Senin, 25 Agustus 2014

Kesedihan yang Dilarang



Suatu kewajaran apabila kesedihan datang menyelimuti, karena kehilangan orang yang dicintai. Sebaliknya keburukan akan datang apabila berlebih dalam meratapinya. Hal tersebut telah ditetapkan dalam agama sebagai larangan.
Sani, ABG berumur 18 tahun harus merasakan kepedihan ditinggal ibu tercinta. Maut tidak mengenal tempat dan waktu, itulah yang terjadi pada Sandra sang ibu. Selama ini Sani sangat disayang, bahkan terlalu disayang oleh Sandra. Masih teringat dipikiran Sani, masa kecil yang bahagia dipangkuan ibunda dengan segala kasih sayang yang melimpah.
“San buka pintunya” pinta Hardi. Berkali-kali pintu di ketok, akan tetapi tidak ada jawaban. Merasa khawatir, Hardi mendobrak. “Astaghfirullah” kaget Hardi. Ternyata anak semata wayangnya  mencoba bunuh diri dengan menenggak obat-obatan terlarang. Tanpa pikir panjang, dirinya membawa Sani ke rumah sakit dan beruntung nyawa Sani dapat tertolong.
            “Sayang.... jangan pernah berbuat seperti itu lagi, hukumnya dosa” Nasehat Hardi. “Yang lalu biarlah berlalu, supaya ibumu tenang di alam sana” tambah Hardi. Mendengar hal tersebut tidak membuat Sani sadar, sebaliknya dirinya semakin dirundung kesedihan. “Papah gak pernah tahu perasaan Sani, sampai saat ini Sani belum rela, kenapa mamah begitu cepat ninggalin Sani” ucapnya sambil berlinang air mata.
                                          *****
Alih-alih sadar, Sani justru melampiaskannya dengan mengacak-acak isi kamarnya. Dalam hatinya yang paling dalam, Sani merasa Tuhan tidak adil, kenapa peristiwa itu menimpa keluarganya.
”kenapa mamah ninggalin Sani sendirian” rintihnya.
“ini gak adil, Tuhan gak sayang Sani”
Merasa kecewa, Sani meninggalkan rumah dan bergabung dengan teman jalanan. Dalam kepergiannya, Sani telah terjerumus dalam pergaulan bebas dan telah melampaui batas.
“Pak, anak  saya satu-satunya menghilang, sudah 2 hari dia pergi dari rumah” lapor Hardi kepada Polisi. “Ini ciri-ciri nya” tambahnya. Setelah mendapatkan laporan, pihak berwajib terus melakukan pencarian, akan tetapi sekian lama waktu yang terlewati Sani belum juga ditemukan. Hingga pada suatu hari, salah satu kerabat Hardi tanpa sengaja melihat Sani sedang berkumpul dengan teman-temannya. “Har, aku menemukan anakmu, cepat kesini” lapor Syamsul.
Setelah dipaksa, akhirnya Sani mau pulang ke rumah. Alih-alih dapat disadarkan, sebaliknya Sani justru menjadi pribadi yang berbeda. Selain sering keluar rumah, Sani tidak pernah melakukan shalat apalagi mengaji.
Sampai akhirnya, Hardi membaca tabloid Kisah Hikmah yang biasa dibaca almarhumah istrinya dulu dan menemukan rubrik ini.“Apa salahnya Saya mencoba berkonsultasi dengan Ustad Massar, Saya kan orang beragama jadi percaya dengan kekuatan do’a” pikirnya. Oleh Ustad Massar, Sani pun  diruqyah, dan disuruh mengamalkan puasa sunnah. Hardi sendiri juga diberi amalan do’a untuk kesembuhan putrinya.
   “Sani...., sudah saatnya Sani berbenah diri, jangan pernah melihat masa lalu kecuali untuk kebaikan masa depan” nasehat sang ustadz bijak.
Tidak lebih dari satu bulan, setelah melaksanakan  beberapa kali terapi Ruqyah dan pesan sang Ustadz Sani mulai menunjukan perubahan. “Maafin Sani pah, udah ngecewain papah” ungkapnya.”Sani janji akan menjadi lebih baik lagi dan menjadi anak kebanggaan papah”tambahnnya. Alangkah senangnya Hardi mendengar hal tersebut “Alhamdulillah,” ucap Hardi. Dengan kembalinya kesadaran Sani, Kini Hardi bisa merasakan kembali kehangatan keluarga yang pernah hilang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar