Sabtu, 28 Februari 2015

Mertua Suka Mengatur

Rumah tanggaku dengan mas Hendra(bukan nama sebenarnya ) sudah berjalan 10 tahun dan telah di karuniai 2 orang anak laki-laki. Awalnya keluarga kami sangat bahagia terlebih kami hidup berkecukupan, mapan dan terpandang karena baik aku maupun suami sama-sama bekerja pada sebuah instansi pemerintah. Pada akhir pekan kami sering pergi berlibur keluar kota untuk sekedar refreshing bersama keluarga atau hanya sekedar belanja di mall.
Namun sejak kehadiran ibu mertuaku di rumah kami, suasana hangat dan bahagia itu tak lagi kami rasakan. Mertuaku selalu saja ikut campur dalam urusan rumah tangga kami bahkan cenderung mengatur semuanya. Hal itu pula yang membuat bik Inah pembantu kami yang telah 5 tahun ikut denganku meminta pulang karena tak tahan dengan sikap ibu yang sok mengatur dan cari muka di depan suamiku. Segala sesuatu yang aku dan bi Ina lakukan selalu salah dihadapan ibu mertuaku. Kami seolah-olah menjadi musuh yang harus segera disingkirkannya. Menghadapi itu semua aku berusaha tetap sabar dan ikhlas menjalaninya mengingat dia adalah ibu dari suamiku yang berarti ibuku juga.
Suatu hari ibu marah besar karena guci kesayangannya pecah saat Dika ( anak tertuaku ) yang kala itu sedang main bola dengan adiknya secara tak sengaja menyenggol guci tersebut. Dika sampai menangis seharian dan tak mau makan karena merasa bersalah. Walaupun kami sudah berjanji akan segera menggantinya dengan yang baru, ibu tetap saja marah karena menurutnya guci tersebut menyimpan kenangan tersendiri dengan mendiang ayah. Ibu mengadukan peristiwa tersebut kepada suamiku menurutnya dika sengaja memecahkan gucinya karena tidak senang dengan neneknya. Sejak kejadian itu, selalu saja ada keributan antara aku dan suamiku karena dia lebih percaya kepada ibunya ketimbang aku istrinya dan juga anggota keluarga yang lain. Aku hanya bisa diam dan tak henti-hentinya beristighfar menghadapi semuanya. Namun demikian aku masih tetap berlaku sebagai menantu yang baik dan istri yang taat bagi suamiku.
Hari-hari kulalui dengan gamang, entah mengapa aku jadi suka menangis sendiri, tidak tahu apa yang aku tangisi baik ketika sedang memasak atau sedang menjalankan ibadah sholat. Aku tak ingin semua sampai berlarut-larut dan menyebabkan rumah tanggaku hancur, untuk itu aku berusaha mencari solusi untuk memperbaiki semuanya dengan meruqyahkan ibu mertuaku ditempat  praktek Ustadz Massar di Semarang seperti yang aku baca di tabloid Hikmah dan Nurani langgananku. Setelah aku hubungi via hp terlebih dahulu, aku segera meluncur ke Semarang dengan sedan Toyota altisku menuju tempat praktek ustadz massar di perbatasan kota semarang dan berharap ada keajaiban nantinya.
Kepada Beliau aku sampaikan semua masalah dalam rumah tanggaku, akhirnya beliau memutuskan untuk melakukan ruqyah atas diri ibu mertuaku agar segera dibukakan pintu hatinya untuk tidak bertindak yang dapat membuat orang lain merasa dirugikan dan membuat sakit hati. Menurut beliau saat ini, ibu mertuaku merasa hidup sendirian setelah suaminya meninggal sedang semua anak-anaknya sudah berkeluarga jadi dia sengaja mencari perhatian kepada anak bungsu kesayangannya yaitu suamiku.
Aku yakin apa yang Allah berikan sekarang ini merupakan hal yang terbaik untukku dan keluargaku. Aku selalu bersyukur dan tetap tersenyum. Apa yang telah ibu mertuaku perbuat, semoga aku bisa memaafkannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar