Beni, seorang pengusaha yang memiliki kebiasaan berjudi
sejak masih bujangan. Meskipun usahanya sukses tetapi selama puluhan tahun dia
tetap tidak bisa memberikan sesuatu yang berharga untuk orang-orang terdekatnya
karena uang hasil jerih payahnya selalu habis untuk berjudi. Berkali-kali
ibunya menasehati dan memarahinya tetapi tak pernah dihiraukannya.
“Astaghfirullah, Beni! Kamu itu gak ada kapoknya bermain
judi dan selalu kalah. Kamu juga harus mikirin bagaimana masa depan kamu
nantinya, ibu harap kamu secepatnya menghentikan perbuatan dosa itu” ujar sang
ibu. “Terserah ibu, ini hidupku, jadi biar aku yang menjalani”jawab Beni.
Sebagaimana telah ditetapkan dalam Al Qur’an bahwa judi
adalah perbuatan yang dilarang karena dapat merugikan diri sendiri maupun orang
lain. Bagaikan candu, judi akan terus menggerus akal sehat untuk memajukan diri
dalam berusaha. Sebagai seorang ibu, Aminah sangat faham akan hal tersebut,
oleh karenanya dirinya selalu berusaha untuk menyadarkan putranya tersebut
dengan berbagai cara.
Suatu ketika ibunya merencanakan perjodohan untuknya dengan
maksud supaya Beni dapat lebih bertanggung jawab dan mau meninggalkan kebiasaan
buruknya demi keluarga. Adalah Devi, seorang pramugari di salah satu
perusahaan penerbangan maskapai ternama di Indonesia, sekaligus anak dari teman
lama ibunya. Meskipun awalnya menolak, tetapi perjodohan itu akhirnya terjadi
juga setelah ibunya berhasil membujuk Beni.
Pendek kata, Devi yang telah resmi menjadi istri Beni
memutuskan untuk resign dan memilih menjadi ibu rumah tangga, Benipun tak
lagi pergi ketempat judi bersama teman-temannya. Kehidupannya begitu sempurna,
tak ada kekurangan dan keributan sampai usia perkawinan menginjak tahun ke-5.
Namun saat memasuki tahun ke-6, bisnis Beni yang mulai goyah karena tak mampu
bersaing dengan koleganya membuatnya kembali pada kebiasaan lama. Pertengkaran
demi pertengkaran didalam rumah tangganya seakan menjadi menu wajib. Setiap
hari budi hanya berjudi dan minum-minuman keras.
Tak terasa hutang yang ditanggung Beni semakin menggunung
hingga dia harus rela kehilangan semua aset pentingnya termasuk rumah mewah
yang ditempatinya karena disita bank. Ditengah kepanikannya Beni berusaha
mencari bantuan kepada saudara dan teman-temannya untuk memberi pinjaman uang,
tapi apa daya bukan uang/bantuan yang didapatkannya melainkan hinaan dan
cemoohan yang diterimanya. Beruntung Devi masih selalu setia menemani Beni.
Pada saat hampir putus asa, Beni mendapatkan petunjuk dari
kerabatnya untuk bertemu dengan ustadz Massar di Semarang. “saya mohon petunjuk
ustadz, saya ingin bartaubat dan menyelesaikan semua permasalahan ini”
ungkapnya. Setelah mendapatkan pengakuan yang baik dari Beni, maka ustadz
Massar merasa yakin dengan keteguhannya untuk bertaubat. Sebagai upaya memohon
pertolongan Allah Swt, dilakukanlah Ruqyah Diri untuk Beni saat itu
juga.
Selain itu, dia juga mendapatkan arahan dan bimbingan supaya
terus berada di jalan Allah Swt dan menyarankannya untuk kembali merintis
usahanya yang sempat hancur. “ janganlah kamu mendekati kemaksiatan lagi Ben,
karena sesuatu yang besar biasanya berawal dari hanya mencoba-coba ” nasihat
sang ustadz. “baik tadz” jawab Beni mantap. “ingatlah terus kepada Allah dalam
keadaan apapun, yakinlah bahwa hanya dengan mengingat Allah Swt hati kita akan
tenang” ustadz Massar menambahkan.
Dengan menggunakan metode bisnis ala nabawi, Beni
memantapkan diri untuk terjun kembali dalam bidang usaha jual beli kendaraan
bekas. Dengan penuh ketekunan demi mengharapkan ridla Allah Swt, usaha Beni
mulai menunjukkan perkembangan. Sampai puncaknya, semua hutang-hutangnya dapat
terlunasi secara perlahan. Lebih dari itu, Beni mampu membuat show room mobil
dan motor yang tentunya tidak bekas lagi. Alhamdulillah, meskipun telah kaya
raya Beni selalu menjaga ibadahnya dan kegiatan amal untuk umat. Dirinya merasa
bahwa kesuksesan yang diperolehnya saat ini bukanlah hal utama, dibanding
kepasrahan dirinya kepada Allah Swt.
Boleh tau nomer pak beny, saya ingin curhat. Terima kasih salam
BalasHapus