Terkadang kita tak menyadari bahwa pernikahan yang dijalani bisa mengalami pasang surut. Yang terbayang dibenak kita, bahwa pernikahan itu laksana memasuki pintu surga padahal dibalik itu semua, ada pintu neraka yang sedang menunggu kita untuk dimasukinya juga.
Aku surya, seorang pegawai biasa yang bekerja di perusahaan Amerika yang
bertempat dijakarta. Aku termasuk workaholic dan ulet dalam setiap pekerjaan.
Mungkin hal itulah yang membuat Dina, anak sulung salah satu keluarga pemegang
saham terbesar diperusahaan tempatku mencari nafkah memilihku untuk menjadi
pasangan hidupnya. Menurutnya aku merupakan sosok seorang lelaki yang dicarinya
selama ini.
Pada awalnya, aku memang menolak permintaannya untuk menjadikanku sebagai
kekasihnya karena aku menyadari siapa diriku dan statusku di perusahaan. Akan
tetapi saat masalah hidup yang pelik mulai mendera keluargaku, entah bagaimana
ceritanya Dina datang sebagai dewi fortuna dan menyelamatkan keluargaku dari
lilitan hutang rentenir yang
ditinggalkan almarhum ayah.
Melihat kegigihan dan keseriusannya mendapatkan hatiku, Aku yang merasa
berhutang budi dengannya perlahan –lahan
mencoba membuka hatiku untuknya. Singkat cerita, setelah menjalani proses
pacaran hampir 1 tahun kamipun melangsungkan pesta pernikahan yang sangat
meriah. Praktis segala kehidupanku berubah mewah setelah menyandang status baru
sebagai menantu pengusaha kaya tak terkecuali posisiku dikantor yang langsung
melejit. Akupun membawa serta ibuku untuk tinggal satu atap bersamaku dan juga
istriku.
Awal kehidupan rumah tanggaku dengan Dina memanglah baik dan nyaris tanpa
masalah. Namun dalam perjalanan waktu, konflik itu perlahan namun pasti mulai
meradang kami. Istriku yang selalu bersikap manis dan patuh ketika dihadapanku
ternyata mempunyai perangai yang buruk saat aku tak ada dirumah. Menurut
pengakuan bibi( pembantuku), Dina sering memarahi ibuku dan menganggap ibuku
sejajar dengan bibi, Astaghfirullah!!.
Hati siapa yang tidak hancur Melihat kenyataan seorang istri ternyata tega
berbuat nista kepada ibu mertuanya sendiri dibelakang suami. Aku sendiri merasa
gagal menjadi anak yang berbakti kepada orangtuanya dan imam dalam
rumahtanggaku.
Aku sudah benar-benar tak kuasa menahan amarahku, suara serak yang mencekat
kerongkonganku akhirnya kupaksa juga untuk berkata “ mulai malam ini kita
cerai!!” ujarku penuh dengan emosi. Sejak terungkapnya peristiwa menyakitkan
itu, rumah tanggaku seolah mati rasa. Tak ada lagi keharmonisan dan kasih
sayang. Aku dan ibuku memutuskan untuk
kembali tinggal dirumah peninggalan almarhum ayah dan hidup tenang bersama
ibuku tercinta. Penyesalan tinggalah penyesalan, kini yang tersisa dibatinku
adalah sebuah luka yang sangat mendalam.
“ Surya minta maaf bu, aku janji akan menjaga ibu dan tidak akan ada lagi
yang menyakiti ibu” ungkapku usai solat berjamaah bersama ibuku.
“ ibu sudah memaafkanmu dan juga dina,
maafkanlah istrimu dan ajaklah dia bertaubat agar bisa meraih surga bersama-sama”.
Pinta ibuku yang membuatku terharu.
Ditengah kegalauanku, aku bertemu dengan Yuda sahabat dekatku sejak kecil.
Dia pula yang mengantarkanku bertemu dengan ustadz massar di semarang untuk
mencari solusi masalahku melalui doa dan ayat-ayat ruqyah yang dipanjatkan.
“tak ada satupun pernikahan yang sempurna. percayalah bila kita ikhtiar dan
bersabar masalah sepelik apapun pasti ada jalan keluarnya.” Itulah nasehat yang
disampaikan ustadz massar yang selalu aku ingat hingga sekarang karena aku percaya
Allah SWT takkan memberi cobaan diluar
batas kemampuan hamba-Nya.
Disuatu malam Dina datang dan langsung bersimpuh dikakiku . Ia menangis,
menyesali semua yang terjadi dan ingin kembali memulai kehidupan rumah tangga
kami yang telah hancur karena sikapnya. Dengan perasaan masih terluka aku
mencoba memulai lembaran baru , tak ada air mata yang yang tak bisa
menyelesaikan segalanya. Hidupku berlandaskan cinta, meski perih harus kulalui.
Semoga kedepannya kami selalu diberi petunjuk dan kekuatan oleh Allah SWT
untuk menapaki hidup yang lebih baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar