Selasa, 16 Juni 2015

Suami Dominan



Sebut saja namaku Reva ( 30 th ) aku menikah dengan  Ricard ( 45 ) dan telah di karuniai seorang anak yang lucu berumur 2 tahun.  Selama 3 tahun usia perkawinan kami, aku merasa suami selalu mengekangku. Aku yang dulunya aktif berorganisasi dan bekerja, kini hanya bisa berpangku tangan dirumah karena setelah menikah suami melarangku untuk melakukannya bahkan untuk sekedar ikut arisan  dengan ibu-ibu di lingkungan kami tinggal. “ Buat apa itu semua, yang penting perempuan itu pintar di dapur dan mengurus rumah tangga” kata suamiku saat ku utarakan keinginanku untuk bekerja lagi.  
Memang semua kebutuhanku dan juga anakku sudah dipenuhi oleh suami bahkan boleh dibilang tak kekurangan. Karena suamiku adalah pejabat pemerintah. Dia juga memiliki beberapa usaha sampingan yang dikelola bersama teman-temannya yang mempunyai keahlian dibidangnya.
Semula aku enjoy saja dengan keadaan tersebut tetapi lama kelamaan aku mulai merasa bosan dan jenuh. Setiap apa yang aku lakukan harus meminta ijin dulu padanya itupun belum tentu disetujui. Untuk sekedar bertandang ke rumah orang tuaku atau sekedar jalan-jalan dan belanja kebutuhan rumah, aku harus diantar suami atau sopir pribadi keluarga kami, dia tidak mengijinkan aku keluar rumah sendiri tanpa sepengetahuannya.
Satu lagi sifatnya yang tidak aku sukai yaitu dia sangat pencemburu. Aku dilarang keras untuk berhubungan dengan teman-teman kuliahku dulu. Semua gadget yang kumiliki selalu dicek setiap kali dia pulang kerja. bagaikan wayang yang selalu dikendalikan oleh dalangnya. Aku jadi stress dan semakin tertekan dibuatnya. “itu demi kebaikan kita dan keluarga, aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan kalian.” alasan tersebut selalu dijadikan senjata andalan suamiku. “aku adalah imam dan berkewajiban untuk melindungi kalian dari api neraka” ucapnya. “tapi sikap mas yang berlebihan itu telah membuat aku tertekan” jawabku memberanikan diri. “aku berjanji tidak akan melakukan sesuatu yang di luar syari’at apabila mas mengijinkan” sambil terisak aku mencoba mengeluarkan unek-unek yang selama ini ku pendam dalam hati.
Karena sudah tak tahan menjadi merpati yang dikurung dalam sangkar emas , aku diam-diam membawa anakku pergi kerumah orang tuaku berharap adanya solusi dari mereka. Namun bukan pembelaan yang kudapat, melainkan tuduhan bahwa aku tidak berbakti kepada suamiku. “ikuti saja apa kata suamimu, ibu yakin dia itu orangnya baik” nasihat ibuku. “jangan sampai kamu jadi istri durhaka , kamu harus taat sama suamimu” ayah menambahkan dengan nada bijak. Menghadapi fenomena tersebut, aku hanya bisa nangis dan mengurung diri di kamar.
Ayah dan ibupun berjanji akan mencarikan solusi terbaik untuk keharmonisan rumah tanggaku. Belajar dari pengalaman ayah saat bisnisnya terpuruk dan kembali sukses, Kamipun segera mendatangi Ustadz Massar untuk kedua kalinya untuk berkonsultasi. Sesaat setelah berkonsultasi, ustadz Massar menyimpulkan bahwa dalam hati kami (aku dan suami) masih terdapat penyakit jiwa. Akibatnya, kami sering berfikir negative dan saling mencurigai.
Beliaupun menyarankan untuk melaksanakan Rukyah Pembersihan Diri  bagiku dan juga suami untuk menghilangkan aura negative dan sikap egois kami masing-masing. “ baik suami maupun istri sama-sama mempunyai hak dan kewajiban yang adil dalam islam, selama seorang istri menjalankan kewajibannya tidak lantas dirinya harus dikekang”. Ujar Ustadz Massar. “Dalam islam seorang perempuan haruslah dihormati sekaligus disayangi tidak sebaliknya” tambahnya.
Sejak saat itu, kami seperti dituntun untuk menjadi manusia yang baru dan melupakan semua yang buruk-buruk dimasa lalu. Untuk itulah aku senantiasa berdoa kepada Allah Swt, semoga perubahan ini tidak untuk sementara dan bisa menjadi pelajaran penting bagi kami untuk tidak mengedepankan ego masing-masing dan lebih menghargai pasangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar