Kamis, 08 Januari 2015

Merana Karena Judi



Beni, seorang pengusaha yang memiliki kebiasaan berjudi sejak masih bujangan. Meskipun usahanya sukses tetapi selama puluhan tahun dia tetap tidak bisa memberikan sesuatu yang berharga untuk orang-orang terdekatnya karena uang hasil jerih payahnya selalu habis untuk berjudi. Berkali-kali ibunya menasehati dan memarahinya tetapi tak pernah dihiraukannya.
“Astaghfirullah, Beni! Kamu itu gak ada kapoknya bermain judi dan selalu kalah. Kamu juga harus mikirin bagaimana masa depan kamu nantinya, ibu harap kamu secepatnya menghentikan perbuatan dosa itu” ujar sang ibu. “Terserah ibu, ini hidupku, jadi biar aku yang menjalani”jawab Beni.
Sebagaimana telah ditetapkan dalam Al Qur’an bahwa judi adalah perbuatan yang dilarang karena dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain. Bagaikan candu, judi akan terus menggerus akal sehat untuk memajukan diri dalam berusaha. Sebagai seorang ibu, Aminah sangat faham akan hal tersebut, oleh karenanya dirinya selalu berusaha untuk menyadarkan putranya tersebut dengan berbagai cara.
Suatu ketika ibunya merencanakan perjodohan untuknya dengan maksud supaya Beni dapat lebih bertanggung jawab dan mau meninggalkan kebiasaan buruknya demi keluarga. Adalah  Devi, seorang pramugari di salah satu perusahaan penerbangan maskapai ternama di Indonesia, sekaligus anak dari teman lama ibunya. Meskipun awalnya menolak, tetapi perjodohan itu akhirnya terjadi juga setelah ibunya berhasil membujuk Beni.
Pendek kata, Devi yang telah resmi menjadi istri Beni memutuskan untuk resign dan memilih menjadi ibu rumah tangga, Benipun  tak lagi pergi ketempat judi bersama teman-temannya. Kehidupannya begitu sempurna, tak ada kekurangan dan keributan sampai usia perkawinan menginjak tahun ke-5. Namun saat memasuki tahun ke-6, bisnis Beni yang mulai goyah karena tak mampu bersaing dengan koleganya membuatnya kembali pada kebiasaan lama. Pertengkaran demi pertengkaran didalam rumah tangganya seakan menjadi menu wajib. Setiap hari budi hanya berjudi dan minum-minuman keras.
Tak terasa hutang yang ditanggung Beni semakin menggunung hingga dia harus rela kehilangan semua aset pentingnya termasuk rumah mewah yang ditempatinya karena disita bank.  Ditengah kepanikannya Beni berusaha mencari bantuan kepada saudara dan teman-temannya untuk memberi pinjaman uang, tapi apa daya bukan uang/bantuan yang didapatkannya melainkan hinaan dan cemoohan yang diterimanya. Beruntung Devi masih selalu setia menemani Beni.
Pada saat hampir putus asa, Beni mendapatkan petunjuk dari kerabatnya untuk bertemu dengan ustadz Massar di Semarang. “saya mohon petunjuk ustadz, saya ingin bartaubat dan menyelesaikan semua permasalahan ini” ungkapnya. Setelah mendapatkan pengakuan yang baik dari Beni, maka ustadz Massar merasa yakin dengan keteguhannya untuk bertaubat. Sebagai upaya memohon pertolongan Allah Swt, dilakukanlah Ruqyah Diri untuk Beni saat itu juga.
Selain itu, dia juga mendapatkan arahan dan bimbingan supaya terus berada di jalan Allah Swt dan menyarankannya untuk kembali merintis usahanya yang sempat hancur. “ janganlah kamu mendekati kemaksiatan lagi Ben, karena sesuatu yang besar biasanya berawal dari hanya mencoba-coba ” nasihat sang ustadz. “baik tadz” jawab Beni mantap. “ingatlah terus kepada Allah dalam keadaan apapun, yakinlah bahwa hanya dengan mengingat Allah Swt hati kita akan tenang” ustadz Massar menambahkan.
Dengan menggunakan metode bisnis ala nabawi, Beni memantapkan diri untuk terjun kembali dalam bidang usaha jual beli kendaraan bekas. Dengan penuh ketekunan demi mengharapkan ridla Allah Swt, usaha Beni mulai menunjukkan perkembangan. Sampai puncaknya, semua hutang-hutangnya dapat terlunasi secara perlahan. Lebih dari itu, Beni mampu membuat show room mobil dan motor yang tentunya tidak bekas lagi. Alhamdulillah, meskipun telah kaya raya Beni selalu menjaga ibadahnya dan kegiatan amal untuk umat. Dirinya merasa bahwa kesuksesan yang diperolehnya saat ini bukanlah hal utama, dibanding kepasrahan dirinya kepada Allah Swt.

1 komentar:

  1. Boleh tau nomer pak beny, saya ingin curhat. Terima kasih salam

    BalasHapus