Suatu
kewajaran apabila kesedihan datang menyelimuti, karena kehilangan orang yang
dicintai. Sebaliknya keburukan akan datang apabila berlebih dalam meratapinya.
Hal tersebut telah ditetapkan dalam agama sebagai larangan.
Sani, ABG berumur 18 tahun
harus merasakan kepedihan ditinggal ibu tercinta. Maut tidak mengenal tempat
dan waktu, itulah yang terjadi pada Sandra sang ibu. Selama ini Sani sangat
disayang, bahkan terlalu disayang oleh Sandra. Masih teringat dipikiran Sani,
masa kecil yang bahagia dipangkuan ibunda dengan segala kasih sayang yang
melimpah.
“San buka pintunya” pinta Hardi.
Berkali-kali pintu di ketok, akan tetapi tidak ada jawaban. Merasa khawatir,
Hardi mendobrak. “Astaghfirullah” kaget Hardi. Ternyata anak semata
wayangnya mencoba bunuh diri dengan menenggak obat-obatan terlarang.
Tanpa pikir panjang, dirinya membawa Sani ke rumah sakit dan beruntung nyawa
Sani dapat tertolong.
“Sayang.... jangan pernah berbuat seperti itu
lagi, hukumnya dosa” Nasehat Hardi. “Yang lalu biarlah berlalu, supaya ibumu
tenang di alam sana” tambah Hardi. Mendengar hal tersebut tidak membuat Sani
sadar, sebaliknya dirinya semakin dirundung kesedihan. “Papah gak pernah tahu
perasaan Sani, sampai saat ini Sani belum rela, kenapa mamah begitu cepat
ninggalin Sani” ucapnya sambil berlinang air mata.
*****
Alih-alih sadar, Sani justru
melampiaskannya dengan mengacak-acak isi kamarnya. Dalam hatinya yang paling
dalam, Sani merasa Tuhan tidak adil, kenapa peristiwa itu menimpa keluarganya.
”kenapa mamah ninggalin Sani
sendirian” rintihnya.
“ini gak adil, Tuhan gak
sayang Sani”
Merasa kecewa, Sani
meninggalkan rumah dan bergabung dengan teman jalanan. Dalam kepergiannya, Sani
telah terjerumus dalam pergaulan bebas dan telah melampaui batas.
“Pak, anak saya satu-satunya menghilang, sudah 2 hari dia
pergi dari rumah” lapor Hardi kepada Polisi. “Ini ciri-ciri nya” tambahnya.
Setelah mendapatkan laporan, pihak berwajib terus melakukan pencarian, akan
tetapi sekian lama waktu yang terlewati Sani belum juga ditemukan. Hingga pada
suatu hari, salah satu kerabat Hardi tanpa sengaja melihat Sani sedang
berkumpul dengan teman-temannya. “Har, aku menemukan anakmu, cepat kesini”
lapor Syamsul.
Setelah dipaksa, akhirnya Sani
mau pulang ke rumah. Alih-alih dapat disadarkan, sebaliknya Sani justru menjadi
pribadi yang berbeda. Selain sering keluar rumah, Sani tidak pernah melakukan
shalat apalagi mengaji.
Sampai akhirnya, Hardi membaca
tabloid Kisah Hikmah yang biasa dibaca almarhumah istrinya dulu dan
menemukan rubrik ini.“Apa salahnya Saya mencoba berkonsultasi dengan Ustad
Massar, Saya kan orang beragama jadi percaya dengan kekuatan do’a” pikirnya.
Oleh Ustad Massar, Sani pun diruqyah,
dan disuruh mengamalkan puasa sunnah. Hardi sendiri juga diberi amalan do’a
untuk kesembuhan putrinya.
“Sani...., sudah saatnya Sani berbenah diri,
jangan pernah melihat masa lalu kecuali untuk kebaikan masa depan” nasehat sang
ustadz bijak.
Tidak lebih dari satu bulan,
setelah melaksanakan beberapa kali
terapi Ruqyah dan pesan sang Ustadz Sani mulai menunjukan perubahan. “Maafin
Sani pah, udah ngecewain papah” ungkapnya.”Sani janji akan menjadi lebih baik
lagi dan menjadi anak kebanggaan papah”tambahnnya. Alangkah senangnya Hardi
mendengar hal tersebut “Alhamdulillah,” ucap Hardi. Dengan kembalinya kesadaran
Sani, Kini Hardi bisa merasakan kembali kehangatan keluarga yang pernah hilang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar