Kamis, 25 September 2014

Taubatnya Seorang Punker



Sandi, anak sulung dari dua bersaudara berkeluarga konglomerat di daerah Bandung. Dengan sikap sang ayah yang otoriter dan sering memaksakan kehendak, membuat Sandi tidak betah tinggal di rumah. Iapun berontak dan keluar rumah. Sayangnya ia salah pergaulan, memilih hidup bebas dijalanan jadi anak punk(punker).
Suatu ketika sang ayah jatuh sakit, dan menyesal dengan semua sikapnya.”Fanya, tolong cari adikmu dan suruh pulang” rintih sang ayah.
“ akan Fanya usahakan yah” jawab Fanya.
Dengan susah payah akhirnya Fanya menemukan Sandi yang sedang berkumpul dengan teman-temannya. “Kakak kesini bawa pesan dari ayah” ucap Fanya. “Beliau sakit keras dan ingin bertemu kamu untuk meminta maaf “ Fanya melanjutkan.
Ternyata Sandi menolak dan membentak kakak perempuanya. Sandi gak mau !” bentak Sandi, “Bilang saja, Sandi sudah tidak ada .tegas Sandi dengan nada keras.
Sungguh tragis hubungan anak dan ayah tersebut, sampai sang ayah meninggalpun Sandi tak kelihatan batang hidungnya bahkan ia tidak mau melihat makam ayahnya. Rasa dendam dan sakit hati yang begitu dalam telah menutup mata hatinya.
Ingin Sadar
Sepeninggal ayahnya, Sandi masih hidup dijalanan. Kehidupan terus berputar seperti roda pedati yang terus berlari, begitu juga Fanya yang terus berusaha untuk menyadarkan adiknya. Suatu ketika, dengan usaha yang cukup keras dan iming-iming akan dihadiahi sesuatu, akhirnya Sandi mau di bujuk untuk di ajak pergi kesuatu tempat yang ternyata makam sang ayah. Alih-alih sedih dan menyesali perbuatannya , Sandi menghujat sang ayah di depan makamnya.
Dalam kesedihannya, salah satu teman Fanya menyarankan untuk mendatangi seorang pakar  agama yang ahli dalam meruqyah di Semarang yang tak lain adalah ustadz Massar. Setelah menceritakan semuanya, ustadz massarpun menyarankan untuk diruqyah.
“mohon maaf ustadz, kayaknya hal tersebut tidak mungkin bisa, mengingat Sandi sulit untuk kita ajak kesini” ungkap Fanya.
 Setelah memahami keadaan tersebut, akhirnya ustadz Massar memutuskan untuk merukyah dan mendoakanya.
Saya harap kamu tidak lelah dan berputus asa untuk terus mengajak Sandi kepada jalan kebenaran” nasehat Ustadz Massar .
 “Insya Allah, hidayah dan ampunan Allah tidak akan pernah tertutup bagi siapapun” tambahnya.
“baik ustadz, terima kasih banyak atas bantuannya” jawab Fanya.
Akhirnya berkat Kuasa Allah Swt, secara perlahan hati Sandi mulai terbuka dan hidayah mulai masuk kedalam hatinya. Sejak saat itu, Sandi merasa ada yang menuntunnya untuk menjadi manusia yang baru, melupakan semua hal buruk dimasa lalunya. Ia pun memutuskan untuk bertemu sang kakak dan mengungkapkan bahwa dirinya telah memaafkan sang ayah. Lebih dari itu, lambat laun Sandi mulai mau memikirkan masa depan dengan berbuat sesuatu yg lebih berguna. Dia mulai mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dengan mendirikan Sholat dan berkenan mengurusi beberapa perusahaan yang ditinggalkan almarhum. Subhanallah Maha Suci Allah SWT yang selalu membukakan pintu taubat kepada umat-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar