Jumat, 16 Januari 2015

TEROBSESI DENGAN IBU



Sebut saja Dodik, sejak kecil dia diasuh oleh ibunya seorang diri karena ayahnya telah meninggal dunia akibat penyakit jantung yang menyerangnya. Sejak saat itu ibunya mempunyai peran ganda dalam hidupnya, dia harus menjadi seorang ibu yang baik sekaligus ayah bagi Dodik. Beruntung, almarhum ayahnya meninggalkan harta yang boleh dibilang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka berdua. Selain mengurus Dodik, ibunya juga harus bekerja membanting tulang meneruskan bisnis almarhum suaminya di bidang konveksi.
Dodik begitu bangga memiliki seorang ibu yang tegar dan dengan penuh kasih sayang membesarkannya seorang diri. “Ya Allah, lindungilah anak hamba dan limpahkanlah karunia-Mu selalu kepadanya” secuil doa ibunya setiap habis shalat. Meskipun ibunya wanita karir yang super sibuk, akan tetapi Dodik tidak pernah kekurangan kasih sayang, setiap pagi ibunya selalu mempersiapkan segala keperluan Dodik disela kesibukan beliau mempersiapkan keperluannya sendiri sebelum berangkat ke kantor.  
Seiring berjalannya waktu, Dodik tumbuh menjadi lelaki dewasa dan pintar, “nak tolong lanjutkan bisnis kita” pinta sang ibu. “baik bu, Dodik akan berusaha sekuat tenaga menjalankan amanah yang ibu berikan, memang sudah saatnya Dodik membalas semua kebaikan ibu selama ini” jawab Dodik sambil mencium tangan ibunya. Setelah terjun langsung,dia baru menyadari betapa berat tanggung jawab yang diemban ibunya selama ini. Tanpa terasa air matanya berlinang lamunannya jauh menjelajah membayangkan perjuangan ibunya selama ini.
Matahari terus berputar, hari-haripun terus menggelinding, tanpa disadari umur Dodik semakin bertambah dan sudah saatnya mencari pendamping. Adalah Nila, Gadis cantik keturun India anak seorang pengusaha tekstil yang menjadi tambatan hatinya. Namun seiring berjalanya waktu ternyata Dodik tidak menemukan sosok ibunya dalam diri Nila hingga akhirnya hubungan merekapun kandas.
Beberapa bulan kemudian Dodik kembali dekat dengan Agnes teman semasa kuliah di UGM. Namun Dodik juga tidak menemukan sosok wanita seperti ibunya di dalam diri gadis cantik yang berprofesi sebagai model ini. Memang Agnes sangat keibuan dan baik tetapi tidak tegas dan cekatan seperti ibunya, hal itu juga yang membuat Dodik akhirnya mengurungkan niatnya untuk menjadikan Agnes sebagai pendamping hidupnya.
Dalam angan-angannya, Dodik menginginkan wanita yang dapat menjadi pendamping hidupnya haruslah wanita sempurna seperti ibunya yang sabar, keibuan, lemah lembut dan juga pintar dalam berkarier maupun mengurus rumah tangga. Baginya dengan beristrikan wanita sehebat dan sesempurna ibunya, maka hidupnya akan bahagia. Akibat pikiran yang terlalu idealis itulah, hingga umurnya memasuki 35 th Dodik belum juga mendapatkan jodoh bahkan tak sedikit dari teman-temanya yang memberikan predikat bujang tak laku”.
       Melihat keadaan anak semata wayangnya seperti itu, sang ibu yang selalu mengikuti perkembangan anaknya mulai khawatir. Sampai akhirnya secara diam-diam ibunya menemui Ustadz Massar di Semarang untuk meruqyahkan Dodik agar segera mendapatkan jodoh. Singkat cerita, akhirnya jodoh yang diharapkan datang juga setelah beberapa bulan lamanya. Dalam sebuah acara jamuan makan malam, Dodik  berkenalan dengan gadis asal kota kelahiran ibunya Pekalongan. Pikirannya menerawang ke satu sosok yang juga menggetarkan hatinya. Walaupun sederhana Dodik merasa bahwa Herlina hampir mirip dengan ibunya, meski tidak sesempurna sosok yang selalu dikaguminya selama ini. Setelah menjalin hubungan kurang dari 4 bulan, akhirnya mereka melangsungkan pernikahan. Kebahagiaan diwajah sang ibupun mulai terlihat, air mata yang bening mengalir dipipinya kala menyaksikan putranya duduk dipelaminan bersama orang yang dicintainya. “Terima kasih Ustadz Massar telah membantu anakku menemukan jodohnya.” Gumamnya.   




Tidak ada komentar:

Posting Komentar