Selasa, 10 Februari 2015

Mamaku Sophaholic



Mamaku Sophaholic itulah ungkapan yang aku berikan untuk mamaku , dia selalu menghabiskan uang yang papa berikan untuk nyalon dan berbelanja barang-barang yang menurutku kurang begitu  penting. Kami memang hidup berkecukupan dan tinggal di kota metropolitan di tunjang dengan bisnis papa dibidang  modifikasi otomotif. Dengan kondisi seperti itu, pengaruh pergaulan high class terus menerus mempengaruhi perangai mama.

mama kok belanja terus sih dari kemaren?? kasihan kan papa, udah capek kerja uangnya mama habiskan untuk hal yang gak perlu.” Protesku. “ Sayang, ini semua barang-barang branded yang lagi diskon, sayang kan kalo gak diambil.” Bela mama Sambil mencoba sepatu barunya. ”Lagian uang papamu tuh gak bakalan habis kalo cuma buat beli barang-barang kayak gini” tambahnya. Terkadang aku ingin juga membeli barang ini itu, akan tetapi mengingat kerja keras papah aku jadi kasihan. “sampai kapan mama akan akan jadi sophaholic? ” ujarku untuk kesekian kalinya. “sampai mama puas dan lengkap koleksi mama” jawabnya enteng.

Mama memang tidak bisa lepas dari lingkungan pergaulan sosialita high class istri para pejabat dan pengusaha. Dalam setiap pertemuanya mereka selalu memamerkan harta benda baik itu mobil, perhiasan atau yang lainnya. Suatu ketika aku diajak mama keperkumpulan mereka, sempat kudengar perbincangan mereka “jeng gimana bisnis suaminya” Tanya bu Dibyo teman mama. “baik jeng, bahkan sekarang sedang ramai-ramainya” jawab mama bangga. Alangkah perihnya hatiku, karena  dibalik itu aku tahu bahwa bisnis papah saat ini dalam keadaan terpuruk. Astaghfirullah, mengapa mama harus berbohong hanya untuk menjaga image  dan gengsi dihadapan teman-temannya. “ kok mama ngomong gitu sama tante-tante itu?” tanyaku. “Ah….kamu ini, gengsi dong kalau mereka tahu yang sebenarnya, mama  gak mau mereka memandang rendah keluarga kita.” kilahnya.

Siang itu ada seorang petugas bank datang untuk menyita rumah karena ternyata mama telah menjaminkan sertifikat rumah kami dibank tanpa sepengetahuan papa. Papah sangat kaget mengingat dirinya tidak pernah menandatangani persetujuan apapun. Papah baru sadar kalau ternyata mama banyak melakukan hal yang beresiko dibelakangnya. Dengan berat hati kami harus pindah ke rumah yang lebih kecil di pinggiran kota, sedang mama masih saja dengan hobinya yang suka menghambur-hamburkan uang. Aku dan Papa yang merasa prihatin dengan keadaan ini berusaha menyadarkan mama namun tak juga mempan karena mama lebih menomorsatukan gengsinya.
Ingin rasanya kutinggalkan rumah karena tak tahan dengan sikap mama, tetapi melihat papah yang begitu sabar dan sayang kepada kami, ku urungkan niat itu.
Sampai suatu ketika aku di ajak papa ke Semarang untuk menemui seorang Ustadz ahli Ruqyah, untuk meruqyahkan mama agar segera sadar dari perbuatannya dan diberi hidayah oleh Allah Swt kalau selama ini cara hidup mamah yang suka berfoya-foya itu adalah salah. Selain itu papa juga ingin  mengkonsultasikan bisnisnya yang sedang terpuruk. Setelah kami jelaskan panjang lebar masalah kami, Akhirnya diputuskanlah bahwa mama harus segera di ruqyah untuk menghilangkan aura negative yang melekat dalam diri dan jiwanya. Lebih dari itu, Ustadz Massar juga memberikan arahan-arahan serta tips-tips praktis kepada kami agar menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah dan cara berbisnis yang baik. Terus terang, saat itu kami merasa tenang dan berfikir positif  untuk menyadarkan mama. Atas izin Allah Swt, kerja keras dan usaha kami tidaklah sia-sia. Sedikit-demi sedikit prilaku mama mulai berubah ke hal positif dan berusaha menjadi sosok yang lebih baik. Kegiatan kumpul-kumpul dan menghamburkan uang sedikit-demi sedikit mulai berkurang dan mulai banyak mengikuti acara pengajian-pengajian di lingkungan tempat tinggal kami yang baru. Kami merasa bersyukur karena selain mama yang mulai merubah sifatnya, bisnis papa juga perlahan-lahan mulai membaik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar