Apakah anda belum merasa menjadi orang sukses? Ataukah justru
kesuksesan yang anda dapatkan tidak membuat anda bahagia? Simak kisah berikut.
Semoga menjadi inspirasi dan pencerahan bagi anda dalam memaknai kata “ sukses
“
” Apa yang orang rasakan ketika
sudah berada di puncak kesuksesan, memiliki jabatan tinggi, berkelimpahan
materi dan popularitas yang membanggakan, Ustad? ” tanya Candra seorang
pengusaha muslim dari Jakarta, saat bertemu ustadz Massar di Semarang. Candra
adalah pimpinan perusahaan bonafid di Jakarta yang kaya raya. Rumah, mobil,
istri cantik dan berbagai aset bernilai milyaran ia miliki. Namun Ia merasa hidupnya
hampa karena sudah 4 tahun usia pernikahannya belum juga dikaruniai keturunan. Untuk
itu Ia bersama istrinya menyempatkan diri berkonsultasi kepada Ustadz massar di Semarang. “ Bagi orang yang
rakus, tamak dan hedonis, semua hal
tersebut memang masih kurang. Ia akan berusaha bagaimana agar jabatan naik
lebih tinggi lagi, lalu dengan berbagai cara ditempuhnya agar jabatan tersebut
langgeng hingga tak satupun orang berani
mengusiknya atau melengserkannya. Ironisnya Ia juga akan berusaha
bagaimana melestarikan harta kekayaan yang dimilikinya agar takkan habis sampai
anak cucunya kelak “. jelas ustadz massar.
“ lalu adakah di zaman sekarang
ini orang yang kebalikan dari itu, ustad? Tanya candra kembali.
“ ada, meski bisa dihitung dengan
jari, “ jawab ustadz massar.
Setelah menghela napas sebentar,
ustad Massar melanjutkan, “ orang yang
berada di puncak kesuksesan bagaikan berada di puncak gunung yang tinggi yang
di kanan kirinya terdapat jurang dalam yang siap menghempasnya. Seharusnya ia
menyadari bahwa sewaktu-waktu dirinya harus turun kebawah. Tidak menengadah
keatas terus dan ingin memeluk langit yang berlapis-lapis tanpa batas, tepi dan
ujung”.
“ wah saya jadi bingung ustadz ”
“ Pak Candra, orang miskin akan lebih
merasa bingung karena tidak punya uang untuk membeli sesuatu. Sedangkan orang
kaya kebingungan kemana akan membelanjakan uangnya, “ kelakar ustadz Massar.
“ ustadz ini ada-ada saja, “
sergah candra terkekeh-kekeh
“ begini pak Candra, ukuran
bahagia itu relatif. Bahagia hanya milik orang yang bersyukur. Saat ini Anda
merasakan bahwa apa yang telah anda miliki ternyata tidak dapat membuat Anda
bahagia ”.
“ itu karena saya Allah Swt belum
memberi kami keturunan ustadz ” tukas Candra.
“ apakah Anda yakin, setelah memiliki anak akan bahagia? Betapa banyak orang tua justru
tidak bisa menjaga amanah mereka. Banyak sekali anak yang disia-siakan, tidak
diperhatikan pendidikannya, akhlaknya maupun agamanya, kelak justru si anak ini
yang akan menyeret orang tua mereka ke neraka ”.
“ Banyak orang mengira bahwa apa
yang belum didapatnya itu yang akan menjadikannya bahagia. Padahal, bisa saja
apa yang diinginkan itulah sebetulnya adalah jalan kesengsaraan,” tegas ustadz
Massar.
“ lalu bagaimana seharusnya
ustadz? ”
“ kebahagiaan dan kesuksesan
tidak dapat diukur dengan berapa banyak yang sudah atau belum didapat. Jika
hati tidak bahagia, maka belum dikatakan sukses. Maka bersyukurlah kepada Allah
Swt dengan memperbanyak ibadah dan berbagi kepada sesama yang membutuhkan atas
kelebihan nikmat serta rezeki yang telah diperoleh. Jika dengan melihat orang
disekitar ikut bahagia, maka Anda adalah orang sukses. Semakin bayak didapat
semakin banyak berbagi, bukan menumpuknya untuk diri sendiri ”.
“ intinya apa ustadz?”
“ senantiasa berusaha agar hari ini
lebih baik dari hari kemarin dan esok lebih baik dari hari ini “
Di akhir pembicaraan, Ustadz
massarpun mulai melakukan terapi rukyah atas diri Candra maupun istrinya agar Allah
Swt segera memberi keturunan yang shaleh dan sholekah yang dapat meneruskan
garis keturunannya.
Tak terasa dua tahun telah
berlalu dan siang itu Candra beserta istrinya berniat mengunjungi ustadz Massar
untuk sekedar silaturrohmi. Hal lain yang tampak beda karena sekarang mereka
datang bukan hanya berdua namun di temani oleh gadis kecil nan lucu yang ada
dalam dekapan Candra.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar