“Hai orang-orang yang
beriman, tidak halal bagi kamu mewarisi wanita dengan cara paksa, dan janganlah
kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang
telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan perbuatan keji
yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian jika kamu
tidak menyukai mereka maka bersabarlah, karena mungkin kamu tidak menyukai
sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (An-Nisa: 19).
Sebagai
seorang muslim, maka kutipan ayat di atas wajib menjadi rujukan dalam
mengarungi bahtera keluarga yang sakinah, mawaddah warahmah. Sayangnya pesan
tersebut tidak berlaku bagi Harjo ,salah seorang direktur perusahaan asing di
Jakarta. Baginya, seorang istri tidaklah lebih dari seorang pelayan atau
pembantu yang harus menuruti semua perintah dan melayani suami. Bulan
berganti bulan, tahun kian berlalu,
selama itu pula kehidupan rumah tangga mereka lalui dengan
bermacam ragam. Ada suka dan terkadang duka. Baginya, hal itu sudah menjadi sebuah
kebiasaan dalam berkeluarga.
“Mi segera siapkan semua berkas Papi untuk
meeting hari ini ” perintah Harjo. “ Kamu siapkan juga semua kebutuhan Laras
dan Andik jangan sampai ada yang lupa.” tambahnya. Selain sibuk sebagai ibu
rumah tangga, Hartini juga harus bertanggungjawab mengurusi kedai kopi yang
dikelolanya. Meski begitu, dia tidak pernah mengeluh ataupun membangkang
apapun yang diperintahkan suaminya.
Disisi lain, Harjo dengan entengnya bermain hati
dengan sekretarisnya.
Menurutnya, Hartini sudah tak menarik lagi dan hanya pantas dibuat konco
wingkeng semata. “Indah, habis ini kita Dinner di Satoo – Chinese Hotel
Restaurant dan kita teruskan agenda yang sudah kita susun” rayu Harjo sambil
merangkul sekretarisnya yang bahenol itu. “oke ,kapanpun bos mau Indah siap melayani
kok” balas Indah setengah menggoda.
Ibarat bolak balik membaca buku, kita pasti
tahu endingnya apa dan bagaimana. Tanpa sengaja Hartini membuka ponsel milik
suaminya yang berdering, alangkah kagetnya saat dia mendengar suara perempuan
yang mengaku sebagai simpanan suaminya. “Apa benar Indah itu selingkuhan papi??
Jadi Papi telah mengkhianati Mami dan anak-anak?” Jerit Hartini. Alih-alih
iba melihat tangisan sang Istri, Harjo kalap dan langsung menampar Hartini
“Plaak....” tamparan keras menghampiri pipi Hartini yang dipenuhi air mata.
“Dasar istri tak tau diri, masih untung aku tidak menceraikanmu” bentak Harjo
sambil berlalu.
Tindakan
tersebut bukanlah kali pertama, ketidakpedulian, ucapan yang kasar dan pukulan
keras seolah telah menjadi kawan dalam hidupnya. Sikap keras suaminya mulai
dirasakan Hartini paska melahirkan Andik anak keduanya. Namun dia hanya bisa
diam dan pasrah demi kedua anaknya dan keutuhan rumah tangganya. Alunan doa
selalu dia panjatkan setiap selesai solat, supaya dirinya diberikan ketabahan dalam menghadapi cobaan ini.
Namun kini kesabarannya telah habis tak
tersisa menghadapi perangai suaminya yang semakin kasar dan tidak manusiawi.
Hartini berniat mengakhiri biduk rumah tangganya dengan menceraikan Harjo
suaminya. Namun niatan itupun diurungkannya setelah mendapatkan arahan dari
salah seorang saudara yang prihatin melihat keadaannya.“Coba mbak datang saja
ke tempat praktek ustadz Massar di Semarang, Seorang ustadz yang ahli dalam
merukyah, siapa tahu beliau dapat membantu seperti beberapa teman saya yang
rumah tangganya terselamatkan setelah berkonsultasi dengan Beliau” ungkapnya.
Setelah mengungkapkan permasalahan yang
dihadapi, sesaat kemudian Ustadz Massar melaksanakan ruqyah jarak jauh bagi
suami Hartini (Harjo). Tak berselang lama setelah itu, secara perlahan Harjo
mulai menunjukkan perubahan sikap yang positif, dimana dirinya menjadi lebih
tenang dan mulai menyadari kesalahan-kesalahan yang selama ini diperbuat.
“Maafkan Papi Mi, selama ini telah banyak salah kepada Mami dan juga anak-anak”
rujuk Harjo.
Meski dimata orang lain Harjo merupakan orang yang baik, tapi hati nurani tetap
membuatnya tak bisa melupakan dosa yang pernah dibuatnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar