Meski ia mantan purel
di salah satu diskotek ternama di Surabaya, tetapi Umi Nastiti telah menemukan
jalan pencerahan hidup. Ia juga berhasil menginsafkan suaminya yang ternyata
adalah seorang penganut ajaran sesat. Berikut penuturannya kepada kisah hikmah.
Bagi orang kebanyakan, menikah dengan
seorang alim memang menjadi impian kebahagiaan, demikian juga dengan diriku.
Aku sudah bosan dengan kehidupan malam yang selama ini aku jalani, untuk itulah
akhirnya kuputuskan untuk melabuhkan diriku dipelukan mas Rahman. Harapanku
hanya satu, kembali hidup sebagai perempuan baik-baik dan membangun kehidupan
rumah tangga yang sakinah mawadah dan warohmah.
Perkenalanku dengan mas Rahman boleh dibilang tidak sengaja.
Ketika itu mas Rahman bersama grup dangdutnya tampil di night club tempatku
bekerja sebagai purel. Secara sepintas aku bisa melihat kalau mas Rahman bukan
laki-laki yang terbiasa dengan kehidupan malam. Meski usianya boleh dibilang
tidak muda lagi tetapi masih kelihatan menarik dengan penampilan yang rapi dan
dewasa. Akupun tak mengerti apa yang menyebabkan diriku simpatik dan tertarik
kepadanya, padahal saat itu banyak pria di sekelilingku yang ingin mengenalku
lebih jauh dan menyatakan cinta kepadaku.
Ajaran Sesat
Dua tahun kemudian hubungan kami
berakhir di pelaminan. Setelah menjadi Istrinya, aku baru tahu bahwa mas Rahman
bukanlah pria kebanyakan. Selain mempunyai dua istri selain diriku, Ia juga mempunyai
sebuah pondok pesantren peninggalan orang tuanya yang kini dipimpinnya. “ Umi sebagai
istriku, kamu harus tahu semuanya tentang diriku, “ kata mas Rahman pada suatu
sore di hari kedua aku menjadi istrinya.
Sebagai muslim dan pemimpin sebuah pondok pesantren, aku tak
pernah melihat mas Rahman melakukan sholat berjamaah bersamaku ataupun di masjid yang letaknya tak
jauh dari tempat tinggal kami. Akhirnya rasa penasaranku terjawab saat mas
Rahman mengajakku mengunjungi pondok pesantrennya yang dia sebut sebagai
padepokan. Sungguh sebuah tempat yang aneh, Jika ini disebut pondok pesantren,
disana banyak sekali ku temukan hal-hal aneh dan berbahu klenik serta puluhan patung, pusaka berupa keris,pedang,tombak
terdapat disuatu kamar khusus. Kebetulan hari itu adalah malam Jum’at, mas Rahman
beserta para santri terlihat sibuk mempersiapkan sebuah upacara yang tak kumengerti tujuannya. Selanjutnya
menjelang tengah malam mas Rahman mandi dengan berendam pada kolam yang berada
di tengah pondok yang telah dipersiapkan sebelumnya. Rupanya kegiatan tersebut
rutin dilakukan mas Rahman pada setiap malam jum’at legi dan dia mengakui
dirinya sebagai seorang Maulaya.
Lama-kelamaan aku baru sadar ternyata
laki-laki yang kunikahi adalah seorang penganut ajaran sesat yang menyimpang
dari kaidah agama islam yang kuanut. Sebagai istri aku mencoba mengingatkan,namun
justru makian dan tamparan yang kuterima. Itu pula yang menjadi sebab kedua istrinya
yang lain akhirnya memilih pulang kerumah orang tuanya masing-masing, selain
karena tak mau mengikuti ajarannya mereka juga tak kuat dengan perilaku mas
Rahman yang kasar.
Selalu mengigau
Suatu ketika Mas Rahman jatuh sakit
dan tergolek lemah ditempat tidur. Hanya aku bersama santri setianya yang
selalu menemaninya. Setiap malam dia selalu berteriak-teriak seperti orang ketakutan.
“ Umi aku takut, tolong tutup pintunya jangan biarkan mereka masuk “ teriaknya.
Mas Rahman merasa selalu diikuti ribuan makhluk gaib.
Sebagai istri aku prihatin dengan kondisinya, untuk itu aku
berusaha mencari obat untuk kesembuhan suamiku. Melalui berbagai informasi yang
kudapat dari keluarga, akhirnya aku mencoba mengajak mas Rahman untuk berobat
ke seorang kyai muda asal Semarang yang ahli dalam hal meruqyah. Melalui terapi
jiwa dan ruqyah di tempat Ustadz Massar selama kurang lebih satu bulan, Alhamdulillah
kini suamiku telah sadar dan mau mengakui kekeliruannya, dia berjanji tidak
akan menganut aliran sesat lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar