Jumat, 24 April 2015

Bertaubat dari Maksiat



“Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mewarisi wanita dengan cara paksa, dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut.  Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka maka bersabarlah, karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (An-Nisa: 19).
Sebagai seorang muslim, maka kutipan ayat di atas wajib menjadi rujukan dalam mengarungi bahtera keluarga yang sakinah, mawaddah warahmah. Sayangnya pesan tersebut tidak berlaku bagi Harjo ,salah seorang direktur perusahaan asing di Jakarta. Baginya, seorang istri tidaklah lebih dari seorang pelayan atau pembantu yang harus menuruti semua perintah dan melayani suami. Bulan berganti bulan, tahun kian berlalu, selama itu pula kehidupan rumah tangga mereka lalui dengan bermacam ragam. Ada suka dan terkadang duka. Baginya, hal itu sudah menjadi sebuah kebiasaan dalam berkeluarga.
“Mi segera siapkan semua berkas Papi untuk meeting hari ini ” perintah Harjo. “ Kamu siapkan juga semua kebutuhan Laras dan Andik jangan sampai ada yang lupa.” tambahnya. Selain sibuk sebagai ibu rumah tangga, Hartini juga harus bertanggungjawab mengurusi kedai kopi yang dikelolanya. Meski begitu, dia tidak pernah mengeluh ataupun membangkang apapun yang diperintahkan suaminya.
Disisi lain, Harjo dengan entengnya bermain hati dengan sekretarisnya. Menurutnya, Hartini sudah tak menarik lagi dan hanya pantas dibuat konco wingkeng semata. “Indah, habis ini kita Dinner di Satoo – Chinese Hotel Restaurant dan kita teruskan agenda yang sudah kita susun” rayu Harjo sambil merangkul sekretarisnya yang bahenol itu. “oke ,kapanpun bos mau Indah siap melayani kok” balas Indah setengah menggoda.
Ibarat bolak balik membaca buku, kita pasti tahu endingnya apa dan bagaimana. Tanpa sengaja Hartini membuka ponsel milik suaminya yang berdering, alangkah kagetnya saat dia mendengar suara perempuan yang mengaku sebagai simpanan suaminya. “Apa benar Indah itu selingkuhan papi?? Jadi Papi telah mengkhianati Mami dan anak-anak?” Jerit Hartini. Alih-alih iba melihat tangisan sang Istri, Harjo kalap dan langsung menampar Hartini “Plaak....” tamparan keras menghampiri pipi Hartini yang dipenuhi air mata. “Dasar istri tak tau diri, masih untung aku tidak menceraikanmu” bentak Harjo sambil berlalu.
Tindakan tersebut bukanlah kali pertama, ketidakpedulian, ucapan yang kasar dan pukulan keras seolah telah menjadi kawan dalam hidupnya. Sikap keras suaminya mulai dirasakan Hartini paska melahirkan Andik anak keduanya. Namun dia hanya bisa diam dan pasrah demi kedua anaknya dan keutuhan rumah tangganya. Alunan doa selalu dia panjatkan setiap selesai solat, supaya dirinya diberikan ketabahan dalam menghadapi cobaan ini.
Namun kini kesabarannya telah habis tak tersisa menghadapi perangai suaminya yang semakin kasar dan tidak manusiawi. Hartini berniat mengakhiri biduk rumah tangganya dengan menceraikan Harjo suaminya. Namun niatan itupun diurungkannya setelah mendapatkan arahan dari salah seorang saudara yang prihatin melihat keadaannya.“Coba mbak datang saja ke tempat praktek ustadz Massar di Semarang, Seorang ustadz yang ahli dalam merukyah, siapa tahu beliau dapat membantu seperti beberapa teman saya yang rumah tangganya terselamatkan setelah berkonsultasi dengan Beliau” ungkapnya.
Setelah mengungkapkan permasalahan yang dihadapi, sesaat kemudian Ustadz Massar melaksanakan ruqyah jarak jauh bagi suami Hartini (Harjo). Tak berselang lama setelah itu, secara perlahan Harjo mulai menunjukkan perubahan sikap yang positif, dimana dirinya menjadi lebih tenang dan mulai menyadari kesalahan-kesalahan yang selama ini diperbuat. “Maafkan Papi Mi, selama ini telah banyak salah kepada Mami dan juga anak-anak” rujuk Harjo.  Meski dimata orang lain Harjo merupakan orang yang baik, tapi hati nurani tetap membuatnya tak bisa melupakan dosa yang pernah dibuatnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar