Rabu, 22 April 2015

Ruqyah Atasi Pecandu Narkoba



Ode ( bukan nama Sebenarnya ) adalah anak seorang pengusaha dan pemilik yayasan ternama di Surabaya Dia selalu bersikap sombong dan sering meremehkan orang lain bahkan tidak mau beribadah maupun belajar. Setiap hari hanya hura-hura dan bersenang-senang menghabiskan harta orang tuanya. Tak jarang dia harus dibawa kekantor polisi karena sering ikut tawuran antar sekolah.
“Bro kita kumpul di tempat biasa jam 8 malam, Jangan lupa kau ajak anak-anak yang lain”  perintah Ode. “oke bos” jawab Randy di seberang telpon. Hampir tiap malam Ode selalu berfoya-foya dengan teman-teman.  hal itu benar-benar membuat resah para tetangganya.
Rupanya saat melakukan kejahatan, mereka dalam pengaruh obat-obatan yang mereka dapatkan secara ilegal. “De, ni om ada barang, kamu pasti suka?” tawar seorang preman yang sudah tidak asing bagi ode. “ oke om aku ambil deh nanti malam. Karena sudah kecanduan, setinggi apapun harganya ode selalu berusaha untuk membelinya. Dia tidak sadar kalau selama ini telah menjadi sapi peras preman-preman. Suatu ketika Ode  memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi karena dalam pengaruh obat-obatan hingga ia kehilangan keseimbangan dan akhirnya menabrak sebuah toko di pinggir jalan. Karena tak mau mengganti kerugian yang ditimbulkan akhirnya Ode harus berurusan dengan yang berwajib dan dikenakan pasal berlapis karena mengendarai dalam keadaan mabuk. Kejadian itupun tak membuatnya jera dan kapok karena setiap terlibat masalah, maka uang ayahnyalah yang akan berbicara dan masalah akan beres.
“ Sadarlah nak, mau jadi apa kamu kalau seperti ini terus? ” nasehat sang ibu. “ Terserah aku dong, ini hidup aku emang masalah buat mama?” jawab Ode seenaknya. Mendapat jawaban seperti itu ibunya hanya bisa mengelus dada, dirinya sadar bahwa itu semua karena kesalahan mereka yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya hingga melupakan ode anak semata wayangnya yang butuh kasih sayang dan perhatian dari orang tua. Beberapa hari setelah kepulanganya dari kantor polisi, orangtua Ode bermaksud membawanya ke psikolog, tetapi bukanya sembuh dan sadar dari kekeliruannya Ode malah semakin brutal dan nekat.
Hingga pada suatu ketika neneknya yang baru datang dari Jakarta menyaksikan dengan mata kepala sendiri ulah dari cucu kesayangannya itu. Dua hari kemudian, Beliau berinisiatif untuk membawa cucunya berobat ketempat ustadz massar, seorang ustadz yang ahli dalam merukyah di Semarang. Meski awalnya menolak, namun akhirnya sang nenek berhasil membawa cucunya untuk bertemu dengan ustadz massar. Didalam keluarganya Ode hanya takut dan segan dengan neneknya.
”Apa yang  kamu lakukan saat ini akan terus berlanjut sampai kapanpun, jika tidak secepatnya dihentikan” Ujar Ustadz Massar. Menurutnya mengikuti hawa nafsu untuk berbuat jahat adalah ibarat meminum air laut, semakin diminum semakin haus. Oleh karenanya dibutuhkan kesungguhan untuk menahannya. Mendengar nasihat dari ustadz massar, tanpa bisa dibendung lagi seolah air bah yang mengalir deras karena bendungan tak lagi mampu menahan tekanannya, kalimat-kalimat jujur tentang segala kegundahan hatinya dan deraan yang lama dipendamnya meluncur deras tanpa bisa ditahan dan disembunyikan lagi. Begitu juga dengan neneknya yang terharu mendengar kisah cucunya yang begitu menyayat hati. Pertemuan itupun ditutup dengan dilaksanakannya Ruqyah Diri bagi Ode.
Beberapa bulan setelah itu, perubahan demi perubahan pada diri Ode semakin terlihat jelas. Sikap sombong, angkuh dan arogannya mulai luntur. Namun perubahan tersebut tidak lantas membuat orang-orang percaya begitu saja, mereka terlanjur mem”blacklist” namanya karena sakit hati dengan sikapnya dahulu. Namun, berkat kesungguhan dan keseriusannya dalam meyakinkan orang-orang, bahwa dirinya telah berubah dan bertobat, akhirnya mereka mau memaafkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar