Sandi, anak sulung dari dua bersaudara
berkeluarga konglomerat di daerah Bandung. Dengan sikap sang ayah yang otoriter dan sering memaksakan
kehendak,
membuat Sandi tidak betah tinggal di rumah. Iapun berontak
dan keluar rumah. Sayangnya ia salah pergaulan, memilih hidup bebas dijalanan
jadi anak punk(punker).
Suatu ketika sang ayah jatuh sakit, dan menyesal dengan semua sikapnya.”Fanya, tolong cari adikmu dan suruh pulang”
rintih sang ayah.
“ akan Fanya usahakan yah” jawab Fanya.
Dengan susah payah akhirnya Fanya
menemukan Sandi yang sedang berkumpul dengan teman-temannya. “Kakak kesini bawa
pesan dari ayah” ucap Fanya. “Beliau sakit keras dan ingin bertemu kamu untuk meminta maaf “ Fanya melanjutkan.
Ternyata Sandi menolak dan membentak
kakak perempuanya.
“ Sandi gak mau !” bentak Sandi, “Bilang saja, Sandi sudah tidak ada .”tegas Sandi dengan nada keras.
Sungguh tragis hubungan anak dan ayah
tersebut, sampai sang ayah meninggalpun Sandi tak kelihatan batang hidungnya
bahkan ia tidak mau melihat makam ayahnya. Rasa dendam dan sakit hati yang
begitu dalam telah menutup mata hatinya.
Ingin
Sadar
Sepeninggal ayahnya, Sandi masih hidup
dijalanan. Kehidupan terus berputar seperti roda pedati yang terus berlari,
begitu juga Fanya
yang terus berusaha untuk menyadarkan adiknya. Suatu ketika, dengan usaha yang cukup
keras dan iming-iming akan dihadiahi sesuatu, akhirnya Sandi mau di bujuk untuk
di ajak pergi kesuatu tempat yang ternyata makam sang ayah. Alih-alih sedih dan
menyesali perbuatannya , Sandi menghujat sang ayah di depan makamnya.
Dalam kesedihannya, salah satu teman
Fanya menyarankan untuk mendatangi seorang pakar agama yang ahli dalam meruqyah di Semarang
yang tak lain adalah ustadz Massar. Setelah menceritakan semuanya, ustadz
massarpun menyarankan untuk diruqyah.
“mohon maaf ustadz, kayaknya hal tersebut tidak mungkin bisa, mengingat
Sandi sulit untuk kita ajak kesini” ungkap Fanya.
Setelah memahami keadaan tersebut, akhirnya
ustadz Massar memutuskan untuk merukyah dan mendoakanya.
“Saya harap kamu tidak lelah dan berputus asa untuk terus mengajak Sandi kepada jalan kebenaran”
nasehat Ustadz Massar .
“Insya Allah, hidayah dan ampunan Allah tidak
akan pernah tertutup bagi siapapun” tambahnya.
“baik ustadz, terima kasih banyak atas
bantuannya” jawab Fanya.
Akhirnya berkat Kuasa Allah Swt, secara perlahan hati Sandi mulai
terbuka dan hidayah mulai masuk kedalam hatinya. Sejak saat itu,
Sandi merasa ada yang menuntunnya untuk menjadi manusia yang baru, melupakan semua
hal buruk dimasa lalunya. Ia pun memutuskan untuk bertemu sang kakak dan
mengungkapkan bahwa dirinya telah memaafkan sang ayah. Lebih dari itu, lambat
laun Sandi mulai mau memikirkan masa depan dengan berbuat sesuatu yg lebih
berguna. Dia mulai mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dengan mendirikan Sholat dan berkenan
mengurusi beberapa perusahaan yang ditinggalkan almarhum. Subhanallah Maha Suci Allah SWT yang selalu membukakan pintu taubat
kepada umat-Nya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar