Jumat, 03 Agustus 2012

Selingkuh Membawa Bencana



            Sungguh tragis nasib Suparman, dengan tubuh yang cacat seumur hidup dia hanya bisa tergeletak lemas di atas tempat tidur, padahal pekerjaan yang bisa dikerjakan ketika masih normal sangatlah banyak. Sebagai  pemilik perusahaan terbesar di kotanya, Suparman sangat disibukan dengan bisnisnya yang menggurita.
            ”Harta sudah banyak, sudah seharusnya aku berbagi dengan yang lain” gumamnya. Niatan yang bermula baik, ternyata berbuah keburukan. ”Hei Lina tolong kamu kemari, bereskan berkas yang ada di meja” perintah Parman. ”Setelah selesai, temenin saya makan siang ya”. Parman mencoba merayu sekretarisnya yang lumayan cantik.
            Ketika akan diajak berbuat asusila Lina menolak” saya tidak enak dengan istri bapak” gumamnya. Meskipun begitu Parman terus mendesak, akhirnya Lina tidak berdaya dan pasrah. Semakin hari perselingkuhan tersebut semakin tercium. akhirnya kabar tersebut sampai juga ke telinga sang istri.
            ”Bapak sungguh tega, apa kurangnya aku ini. Semua harta milik bapak pada dasarnya warisan orang tua ibu” Hardiknya. ”Pokoknya kalau tidak berhenti berselingkuh lebih baik kita bercerai” pinta sang istri. Percekcokanpun tidak terelakan, akhirnya, karena  merasa berhutang budi Parman berjanji untuk bertaubat.
            Penyesalan memang selalu datang terlambat, Lina yang terlanjur hamil meminta pertanggungjawaban. Lebih parahnya lagi ternyata Parman tidak hanya berhubungan dengan Lina, masih masih banyak wanita-wanita tak berdosa menjadi korbannya. Dalam keadaan kalap Parman merencanakan sesuatu.
            ”Untuk mengurangi beban, aku harus menghabisi wanita-wanita sialan itu” gumamnya. Akhirnya Parman dibantu beberapa preman menculik wanita-wanita tersebut dan membuangnya sebagai TKI. Dengan gaya tidak bedosa Parman menjalani kehidupannya sebagaimana biasa. Akan tetapi, sebagai manusia biasa perasaan bersalah selalu menghantui Suparman.
            ”Kenapa kau terlihat selalu bimbang suamiku” tanya sang Istri. ”ah enggak hanya banyak pekerjaan yang menumpuk saja”. Sanggahnya. Ibarat sebaik mungkin menyembunyikan bangkai pasti tercium juga. Begitu pula dengan apa yang telah terjadi pada Parman. Akhirnya satu persatu perbuatannya dapat diketahui oleh keluarga korban.
            Akan tetapi sangat disayangkan, kasus Parman tidak dapat terbukti di pengadilan. Dengan angkuhnya Parman berkata kepada sahabatnya. ”dah tak bilang, mana mungkin orang seperti saya bisa berbuat begitu, lagian siapa sih yang sanggup menangkap saya” ujarnya.
            Merasa tidak puas, akhirnya keluarga korban merencanakan sesuatu. Dengan mendatangi seorang ahli rukyah asal Semarang, mereka meminta bantuan untuk membuktikan kejahatan yang dilakukan Parman. Mulai saat itu, Parman merasakan keganjilan dalam tubuhnya. Dia menderita demam tinggi selama satu minggu.  
Penyakit aneh yang di derita Parman semakin hari semakin menggerogoti tubuh nya, dalam keadaan sekarat barulah Parman bercerita kepada sang istri terkait cerita sesungguhnya. Alangkah kecewanya sang Istri, apalagi mengetahui bahwa korban selingkuhan yang telah dianiaya Parman tidak hanya satu. Merasa tidak kuat sang Istri berniat menceraikanya. Dengan tidak memberitahukan kepada orang lain, sang Istri sebenarnya sudah merasa berdosa. Sampai saat ini tinggallah parman dalam keterpurukan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar