Ode
( bukan nama Sebenarnya ) adalah anak seorang pengusaha dan pemilik yayasan
ternama di Surabaya Dia selalu bersikap sombong dan sering meremehkan orang
lain bahkan tidak mau beribadah maupun belajar. Setiap hari hanya hura-hura dan
bersenang-senang menghabiskan harta orang tuanya. Tak jarang dia harus dibawa
kekantor polisi karena sering ikut tawuran antar sekolah.
“Bro
kita kumpul di tempat biasa jam 8 malam, Jangan lupa kau ajak anak-anak yang
lain” perintah Ode. “oke bos” jawab
Randy di seberang telpon. Hampir tiap malam Ode selalu berfoya-foya dengan
teman-teman. hal itu benar-benar membuat
resah para tetangganya.
Rupanya
saat melakukan kejahatan, mereka dalam pengaruh obat-obatan yang mereka
dapatkan secara ilegal. “De, ni om ada barang, kamu pasti suka?” tawar seorang
preman yang sudah tidak asing bagi ode. “ oke om aku ambil deh nanti malam.
Karena sudah kecanduan, setinggi apapun harganya ode selalu berusaha untuk
membelinya. Dia tidak sadar kalau selama ini telah menjadi sapi peras
preman-preman. Suatu ketika Ode memacu
mobilnya dengan kecepatan tinggi karena dalam pengaruh obat-obatan hingga ia
kehilangan keseimbangan dan akhirnya menabrak sebuah toko di pinggir jalan.
Karena tak mau mengganti kerugian yang ditimbulkan akhirnya Ode harus berurusan
dengan yang berwajib dan dikenakan pasal berlapis karena mengendarai dalam
keadaan mabuk. Kejadian itupun tak membuatnya jera dan kapok karena setiap terlibat
masalah, maka uang ayahnyalah yang akan berbicara dan masalah akan beres.
“
Sadarlah nak, mau jadi apa kamu kalau seperti ini terus? ” nasehat sang ibu. “
Terserah aku dong, ini hidup aku emang masalah buat mama?” jawab Ode seenaknya.
Mendapat jawaban seperti itu ibunya hanya bisa mengelus dada, dirinya sadar
bahwa itu semua karena kesalahan mereka yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya
hingga melupakan ode anak semata wayangnya yang butuh kasih sayang dan
perhatian dari orang tua. Beberapa hari setelah kepulanganya dari kantor
polisi, orangtua Ode bermaksud membawanya ke psikolog, tetapi bukanya sembuh
dan sadar dari kekeliruannya Ode malah semakin brutal dan nekat.
Hingga
pada suatu ketika neneknya yang baru datang dari Jakarta menyaksikan dengan
mata kepala sendiri ulah dari cucu kesayangannya itu. Dua hari kemudian, Beliau
berinisiatif untuk membawa cucunya berobat ketempat ustadz massar, seorang
ustadz yang ahli dalam merukyah di Semarang. Meski awalnya menolak, namun
akhirnya sang nenek berhasil membawa cucunya untuk bertemu dengan ustadz massar.
Didalam keluarganya Ode hanya takut dan segan dengan neneknya.
”Apa
yang kamu lakukan saat ini akan terus
berlanjut sampai kapanpun, jika tidak secepatnya dihentikan” Ujar Ustadz
Massar. Menurutnya mengikuti hawa nafsu untuk berbuat jahat adalah ibarat
meminum air laut, semakin diminum semakin haus. Oleh karenanya dibutuhkan
kesungguhan untuk menahannya. Mendengar nasihat dari ustadz massar, tanpa bisa
dibendung lagi seolah air bah yang mengalir deras karena bendungan tak lagi
mampu menahan tekanannya, kalimat-kalimat jujur tentang segala kegundahan
hatinya dan deraan yang lama dipendamnya meluncur deras tanpa bisa ditahan dan
disembunyikan lagi. Begitu juga dengan neneknya yang terharu mendengar kisah
cucunya yang begitu menyayat hati. Pertemuan itupun ditutup dengan
dilaksanakannya Ruqyah Diri bagi Ode.
Beberapa
bulan setelah itu, perubahan demi perubahan pada diri Ode semakin terlihat
jelas. Sikap sombong, angkuh dan arogannya mulai luntur. Namun perubahan
tersebut tidak lantas membuat orang-orang percaya begitu saja, mereka terlanjur
mem”blacklist” namanya karena sakit hati dengan sikapnya dahulu. Namun,
berkat kesungguhan dan keseriusannya dalam meyakinkan orang-orang, bahwa
dirinya telah berubah dan bertobat, akhirnya mereka mau memaafkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar