Jumat, 17 April 2015

Tobat Dari Masa Lalu



Alhamdulillah, itulah kata yang terucap dari bibir winda. Betapa tidak, setelah sekian lama tercebur dalam lumpur maksiat, ia akhirnya bisa taubat. Sebelumnya, dia memang menghalalkan segala cara untuk bisnis , termasuk berbuat asusila. Kini setelah diruqyah , hidupnya lebih tenang dengan bisnis yang halal. Berikut curahan hatinya.
Sebagai kontraktor dengan perusahaan yang terbilang baru dikancah konstruksi bangunan dan teknik sipil, aku tetap saja bisa bekerja sama dengan perusahaan kontraktor lain. Meskipun hanya sering sebagai subkontraktor domestik atau ternominasi, aku juga pernah memenangkan tender dengan surat perintah kerja (SPK), bahkan letter of award. Sebut saja aku Winda, usia 27 tahun.
“bagaimana bu, setuju tidak?” kata pak iwan, seorang bos pemain lama didunia kontraktor.
Aku mengiyakan saja tawarannya tanpa berpikir panjang. Ini demi keuntungan yang akan aku dapatkan. Pak Iwan baru saja memenangkan tender pembangunan mall dengan penawaran dan dokumen administratif yang disetujui oleh panitia lelang dengan menggandengku sebagai subkontraktor.
“saya sepakat, pak,” jawabku tegas.
“oke nanti malam kita ketemu. Nanti sore saya hubungi lagi, sekarang kamu tanda tangan disini “ sambil menyodorkan kertas. Setelah itu aku langsung meninggalkan kantornya dan pulang.
INGAT DOSA
Sesampainya dirumah, hatiku tetap gundah. Aku teringat dosa-dosa yang aku lakukan. Betapa tidak, demi bisnis aku rela berbuat asusila dengan para bos demi mendapatkan proyeknya. Astaghfirullah.
Dalam hati aku berharap segera mengakhiri semua ini. Maksudku, aku ingin berbisnis yang bersih, tanpa harus ada prasyarat yang aneh-aneh. Menyesal selalu dibelakang, namun resiko pekerjaan tak bisa kuhindari. Aku ingin hidup normal, berkeluarga dan memiliki anak. Harta yang ku dapatkan selama ini lebih dari cukup. Kalau menuruti harta sampai kapan?
Aku harus segera menemukan orang yang bisa membimbingku, tapi siapa? Aku lantas menghubungi Susi, salah satu teman kuliahku dulu dijurusan teknik sipil.
“Sus, aku pengen ketemu” kataku.
“Ada apa win, aku masih diluar jawa menemani suamiku.”
“Ada gak yang bisa membimbingku, aku sedang bingung, aku merasa banyak dosa Sus.”
“Setiap orang punya dosa Win, kamu temui ustadz massar saja di Semarang. Dulu suamiku juga kesana waktu terkena penyakit aneh, sekarang sembuh.” Susi meyakinkan.
DIRUQYAH
 Dari susi itulah aku mendapatkan alamat dan nomor telpon ustadz massar . tanpa banyak pertimbangan, aku segera menemui ustadz massar. Aku yakin dan percaya sama susi. Ia temanku yang paling jujur dan lugu. Pantas jika dia mendapatkan suami yang baik pula. Dari ustadz massar, aku menjalani terapi ruqyah diri.
“ Orang yang menempuh jalan kesesatan saja bisa kaya raya, bagaimana mungkin Tuhan membiarkan orang yang menempuh jalan yang benar?” kata ustadz nmassar.
Aku terkesiap mendengar kalimat itu, dalam sekali menyentuh kalbu. Semenjak itulah aku bertobat dengan bimbingan ustadz massar. Bisnis kontraktor kutinggalkan demi membuang kenangan masa lalu. Aku membuka restoran yang juga dibimbing ustadz massar serta memulai membina rumah tangga dengan seorang lelaki baik hati, bertanggung jawab dan rajin beribadah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar