Sebut saja aku
Kinara, Diusiaku yang menginjak 30 th, aku masih saja hidup menjomblo.
Sebenarnya banyak juga laki-laki yang mencoba mendekatiku dari mulai teman
sekolah, teman kuliah hingga rekan kerjaku. Namun mereka semua akhirnya mundur
teratur karena tidak tahan dengan sikap orang tuaku yang sombong dan otoriter.
Mereka menetapkan kriteria yang cukup tinggi untuk calon pendampingku kelak. Menurutnya, aku adalah
barang dagangan yang bisa dijual dengan harga tinggi.
Akupun menjomblo
untuk yang kesekian kalinya. Setelah melewati masa-masa suramku yang tersakiti,
Tak berselang lama aku kembali berkenalan dengan seorang pemuda baik
yang membuat hatiku akhirnya bertekuk lutut. Teman-teman menyebutku cantik dan
mudah bergaul, mungkin itulah yang membuatku cepat akrab dengan orang sekitar
tak terkecuali Dahlan staf baru di kantorku. Akibat
seringnya bertemu dan bekerja sama akhirnya perasaan cinta itu pun
tumbuh subur
diantara kami. Hubungan kami berjalan dengan lancar hingga 5 bulan lamanya
karena aku tak pernah memberitahukan hal ini kepada mama dan papa.
Aku takut terjadi hal-hal yang tidak
diinginkan seperti sebelumnya. Setiap pagi saat berangkat kerja aku selalu
menghampiri Dahlan kerumahnya lalu kita berangkat ke kantor bersama-sama.
Begitulah setiap harinya kami selalu berangkat dan pulang kerja bersama. Dengan
lapang dada Dahlan menerima segala keputusan yang aku
ambil karena aku tak ingin hubungan ini kandas begitu saja.
Tak terasa telah 2 tahun lamanya kami menjalani hubungan backstreet dan pada hari yang telah kami tentukan,
Dahlanpun datang kerumah untuk melamarku.
“ Pak…maksud kedatangan saya kali
ini, ingin mengutarakan niat saya untuk melangkah lebih jauh bersama Kinara
…jika diijinkan saya akan membawa kedua orang tua saya kesini untuk mengajukan
lamaran resmi…” ucap Dahlan kepada papa.
“ Kami berdua sudah tahu maksud
kedatanganmu… tapi sebagaimana kamu tahu, kami tak ingin kinara nantinya hidup sengsara …”
jawab papa sinis.
“ saya adalah lelaki yang
bertanggung jawab saya akan bekerja keras... untuk menghidupi dan menjaga keluarga
saya nantinya “ jawab Dahlan mantap.
Rasa egois dan aura negatif yang
telah memenuhi hati dan perasaan orangtuaku membuat Dahlan merasa direndahkan.
Dengan bangga papa mengatakan bahwa aku telah dijodohkan dengan seorang
pengusaha kaya yang tentunya bisa
membahagiakan hidupku. Meski semua itu hanyalah omongkosong demi menjaga gengsi
semata. Akhirnya Dahlan pulang dengan memikul rasa kecewa yang menumpuk di
hatinya, begitu juga denganku yang begitu kecewa dengan sikap orangtuaku. Mereka tak pernah mau mengerti perasaanku dan apa yang
aku inginkan. Tapi Aku bukan
wanita yang suka berontak jika disakiti. Aku hanya bisa diam dan menahan betapa
perihnya hatiku dengan apa yang telah terjadi. Selepas kejadian malam itu,
hubunganku dengan Dahlan terputus tanpa ada kepastian. Setiap kali bertemu di
kantor, kami hanya diam tak bertegur sapa karena kami sama-sama memendam rasa
kecewa atas keputusan orangtuaku. Aku hanya bisa ikhlas dengan keputusan mereka
dan berusaha tegar menghadapinya. Semoga Allah memberiku hati yang lapang.
Lina sahabatku yang merasa iba dengan
apa yang tengah menimpaku,mencoba menawarkan diri dengan mengajakku menemui
Ustadz Massar. Kepada
beliau ku tumpahkan semua sesak didadaku dengan air mata berlinang.
“ sudah... hapus air matamu, apapun
yang terjadi syukuri hidup ini, ingatlah bahwa kita masih punya Allah SWT
tempat kita mengadu ketika hati sedang gundah,gelisah dan dipenuhi dengan
keputusasaan “ ucap beliau dengan arif.
Memang sepulang dari tempat beliau aku
merasakan ketenangan dan perubahan yang nampak pada diri orangtuaku. Semakin
hari sifat – sifat buruk dan ketamakan yang telah lama bersemayam
dalam hati mereka semakin berkurang. Yang membuatku terkejut, rupanya mama,
papa dan juga Dahlan telah saling memaafkan dan merencanakan pesta pertunangan
untuk meresmikan hubungan kami. Subhanallah, mungkin ini jawaban dari Allah
atas apa yang aku usahakan selama ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar