Penjahat
yang satu ini memang ingin bertobat. Tapi sayang, masyarakat dan lingkungannya
tidak mendukung. Ia pun putus asa dan nyaris maksiat lagi. Akhirnya ia pun
diruqyah dan mendapat solusi terbaik.
Tidak
seorangpun mengira bahwa Yudi (bukan nama sebenarnya), salah seorang penjahat
kelas kakap, pemimpin geng terkenal di Kalimantan, harus berurusan dengan pihak
yang berwajib. Selama ini, Yudi sangat sulit dijinakkan.
“Yudi,
apakah kamu bersama korban malam itu,” tanya Hakim saat sidang kasusnya.
“Tidak bapak hakim saya bersama teman di suatu
tempat,” sangkalnya.
Meskipun bukti telah berada di depan hakim
dengan dikuatkan para saksi, tetapi dirinya masih tetap berkelit dan berbohong.
Akhirnya majelis hakim memutuskan untuk memvonisnya 10 tahun karena terbukti
telah melakukan pembunuhan berencana.
Di sisi
lain, Rasti merasa terpukul dengan berita dipenjaranya Yudi. Sebagai istri,
dirinya masih merasa yakin bahwa Yudi bisa berubah menjadi orang baik. Akan
tetapi, pada kenyataannya, alih-alih berubah baik, pergaulan dalam penjara
membuat Yudi seakan menemukan dunianya kembali. Yudi kembali akrab dengan
narkoba sebagai pemakai, padahal sebelum di penjara, ia hanya menjadi pengedar.
“Bro,
kalau kamu keluar dari penjara, selain mengkonsumsi, kamu juga bisa
mengedarkannya, santai saja aku disini memantaumu,” bujuk salah satu temannya.
Singkat cerita, masa tahanan Yudi habis dan
ia keluar dari penjara .
“Wah,
Yudi yang angker itu sudah keluar dari penjara, tolong hati-hati ya,” rumpi
salah seorang ibu rumah tangga.
“Ya,
saya juga takut, katanya dia pembunuh yang sadis lho” tambah yang lain.
Dalam
memori masyarakat ternyata anggapan buruk tentang Yudi masih sangat kuat. Sang
istri yakni Rasti dengan sekuat tenaga memberikan pengertian, “Mohon ibu bapak
ketahui, suami saya sekarang sudah berubah dan bertaubat, mohon ibu bapak tidak
menggunjingnya”.
Pada
dasarnya, dengan segala kelembutan Rasti, Yudi mulai menemukan cahaya petunjuk.
Akan tetapi, karena masyarakat tidak mendukung bahkan memojokkan, akibatnya Yudi
semakin terpuruk dengan dunia narkobanya.
“Biarkan
saja mereka melakukan apa yang mereka mau bu,” tutur Yudi kepada istri.
“Menjadi lebih baik, itu yang terpenting buat bapak sekarang,” nasihat Rasti.
“Sebenarnya
saya mau baik bu, tapi apa boleh buat, lingkungan telah mencap kita seperti
ini, lantas apa untungnya buat kita,” sangkal Yudi.
“Istighfar
pak,” ucap Rasti.
Dari
pengawasannya, Rasti melihat bahwa pada dasarnya Yudi ingin bertaubat, maka
kesempatan itu tidak disia-siakannya. Dengan segera Rasti membawa Yudi ke seorang
pakar agama dan ustadz ahli rukyah asal Semarang.
“Pak
ustadz mohon nasihat dan bimbingannya, suami saya ingin bertaubat,” jelas Rasti.
Tanpa menunggu lama, akhirnya diputuskan kalau Yudi akan menjalani terapi
rukyah dan pengobatan ala nabawi.
Tidak
lebih dari lima kali terapi, perubahan secara signifikan terlihat jelas. Yudi
sudah tidak kecanduan dan badannya sudah mulai berisi kembali. Lebih dari itu,
ketaatan dalam menjalankan ibadah semakin meningkat bahkan sudah tidak
meninggalkan shalat lima waktu. Yudi menjadi rajin shalat berjama’ah di masjid.
Dengan perkembangan tersebut, masyarakat mengira bahwa Yudi telah mondok dari
sebuah pesantren. Akhirnya, secara berangsur masyarakat mulai menerima Yudi
seutuhnya sebagai anggota masyarakat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar