Selasa, 04 Agustus 2015

Meluluhkan Hati Orangtua



Sebut saja aku Kinara, Diusiaku yang menginjak 30 th, aku masih saja hidup menjomblo. Sebenarnya banyak juga laki-laki yang mencoba mendekatiku dari mulai teman sekolah, teman kuliah hingga rekan kerjaku. Namun mereka semua akhirnya mundur teratur karena tidak tahan dengan sikap orang tuaku yang sombong dan otoriter. Mereka menetapkan kriteria yang cukup tinggi untuk calon pendampingku kelak. Menurutnya,  aku adalah barang dagangan yang bisa dijual dengan harga tinggi.
Akupun menjomblo untuk yang kesekian kalinya. Setelah melewati masa-masa suramku yang tersakiti, Tak berselang lama aku kembali berkenalan dengan seorang pemuda baik yang membuat hatiku akhirnya bertekuk lutut. Teman-teman menyebutku cantik dan mudah bergaul, mungkin itulah yang membuatku cepat akrab dengan orang sekitar tak terkecuali Dahlan staf baru di kantorku. Akibat seringnya bertemu dan bekerja sama akhirnya perasaan cinta itu pun tumbuh subur diantara kami. Hubungan kami berjalan dengan lancar hingga 5 bulan lamanya karena aku tak pernah memberitahukan hal ini kepada mama dan papa. Aku takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti sebelumnya. Setiap pagi saat berangkat kerja aku selalu menghampiri Dahlan kerumahnya lalu kita berangkat ke kantor bersama-sama. Begitulah setiap harinya kami selalu berangkat dan pulang kerja bersama. Dengan lapang dada Dahlan menerima segala keputusan yang aku ambil karena aku tak ingin hubungan ini kandas begitu saja. 
Tak terasa telah 2 tahun lamanya kami menjalani hubungan backstreet dan pada hari yang telah kami tentukan, Dahlanpun datang kerumah untuk melamarku.
“ Pak…maksud kedatangan saya kali ini, ingin mengutarakan niat saya untuk melangkah lebih jauh bersama Kinara …jika diijinkan saya akan membawa kedua orang tua saya kesini untuk mengajukan lamaran resmi…” ucap Dahlan kepada papa.
“ Kami berdua sudah tahu maksud kedatanganmu… tapi sebagaimana kamu tahu, kami  tak ingin kinara nantinya hidup sengsara …” jawab papa sinis.
“ saya adalah lelaki yang bertanggung jawab saya akan bekerja keras... untuk menghidupi dan menjaga keluarga saya nantinya “ jawab Dahlan  mantap.
Rasa egois dan aura negatif yang telah memenuhi hati dan perasaan orangtuaku membuat Dahlan merasa direndahkan. Dengan bangga papa mengatakan bahwa aku telah dijodohkan dengan seorang pengusaha kaya yang tentunya bisa membahagiakan hidupku. Meski semua itu hanyalah omongkosong demi menjaga gengsi semata. Akhirnya Dahlan pulang dengan memikul rasa kecewa yang menumpuk di hatinya, begitu juga denganku yang begitu kecewa dengan sikap orangtuaku. Mereka tak pernah mau mengerti perasaanku dan apa yang aku inginkan. Tapi Aku bukan wanita yang suka berontak jika disakiti. Aku hanya bisa diam dan menahan betapa perihnya hatiku dengan apa yang telah terjadi. Selepas kejadian malam itu, hubunganku dengan Dahlan terputus tanpa ada kepastian. Setiap kali bertemu di kantor, kami hanya diam tak bertegur sapa karena kami sama-sama memendam rasa kecewa atas keputusan orangtuaku. Aku hanya bisa ikhlas dengan keputusan mereka dan berusaha tegar menghadapinya. Semoga Allah memberiku hati yang lapang.
Lina sahabatku yang merasa iba dengan apa yang tengah menimpaku,mencoba menawarkan diri dengan mengajakku menemui Ustadz Massar. Kepada beliau ku tumpahkan semua sesak didadaku dengan air mata berlinang.
“ sudah... hapus air matamu, apapun yang terjadi syukuri hidup ini, ingatlah bahwa kita masih punya Allah SWT tempat kita mengadu ketika hati sedang gundah,gelisah dan dipenuhi dengan keputusasaan “ ucap beliau dengan arif.
Memang sepulang dari tempat beliau aku merasakan ketenangan dan perubahan yang nampak pada diri orangtuaku. Semakin hari sifat – sifat buruk dan ketamakan yang telah lama bersemayam dalam hati mereka semakin berkurang. Yang membuatku terkejut, rupanya mama, papa dan juga Dahlan telah saling memaafkan dan merencanakan pesta pertunangan untuk meresmikan hubungan kami. Subhanallah, mungkin ini jawaban dari Allah atas apa yang aku usahakan selama ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar