Sebut saja namaku Reva ( 30 th ) aku menikah
dengan Ricard ( 45 ) dan telah di karuniai seorang anak yang lucu berumur
2 tahun. Selama 3 tahun usia perkawinan kami, aku merasa suami selalu
mengekangku. Aku yang dulunya aktif berorganisasi dan bekerja, kini hanya bisa
berpangku tangan dirumah karena setelah menikah suami melarangku untuk
melakukannya bahkan untuk sekedar ikut arisan
dengan ibu-ibu di lingkungan kami tinggal. “ Buat apa itu semua, yang
penting perempuan itu pintar di dapur dan mengurus rumah tangga” kata suamiku
saat ku utarakan keinginanku untuk bekerja lagi.
Memang semua kebutuhanku dan juga anakku sudah
dipenuhi oleh suami bahkan boleh dibilang tak kekurangan. Karena suamiku adalah
pejabat pemerintah. Dia juga memiliki beberapa usaha sampingan yang dikelola
bersama teman-temannya yang mempunyai keahlian dibidangnya.
Semula aku enjoy saja dengan keadaan tersebut
tetapi lama kelamaan aku mulai merasa bosan dan jenuh. Setiap apa yang aku
lakukan harus meminta ijin dulu padanya itupun belum tentu disetujui. Untuk
sekedar bertandang ke rumah orang tuaku atau sekedar jalan-jalan dan belanja
kebutuhan rumah, aku harus diantar suami atau sopir pribadi keluarga
kami, dia tidak mengijinkan aku keluar rumah sendiri tanpa sepengetahuannya.
Satu lagi sifatnya yang tidak aku sukai yaitu
dia sangat pencemburu. Aku dilarang keras untuk berhubungan dengan teman-teman
kuliahku dulu. Semua gadget yang kumiliki selalu dicek setiap kali dia pulang
kerja. bagaikan wayang yang selalu dikendalikan oleh dalangnya. Aku jadi stress
dan semakin tertekan dibuatnya. “itu demi kebaikan kita dan keluarga, aku tidak
ingin terjadi sesuatu dengan kalian.” alasan tersebut selalu dijadikan senjata
andalan suamiku. “aku adalah imam dan berkewajiban untuk melindungi kalian dari
api neraka” ucapnya. “tapi sikap mas yang berlebihan itu telah membuat aku
tertekan” jawabku memberanikan diri. “aku berjanji tidak akan melakukan sesuatu
yang di luar syari’at apabila mas mengijinkan” sambil terisak aku mencoba
mengeluarkan unek-unek yang selama ini ku pendam dalam hati.
Karena sudah tak tahan menjadi merpati yang
dikurung dalam sangkar emas , aku diam-diam membawa anakku pergi kerumah orang
tuaku berharap adanya solusi dari mereka. Namun bukan pembelaan yang kudapat,
melainkan tuduhan bahwa aku tidak berbakti kepada suamiku. “ikuti saja apa kata
suamimu, ibu yakin dia itu orangnya baik” nasihat ibuku. “jangan sampai kamu
jadi istri durhaka , kamu harus taat sama suamimu” ayah menambahkan dengan nada
bijak. Menghadapi fenomena tersebut, aku hanya bisa nangis dan mengurung diri
di kamar.
Ayah dan ibupun berjanji akan mencarikan solusi
terbaik untuk keharmonisan rumah tanggaku. Belajar dari pengalaman ayah saat
bisnisnya terpuruk dan kembali sukses, Kamipun segera mendatangi Ustadz Massar
untuk kedua kalinya untuk berkonsultasi. Sesaat setelah berkonsultasi, ustadz
Massar menyimpulkan bahwa dalam hati kami (aku dan suami) masih terdapat
penyakit jiwa. Akibatnya, kami sering berfikir negative dan saling mencurigai.
Beliaupun menyarankan untuk melaksanakan Rukyah
Pembersihan Diri bagiku dan juga
suami untuk menghilangkan aura negative dan sikap egois kami masing-masing. “
baik suami maupun istri sama-sama mempunyai hak dan kewajiban yang adil dalam
islam, selama seorang istri menjalankan kewajibannya tidak lantas dirinya harus
dikekang”. Ujar Ustadz Massar. “Dalam islam seorang perempuan haruslah
dihormati sekaligus disayangi tidak sebaliknya” tambahnya.
Sejak saat itu, kami seperti dituntun untuk
menjadi manusia yang baru dan melupakan semua yang buruk-buruk dimasa lalu.
Untuk itulah aku senantiasa berdoa kepada Allah Swt, semoga perubahan ini tidak
untuk sementara dan bisa menjadi pelajaran penting bagi kami untuk tidak
mengedepankan ego masing-masing dan lebih menghargai pasangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar