Namun sejak kehadiran ibu mertuaku di rumah kami, suasana hangat
dan bahagia itu tak lagi kami rasakan. Mertuaku selalu saja ikut campur dalam
urusan rumah tangga kami bahkan cenderung mengatur semuanya. Hal itu pula yang
membuat bik Inah pembantu kami yang telah 5 tahun ikut denganku meminta pulang
karena tak tahan dengan sikap ibu yang sok mengatur dan cari muka di depan
suamiku. Segala sesuatu yang aku dan bi Ina lakukan selalu salah dihadapan ibu
mertuaku. Kami seolah-olah menjadi musuh yang harus segera disingkirkannya.
Menghadapi itu semua aku berusaha tetap sabar dan ikhlas menjalaninya mengingat
dia adalah ibu dari suamiku yang berarti ibuku juga.
Suatu hari ibu marah besar karena guci kesayangannya pecah saat
Dika ( anak tertuaku ) yang kala itu sedang main bola dengan adiknya secara tak
sengaja menyenggol guci tersebut. Dika sampai menangis seharian dan tak mau
makan karena merasa bersalah. Walaupun kami sudah berjanji akan segera
menggantinya dengan yang baru, ibu tetap saja marah karena menurutnya guci
tersebut menyimpan kenangan tersendiri dengan mendiang ayah. Ibu mengadukan
peristiwa tersebut kepada suamiku menurutnya dika sengaja memecahkan gucinya
karena tidak senang dengan neneknya. Sejak kejadian itu, selalu saja ada keributan
antara aku dan suamiku karena dia lebih percaya kepada ibunya ketimbang aku
istrinya dan juga anggota keluarga yang lain. Aku hanya bisa diam dan tak
henti-hentinya beristighfar menghadapi semuanya. Namun demikian aku masih tetap
berlaku sebagai menantu yang baik
dan istri yang taat bagi suamiku.
Hari-hari kulalui dengan gamang, entah mengapa aku jadi suka
menangis sendiri, tidak tahu apa yang aku tangisi baik ketika sedang memasak
atau sedang menjalankan ibadah sholat. Aku tak ingin semua sampai berlarut-larut
dan menyebabkan rumah tanggaku hancur, untuk itu aku berusaha mencari solusi
untuk memperbaiki semuanya dengan meruqyahkan ibu mertuaku ditempat praktek Ustadz Massar di Semarang seperti
yang aku baca di tabloid Hikmah dan Nurani
langgananku. Setelah aku hubungi via hp terlebih dahulu, aku
segera meluncur ke Semarang dengan sedan Toyota altisku menuju tempat praktek
ustadz massar di perbatasan kota semarang dan berharap ada keajaiban nantinya.
Kepada Beliau aku sampaikan semua masalah
dalam rumah tanggaku, akhirnya beliau memutuskan untuk melakukan ruqyah atas
diri ibu mertuaku agar segera dibukakan pintu hatinya untuk tidak bertindak
yang dapat membuat orang lain merasa dirugikan dan membuat sakit hati. Menurut
beliau saat ini, ibu mertuaku merasa hidup sendirian setelah suaminya meninggal
sedang semua anak-anaknya sudah berkeluarga jadi dia sengaja mencari perhatian
kepada anak bungsu kesayangannya yaitu suamiku.
Aku yakin apa yang Allah berikan sekarang ini
merupakan hal yang terbaik untukku dan keluargaku. Aku selalu bersyukur dan
tetap tersenyum. Apa yang telah ibu mertuaku perbuat, semoga aku bisa
memaafkannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar