Maria
anak seorang perwira TNI yang memiliki segudang peraturan super ketat
dirumahnya dijodohkan dengan Bambang anak seorang brigjen TNI . Keberadaan
lingkungan keluarga yang protikuler
membuat Maria tak kuasa untuk menolak perjodohan tersebut dan hanya bisa
pasrah menerima keadaan.
Pada
awal pernikahan, Maria merasa Bambang adalah sosok suami yang bertanggung jawab
dan penyayang keluarga. Tak ada hal-hal yang membuat Maria curiga saat itu
karena semua berjalan dengan normal. Namun setelah tiga tahun mengarungi rumah
tangga badai topan mulai menghembus keluarga mereka. Sebuah kenyataan pahit
harus diterima Maria saat mengetahui kenyataan bahwa suaminya seorang Gay.
Meskipun awalnya Bambang terus mengelak, akan tetapi ibarat makanan basi,
walaupun dibungkus serapi mungkin suatu saat akan mengeluarkan aroma tak sedap.
Beberapa bulan kemudian semua kebohongannya terkuak saat Maria mengetahui
foto-foto mesra suaminya bersama teman lelakinya di gadget milik
suaminya, serta bukti-bukti lain yang menguatkan fakta tersebut.
Percekcokan
demi percekcokanpun mulai menghiasi rumah tangga mereka. “lebih baik kita
cerai, dari pada mamah harus hidup dengan menanggung aib ini!” pinta Maria yang
tak mampu lagi menahan kecewa dan sakit hati. Diluar dugaan, Bambang yang
merasa terpojok mengancam akan melengserkan kedudukan ayahnya dengan berbagai
cara jika dia benar-benar melayangkan gugatan cerai dan membeberkan aib
suaminya kepada orang lain. Mendengar ancaman tersebut, Maria hanya bisa pasrah
dan memendam semuanya demi kebaikan keluarganya. Dia seakan merasa seperti ada
banyak paku yang dilempar ke dalam dadanya, hingga biarpun paku itu terlepas,
luka dan rasa sakitnya masih terasa.
Sejak kejadian itu, pasangan suami istri yang
baru membina rumah tangga beberapa tahun itu memutuskan untuk pisah ranjang. Tak
ada lagi perhatian dan canda tawa yang keluar dari mulut mereka. Semakin hari,
rumah tangganya semakin hambar, bahkan perilaku Bambang semakin berani dan
menjadi-jadi. Tanpa sungkan dia membawa pasangan gay nya kedalam rumah meskipun ada Maria. Namun di tengah kekecewaan
dan kesedihannya, Maria tak pernah berhenti berdoa untuk kebaikan suami dan
keluarganya.
Tak kuat menghadapi kenyataan, Maria mencoba
memberanikan diri untuk menemui ustadz Massar di Semarang, seorang ustadz yang
ahli dalam merukyah untuk
mengkonsultasikan masalah yang mendera keluarganya.
“Apabila ibu telah melakukan berbagai cara
untuk menyadarkan dan menyembuhkannya akan tetapi belum berhasil, alangkah
baiknya jika ibu segera melaksanakan Ruqyah
Diri untuk suami ibu” tandas ustadz Massar.
Tanpa
menunggu lama, Mariapun segera menyetujui saran Sang Ustadz dengan harapan
suaminya dapat segera sadar dari perbuatannya. “Jangan pernah berhenti berdoa
dan terus berusaha untuk mengajak suami ke jalan yang benar” tutur sang ustadz.
Setelah mendapatkan arahan dan amalan dari ustadz Massar, Maria bergegas pulang
dan mulai menjalankan apa yang telah diamanatkan ustadz Massar.
Kesabaran
dan kesungguhan usaha Maria selama ini berbuah manis. Tidak kurang dari dua
bulan dan atas izin Allah Swt, suami Maria mulai menunjukkan perubahan. Hal
tersebut ditandai dengan perubahan sikapnya kearah yang lebih positif serta
hilangnya foto-foto dan sms mesra suami dengan pasangan-pasangannya. Hari
berganti hari, sampai akhirnya sang suami sembuh total dan menyatakan ingin
bertaubat taubatan nasuha kepada Maria. Maria yang tak kuasa menahan haru hanya
bisa menitikkan air mata kebahagiaan sembari memeluk suaminya.
Dengan
bersyukur kepada Allah Swt, Maria membawa suaminya bertemu dengan ustadz
Massar. “Setelah ini, perbanyaklah membaca al Qur’an dan jangan tinggalkan
shalat lima waktu serta perbanyaklah berbuat kebaikan” Pesan sang Ustadz.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar