Sebagai biduan tenar ratih lupa diri. Dia terjebak kemewahan, hingga
meninggalkan tanto suaminya yang setia dan juga anak semata wayangnya. Dirinya
tersadar dan bertobat saat hendak dijual pada pria hidung belang yang mengaku
bos rekaman besar. berikut penuturannya kepada Kisah Hikmah.
Sejak menjejakkan kaki di
Jakarta, aku seperti telah lupa akan kampung halamanku yang kering dan tandus
itu. Melalui perantara tante Via ibu teman sekelasku saat sma aku meninggalkan
tanah kelahiranku kulonprogo untuk mengadu nasib di kota metropolitan. Walaupun berbekal ijazah pas-pasan, namun aku
optimis karena mempunyai kepandaian yang tak dimiliki semua orang. Sejak kecil
aku sudah mempunyai kemampuan bernyanyi hingga menjelang remaja aku sudah
menjadi penyanyi lokal yang punya nama. Aku memilih jalur dangdut karena,
karena musik ini paling banyak digemari masyarakat kelas bawah.
Dengan kemampuanku bernyanyi dan
bergoyang yang sedikit meniru gaya inul daratista, aku menjadi penyanyi idola
didaerahku. Tawaran job mengalir bak air bah hingga aku kesulitan menolak.
Ketenaranku membawa tante via mempertemukan aku dengan penyanyi remaja lainnya
hingga membentuk grup baru dengan jumlah tiga orang. Trio sexsy begitu nama
yang diberikan tante Via hingga makin melambungkan diriku setinggi langit.
“ Makin sibuk ya ma, kok papa lihat
mama jarang sholat,” tegur tanto suamiku suatu ketika. Dia menyadarkan aku
bahwa sejak sibuk dengan job menyanyi, aku jadi malas beribadah. Karena capek
aku tak berusaha menjawab teguran suamiku dan langsung masuk kamar untuk tidur karena
semalam baru saja dapat job menyanyi dari orang yang punya hajad.
Gemerlap
metropolitan
Ingatan itu sering menghantuiku
saat aku melamun. Kini aku di jakarta bersama dua rekanku dibawa tante via. Sudah
Sebulan aku meninggalkan mas tanto dan fikri anakku. Hal itu aku lakukan karena
mereka tak mau aku ajak ke jakarta. Kamipun akhirnya berpisah secara baik-baik
walaupun harus melalui tentangan keras dari pihak keluarga dan fikripun lebih
memilih ikut ayahnya.
Ternyata janji tante via
mempertemukan aku dengan bos studio rekaman yang ternama di Jakarta hanya
janji-janji belaka. Setiap malam kami hanya mendapat job menyanyi dibeberapa
pub dan night club. Dua temanku yang semula tak mengenal dunia malam akhirnya terjebak
dengan pekerjaan nista menemani tamu-tamu beruang usai menyanyi.
Tante via sering memaksaku agar
mau melayani om burhan yang katanya bos rekaman besar tersebut, namun aku selalu
menolak dengan alasan ingin menyelesaikan proses perceraianku dulu. “ ayolah
rita jangan buang kesempatan. Om burhan yang kukenalkan kemarin adalah bos
rekaman besar yang akan menanggung semua hidupmu bila kau mau menemaninya ”
rayu tante via.
Tiga bulan ternyata urusan
perceraian belum juga kelar. Tante via terlihat marah-marah dan memaksaku untuk menemani om burhan. Dua
pengawalnya akhirnya berhasil membawaku dengan paksa ke sebuah villa dipuncak.
Di dalam mobil aku dibius oleh anak buah
om burhan dan setelah sadar sudah tergeletak di sebuah kamar villa mewah milik
om burhan.
Terlambat
bertobat
“ Ya Allah, ternyata tante via
sengaja mengumpankan diriku kepada laki-laki tua tersebut “ gumanku dalam
hati. Demi keselamatanku aku pura-pura
menuruti kemauannya walau sebenarnya diriku muak melihat kelakuan om burhan
yang senang mempermainkan wanita-wanita muda.
Esoknya aku nekat meninggalkan Jakarta
dan kembali kekampung. Ayah yang masih marah kepadaku tega mengusirku walaupun
dihalangi oleh tangis ibu. Akhirnya aku terpaksa tinggal dirumah kakakku dan Ia
berjanji akan mempertemukan aku dengan mas tanto. Namun terlambat karena
keluarga tanto telah selesai mengurus surat perceraian.
Melihat aku yang hancur dan putus
asa karena kejadian tersebut, kakaku mengajakku menemui seorang ustad ahli
ruqyah di Semarang. Setelah bertemu dengan ustadz Massar, diriku lalu diterapi
dengan terapi ruqyah melalui doa-doa yang ada dalam kitab suci Al Qur’an. Aku
sadar semua itu kesalahanku nasi sudah menjadi bubur tetapi aku masih punya
harapan lain untuk melanjutkan hidupku. Setelah diruqyah hati dan jiwaku jadi
tenang dan bisa menerima takdir yang berlaku padaku. Kini dengan sisa uang yang
aku miliki aku membuka toko sembako di depan rumah yang aku beli dari tabungaku
selama menyanyi dulu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar