirnya Fitri mendapatkan balak. Dia dan
calon suaminya mengalami kecelakaan. Dia selamat sementara Herman tunangannya
meninggal. Setelah kejadian itu, dia sulit jodoh tetapi berkat ruqyah, semua
masalah jodoh bisa teratasi. Berikut kisahnya.
Awal kisah ini adalah karena
kenekatanku dengan mas Herman calon suamiku yang berasal dari Karang Anyar, melintasi
gunung Pegat di Wonogiri. Padahal sebelumnya sudah banyak yang berpesan agar
kami tidak melintasinya, Sebelum usia perkawinan kami menginjak 40 hari.
Katanya makhluk gaib yang berada di gunung yang terkenal angker tersebut, tidak
menyukai kalau melihat pasangan yang baru saja menikah atau sedang terlibat
asmara melintas didaerah kekuasaannya. Kalau hal itu sampai dilanggar maka hampir
bisa dipastikan pasangan tersebut akan mengalami masalah besar atau
pertengkaran yang berujung pada perceraian dalam istilah jawa pegatan.
” Kau jangan sok menantang mitos,dan
tidak percaya fit! Bisa-bisa kamu atau herman celaka lho nduk,” ujar kakek Murjoko padaku saat kami berkunjung
guna meminta doa restu akan pernikahan kami
yang tinggal beberapa hari saja. Aku memang kurang sependapat dengan
mitos yang tidak masuk akal ini.
“ Masak hanya melintasi gunung
saja bisa membuat, putus jodoh,” gumamku
dalam hati.
Termakan Mitos
Namun, tak demikian dengan mas Herman
yang mulai termakan dan percaya dengan perkataan kakek beberapa hari yang lalu
mengenai larangannya melewati gunung Pegat. Hal itu mulai terlihat beberapa
hari setelah melewati gunung pegat, sikap mas Herman mulai berubah dan gampang
marah karena cemburu apa lagi saat melihat adanya sms nyasar di hpku dari
seseorang yang iseng. Sore itu mas Herman melarikan sepeda motornya kencang
sekali seperti dikejar setan saat menjemputku pulang kerja. Sejenak aku
ketakutan dan jadi teringat kata-kata kakek, “ Jangan-jangan ini ada kaitannya
dengan mitos gunung pegat “ gumamku lirih sambil berpengangan erat dipinggan
Mas Herman karena takut. Hingga aku merasa mas Herman mulai kehilangan kontrol.
Ia terlalu miring dalam menikung, padahal ada sedikit pasir di tikungan itu.
Akibatnya fatal motor yang kami kendarai jatuh terpelanting. Aku dan mas Herman
terlempar tak jauh dari motor, masih dengan menahan sakit aku, ku coba bangun
dan mencari keberadaan mas Herman yang juga terkapar tak jauh dariku. Namun
Allah berkehendak lain kepala mas Herman membentur pembantas jalan hingga
membuatnya tak sadarkan diri karena luka di kepala. Sebelum sampai dirumah
sakit mas Herman meninggal dalam dekapanku.
Di Ruqyah
Sejak peristiwa itu semua
keluarga selalu menyalahkanku karena tak mau mendengar omongan orang tua. Semua
seakan menyumpah serapahi aku sebagai anak yang tidak manut dan miturut
perkataan orang tua. Bahkan yang lebih menyedihkan sebagian orang menganggapku
sebagai anak yang terkena sengkolo dan selalu apes atau bernasib sial.
Perkataan mereka ada buktinya juga karena sejak itu aku selalu gagal dalam
setiap menjalin kasih dengan pria. Hingga membuatku trauma dan mengalami
kepedihan yang mendalam. Untuk menghilangkan kepedihanku aku berkunjung ke
rumah teman kuliahku di jogya, yang ternyata telah berumah tangga dan dikaruniai
2 orang putra. Dian menikah dengan mas Tanto kakak kelas kami semasa di bangku
kuliah. Dari Dian pulalah aku mendapat saran agar melakukan ruqyah pada seorang ustad muda ternama
di Semarang seperti hal dirinya kala itu ketika belum juga bertemu jodoh
diusianya yang sudah waktunya untuk menikah. Hal itu kusampaikan pada ayah dan
ibu dan Alhamdulillah mereka setuju serta bersedia mengantarku menemui ustadz
Massar. Setelah sampai disana aku kemudian diruqyah dan diberi
wejangan-wejangan agar tak begitu saja mengabaikan ucapan orang yang lebih tua.
Selain itu aku juga diberinya beberapa do’a yang harus senantiasa aku baca
disaat selesai sholat. Puji Syukur dan
Alhamdulillah, Allah Swt mengabulkan do’aku. Selang tiga bulan aku akhirnya
menemukan jodohku dia seorang PNS asal surakarta terima kasih ya Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar