Mamaku Sophaholic itulah ungkapan yang aku berikan untuk mamaku , dia selalu menghabiskan uang yang
papa berikan untuk nyalon dan berbelanja barang-barang yang menurutku kurang begitu penting. Kami memang hidup berkecukupan dan
tinggal di kota metropolitan di tunjang dengan bisnis papa dibidang modifikasi otomotif. Dengan kondisi seperti
itu, pengaruh pergaulan high class terus menerus mempengaruhi perangai mama.
“mama kok belanja
terus sih dari kemaren?? kasihan kan papa, udah capek kerja uangnya mama habiskan untuk hal yang
gak perlu.” Protesku. “ Sayang, ini semua barang-barang branded yang lagi diskon,
sayang kan kalo gak diambil.” Bela mama Sambil mencoba sepatu barunya. ”Lagian uang
papamu tuh gak bakalan habis kalo cuma buat beli
barang-barang kayak gini” tambahnya. Terkadang aku ingin juga membeli barang ini itu, akan tetapi
mengingat kerja keras papah aku jadi kasihan. “sampai kapan mama akan akan jadi sophaholic?
” ujarku
untuk kesekian kalinya. “sampai mama puas dan lengkap koleksi mama” jawabnya enteng.
Mama memang tidak bisa
lepas dari lingkungan pergaulan sosialita high class istri para pejabat
dan pengusaha. Dalam setiap pertemuanya mereka selalu memamerkan harta benda baik itu
mobil, perhiasan atau yang lainnya. Suatu ketika aku diajak mama
keperkumpulan mereka, sempat kudengar perbincangan mereka “jeng gimana bisnis suaminya” Tanya bu Dibyo
teman mama.
“baik jeng, bahkan sekarang sedang ramai-ramainya” jawab mama bangga. Alangkah
perihnya hatiku, karena dibalik itu aku
tahu bahwa bisnis papah saat ini dalam keadaan terpuruk. Astaghfirullah,
mengapa mama harus berbohong hanya untuk menjaga image dan gengsi dihadapan teman-temannya. “ kok
mama ngomong gitu sama tante-tante itu?” tanyaku. “Ah….kamu ini, gengsi dong
kalau mereka tahu yang sebenarnya, mama
gak mau mereka memandang rendah keluarga kita.” kilahnya.
Siang itu ada seorang
petugas bank datang untuk menyita rumah karena ternyata mama telah menjaminkan
sertifikat rumah kami dibank tanpa sepengetahuan papa. Papah sangat kaget
mengingat dirinya tidak pernah menandatangani persetujuan apapun. Papah baru
sadar kalau ternyata mama banyak melakukan hal yang beresiko dibelakangnya. Dengan berat
hati kami
harus pindah ke rumah yang lebih kecil di pinggiran kota, sedang mama masih
saja dengan hobinya yang suka menghambur-hamburkan uang. Aku dan Papa yang merasa prihatin dengan keadaan
ini berusaha menyadarkan mama namun tak juga mempan karena mama lebih menomorsatukan gengsinya.
Ingin rasanya kutinggalkan
rumah karena tak tahan dengan sikap mama, tetapi melihat papah yang begitu
sabar dan
sayang kepada kami, ku urungkan niat itu.
Sampai suatu ketika aku di
ajak papa ke Semarang
untuk menemui seorang Ustadz ahli Ruqyah, untuk meruqyahkan mama agar segera
sadar dari perbuatannya dan diberi hidayah oleh Allah Swt kalau selama ini cara
hidup mamah yang suka berfoya-foya itu adalah salah. Selain itu
papa juga ingin mengkonsultasikan
bisnisnya yang sedang terpuruk. Setelah kami jelaskan panjang lebar masalah kami,
Akhirnya diputuskanlah bahwa mama harus segera di ruqyah untuk
menghilangkan aura negative yang melekat dalam diri dan jiwanya. Lebih dari
itu, Ustadz Massar juga memberikan arahan-arahan serta tips-tips praktis kepada
kami agar menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah dan cara berbisnis
yang baik. Terus
terang, saat itu kami merasa tenang dan berfikir positif
untuk menyadarkan mama. Atas izin Allah Swt, kerja keras dan usaha kami tidaklah
sia-sia. Sedikit-demi
sedikit prilaku mama mulai berubah ke hal positif dan berusaha menjadi sosok yang lebih
baik. Kegiatan
kumpul-kumpul dan menghamburkan uang sedikit-demi sedikit mulai berkurang dan
mulai banyak mengikuti acara pengajian-pengajian di lingkungan tempat tinggal
kami yang baru. Kami merasa bersyukur karena selain mama yang mulai merubah
sifatnya, bisnis papa juga perlahan-lahan mulai membaik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar