Sebagai seorang sales eksekutif Ardi dikenal
dengan sikapnya yang flamboyan.
Meskipun begitu, dirinya mempunyai kemampuan membangun relasi yang baik, bahkan
melebihi teman-temannya sesama karyawan. Oleh karenanya tidak mengherankan
apabila direktur perusahan otomotif, sangat perhatian kepadanya. “Ardi tolong
kamu urus proyek ini “pinta sang bos. “Siap pak” sigap Andri.
Tanpa dikira dalam mengurusi
proyek tersebut, dirinya dipertemukan dengan Lia, teman kuliahnya 5 tahun yang lalu di Universitas
Gajah Mada (UGM). “Wah wah! gak nyangka kita bisa bertemu disini” sapa Ardi,
“Gimana kabarmu Lia?” tambahnya. “Kabar baik, Wah mas Ardi tetap gagah ya,
kayak masih mahasiswa, bedanya sekarang perutnya sudah agak buncit” canda Lia.
“Hmm, dari dulu kamu memang pintar menggoda Lia, tapi aku salut lho kamu masih
seperti dulu, ceria dan energik” rayu Ardi.
Bermula dari pertemuan bisnis,
keduanya mulai merasakan adanya chemistry.“Kali-kali kita rapat di
tempat wisata ya, biar lebih fresh” pinta Ardi. “Ok, siapa takut” goda Lia.
Kedekatan keduanya telah menumbuhkan kembali kenangan lama yang telah
tertimbun.
Hubungan gelap yang berbalut
bisnis ini akhirnya membuahkan sebuah hasil, yaitu kehamilan Lia. “Mas
aku hamil anakmu” jujur Lia. “Lho kok bisa, kita kan sudah pakai pengaman”
jawab Ardi. “Tapi kita pernah lupa” sanggah Lia. “Lia, sebelumnya mohon maaf,
mas baru jujur sama lia setelah semuanya terlambat, mas sudah punya istri Lia”
papar Ardi. “Mas tega bohongi Lia, mas tega!” sambil terisak Lia meniggalkan
Ardi yang termenung dalam penyesalan.
Bagaimanapun Ardi tidak kuasa
meninggalkan istrinya, meskipun sudah 2 tahun pernikahan mereka belum dikaruniai
seorang anak. “Aku tidak ingin menghancurkan keluargaku” gumam Ardi. Akhirnya
Ardi memutuskan untuk bertemu Lia dan menyuruhnya untuk segera menggugurkan
kandunganya. Bagaikan disambar petir, Lia langsung menampar Ardi “Plak! Dasar
laki-laki bajingan” umpat Lia. Dalam kebimbangan Lia meminta
pertimbangan keluarga, akhirnya diputuskan untuk menggugurkan kandunganya dan menikah dengan pria
pilihan orang tua.
Setahun berlalu, ternyata Ardi dan istri
belum juga dikaruniai momongan. “maafin mamah ya pah, karena sampai saat ini
belum dikarunia anak” keluh sang istri. “mamah yang sabar, kita kan sudah
berusaha, mungkin ini cobaan yang harus kita hadapi” jawab Ardi bijak. Dalam hatinya yang paling
dalam, Ardi mempunyai rencana
untuk meninggalkan istrinya Karena tidak bisa memberikan keturunan. “Apa
doasaku ya Tuhan, apakah ini karma dariMu” ratap Ardi dalam doanya.
Akibat permasalahan tersebut,
pekerjaan Ardi menjadi terbengkalai dan tidak maksimal. “Coba kamu lebih
konsentrasi, masa pekerjaan seperti ini saja tidak dapat terselesaikan” bentak
sang bos. “Pokoknya saya tidak mau tahu, jika kamu masih seperti ini dan tidak
konsen dalam pekerjaan, terpaksa saya akan pecat kamu” lanjutnya.
Ditengah kegalauannya, Ardi disarankan salah satu kerabat untuk mendatangi Ustadz
Massar seorang ahli agama dan pakar ruqyah asal Semarang. “Ustadz, saya merasa
diri saya kotor jika mengenang masa lalu, bahkan saya tidak dapat menerima
kenyataan sekarang dan masa depan” ungkap Ardi. “ Terus terang jiwa saya hampa,
dan hal ini berdampak terhadap seluruh aspek kehidupan saya” tambahnya.
Setelah panjang lebar
menceritakan kronologi kejadian, akhirnya Ardi disarankan untuk ruqyah diri dan
terapi taubah, yaitu dengan mengamalkan ibadah, dzikiran dan amal sholeh. Tidak
beberapa lama, akhirnya atas izin Allah Ardi mendapatkan pencerahan dan
ketenangan batin“Saya berjanji tidak akan mengulangi perbuatan yang telah
menjadi catatan hitam buku kehidupan saya” janjinya kepada Ustadz Massar, lebih
dari itu akhirnya dirinya menerima keadaan istri apa adanya dan menjalani semuanya
dengan ikhlas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar