Perkenalkan namaku Raya(32), aku ingin sedikit berbagi kisah rumah
tanggaku yang pernah terkena badai hingga hampir runtuh dan akhirnya
terselamatkan setelah aku berkonsultasi dengan ustadz massar. Alhamdulillah, dengan
kuasa Allah, keyakinan dan kemantapan hatiku untuk memperbaiki semuanya menuai
titik terang dan mendapat pelajaran hidup yang bermakna.
Sebelum menikah aku
dan juga suami sama-sama bekerja di perusahaan Amerika ternama . Namun setelah menikah dan mengalami 2x keguguran akupun memutuskan resign dari
kantor untuk bad rest total. praktis setelah itu, kegiatanku sehari-hari hanya
mengurus suami dan mengerjakan pekerjaan rumahtangga yang tidak terlalu
menguras tenagaku. Dua tahun kemudian, kebahagiaan kami semakin sempurna
setelah buah hati yang kami impikan selama ini terlahir kedunia dengan selamat
tanpa kurang satu apapun. Segala perhatian dan kasih sayang suamiku yang seakan
terpendam tertumpah ruah untukku dan anakku.
Waktu terus berjalan dan tak mau berhenti. Begitu pula
dengan kehidupan keluarga kecilku yang nyaris tanpa tersandung masalah, karir
suamikupun semakin meroket tajam. Tak ada persoalan besar yang terjadi dalam
rumah tangga kami, kalaupun ada hanyalah persoalan kecil yang masih bisa kami
selesaikan dan masih dalam batas wajar. Namun siapa sangka, segala permasalahan
kecil tersebut rupanya mengakar hingga menjadi masalah besar yang hampir
merenggut keharmonisan keluargaku.
Segala kesibukan dan tanggung jawabnya sebagai atasan
dikantor rupanya telah membuatnya mengesampingkan tugasnya sebagai seorang
suami dan juga ayah yang menjadi panutan.
“mah, hari ini ayah pulang agak malam ada pekerjaan dikantor yang harus segera
diselesaikan.” Ungkap suamiku sesaat sebelum berangkat kerja.
“Tapi yah...” sela-ku. “sudah ya, ayah berangkat dulu. ”
pamitnya,
Lagi-lagi dia mengingkari janjinya untuk memberikan
kejutan di hari ulangtahun Sasa anak semata wayang kami.
Perlahan namun pasti perhatian dan kasih sayangnya
terhadap keluarga luntur. Seringkali dia pulang larut malam atau saat akhir
pekan pergi entah kemana dengan alasan tugas kantor. Sampai tahun ke-8 perkawinan kami, mungkin
keluarga kami masih terlihat harmonis dan adem ayem. Tetapi untuk dua tahun
terakhir ini, sesungguhnya bahtera perkawinan kami terasa gersang, Semua itu
mulai terjadi setelah suami banyak bertugas di luar kota. Saat di rumah
pun, dia lebih sibuk dengan gadgetnya.
Hingga terungkap suatu kejadian yang
memporak-porandakan jiwaku yang lemah. Aku hampir tidak kuat lagi, tubuhku
lemas dan pandangan mataku mulai bekunang-kunang manakala mengetahui foto-foto
mesra suamiku bersama seorang wanita yang baru aku ketahui kemudian bernama
Wiwin, seorang penyanyi dangdut ternama di Jakarta yang tersimpan rapi didalam
laptop kerjanya yang tak terpasword. Aku hanya bisa diam dalam tundukkanku.
Hati kecilku merintih berharap ini hanyalah mimpi dan benar-benar tidak terjadi
saat aku terjaga nanti.
“Sejak kapan mama mulai berani mengotak-atik
isi laptop papa!” Bentaknya yang membuatku kaget.
Suamikupun tercengang saat kutunjukkan
beberapa foto tersebut. Dengan lihai dia mencoba mencari kambing hitam demi
menutupi kebusukannya. Sejak saat itu hubungan keluarga kamipun menjadi dingin.
Suasana kemesraan yang pernah mewarnai tahun-tahun awal kehidupan perkawinan
kami, tak lagi ada. Komunikasi antara kami sebatas hal-hal teknis, semuanya hambar.
Tapi kemudian aku sadar bahwa hidup akan terus
berjalan dan tidak akan berhenti hanya karena masalah seperti ini. Berharap
menemui titik terang dari masalah rumahtanggaku, akupun menemui ustadz massar
di semarang saat suamiku sedang di Surabaya. Sebuah nasehat yang diberikan
ustadz massar membuatku mulai menyadari ,tak ada yang sempurna dalam mencapai
kebahagiaan , namun kebahagiaan itu bisa
kuraih dengan aku membuka mata dan berjuang dalam liku-liku kehidupan ini.
Meski membutuhkan waktu yang tidak sedikit, aku mencoba melupakan yang lalu dan
memaafkan segala kesalahan yang telah membuatku kecewa. Aku percaya Allah Swt
akan selalu ada untuk membantu hamba-Nya yang membutuhkan pertolongan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar