Jumat, 07 Agustus 2015

Istriku Durhaka Kepada Ibuku


Terkadang kita tak menyadari bahwa pernikahan yang dijalani bisa mengalami pasang surut. Yang terbayang dibenak kita, bahwa pernikahan itu laksana memasuki pintu surga padahal dibalik itu semua, ada pintu neraka yang sedang menunggu kita untuk dimasukinya juga.
Aku surya, seorang pegawai biasa yang bekerja di perusahaan Amerika yang bertempat dijakarta. Aku termasuk workaholic dan ulet dalam setiap pekerjaan. Mungkin hal itulah yang membuat Dina, anak sulung salah satu keluarga pemegang saham terbesar diperusahaan tempatku mencari nafkah memilihku untuk menjadi pasangan hidupnya. Menurutnya aku merupakan sosok seorang lelaki yang dicarinya selama ini.
Pada awalnya, aku memang menolak permintaannya untuk menjadikanku sebagai kekasihnya karena aku menyadari siapa diriku dan statusku di perusahaan. Akan tetapi saat masalah hidup yang pelik mulai mendera keluargaku, entah bagaimana ceritanya Dina datang sebagai dewi fortuna dan menyelamatkan keluargaku dari lilitan hutang  rentenir yang ditinggalkan almarhum ayah.
Melihat kegigihan dan keseriusannya mendapatkan hatiku, Aku yang merasa berhutang  budi dengannya perlahan –lahan mencoba membuka hatiku untuknya. Singkat cerita, setelah menjalani proses pacaran hampir 1 tahun kamipun melangsungkan pesta pernikahan yang sangat meriah. Praktis segala kehidupanku berubah mewah setelah menyandang status baru sebagai menantu pengusaha kaya tak terkecuali posisiku dikantor yang langsung melejit. Akupun membawa serta ibuku untuk tinggal satu atap bersamaku dan juga istriku.
Awal kehidupan rumah tanggaku dengan Dina memanglah baik dan nyaris tanpa masalah. Namun dalam perjalanan waktu, konflik itu perlahan namun pasti mulai meradang kami. Istriku yang selalu bersikap manis dan patuh ketika dihadapanku ternyata mempunyai perangai yang buruk saat aku tak ada dirumah. Menurut pengakuan bibi( pembantuku), Dina sering memarahi ibuku dan menganggap ibuku sejajar dengan bibi, Astaghfirullah!!.
Hati siapa yang tidak hancur Melihat kenyataan seorang istri ternyata tega berbuat nista kepada ibu mertuanya sendiri dibelakang suami. Aku sendiri merasa gagal menjadi anak yang berbakti kepada orangtuanya dan imam dalam rumahtanggaku.
Aku sudah benar-benar tak kuasa menahan amarahku, suara serak yang mencekat kerongkonganku akhirnya kupaksa juga untuk berkata “ mulai malam ini kita cerai!!” ujarku penuh dengan emosi. Sejak terungkapnya peristiwa menyakitkan itu, rumah tanggaku seolah mati rasa. Tak ada lagi keharmonisan dan kasih sayang.  Aku dan ibuku memutuskan untuk kembali tinggal dirumah peninggalan almarhum ayah dan hidup tenang bersama ibuku tercinta. Penyesalan tinggalah penyesalan, kini yang tersisa dibatinku adalah sebuah luka yang sangat mendalam.
“ Surya minta maaf bu, aku janji akan menjaga ibu dan tidak akan ada lagi yang menyakiti ibu” ungkapku usai solat berjamaah bersama ibuku.
“ ibu sudah memaafkanmu dan juga dina,  maafkanlah istrimu dan ajaklah dia bertaubat agar bisa meraih surga bersama-sama”. Pinta ibuku yang membuatku terharu.
Ditengah kegalauanku, aku bertemu dengan Yuda sahabat dekatku sejak kecil. Dia pula yang mengantarkanku bertemu dengan ustadz massar di semarang untuk mencari solusi masalahku melalui doa dan ayat-ayat ruqyah yang dipanjatkan. “tak ada satupun pernikahan yang sempurna. percayalah bila kita ikhtiar dan bersabar masalah sepelik apapun pasti ada jalan keluarnya.” Itulah nasehat yang disampaikan ustadz massar yang selalu aku ingat hingga sekarang karena aku percaya Allah SWT  takkan memberi cobaan diluar batas kemampuan hamba-Nya.
Disuatu malam Dina datang dan langsung bersimpuh dikakiku . Ia menangis, menyesali semua yang terjadi dan ingin kembali memulai kehidupan rumah tangga kami yang telah hancur karena sikapnya. Dengan perasaan masih terluka aku mencoba memulai lembaran baru , tak ada air mata yang yang tak bisa menyelesaikan segalanya. Hidupku berlandaskan cinta, meski perih harus kulalui. Semoga kedepannya kami selalu diberi petunjuk dan kekuatan oleh Allah SWT untuk  menapaki hidup yang lebih baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar