Benda pusaka, jimat
atau yang lainnya bisa membuat celaka pemiliknya. Seperti dialami Retno
Jumilah. Karena berbagai benda berbahu klenik di zaman kerajaan Kediri,
Keluarganya sering sakit-sakitan. Setelah diruqyah, dan semua benda benda pusaka
tersebut dimusnahkah, keluarganya terbebas dari musibah yang sering menghampiri
keluarganya.
Tidak begitu gampang bagi santri fachri untuk menerima amanah
menjadi seorang pengusada dengan jalan ilmu agama. Selama ini dia nyantri di
lamongan, kyai yang menjadi pengasuh Pesantren tersebut memberinya amanah. “
Anak mas fachri berkah izin Allah Swt, aku amanahkan kepadamu untuk menolong
keluarga Retno Jumilah, yang saat ini sedang mengalami musibah besar dan
sempurnakan ilmu-ilmu ke Ustadz Massar di Semarang ”.
Keyakinan Fachri makin menebal. Ia tak ragu untuk menolong
keluarga Retno jumilah. Santriwati kaya yang berasal dari madiun yang dalam
kesehariannya masih mengagungkan trah Sri Noto Aji Jayabaya dari dinasti
kediri.
Peninggalan Jayabaya
Pantaslah jika keluarga Retno Jumilah percaya sebagai
generasi keturunan feodal sri jayabaya dari kediri. Mereka menerima banyak warisan pusaka peninggalan dari
nenek moyangnya, akan tetapi tidak tahu manfaat dan kegunaannya. Akibatnya
banyak dampak negatif yang menimpa keluarganya akibat warisan klenik tersebut.
Di kota Madiun sana, ayah-ibunya sakit dan kakak serta iparnya hidup tragis
berantakan.
Perjalan menuju Madiun dilalui Fachri dan Retno Jumilah seperti
memburu kecepatan angin. Keduanya sampai distasiun Madiun dan segera menuju
rumahnya dikota lama. Disanalah Fachri melihat rumah keluarga kejawen itu cukuplah
besar dan mewah, dengan kebun pekarangan yang luas. Namun tampak angker,
misterius dan senyap karena penuh barang-barang kuno dan antik yang mempunyai
kekuatan gaib.
Nalurinya sebagai pengusada menberinya isyarat bahwa Rumah besar ini salah kelola serta
dipenuh energi spiritualis yang salah arah. Banyaknya bermacam-macam benda
pusaka yang tidak terawat semakin
membuat rumah tampak menyeramkan dilihat orang hampir mirip Rumah yang sudah
lama tidak ditempati dan tak terawat.
Selama tiga hari ia meneliti, memeriksa kamar-kamar serta
Membongkar dan membersihkan almari yang didalamnya tersimpan benda
pusaka-pusaka. Belum lagi yang tertaman di Kebun dan halaman. Santri fachri
berhasil menemukan benda-benda klenik yang bersemayam disekitar rumah itu. Diantaranya 76 keris, 33 azimat, 27 tombak
dan masih banyak lainnya yang tak dimengerti apa namanya. Selanjutnya siang
malam lantuman ayat-ayat suci Al Quran senantiasa digemakan dirumah tersebut.
Harus Diruqyah.
Dengan dibantu beberapa santri yang menyertainya, Fachri melakukan
ruqyah tempat dan untuk seluruh keluarga Retno Jumilah hingga tengah malam.
Setelah upaya secara religi yaitu ruqyah yang dilakukannya,
fachri meminta agar semua benda-benda warisan tersebut diserahkan kepada pemerintah
untuk dimusiumkan.
Rumah kemudian ditata ulang dengan desain yang lebih islami
jauh dari unsur klenik. Agar penataan sempurna Jumilah meminta bantuan ahli
interior untuk menata seluruh ruangan didalam rumah. Dinding dan ruangan
dihiasi ayat-ayat kitab suci berupa kaligrafi kini kondisi rumah telah berganti
ditambah suasana religius asmaul husna dan kalimat thoyibah senantiasa digemakan
setiap hari. Tidak ada tempat lagi bagi takhayul apalagi gugon tuhon.
“ Bagaimana keadaanmu serta romo dan bundamu adik retno? “
tanya fachri.
“ Benar mas, aku bagaikan terbebas dari berjuta beban berat.
Pikiranku sekarang terasa ringan, perasaanku tenang rasanya aku bagaikan
dilahirkan”.
“ Terimakasih mas, karena berkat rukyah yang mas fachri
lakukan keluargaku sekarang terbebas dari pengaruh kekuatan gaib dan bisa hidup tenang “ ucap Retno Jumilah.
“ Sama-sama dik, yang terpenting semuanya selamat. Saya hanya
perantara saja semua kesembuhan datangnya dari Allah Swt semata, Bersyukur dan
berterimakishlah kepada-NYA “ Jawab Fachri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar