Jumat, 13 Februari 2015

Aku Mendambakan Suami Normal



Maria  anak seorang perwira TNI yang memiliki segudang peraturan super ketat dirumahnya dijodohkan dengan Bambang anak seorang brigjen TNI . Keberadaan lingkungan keluarga yang protikuler  membuat Maria tak kuasa untuk menolak perjodohan tersebut dan hanya bisa pasrah menerima keadaan. 
Pada awal pernikahan, Maria merasa Bambang adalah sosok suami yang bertanggung jawab dan penyayang keluarga. Tak ada hal-hal yang membuat Maria curiga saat itu karena semua berjalan dengan normal. Namun setelah tiga tahun mengarungi rumah tangga badai topan mulai menghembus keluarga mereka. Sebuah kenyataan pahit harus diterima Maria saat mengetahui kenyataan bahwa suaminya seorang Gay. Meskipun awalnya Bambang terus mengelak, akan tetapi ibarat makanan basi, walaupun dibungkus serapi mungkin suatu saat akan mengeluarkan aroma tak sedap. Beberapa bulan kemudian semua kebohongannya terkuak saat Maria mengetahui foto-foto mesra suaminya bersama teman lelakinya di gadget milik suaminya, serta bukti-bukti lain yang menguatkan fakta tersebut.
Percekcokan demi percekcokanpun mulai menghiasi rumah tangga mereka. “lebih baik kita cerai, dari pada mamah harus hidup dengan menanggung aib ini!” pinta Maria yang tak mampu lagi menahan kecewa dan sakit hati. Diluar dugaan, Bambang yang merasa terpojok mengancam akan melengserkan kedudukan ayahnya dengan berbagai cara jika dia benar-benar melayangkan gugatan cerai dan membeberkan aib suaminya kepada orang lain. Mendengar ancaman tersebut, Maria hanya bisa pasrah dan memendam semuanya demi kebaikan keluarganya. Dia seakan merasa seperti ada banyak paku yang dilempar ke dalam dadanya, hingga biarpun paku itu terlepas, luka dan rasa sakitnya masih terasa.
Sejak kejadian itu, pasangan suami istri yang baru membina rumah tangga beberapa tahun itu memutuskan untuk pisah ranjang. Tak ada lagi perhatian dan canda tawa yang keluar dari mulut mereka. Semakin hari, rumah tangganya semakin hambar, bahkan perilaku Bambang semakin berani dan menjadi-jadi. Tanpa sungkan dia membawa pasangan gay nya kedalam rumah meskipun ada Maria. Namun di tengah kekecewaan dan kesedihannya, Maria tak pernah berhenti berdoa untuk kebaikan suami dan keluarganya.
Tak kuat menghadapi kenyataan, Maria mencoba memberanikan diri untuk menemui ustadz Massar di Semarang, seorang ustadz yang ahli dalam merukyah  untuk mengkonsultasikan masalah yang mendera keluarganya.
 “Apabila ibu telah melakukan berbagai cara untuk menyadarkan dan menyembuhkannya akan tetapi belum berhasil, alangkah baiknya jika ibu segera melaksanakan Ruqyah Diri untuk suami ibu” tandas ustadz Massar.
Tanpa menunggu lama, Mariapun segera menyetujui saran Sang Ustadz dengan harapan suaminya dapat segera sadar dari perbuatannya. “Jangan pernah berhenti berdoa dan terus berusaha untuk mengajak suami ke jalan yang benar” tutur sang ustadz. Setelah mendapatkan arahan dan amalan dari ustadz Massar, Maria bergegas pulang dan mulai menjalankan apa yang telah diamanatkan ustadz Massar.
Kesabaran dan kesungguhan usaha Maria selama ini berbuah manis. Tidak kurang dari dua bulan dan atas izin Allah Swt, suami Maria mulai menunjukkan perubahan. Hal tersebut ditandai dengan perubahan sikapnya kearah yang lebih positif serta hilangnya foto-foto dan sms mesra suami dengan pasangan-pasangannya. Hari berganti hari, sampai akhirnya sang suami sembuh total dan menyatakan ingin bertaubat taubatan nasuha kepada Maria. Maria yang tak kuasa menahan haru hanya bisa menitikkan air mata kebahagiaan sembari memeluk suaminya.
Dengan bersyukur kepada Allah Swt, Maria membawa suaminya bertemu dengan ustadz Massar. “Setelah ini, perbanyaklah membaca al Qur’an dan jangan tinggalkan shalat lima waktu serta perbanyaklah berbuat kebaikan” Pesan sang Ustadz.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar