Rabu, 02 April 2014

Demi ketenaran tinggalkan keluarga




Sebagai biduan tenar ratih lupa diri. Dia terjebak kemewahan, hingga meninggalkan tanto suaminya yang setia dan juga anak semata wayangnya. Dirinya tersadar dan bertobat saat hendak dijual pada pria hidung belang yang mengaku bos rekaman besar. berikut penuturannya kepada Kisah Hikmah.
Sejak menjejakkan kaki di Jakarta, aku seperti telah lupa akan kampung halamanku yang kering dan tandus itu. Melalui perantara tante Via ibu teman sekelasku saat sma aku meninggalkan tanah kelahiranku kulonprogo untuk mengadu nasib di kota metropolitan.  Walaupun berbekal ijazah pas-pasan, namun aku optimis karena mempunyai kepandaian yang tak dimiliki semua orang. Sejak kecil aku sudah mempunyai kemampuan bernyanyi hingga menjelang remaja aku sudah menjadi penyanyi lokal yang punya nama. Aku memilih jalur dangdut karena, karena musik ini paling banyak digemari masyarakat kelas bawah.
Dengan kemampuanku bernyanyi dan bergoyang yang sedikit meniru gaya inul daratista, aku menjadi penyanyi idola didaerahku. Tawaran job mengalir bak air bah hingga aku kesulitan menolak. Ketenaranku membawa tante via mempertemukan aku dengan penyanyi remaja lainnya hingga membentuk grup baru dengan jumlah tiga orang. Trio sexsy begitu nama yang diberikan tante Via hingga makin melambungkan diriku setinggi langit.
“ Makin sibuk ya ma, kok papa lihat mama jarang sholat,” tegur tanto suamiku suatu ketika. Dia menyadarkan aku bahwa sejak sibuk dengan job menyanyi, aku jadi malas beribadah. Karena capek aku tak berusaha menjawab teguran suamiku dan langsung masuk kamar untuk tidur karena semalam baru saja dapat job menyanyi dari orang yang punya hajad.
Gemerlap metropolitan
Ingatan itu sering menghantuiku saat aku melamun. Kini aku di jakarta bersama dua rekanku dibawa tante via. Sudah Sebulan aku meninggalkan mas tanto dan fikri anakku. Hal itu aku lakukan karena mereka tak mau aku ajak ke jakarta. Kamipun akhirnya berpisah secara baik-baik walaupun harus melalui tentangan keras dari pihak keluarga dan fikripun lebih memilih ikut ayahnya.
Ternyata janji tante via mempertemukan aku dengan bos studio rekaman yang ternama di Jakarta hanya janji-janji belaka. Setiap malam kami hanya mendapat job menyanyi dibeberapa pub dan night club. Dua temanku yang semula tak mengenal dunia malam akhirnya terjebak dengan pekerjaan nista menemani tamu-tamu beruang usai menyanyi.
Tante via sering memaksaku agar mau melayani om burhan yang katanya bos rekaman besar tersebut, namun aku selalu menolak dengan alasan ingin menyelesaikan proses perceraianku dulu. “ ayolah rita jangan buang kesempatan. Om burhan yang kukenalkan kemarin adalah bos rekaman besar yang akan menanggung semua hidupmu bila kau mau menemaninya ” rayu tante via.
Tiga bulan ternyata urusan perceraian belum juga kelar. Tante via terlihat marah-marah dan  memaksaku untuk menemani om burhan. Dua pengawalnya akhirnya berhasil membawaku dengan paksa ke sebuah villa dipuncak. Di dalam mobil  aku dibius oleh anak buah om burhan dan setelah sadar sudah tergeletak di sebuah kamar villa mewah milik om burhan.
Terlambat bertobat
“ Ya Allah, ternyata tante via sengaja mengumpankan diriku kepada laki-laki tua tersebut “ gumanku dalam hati.  Demi keselamatanku aku pura-pura menuruti kemauannya walau sebenarnya diriku muak melihat kelakuan om burhan yang senang mempermainkan wanita-wanita muda.
Esoknya aku nekat meninggalkan Jakarta dan kembali kekampung. Ayah yang masih marah kepadaku tega mengusirku walaupun dihalangi oleh tangis ibu. Akhirnya aku terpaksa tinggal dirumah kakakku dan Ia berjanji akan mempertemukan aku dengan mas tanto. Namun terlambat karena keluarga tanto telah selesai mengurus surat perceraian.
Melihat aku yang hancur dan putus asa karena kejadian tersebut, kakaku mengajakku menemui seorang ustad ahli ruqyah di Semarang. Setelah bertemu dengan ustadz Massar, diriku lalu diterapi dengan terapi ruqyah melalui doa-doa yang ada dalam kitab suci Al Qur’an. Aku sadar semua itu kesalahanku nasi sudah menjadi bubur tetapi aku masih punya harapan lain untuk melanjutkan hidupku. Setelah diruqyah hati dan jiwaku jadi tenang dan bisa menerima takdir yang berlaku padaku. Kini dengan sisa uang yang aku miliki aku membuka toko sembako di depan rumah yang aku beli dari tabungaku selama menyanyi dulu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar