Sungguh
tragis nasib Suparman, dengan tubuh yang cacat seumur hidup dia hanya bisa
tergeletak lemas di atas tempat tidur, padahal pekerjaan yang bisa dikerjakan
ketika masih normal sangatlah banyak. Sebagai pemilik perusahaan terbesar
di kotanya, Suparman sangat disibukan dengan bisnisnya yang menggurita.
”Harta sudah banyak, sudah
seharusnya aku berbagi dengan yang lain” gumamnya. Niatan yang bermula baik,
ternyata berbuah keburukan. ”Hei Lina tolong kamu kemari, bereskan berkas yang
ada di meja” perintah Parman. ”Setelah selesai, temenin saya makan siang ya”.
Parman mencoba merayu sekretarisnya yang lumayan cantik.
Ketika akan diajak berbuat
asusila Lina menolak” saya tidak enak dengan istri bapak” gumamnya. Meskipun
begitu Parman terus mendesak, akhirnya Lina tidak berdaya dan pasrah. Semakin
hari perselingkuhan tersebut semakin tercium. akhirnya kabar tersebut sampai
juga ke telinga sang istri.
”Bapak sungguh tega, apa
kurangnya aku ini. Semua harta milik bapak pada dasarnya warisan orang tua ibu”
Hardiknya. ”Pokoknya kalau tidak berhenti berselingkuh lebih baik kita bercerai”
pinta sang istri. Percekcokanpun tidak terelakan, akhirnya, karena merasa berhutang budi Parman berjanji untuk
bertaubat.
Penyesalan memang selalu
datang terlambat, Lina yang terlanjur hamil meminta pertanggungjawaban. Lebih
parahnya lagi ternyata Parman tidak hanya berhubungan dengan Lina, masih masih
banyak wanita-wanita tak berdosa menjadi korbannya. Dalam keadaan kalap Parman
merencanakan sesuatu.
”Untuk mengurangi beban,
aku harus menghabisi wanita-wanita sialan itu” gumamnya. Akhirnya Parman dibantu beberapa preman
menculik wanita-wanita tersebut dan membuangnya sebagai TKI. Dengan gaya tidak
bedosa Parman menjalani kehidupannya sebagaimana biasa. Akan tetapi, sebagai
manusia biasa perasaan bersalah selalu menghantui Suparman.
”Kenapa kau terlihat
selalu bimbang suamiku” tanya sang Istri. ”ah enggak hanya banyak pekerjaan
yang menumpuk saja”. Sanggahnya. Ibarat sebaik mungkin menyembunyikan bangkai
pasti tercium juga. Begitu pula dengan apa yang telah terjadi pada Parman. Akhirnya
satu persatu perbuatannya dapat diketahui oleh keluarga korban.
Akan tetapi sangat
disayangkan, kasus Parman tidak dapat terbukti di pengadilan. Dengan angkuhnya Parman
berkata kepada sahabatnya. ”dah tak bilang, mana mungkin orang seperti saya
bisa berbuat begitu, lagian siapa sih yang sanggup menangkap saya” ujarnya.
Merasa tidak puas,
akhirnya keluarga korban merencanakan sesuatu. Dengan mendatangi seorang ahli
rukyah asal Semarang, mereka meminta bantuan untuk membuktikan kejahatan yang
dilakukan Parman. Mulai saat itu, Parman merasakan keganjilan dalam tubuhnya.
Dia menderita demam tinggi selama satu minggu.
Penyakit aneh yang di derita Parman semakin hari semakin
menggerogoti tubuh nya, dalam keadaan sekarat barulah Parman bercerita kepada
sang istri terkait cerita sesungguhnya. Alangkah kecewanya sang Istri, apalagi
mengetahui bahwa korban selingkuhan yang telah dianiaya Parman tidak hanya
satu. Merasa tidak kuat sang Istri berniat menceraikanya. Dengan tidak
memberitahukan kepada orang lain, sang Istri sebenarnya sudah merasa berdosa.
Sampai saat ini tinggallah parman dalam keterpurukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar