Selasa, 03 Maret 2015

Ruqyah Solusi Penyakit Hati



Panggil saja aku Budi, Papaku merupakan seorang pejabat pemerintahan yang mempunyai beberapa usaha sampingan, sedang untuk pengelolaannya dipercayakan kepada beberapa orang sahabatnya yang mempunyai keahlian dibidangnya. Papa hanya mengontrol di saat selesai jam kerjanya. Tak heran jika kami sekeluarga hidup bergelimang harta.
Setiap hari kerjaku hanya bersenang-senang dan ke diskotik bersama teman-teman yang rata-rata anak orang berada. Mama memang sering memperingatkanku tapi tak pernah aku gubris. Astaghfirullah,Budi, sampai kapan kamu akan terus seperti ini?” tegur mama malam itu saat aku pulang dalam keadaan mabuk berat. Aku tak menjawab karena keburu jatuh tersungkur tak sadarkan diri.
Sebenarnya semua itu aku lakukan karena sikap protesku terhadap papa yang terlalu sibuk dengan urusan kantornya sehingga jarang memperhatikan aku maupun mama. Walau mama tak pernah mengeluh tapi aku tahu kalau mama juga jenuh dengan sikap papa.
Sampai suatu ketika kami dikejutkan dengan  pemberitaan di berbagai media bahwa papa terlibat kasus korupsi di instansi pemerintahan tempat dia bekerja. Awalnya aku tidak percaya, sampai akhirnya salah seorang teman kantor papa datang ke rumah dan mengabarkan kalau papa terlibat kasus korupsi dan saat ini dalam penyelidikan pihak yang berwajib. Buntut dari perbuatan papa, beberapa mobil dan rumah beserta isinya disita oleh bank. Papapun di jadikan tersangka dan harus mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Melihat kenyataan ini, aku tentu saja secara cepat naik pitam. Emosi jiwapun memuncak hingga merasakan dikepalaku tumbuh tanduk. Kami kehilangan hampir semua yang kami miliki, nama baik, kepercayaan dan bahkan kebebasan kami untuk sekedar berjalan-jalan ditengah kota. Selang beberapa hari kemudian mamapun jatuh sakit karena tak kuat menanggung malu dan kesedihan yang teramat sangat.“ Sudahlah ma, jangan terlalu difikirkan” kataku mencoba menenangkan mama, akan tetapi mama hanya diam dan terus menangis dan merenungi atas apa yang telah terjadi. Semakin hari tubuhnya semakin kurus, seakan tak mempunyai harapan untuk menatap masa depan, meskipun aku selalu ada disampingnya. Walaupun Kami sempat membawa mama ke rumah sakit, akan tetapi apalah daya, takdir telah berkata lain mama harus meninggalkanku untuk selama-lamanya.
Menghadapi kenyataan seperti itu, rasa benci dan kecewaku kepada papa semakin memuncak sampai ke ubun-ubun. Akupun semakin tenggelam dalam kesedihan setelah ditinggal  mama. Sampai akhirnya aku lari ke Narkoba. Beruntung aku masih mempunyai seorang sahabat yang peduli dengan keadaanku. “Sadar Bud, ini bukan akhir dari segalanya” nasehatnya. “Apalagi bro, semua sudah berakhir, aku sudah tidak punya apa apa lagi” sambil bercucuran air mata aku menjawab.
Meskipun aku sudah beberapa kali mengecewakannya, namun sahabat karibku tidak pernah menyerah maupun putus asa. Dengan sekuat tenaga dia selalu berusaha menyadarkanku dan memberiku semangat untuk bangkit dari semua cobaan ini. Dia pula yang telah membawaku ke seorang pakar ruqyah yang bernama ustadz Massar untuk melaksanakan ruqyah diri agar aku dapat segera sadar dan bangkit dari keterpurukanku. Alhamdulillah setelah beberapa kali melakukan terapi ruqyah yang dibimbing langsung oleh Ustadz Massar, aku merasa lebih tenang menghadapi semua masalahku dan mencoba untuk bangkit dari semua derita batin yang aku alami untuk menjadi manusia baru yang bisa dibanggakan. Meskipun aku masih sakit hati dengan papa, tapi aku berusaha untuk ikhlas dan tidak membencinya, karena dialah orang yang paling berjasa dalam hidupku selama ini.
Sebagai manusia baru, aku mulai menata hidup kembali. Meskipun hidup sederhana, bagiku itu lebih dari cukup asal kita bisa bersyukur. Berfoya-foya adalah masa laluku yang harus aku delete bukan untuk menghilangkan akan tetapi menjadi pelajaran. Dengan semua bentuk keburukan yang telah aku lakukan, ternyata aku baru menyadari bahwa hanya menjadi seorang muslim sejatilah hidup bisa menjadi tenang. Semoga kisah ini bisa menjadi renungan yang berarti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar