Sebut saja Dodik, sejak kecil dia diasuh oleh ibunya seorang diri karena ayahnya telah meninggal dunia akibat penyakit jantung yang
menyerangnya. Sejak saat itu ibunya mempunyai peran ganda dalam hidupnya, dia
harus menjadi seorang ibu yang baik sekaligus ayah bagi Dodik. Beruntung,
almarhum ayahnya meninggalkan harta yang boleh dibilang cukup untuk memenuhi
kebutuhan hidup mereka berdua. Selain mengurus Dodik, ibunya juga harus bekerja
membanting tulang meneruskan bisnis almarhum suaminya di bidang konveksi.
Dodik begitu bangga memiliki seorang ibu
yang tegar dan dengan penuh kasih sayang membesarkannya seorang diri. “Ya Allah,
lindungilah anak hamba dan limpahkanlah karunia-Mu selalu kepadanya” secuil doa ibunya setiap habis shalat.
Meskipun ibunya
wanita karir yang super sibuk, akan tetapi Dodik tidak pernah kekurangan kasih sayang,
setiap
pagi ibunya selalu mempersiapkan
segala keperluan Dodik disela kesibukan beliau mempersiapkan keperluannya sendiri sebelum berangkat ke
kantor.
Seiring berjalannya waktu, Dodik tumbuh
menjadi lelaki dewasa dan pintar, “nak tolong lanjutkan bisnis kita” pinta sang ibu. “baik
bu, Dodik
akan berusaha sekuat tenaga
menjalankan amanah yang ibu berikan, memang sudah saatnya Dodik membalas semua
kebaikan ibu selama ini” jawab Dodik sambil mencium tangan ibunya. Setelah terjun langsung,dia baru
menyadari betapa berat tanggung jawab yang diemban ibunya selama ini. Tanpa terasa air matanya berlinang lamunannya jauh
menjelajah membayangkan
perjuangan ibunya selama ini.
Matahari terus berputar, hari-haripun
terus menggelinding, tanpa disadari umur Dodik semakin bertambah dan sudah saatnya mencari
pendamping. Adalah Nila, Gadis cantik keturun India anak seorang pengusaha tekstil yang menjadi
tambatan hatinya. Namun seiring berjalanya waktu ternyata Dodik tidak menemukan
sosok ibunya dalam diri Nila hingga akhirnya hubungan merekapun kandas.
Beberapa bulan kemudian Dodik kembali dekat dengan Agnes teman semasa kuliah di
UGM. Namun Dodik juga tidak menemukan sosok wanita seperti ibunya di dalam
diri gadis cantik yang berprofesi sebagai model ini. Memang Agnes sangat
keibuan dan baik tetapi tidak tegas dan cekatan seperti ibunya, hal itu juga yang membuat Dodik akhirnya mengurungkan
niatnya untuk menjadikan Agnes sebagai pendamping hidupnya.
Dalam angan-angannya, Dodik menginginkan wanita
yang dapat menjadi pendamping hidupnya haruslah wanita sempurna seperti ibunya
yang sabar, keibuan, lemah lembut dan juga pintar dalam berkarier maupun
mengurus rumah tangga. Baginya dengan beristrikan wanita sehebat dan sesempurna
ibunya, maka hidupnya akan bahagia. Akibat pikiran yang terlalu idealis itulah,
hingga umurnya memasuki 35 th Dodik belum juga mendapatkan jodoh bahkan tak sedikit dari teman-temanya yang memberikan predikat “bujang tak laku”.
Melihat keadaan anak semata wayangnya seperti itu, sang ibu yang selalu
mengikuti perkembangan anaknya mulai khawatir. Sampai akhirnya secara diam-diam ibunya menemui Ustadz
Massar di
Semarang untuk meruqyahkan Dodik agar segera mendapatkan jodoh. Singkat cerita,
akhirnya jodoh yang diharapkan datang juga setelah beberapa bulan lamanya. Dalam sebuah
acara jamuan makan malam, Dodik berkenalan
dengan gadis asal kota kelahiran ibunya Pekalongan. Pikirannya menerawang ke satu sosok
yang juga menggetarkan hatinya. Walaupun sederhana Dodik merasa bahwa Herlina
hampir mirip dengan ibunya, meski tidak sesempurna sosok yang selalu
dikaguminya selama
ini. Setelah
menjalin
hubungan kurang dari 4 bulan, akhirnya
mereka melangsungkan pernikahan. Kebahagiaan diwajah sang ibupun mulai
terlihat, air mata yang bening mengalir dipipinya kala menyaksikan putranya duduk
dipelaminan bersama orang yang dicintainya. “Terima kasih Ustadz Massar telah
membantu anakku menemukan jodohnya.” Gumamnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar