Alhamdulillah,
itulah kata yang terucap dari bibir winda. Betapa tidak, setelah sekian lama
tercebur dalam lumpur maksiat, ia akhirnya bisa taubat. Sebelumnya, dia memang
menghalalkan segala cara untuk bisnis , termasuk berbuat asusila. Kini setelah
diruqyah , hidupnya lebih tenang dengan bisnis yang halal. Berikut curahan
hatinya.
Sebagai
kontraktor dengan perusahaan yang terbilang baru dikancah konstruksi bangunan
dan teknik sipil, aku tetap saja bisa bekerja sama dengan perusahaan kontraktor
lain. Meskipun hanya sering sebagai subkontraktor domestik atau ternominasi,
aku juga pernah memenangkan tender dengan surat perintah kerja (SPK), bahkan
letter of award. Sebut saja aku Winda, usia 27 tahun.
“bagaimana
bu, setuju tidak?” kata pak iwan, seorang bos pemain lama didunia kontraktor.
Aku
mengiyakan saja tawarannya tanpa berpikir panjang. Ini demi keuntungan yang
akan aku dapatkan. Pak Iwan baru saja memenangkan tender pembangunan mall
dengan penawaran dan dokumen administratif yang disetujui oleh panitia lelang
dengan menggandengku sebagai subkontraktor.
“saya
sepakat, pak,” jawabku tegas.
“oke
nanti malam kita ketemu. Nanti sore saya hubungi lagi, sekarang kamu tanda
tangan disini “ sambil menyodorkan kertas. Setelah itu aku langsung
meninggalkan kantornya dan pulang.
INGAT
DOSA
Sesampainya
dirumah, hatiku tetap gundah. Aku teringat dosa-dosa yang aku lakukan. Betapa
tidak, demi bisnis aku rela berbuat asusila dengan para bos demi mendapatkan
proyeknya. Astaghfirullah.
Dalam
hati aku berharap segera mengakhiri semua ini. Maksudku, aku ingin berbisnis
yang bersih, tanpa harus ada prasyarat yang aneh-aneh. Menyesal selalu
dibelakang, namun resiko pekerjaan tak bisa kuhindari. Aku ingin hidup normal,
berkeluarga dan memiliki anak. Harta yang ku dapatkan selama ini lebih dari
cukup. Kalau menuruti harta sampai kapan?
Aku
harus segera menemukan orang yang bisa membimbingku, tapi siapa? Aku lantas
menghubungi Susi, salah satu teman kuliahku dulu dijurusan teknik sipil.
“Sus,
aku pengen ketemu” kataku.
“Ada
apa win, aku masih diluar jawa menemani suamiku.”
“Ada
gak yang bisa membimbingku, aku sedang bingung, aku merasa banyak dosa Sus.”
“Setiap
orang punya dosa Win, kamu temui ustadz massar saja di Semarang. Dulu suamiku
juga kesana waktu terkena penyakit aneh, sekarang sembuh.” Susi meyakinkan.
DIRUQYAH
Dari susi itulah aku mendapatkan alamat dan
nomor telpon ustadz massar . tanpa banyak pertimbangan, aku segera menemui
ustadz massar. Aku yakin dan percaya sama susi. Ia temanku yang paling jujur
dan lugu. Pantas jika dia mendapatkan suami yang baik pula. Dari ustadz massar,
aku menjalani terapi ruqyah diri.
“
Orang yang menempuh jalan kesesatan saja bisa kaya raya, bagaimana mungkin
Tuhan membiarkan orang yang menempuh jalan yang benar?” kata ustadz nmassar.
Aku
terkesiap mendengar kalimat itu, dalam sekali menyentuh kalbu. Semenjak itulah
aku bertobat dengan bimbingan ustadz massar. Bisnis kontraktor kutinggalkan
demi membuang kenangan masa lalu. Aku membuka restoran yang juga dibimbing
ustadz massar serta memulai membina rumah tangga dengan seorang lelaki baik
hati, bertanggung jawab dan rajin beribadah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar