Panggil saja aku Budi, Papaku merupakan seorang pejabat
pemerintahan yang mempunyai beberapa usaha sampingan, sedang untuk
pengelolaannya dipercayakan kepada beberapa orang sahabatnya yang mempunyai
keahlian dibidangnya. Papa hanya mengontrol di saat selesai jam kerjanya. Tak heran jika kami sekeluarga hidup
bergelimang harta.
Setiap hari kerjaku hanya bersenang-senang dan ke
diskotik bersama teman-teman yang rata-rata anak orang berada. Mama memang sering memperingatkanku tapi tak pernah aku gubris. “Astaghfirullah,Budi, sampai kapan
kamu akan terus
seperti ini?” tegur mama malam itu saat aku pulang dalam keadaan mabuk berat. Aku
tak menjawab karena keburu jatuh tersungkur tak sadarkan diri.
Sebenarnya semua itu aku lakukan karena sikap
protesku terhadap papa yang terlalu
sibuk dengan urusan kantornya sehingga jarang memperhatikan aku maupun mama. Walau mama tak pernah mengeluh tapi
aku tahu kalau mama juga jenuh
dengan sikap papa.
Sampai suatu ketika kami dikejutkan dengan pemberitaan di berbagai media bahwa papa
terlibat kasus korupsi di instansi pemerintahan tempat dia bekerja. Awalnya aku
tidak percaya, sampai akhirnya salah seorang teman kantor papa datang ke rumah
dan mengabarkan kalau papa terlibat kasus korupsi dan saat ini dalam
penyelidikan pihak yang berwajib. Buntut
dari perbuatan papa, beberapa mobil dan rumah beserta isinya disita oleh bank. Papapun di
jadikan tersangka dan harus mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Melihat kenyataan ini, aku tentu saja secara cepat naik pitam.
Emosi jiwapun memuncak hingga merasakan dikepalaku tumbuh tanduk. Kami
kehilangan hampir semua yang kami miliki, nama baik, kepercayaan dan bahkan
kebebasan kami untuk sekedar berjalan-jalan ditengah kota. Selang beberapa hari
kemudian mamapun jatuh sakit karena tak kuat menanggung malu dan kesedihan yang
teramat sangat.“ Sudahlah ma, jangan terlalu difikirkan”
kataku mencoba menenangkan mama, akan tetapi mama hanya diam dan terus menangis
dan merenungi atas apa yang telah terjadi. Semakin hari tubuhnya semakin kurus,
seakan tak mempunyai harapan untuk menatap masa depan, meskipun aku selalu ada
disampingnya.
Walaupun Kami sempat membawa mama ke rumah sakit, akan tetapi
apalah daya, takdir telah berkata lain mama harus meninggalkanku
untuk selama-lamanya.
Menghadapi kenyataan seperti itu, rasa benci dan kecewaku
kepada papa semakin memuncak sampai ke ubun-ubun. Akupun semakin tenggelam
dalam kesedihan setelah ditinggal mama.
Sampai akhirnya aku lari ke Narkoba. Beruntung aku masih mempunyai seorang
sahabat yang peduli dengan keadaanku. “Sadar Bud, ini bukan akhir dari
segalanya” nasehatnya. “Apalagi bro, semua sudah berakhir, aku sudah tidak
punya apa apa lagi” sambil bercucuran air mata aku menjawab.
Meskipun aku sudah beberapa kali mengecewakannya, namun
sahabat karibku tidak pernah menyerah maupun putus asa. Dengan sekuat tenaga
dia selalu berusaha
menyadarkanku dan memberiku semangat untuk bangkit dari semua cobaan ini. Dia
pula yang telah membawaku ke seorang pakar ruqyah yang bernama ustadz Massar
untuk melaksanakan ruqyah diri agar
aku dapat segera sadar dan bangkit dari keterpurukanku. Alhamdulillah setelah
beberapa kali melakukan terapi ruqyah yang dibimbing langsung oleh Ustadz
Massar, aku merasa lebih tenang menghadapi semua masalahku dan mencoba untuk
bangkit dari semua derita batin yang aku alami untuk menjadi manusia baru yang
bisa dibanggakan. Meskipun aku masih sakit hati dengan papa, tapi aku berusaha
untuk ikhlas dan tidak membencinya, karena dialah orang yang paling berjasa
dalam hidupku selama ini.
Sebagai manusia baru,
aku mulai menata hidup kembali. Meskipun hidup sederhana, bagiku itu lebih dari cukup asal
kita bisa bersyukur. Berfoya-foya adalah masa laluku yang harus aku delete bukan untuk
menghilangkan akan tetapi menjadi pelajaran. Dengan semua bentuk keburukan yang
telah aku lakukan, ternyata aku baru menyadari bahwa hanya menjadi seorang muslim sejatilah
hidup bisa menjadi tenang. Semoga kisah ini bisa menjadi renungan yang berarti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar